
Seminggu sudah Jamal dan Indah menjadi sepasang suami istri. Setiap hari, mereka berdua selalu melakukan kegiatan yang tidak bisa mereka hentikan.
Setiap hari juga jamal meminta salah satu orang pekerjaannya, untuk mengirimkan susu segar ke rumahnya. Untuk dia minum seperti biasanya. Dan sekarang ditambah dengan adanya Indah juga. Karena memang selama ini, setiap harinya, di rumah ini juga tersedia susu, sejak sebelum dia menikah dulu.
"Ayo Sayang minum ini susunya. Ini sudah Mas campur dengan madu. Bagus untuk stamina dan juga kesehatan kita," ujar jamal sambil menyodorkan segelas susu segar yang sudah dicampur dengan madu kepada Indah, istrinya.
"Iya Mas, terima kasih," sahut Indah, dengan menerima gelas yang diberikan jamal kepadanya.
"Mal Ami mau pergi sebentar untuk belanja ke pasar. Kamu di rumah apa mau pergi ke penggilingan padi? kan besok mau ada peresmian di penggilingan padi."
"Ami mau beli bahan-bahan untuk acara selamatan besok, saat pembukaan pengilingan padi. Tapi Ami mau ajak Indah boleh nggak?" tanya Umi pada Jamal.
Setelah menikah, Jamal memang selalu ada di rumah. Dia jarang keluar, hanya di pagi hari saja dia pergi seperti biasanya dulu.
Pergi ke sawah, kebun jeruk, dan peternakan sapi perah miliknya.
Itu juga dia lakukan pada pagi hari, dan akan kembali ke rumah sebelum jam sepuluh. Karena setelah itu, Dia selalu ada di rumah.
"Boleh Ami. Ajak saja Indah, biar dia juga bisa jalan-jalan sebentar sama Ami."
"Oh ya, nanti Jamal tambahin uangnya, kalau mau belanja."
"Sayang kamu mau kan ikut Ami ke pasar?" tanya jamal pada istrinya yang baru saja selesai meminum susu yang tadi dia berikan.
"Mau Mas. Gak papa kan Indah tinggal sama Ami pergi ke pasar?" Indah justru bertanya balik pada suaminya itu.
"Ya gak apa-apa. Tapi jangan lupa ya ntar malem, harus nambah. Hehehe..." bisik Jamal di dekat telinga istrinya.
Jamal memperbolehkan Indah pergi, tapi dengan suatu syarat, jika nanti malam dia harus diperbolehkan meminta lebih banyak lagi untuk kegiatan mereka.
Indah hanya menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum-senyum malu. Sebab ada Umi diantara mereka berdua.
Tapi Umi hanya diam saja, dan tidak ikut menimpali perbincangan mereka berdua.
'Keduanya sama-sama masih muda, sehat dan bisa dipastikan ini, jika akan segera ada anak besok. Aku akan dengar kabar kalau ada cucu keturunanku di dalam perutnya Indah.'
__ADS_1
Umi membatin dalam hati, dengan rasa yang bahagia karena kedua anaknya itu mesra didepannya kali ini. Tanpa malu-malu lagi seperti dulu.
'Aku merasa senang, punya menantu seperti Indah. Dia bisa membuat Jamal selalu tersenyum setiap hari. Tidak seperti dulu, yang hanya datar dan bekerja bekerja dan bekerja saja yang dia lakukan setiap harinya.'
Umi kembali membatin dalam hati. Dengan apa yang dia lihat saat ini.
*****
Jamal pergi dari rumah, setelah Indah bersama Umi ke pasar.
Dua bermaksud untuk pergi ke pengilingan padi, untuk mengecek segala sesuatunya yang belum selesai. Karena besok pagi sudah harus diresmikan olehnya.
"Mal! mau kemana Kamu?" tanya Hendra pada Jamal. Saat mereka berdua bertemu di jalan menuju ke sawah. Sebab pengilingan padinya ada di persawahan juga.
"Mau ke penggilingan padi Hen," jawab Jamal memberitahu.
"Boleh Aku ikut?" tanya Hendra.
"Ngapain Kamu ikut? gak balik kota Kamu?" tanya Jamal heran.
"Aku ingin tinggal di desa saja. Ingin jadi petani kayak Kamu Mal," terang hendra lagi.
"Bukannya Kamu terbiasa di kota?" tanya Jamal lagi, karena memang itu bukan kebiasaan Hendra.
"Bagaimana lagi Mal, Aku juga sudah tidak ada kerjaan di sana sudah bangkrut Mal!" keluh Hendra memberitahukan kepadanya pada Jamal.
"Bagaimana bisa bangkrut? emang kenapa, kurang modal? nanti aku kasih kalau Kamu kurang modal usaha."
"Udah gak usah Mal. Aku emang pengen di desa saja." Tolak Hendra dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali.
"Lalu rumah Kamu yang baru beli di kota bagaimana?" tanya Jamal lagi.
"Ya nanti Aku lelang lah! Aku mau beli rumah Aku yang dulu lagi, gak papa kan Mal? Aku minta lagi ya, rumahku itu?" Hendra menyampaikan keinginannya pada Jamal.
"Kamu mau hidup di desa yang kecil ini? yang gak bisa bersih kalau jadi petani. Apa Kamu mampu, meninggalkan kota yang bersih dan selalu rapi dikelilingi cewek-cewek cantik? bukankah itu kesukaanmu dulu,?" tanya jamal mengingatkan pada Hendra, pada masa lalu mereka yang dulunya sering dijadikan alasan Hendra untuk pergi ke kota.
__ADS_1
"Iya mau sih, tapi nyatanya semua itu salah. Aku salah dalam menilai bagaimana hidup di desa Mal. Apalagi sekarang bapakku seperti itu. Siapa lagi yang akan merawatnya?" Hendra kembali beralasan.
"Ada paman Kamu Hen, kan bapakmu udah di sana juga?"
"Iya sih, tapi kan Aku nggak enak merepotkan mereka terus. Aku mau belajar dulu sama Kamu. Karena cara pandang Aku yang sudah salah dulu, tentang kehidupan di desa ini. Nyatanya Kamu bisa Mal! masa Aku nggak bisa sih Mal? dibantu ya Aku, bagaimana biar bisa sukses kayak kamu gitu." terang Hendra, memberitahukan kepada Jamal dengan niatannya saat ini.
"Kamu mau gak, kerja di tempatku dulu sebelum Kamu punya modal untuk usaha sendiri gitu?"
"Wah, boleh banget itu. Bisa-bisa deh! gimana-gimana, ada kerjaan buat Aku?" tanya Hendra antusias.
"Bantu Aku ngurus pengilingan padi dulu," tutur Jamal memberikan penjelasan pada Hendra, dengan pekerjaan yang akan dia berikan kepadanya.
"Wahhh, siap-siap!"
*****
Sekarang, Hendra ikut bersama dengan Jamal ke pengilingan padi.
Tapi saat di tengah jalan, Hendra justru membicarakan tentang Lina yang terlihat depresi saat ini.
"Lina itu kayaknya depresi lho Mal, Kamu tinggal kawin dengan adiknya!" terang Hendra menjelaskan tentang keadaan Lina sekarang.
"Maksudnya bagaimana Hen?" tanya Jamal, yang bingung mendapatkan berita tersebut dari Hendra.
"Ya... dia tampak bingung, sedih dan dia... begitulah! Keadaan yang... gimana sih orang kalau patah hati ditinggal kawin sama orang yang dicintai!"
Jamal mengerutkan keningnya bingung, dia berpikir bahwa Hendra hanya sedang mempengaruhi nya saja. Agar merasa bersalah dengan keadaan Lina saat ini.
"Ya udah Kamu aja yang kawin sama Lina!" usul Jamal pada hendra. Yang membuat Hendra melotot ke arahnya.
"Eh, aneh Kamu Mal!"
"Aneh bagaimana? dulu kan Kamu sama dia juga, pas Aku ditolak Lina. Terus ternyata Kamu nya udah punya Ajeng di kota. Eh, tak tahunya Ajeng juga mau dijodohkan dengan Aku. Dan gak mau juga karena ada Kamu. Kok kita jadi kayak gini terus sih!"
Jamal tidak habis pikir dengan keberadaan Hendra, yang selalu menjadi pihak ketiga di antara dirinya dan beberapa wanita yang dulu.
__ADS_1