
Misi yang harus diselesaikan oleh Jamal, tinggal sehari lagi. Yaitu dengan mencari lahan lima hektar, yang belum dia dapatkan.
Jamal sudah ketar-ketir, karena waktu yang sudah mepet. Sedangkan di kampung sebelah, sudah tidak ada lahan yang akan dijual oleh pemiliknya.
[ Ding ]
[ Selamat pagi Tuan ]
'Waktu misi sampai jam berapa?'
[ Ding ]
[ Perhitungan waktu Tuan sampai jam empat ]
'Jam empat sore ini?'
[ Ding ]
[ Benar Tuan ]
'Baiklah. Aku akan usahakan segera.'
[ Ding ]
[ Selamat bekerja Tuan ]
[ Ding ]
Akhirnya, hari ini Jamal kembali ke kampung sebelah. Dia akan berusaha semaksimal mungkin, untuk bisa mendapatkan kekurangan lahan yang harus dia dapatkan.
Sekarang, dia ke tempat lain. Maksudnya ke lahan lain, yang tidak sama seperti yang kemarin-kemarin. Karena di tempat yang sama kemarin, tidak ada lagi petani yang mau menjual lahannya.
Tapi sampai jam dua siang, dia tidak mendapatkan apa-apa bahkan ban motornya sempat bocor, sehingga dia harus ke bengkel. Untuk menambal ban motornya atau menggantinya dengan yang baru.
Jam makan siang juga terlewatkan, karena kesibukannya itu, sehingga membuatnya lupa untuk mengisi perut. Alhasil, sampai jam tiga sore perutnya sudah keroncongan dan tubuhnya juga lemas.
Jamal mencari warung. Tapi ternyata tidak ada warung yang buka. Bahkan, warung yang biasanya dia singahi untuk ngopi atau makan siang juga sudah tutup. Karena tumben-tumbenan makanannya sudah habis.
"Ini tumben warung sudah pada tutup semua ya," pikir Jamal, dengan menahan rasa lapar di perutnya.
Sebenarnya, dia bisa saja menelepon Indah atau Umi, untuk meminta dikirimkan makanan. Tapi dia tidak mau melakukannya, karena itu akan membuat orang rumah merasa khawatir.
Akhirnya Jamal pergi ke tepi sungai, di mana kemarin dia mendapatkan dua lahan dari dua petani yang ada di seberang sana.
__ADS_1
Dia melihat-lihat, seandainya nanti jadi membuat jembatan dan jalan, di mana kira-kira yang strategis dan cocok untuk pembuatan jembatan tersebut.
"Tuan Jamal! Tuan Jamal!"
Dari arah belakang, ada seseorang yang memanggil-manggil namanya. Dan ternyata, orang itu adalah salah satu petani, yang kemarin lahannya di beli oleh Jamal.
Yaitu lahan yang ada di sebrang sungai sana.
"Oh ya Kang, ada apa?" tanya Jamal, setelah orang tersebut sampai di dekatnya.
"Tadi aku berpapasan dengan Tuan Jamal, Tapi Tuan tidak mendengar saat Aku panggil. Di rumah ada selamatan, karena lahan sawahnya sudah Tuan beli. Jadi, seandainya Tuan mau, silahkan ayo mampir! ikut selamatan di rumahku."
Orang tersebut ternyata mengundang Jamal, untuk ikut selamatan di rumahnya.
Jamal bersyukur, karena dalam keadaan lapar seperti ini, ada orang yang mengundangnya makan di rumah, karena ada acara selamatan.
Tapi waktu untuk mencari lahan tinggal setengah jam lagi. Itu artinya, dia punya waktu tiga puluh menit saja mulai saat ini.
Seandainya sampai tiga puluh menit itu dia tidak mendapatkan lahan, maka dia gagal dengan misinya. Dan tidak mendapatkan poin. Baik poin utama maupun kotak bonus. Yang bisa jadi, bonusnya itu jauh lebih besar daripada poin utamanya.
Sebenernya, Jamal ragu untuk menerima undangan tersebut. Tapi itu tidak sopan, karena orang tersebut sudah mencarinya hingga sejauh ini.
Akhirnya ,Jamal memutuskan untuk menerima undangan tersebut. Dan mengikuti orang itu dari di belakang.
Ternyata, di rumah orang tersebut sudah ada banyak orang, yang berkumpul untuk melakukan selamatan. Mereka tinggal menunggu Tuan rumah, yang datang bersama dengan Jamal.
"Wahhh Tuan Jamal, terima kasih ya sudah mau membeli beberapa lahan di kampung ini. Padahal, lahan itu sebenarnya tidak begitu subur dan Tuan juga mau membelinya dengan harga yang sangat tinggi."
"Iya sama-sama. Itu karena saya sedang butuh untuk lahan jagung. Dan mereka, yang pemilik sebelumnya, masih mau mengarap lahan itu juga."
Jamal memberikan penjelasan seadanya pada mereka semua.
"Oh iya Tuan Jamal. Masih butuh lahan tida?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya masih sih sebenarnya. Tapi seharian ini Aku tidak mendapatkan lahan yang bisa Aku beli." terang Jamal pada orang tersebut.
"Oh... kebetulan sekali! itu punya paman saya ada yang mau dijual. Orangnya sudah pindah ke kota, dan lahannya nganggur. sudah menjadi kebun alang-alang. Mau dijual gak laku-laku. Ada sekitar enam hektar luasnya. Itu jika tidak salah sih segitu."
"Oh ya? ada di mana lahanya? maksudnya letak lahannya," tanya Jamal antusias, karena tanpa dia duga, ada orang yang memberikan tawaran. Padahal dia tidak mencarinya.
"Lahannya ada di sebelah punya kang ini, di seberang sungai. Makanya, karena di sana, susah laku. Di garap juga susah. Pamanku tidak merawatnya, Saya disuruh merawat, tapi saya tidak mau. Soalnya biaya untuk perawatan tanaman dan hasilnya, tidak seimbang. Lebih baik saya bekerja jadi kuli."
Orang tersebut memberikan penjelasan kepada Jamal, tentang lahan yang ditawarkan.
__ADS_1
"Emhhh... begitu ya. Kalau tidak keberatan sih, boleh Saya beli?" tanya Jamal tertarik.
"Tentu saja boleh Tuan! itu saya menawarkannya. Paman Saya pasti akan sangat senang, jika tahu lahanya itu sudah dibeli orang. Apalagi dengan harga yang lumayan cukup tinggi. Dia bisa menambah modalnya di kota sana!"
"Bolehlah kalau begitu. Kebetulan lahannya berdampingan dengan lahan yang kemarin."
"Kamu mau kan Kang, sekalian mengarap lahan tersebut?" tanya Jamal pada pemilik rumah, yang tentunya akan menggarap lahan jagung yang ada di seberang sungai, karena dia adalah pemilik sebelumnya.
"Iya Tuan mau. Kebetulan lahannya ada sebelah yang kemarin. Yang ada banyak alang-alang tingginya! itu sepanjang itu... memang sekitar ada enam hektar. Soalnya Pamannya ini masih saudara dengan bapak saya dulu."
Orang tersebut justru memberikan penjelasan kepada Jamal, bagaimana asal-usul tanah yang ada di sebelah sungai.
Akhirnya Jamal dengan tenang hati menerima lahan tersebut untuk dia beli. Harganya tidak perlu repot-repot untuk nego lagi, karena disamakan dengan lahan yang kemarin, milik Tuan rumah ini.
Orang yang tadi memberikan penawaran juga dengan sangat senang. Dia memberitahu pamannya, kemudian meminta pamannya mengirimkan rekening bank agar Jamal bisa segera mentransfer harga beli dari lahan tersebut.
Akhirnya sore ini Jamal merasa sangat lega. Karena selain perutnya kenyang, dia juga bisa mendapatkan bahan justru lebih banyak daripada target yang seharusnya, karena awalnya kekurangan lahan yang ada pada misi hanya lima hektar. Sedangkan dia mendapatkan enam hektar.
[ Ding ]
[ Selamat sore Tuan ]
'Aku sudah selesai dengan misi lahan jagung.'
[ Ding ]
[ Selamat atas kerja kerasnya Tuan ]
[ Hadiah utama telah dikirim ]
[ Buka kotak box untuk pengambilan bonus ]
'Semoga hadiahnya besar!'
[ Ding ]
[ Kotak box senilai 1juta poin ]
'Wah... banyak sekali! Terima kasih.'
[ Ding ]
[ Selamat atas keberhasilan Tuan ]
__ADS_1
Jamal tersenyum senang, karena bonus dari poin misi ini sangatlah banyak.
Dia bisa membelikan bibit jagung dan juga alat-alat, yang bisa digunakan para penggarap lahan jagungnya nanti.