
Di dalam acara seminar, Jamal justru menjadi idola para peserta. Karena kebanyakan peserta, selain bapak-bapak, ternyata ada ibu-ibu. Apalagi ibu-ibu yang usianya lebih muda. Mereka justru histeris dengan bertepuk tangan, pada saat Jamal mulai berbicara. Sehingga panitia harus berusaha untuk menenangkan para peserta.
"Bos Jamal, i love you!"
Plok plok plok!
"Huwaaa Bos Jamal, idolaku!"
"Bagi no wa Bos!"
"Jadi menantu ku ya Bos!
"Aku juga mau Bos, dijadikan sebagai istri ke berapa terserah Bos Jamal deh!"
Celetukan demi celetukan aneh, membuat ricuh suasana seminar. Yang membuat Jamal merasa tidak enak hati.
Akhirnya Jamal pamit, dengan meminta maaf kepada panitia. Karena dia tidak bisa mengikuti acara seminar sampai selesai, jika suasana seperti ini terus. Dia tidak ingin membuat kekacauan, karen para peserta tidak berkonsentrasi pada tema acara, tapi justru kepada dirinya.
"Bos Jamal udah kayak artis saja ini, bukan nara sumber pembicara, hehehe..." Seloroh satu diantara panita yang ada.
"Ah, bapak bisa saja."
"Tapi, kami sebagai panitia justru yang meminta maaf pada Bos Jamal. Karena malah membuat Bos Jamal jadi di serang para ibu-ibu tadi."
"Tidak apa-apa Pak. Saya minta maaf, tidak bisa mengukur acara sampai selesai."
"Iya tidak apa-apa Bos Jamal. Yang penting acara inti sudah selesai. Kami mengucapkan terima kasih."
Jamal memang ijin pulang di saat acara sudah hampir selesai, dan ada pada jam istirahat. Sehingga bagian dirinya untuk mengisi acara sudah selesai.
Dia tidak mau membuat acara menjadi lebih heboh lagi, karena ulah para peserta wanitanya.
Akhirnya Jamal pulang ke rumah, setelah meminta maaf dan pamit pada panitia pelaksana seminar. Dia juga langsung pergi ke pengilingan padi, untuk menemui Hendra sebentar.
Setibanya di pengilingan padi, Hendra justru meledek penampilan Jamal yang tampak formal. Layaknya pegawai kantor atau eksekutif muda di kota. Bahkan meledeknya mau jadi pengantin lagi.
"Ini Kamu mau ke KUA Mal?" tanya Hendra dengan wajah dibuat sok kagum.
"Heh, apa maksudmu?" tanya Jamal yang tidak paham dengan ledekan Hendra.
"Lihatlah pakaianmu, udah macam pengantin pria saja!" Hendra melihat penampilan Jamal yang memang tidak seperti biasanya.
"Hah sudahlah! Aku ada perlu denganmu."
__ADS_1
Jamal tidak memperdulikan ocehan Hendra yang membuatnya risih. Karena bisa saja, akan ada orang yang mendengar perbincangan mereka ini, kemudian salah paham. Justru akan menjual berita yang tidak-tidak nantinya.
"Ini... Emhhh... maksudnya ada masalah apa, atau perlu bantuan apa?"
Akhirnya Jamal mengingatkan pada Hendra bahwa, besok adalah acara empat bulanan Indah, istrinya. Maka, Hendra sebagai ketua panitia acaranya, di minta untuk siap dengan segala sesuatunya. Termasuk keamanan acara.
"Oh siap itu! Aku sudah koordinasi dengan para hansip desa, dan meminta agar pihak kelurahan untuk mendukung acara ini. Soalnya ini lebih kepada pesta rakyat. Untuk hiburan rakyat juga."
Jamal menganggukkan kepalanya, percaya dengan apa yang dikatakan oleh teman sekaligus anak buahnya itu.
"Baguslah kalau begitu. Aku pamit pulang dulu ya," pamit Jamal setelah di rasa cukup.
"Hati-hati. Nanti banyak gadis yang semakin kesengsem dengan cara Kamu berpakaian rapi seperti itu. Hahaha..."
"Ah sialll Kamu. Sudah, urus saja gadismu!" gerutu Jamal sambil membuka pintu mobil.
Dia segera pulang untuk menemui istrinya, memberikan kabar jika seminar yang tadi dia ikuti cukup sukses, meskipun ada sedikit kekacauan karena ulah ibu-ibu peserta yang heboh mengelu-elukan namanya.
*****
"Wahhh... suamiku ini laris ya jika dilelang. Hihihi..." Indah justru menanggapi dengan tertawa senang.
"Ihsss... Yang, kok gitu sih!"
"Jadi pengen liat itu ibu-ibu yang heboh mengelu-elukan Kamu Mas. Kan bisa bikin..."
"Mmm..."
Indah tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi, karena bibirnya sudah ditutup dengan bibirnya Jamal. Sehingga dia hanya bisa pasrah saja, dan mengimbangi gerakan suaminya yang semakin menuntut.
Setelah beberapa saat kemudian, Jamal keluar dari dalam kamar mandi, dengan membopong tubuh istrinya.
Dia juga membantu istrinya itu, untuk mengenakan pakaiannya lagi.
"Awas ya Sayang. Jangan meledekku lagi. Apalagi ini, apa ini? Pakaiannya Aku tidak suka. Gerah!" Jamal menyingkirkan semua pakaiannya yang tadi dia kenakan saat ikut acara seminar.
"Tapi, ini adalah pakaian formal untuk acara resmi. Memang kenapa Mas?" tanya Indah dengan heran.
"Aku tidak nyaman. Apalagi tadi, di Hendra, mengolok-olok suamimu ini jika seperti seorang pengantin pria yang mau ke KUA. Siall itu si Hendra!"
Sebenarnya Indah ingin tertawa, tapi dia segera menutupi mulutnya, supaya tidak terdengar suara tawanya.
Dia tidak mau jika, suaminya itu kembali kesal dan jengkel, sehingga mengajaknya bermain-main lagi. Meskipun dia juga mau melayani, tapi ini masih siang hari.
__ADS_1
Tok tok tok!
Pintu kamar diketuk dari luar.
Indah bernafas lega, karena ada seseorang yang mengalihkan perhatian suaminya.
"Aku buka pintunya dulu Mas."
"Hum..."
Jamal membiarkan istrinya itu membuka pintu. Entah siapa yang datang mengetuk pintu kamarnya siang ini.
Clek!
Ternyata yang datang mengetuk pintu kamar adalah ART, yang diminta oleh Umi untuk memangil Indah dan juga Jamal. Karena mereka berdua belum makan siang.
"Ami meminta pada mbak Indah dan mas Jamal untuk makan siang," ujar art yang datang memberitahu.
"Oh iya Bi. Kami akan ke sana. Terima kasih," ucap Indah dengan menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Jamal yang ternyata sudah ada dibelakangnya Indah, memegang bahu istrinya itu untuk segera mengajaknya ke meja makan.
"Ayo Sayang. Mas juga sudah lapar. Dan jangan biarkan anak-anakku kelaparan juga di dalam perutmu ini."
Indah tersenyum, karena Jamal berkata demikian dengan mengelus-elus perutnya.
Mereka berdua segera berjalan menuju ke arah meja makan, di mana Umi sudah menunggu mereka berdua.
Umi duduk sambil mengupas mangga besar, yang sudah matang. Untuk diberikan kepada Indah. Karena menantunya itu makan buah lebih banyak dibandingkan nasi selama hamil. Termasuk dengan buah anggur dan juga buah pisang.
"Ayo Indah. Ini Ami sudah kupas mangga buat Kamu," terang Umi, dengan menunjuk piring yang berisi potongan buah mangga.
"Ami. Indah juga bisa kupas sendiri Ami," protes Indah yang merasa tidak enak hati. Karena dilayani terus oleh ibu mertuanya itu.
"Heh, tidak apa-apa. Ini juga untuk cucu-cucu Ami kok, bukan untuk Kamu. Hehehe..."
"Hahaha..."
"Hehehe... Ami bisa saja."
Jamal dan Indah sama-sama tertawa, menanggapi perkataan Umi yang sedang mencari alasan. Supaya anak menantunya itu tidak sungkan dengan apa yang dia lakukan untuknya.
Umi juga tahu, jika dalam keadaan hamil, seorang wanita itu butuh diperhatikan bukan hanya dari suaminya saja. Tapi juga dari orang-orang disekitarnya.
__ADS_1