
Showroom mobil yang didatangi Jamal, mendapat teguran keras, dari orang-orang dan beberapa organisasi, yang peduli dengan keadaan konsumen indonesia. karena telah memberikan pelayanan yang diskriminatif. Sehingga di nilai buru, meskipun sudah membuat klarifikasi secara langsung. Bahkan, ada Jamal yang menjadi obyek praktik ketidakbecusan management di showroom mobil tersebut.
Hal ini karena showroom tersebut dianggap tidak memberikan pengertian, atau semacam training kepada para karyawannya. Sehingga tidak bisa memberikan pelayanan yang buruk.
Seharusnya mereka memberikan pelayanan yang terbaik, pada setiap konsumen yang datang. Tanpa melihat atau menilai dari segi apapun, termasuk fisik seseorang.
Ini karena bisa jadi, fisik seseorang memang tidak sempurna. Tapi setiap orang juga tidak tahu, bagaimana orang tersebut secara finansial nya.
Dengan adanya kejadian itu, ikatan pengusaha dealer, baik motor maupun mobil, membuat rencana untuk melakukan training secara bertahap. Untuk semua karyawannya, supaya memiliki attitude yang lebih baik.
Akhirnya pihak pemilik showroom, juga memberikan teguran yang keras. Kepada karyawan dan security, yang sudah membuat showroom miliknya dinilai jelek oleh masyarakat saat ini.
Sebab karena itu juga, bisa jadi kedepannya nanti, showroom tersebut akan sepi. Karena dijauhi oleh para pelanggan.
Sedikit tragis juga ya, tapi begitulah pada kenyataannya. Seseorang akan memiliki penilaian terhadap sesuatu yang sudah terlanjur terjadi.
Sebuah kata penyesalan juga tidak berarti.
Tapi dari pihak Jamal, justru mendapatkan berkah dari kejadian tersebut.
Banyak sekali orang-orang yang merasa penasaran dengan sosoknya, sehingga mencari profil Jamal melalui channel khusus miliknya. Yaitu Jamal Farm News.
Akhirnya, Chanel Jamal Farm News kebanjiran komentar, pujian, serta tambahan pengikut. Karena mereka banyak yang salut dan bangga pada Jamal.
Hal ini juga ketahui oleh Ajeng. Yang sebenarnya selalu mengikuti bagaimana aktivitas Jamal.
Mungkin bisa dibilang jika dia adalah salah satu orang yang menjadi pengamat setia, tanpa harus melakukan apa-apa, dengan banyak berkomentar untuk mencari perhatian.
Dia cukup senang, saat melihat keadaan Jamal yang baik-baik saja dan terus sukses.
Penyesalan terbesar Ajeng selama hidupnya adalah, sama seperti kejadian di showroom mobil yang didatangi Jamal. Karena hanya melihat cover luar Jamal, yang tidak sesuai dengan kriteria untuk anak-anak muda pada masanya.
Tapi semua sudah terjadi. Saat ini, dia hanya bisa merasakan penyesalannya, yang sudah tidak punya arti apa-apa.
"Semoga Kamu bisa tetep menjadi dirimu sendiri mas Jamal." Ajeng bergumam seorang diri, sambil lihat ke layar ponselnya.
Saat ini, dia ada di toko milik papanya. Menunggui toko, bersama dengan papanya juga. Yaitu Tuan Wiro.
"Ajeng, ada yang mencarimu!" Teriakan papanya, membuat Ajeng menoleh.
Ternyata yang datang mencarinya adalah Tarno. Laki-laki yang saat ini sedang berusaha mendekatinya.
"Mas Tarno," sapa Ajeng, saat melihat keberadaan Tarno. Yang sudah berdiri di antara barang-barang tokonya.
__ADS_1
Tarno, memang sudah datang beberapa kali ke toko milik tuan Wiro ini. Sehingga papanya Ajeng sudah cukup akrab dengannya juga.
Sekarang, Tarno berbincang-bincang dengan tuan Wiro sebentar. Karena menuggu Ajeng yang sedang bersiap-siap, dan tadi masuk ke dalam rumahnya. Yang ada di sebelah toko.
"Oh... jadi mas Tarno ini temannya Jamal juga ya, yang dari desa G itu kan?"
"Iya Tuan Wiro."
Mereka sedang memperbincangkan asal Tarno, yang baru diketahui oleh tuan Wiro. Jika Tarno juga dari desa G, sama seperti Jamal dan juga Hendra.
Dua pemuda yang pernah menjadi calon suaminya Ajeng. Tapi anaknya itu juga, yang membuat semuanya gagal.
Tuan Wiro menghela nafas panjang, saat ingat semua kejadian yang dulu. Dan semuanya itu membuat anaknya jadi pelarian di pulau Bali. Tapi dengan nasib yang tidak beruntung juga. Karena pada akhirnya, Ajeng ditinggalkan oleh suaminya. Yang WNA, yaitu negara Australia.
"Pa. Papa!"
Ajeng memanggil-manggil tuan Wiro, karena saat ini dia sudah siap untuk pergi bersama dengan Tarno. Tapi saat dia mau pamit, papanya itu justru melamun sendiri.
"Eh, eghhh iya. Ada apa?" tanya Tuan Wiro gagap. Karena baru tersadar dari lamunannya.
"Ajeng pergi dulu ya Pa. Sama mas Tarno ini."
"Ya Tuan. Saya ajak Ajeng pergi dulu," pamit Tarno pada Tuan Wiro.
"Oh ya-ya. Hati-hati ya, nanti jangan pulang malam-malam." Tuan Wiro memberikan ijin, dengan memberi pesan dan wanti-wanti pada Tarno dan Ajeng.
Di perjalanan, Ajeng hanya diam saja. Sama seperti biasanya, jika dia pergi bersama dengan Tarno.
"Ehemmm... Hem..."
Tarno berusaha memberikan kode dengan berdehem, supaya Ajeng menoleh kemudian bertanya pada dirinya, sebagai bentuk dari sebuah perhatian.
Ternyata jurus yang digunakan oleh Tarno manjur juga, karena dengan cepat Ajeng menoleh dan bertanya padanya, "kenapa Mas? mau berarti sebentar, untuk membeli minuman?"
"Boleh," jawab Tarno, kemudian menepikan mobilnya ke sebuah minimarket yang ada di pinggir jalan.
Ajeng turun dari mobil dengan cepat, tanpa menunggu Tarno terlebih dahulu. Kemudian masuk ke dalam minimarket, membeli minuman untuk Tarno.
"Ini Mas, sudah Ajeng belikan kok," terang Ajeng, saat mendapati Tarno yang baru saja masuk ke dalam minimarket, menyusulnya dirinya yang masuk terlebih dahulu.
"Eh, ya sudah."
Akhirnya mereka berdua duduk terlebih dahulu, di teras minimarket. Yang memang menyediakan tempat duduk, untuk para pelanggannya. Yang ingin menikmati minuman atau makanan ringan di tempat.
__ADS_1
Akhirnya, Ajeng menyerahkan sebotol air mineral pada Tarno. "Ini Mas!"
"Terima kasih Kadek," ucap Tarno, yang sudah terbiasa memanggil Ajeng dengan sebutan Kadek. Sebutan khas orang-orang Bali untuk wanita muda pada umumnya.
Ajeng tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari Tarno, kemudian dia juga meminum air dari botolnya sendiri. Karena dia memang membeli dua botol air minum, dan juga makanan ringan yang dia sukai.
Mereka berdua justru berbincang lumayan lama di teras minimarket.
"Kamu lihat gak, video tentang Jamal yang ada di depan sebuah showroom mobil? Menurut Kamu, itu asli apa setingan ya?"
Tiba-tiba Tarno bertanya pada Ajeng, tentang video yang kemarin viral. Soal insiden yang melibatkan Jamal dengan security dan supervisi sebuah showroom mobil.
"Mungkin saja itu asli Mas. Nyatanya, pemiliknya melakukan klarifikasi dan juga meminta maaf di depan mas Jamal juga kan?" Ajeng memberikan jawaban, dengan apa yang dia lihat di video-video selanjutnya.
"Oh, Kamu mengikuti juga?"
Ternyata Tarno hanya sedang menguji Ajeng. Apakah janda muda tersebut masih memikirkan tentang Jamal atau tidak.
Dia jadi merasa sedikit tidak respect, karena ternyata Ajeng masih peduli dengan Jamal. Bahkan terkesan membela Jamal, temannya yang saat ini memang sedang terkenal. Dan jadi lebih terkenal lagi, setelah insiden video-video kemarin.
Tapi Ajeng ternyata juga peka dengan perubahan sikap Tarno, yang cukup mencolok.
"Videonya itu wira-wiri di beranda media sosial Mas. Jadi mau tidak mau, pastinya Aku ikut melihatnya kan?" terang Ajeng membela diri. Karena dia tidak mau membuat Tarno merasa jika, dia masih memperhatikan dan peduli dengan Jamal.
"Hehehe... iya juga sih," sahut Tarno, yang langsung berubah, di saat mendengar alasan yang diberikan oleh Ajeng padanya.
Ajeng tersenyum menanggapi perubahan sikap Tarno, yang sudah kembali seperti semula. Dan tidak terlihat marah lagi.
Sekarang Tarno mengajak Ajeng untuk kembali melanjutkan perjalanan, ke tempat yang sudah mereka sepakati.
Mereka berdua akan pergi ke suatu tempat, yang bisa membuat mereka bisa lebih dekat lagi, sebagaimana layaknya sepasang kekasih. Karena tempat itu adalah tempat rekreasi, yang sedang viral, dan sering didatangi oleh anak-anak muda pada umumnya.
Yaitu sebuah tempat wisata, yang memanjakan mata. Karena pemandangannya yang indah. Selain itu, ada beberapa tempat atau permainan yang bisa menyatukan mereka berdua, supaya bisa bermain bersama-sama.
"Aku belum pernah datang ke tempat ini Mas," seru Ajeng, di saat baru saja memasuki pintu masuk tempat rekreasi.
"Iya makanya Kamu Aku ajak ke sini. Kamu juga belum lama pulang dari Bali."
Ternyata Tarno cukup peka dan romantis juga, dengan mengajak Ajeng ke tempat wisata yang ramai di sore hari.
Tempat-tempat spot foto yang bagus, juga sudah di dipenuhi oleh anak-anak muda. Yang sedang membidikkan kamera mereka, pada objek yang memang menarik.
Ajeng jadi ingin ikut seperti mereka, sehingga mengajak Tarno untuk naik ke sebuah rumah bambu, yang ada di atas dekat pohon di pinggir sebuah tebing.
__ADS_1
Pemandangan dari tempat itu memang sangat indah. Sehingga jika melakukan foto, juga terlihat menarik dengan tantangan karena di bawahnya adalah jurang yang lumayan curam.
Tapi karena keamanan di tempat wisata ini juga cukup bagus, Ajeng dan Tarno jadi tidak perlu merasa khawatir.