Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Sesuai Dengan Rencana


__ADS_3

Esok harinya, Jamal mendapatkan telpon dari Indah, jika dia sudah membicarakan tentang maksudnya. Yang ingin melamar Indah.


..."Bapak sama Ibu setuju mas Jamal. Tapi... tapi Indah gak enak hati sama Mbak Lina. Dia pasti sedih Mas."...


..."Bagaimana lagi? Aku maunya sama Kamu Ndah. Ami kurang setuju dengan mbak mu. Aku juga tidak mungkin menolak permintaan dari Ami."...


..."Apa mas Jamal masih mencintai mbak Lina? jika iya..."...


..."Jangan berpikir macam-macam Ndah. Aku memang tidak bisa membuang rasa ini sepenuhnya. Tapi untuk menjadikan mbak mu sebagai istriku, itu tidak mungkin. Aku tidak mau membuat Ami bersedih hati. Karena melihat Lina menjadi istriku."...


..."Apa mas Jamal meminta Indah jadi istri karena permintaan Ami? Atau mau membuat perhitungan dengan mbak Lina?"...


..."Jangan sampai Kamu punya pikiran seperti itu Ndah. Aku memang ingin membuat Ami tersenyum dengan menjadikan Kamu sebagai istriku, sama seperti permintaannya. Tapi... sejujurnya, Aku juga punya rasa cinta padamu. Mungkin, karena waktu kebersamaan kita yang biasa bersama. Jadi Aku baru sadar saat Kamu tidak masuk kerja beberapa hari terakhir ini."...


..."Hum... Indah... Indah juga mau Mas. Terima kasih Mas."...


..."Kapan Kamu siap Aku lamar? lebih cepat lebih baik Ndah. Aku hanya ingin Kamu ada di sisiku terus."...


..."Terserah Mas Jamal."...


..."Nanti malam Aku datang lagi bersama Ami, untuk melamar mu."...


..."Ah, gak kecepatan itu Mas?"...


..."Gak. Jika bisa sekarang juga Aku datang ke rumahmu sama Ami ini!"...


..."Hehehe... iya-iya Mas. Indah bilang dulu sama bapak dan ibu ya!"...


..."Hum... Aku tidak mau ada penolakan!"...


Klik!


Jamal tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Indah.


Dia memang baru menyadari perasaannya sendiri terhadap Indah, saat indah sakit dan tidak bisa masuk kerja.


Jamal merasa ada yang kurang, apalagi saat ada pekerjaan yang biasanya dilakukan Indah. Atau jika sedang perlu bantuan, yang disebutkan nama Indah.


Dia lupa, jika Indah sedang tidak bersamanya.


Jadi, beberapa hari terakhir ini dia berpikir jika perasaan dan pikirannya tidak bisa fokus karena kepikiran dengan adiknya Lina itu.


Awalnya dia juga memikirkan bagaimana dengan perasaannya Lina nanti. Itulah sebabnya, dia diam dan tidak berpikir terlalu banyak tentang perasannya sendiri.


Tapi di saat Ami nya memintanya untuk melamar Indah, akhirnya dia pun meyakinkan dirinya sendiri. Jika dia memang menginginkan Indah sebagai pendampingnya, yang akan menemani dirinya kedepannya nanti sebagai seorang istri. Dan bukan sekedar pekerjanya saja.


Jamal segera pergi menemui Ami nya.


"Ami. Ami!"


"Ada apa teriak-teriak Mal?" sahut Umi, di saat mendengar panggilan anaknya yang terkesan terburu-buru.


"Ami. Mulai bersiap-siap dari sekarang ya! kita akan melamar Indah nanti malam."


Umi bengong, mendengar perkataan anaknya. Dia pikir Jamal sedang mengerjainya, dengan kabar gembira ini.

__ADS_1


"Ami. Jamal bicara ini! Ami dengerin gak?" tanya Jamal dengan menggoyang-goyangkan lengan Ami nya.


"Eh... iya-iya. Gimana?"


Umi bertanya kepada Jamal, dengan kejelasan dari perkataannya tadi.


"Nanti malam kita pergi ke rumah Indah lagi Ami. Melamar Indah."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh anaknya, Ami terbelalak. Sedetik kemudian,dia memeluk anaknya, dengan mengucap syukur.


"Alhamdulillah ya Allah..."


Tring... tring...


Ponsel Umi berdering.


"Nyonya Yenny?" tanya Umi bergumam, setelah melihat ke layar ponselnya.


..."Assalamualaikum Nyonya Yenny." ...


..."Waallaikumsalam Ami. Bagaimana kabarmu dan juga Jamal?" ...


..."Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan kalian sekeluarga?" ...


..."Tak baik Ami, hiks..." ...


Akhirnya Nyonya Yenny menceritakan tentang anaknya, Ajeng. Yang gagal menikah dengan pria yang sudah menjadi kekasihnya.


Dia ingin meminta pada Umi, untuk melanjutkan rencana mereka, untuk menjodohkan Jamal dengan Ajeng.


Umi terkejut dengan permintaan dari Nyonya Yenny. Karena dia baru saja selesai bicara dengan Jamal, tentang lamarannya nanti malam ke rumah Indah.


..."Tapi... kan bisa itu dibatalkan. Belum lamaran kan? jadi kita lanjutkan saja dengan rencana sebelumnya." ...


..."Maaf Nyonya Yenny." ...


..."Jadi tidak bisa ini Ami?" ...


..."Maaf, tidak bisa." ...


Klik!


Umi menghela nafas panjang, saat Nyonya Yenny memutuskan hubungan telpon secara sepihak.


"Kenapa Ami?" tanya Jamal, yang tidak begitu jelas mendengar suara Nyonya Yenny.


Akhirnya Umi menceritakan tentang keinginan Nyonya Yenny, untuk melanjutkan rencana perjodohan yang telah batal. Karena Ajeng lebih memilih kekasihnya sendiri, dari pada Jamal, yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya saat itu.


"Hemmm..."


Jamal membuang nafas panjang. Dia tahu, jika Hendra dan Ajeng tidak mungkin bisa bersatu dalam pernikahan.


Selain Hendra yang masih banyak permasalahan, Ajeng juga tidak bisa mengikuti jalan hidup Hendra yang masih harus mengurus adik dan juga bapaknya. Yaitu Sholeh yang ada di rumah sakit jiwa, dan kang Kasan yang sudah kena mental.


'Apa ini juga pengaruh sistem, yang telah menaikkan pesona ku? Atau karena nasibku, yang hanya di jadikan cadangan mereka?'

__ADS_1


[ Ting ]


[ Pesona bertambah 20% ]


'Hah, kenapa bisa bertambah?'


[ Ding ]


[ Bisa menahan diri dari amarah soal wanita, pesona Tuan bertambah ]


'Aneh-aneh saja sistem ini!"


[ Ting ]


Jamal mengelengkan kepalanya, melihat layar transparan sistem menghilang dari pandangan matanya.


"Sudah Mal. Tidak usah pedulikan hal-hal yang tidak perlu. Sekarang fokus pada lamaran nanti malam saja. Ami mau persiapkan hantaran ini. Mendadak begini bagaimana..."


"Yang simpel aja Ami. Kan memang tidak ada persiapan yang banyak."


Jamal meminta pada Ami nya, supaya tidak panik dan banyak pikiran.


"Nanti Jamal baru cari persiapan untuk hantaran lewat online Ami." Sambung Jamal menenangkan hati dan pikiran Ami nya.


*****


Jamal ada di ruangannya lagi.


Dia mencari-cari keberadaan jasa pembuatan hantaran lamaran atau pernikahan lewat online, sebab waktunya untuk persiapan memang tidak ada.


Akhirnya Jamal tersenyum senang, melihat ada biro jasa yang bisa membantu permasalahannya ini.


Setelahnya, Jamal kembali menghubungi nomor kontraktor bangunan, yang ada di toko bangunan langganannya.


Dan ternyata, sebuah sudah di persiapkan dan di kirim sesuai dengan jadwal.


Jamal akan membuat pengilingan padi, di dekat sawahnya, dengan pemikiran yang matang. Sebab dengan jarak yang cukup dekat, akan lebih memudahkan proses panen dan padi menjadi beras nantinya.


Sekarang dia memesan mesin-mesin dan peralatan yang dia butuhkan untuk pengilingan padinya, lewat sistem bertani yang dia miliki.


Sistem akan memproses mesin tersebut, dengan sebuah rancangan yang lebih baik dan canggih. Untuk kebutuhan di pengilingan padi miliknya nanti.


[ Ding ]


[ Permintaan mesin penggiling padi akan diproses ]


'Terima kasih. Aku akan berusaha keras untuk bisa memanfaatkan kesempatan ini.'


[ Ding ]


[ Siap Tuan]


Jamal pun mengedipkan matanya, saat layar transparan sistem menghilang dari pandangan mata.


"Alhamdulillah... Semua bisa selesai dalam waktu yang cukup singkat."

__ADS_1


"Aku akan bersiap untuk lamaran nanti malam."


Jamal berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah kamarnya.


__ADS_2