
Peningkatan yang sangat besar dengan kehidupan Jamal bersama dengan keluarganya, membuat kehidupannya itu dibicarakan oleh banyak orang.
Apalagi bagi mereka, yang tahu tentang channel khusus yang dimiliki oleh Jamal.
Mereka semua juga menginginkan hal yang sama, yaitu bisa mengikuti jejak seorang Jamal. Yang sukses di bidang pertanian, dan juga chanel khusus miliknya, yang diperolehnya bersama-sama istri.
Apalagi setelah banyak orang yang tahu, jika Lina, sudah menjadi istrinya Jamal juga. Sebab itu juga, Jamal membuat dua rumah untuk kedua istrinya itu.
Tapi dari dua sisi kehidupan, jika ada yang suka dan menyanjung, bisa dipastikan pastinya akan ada yang iri, dengan menyebarkan beberapa fitnahan ataupun suatu berita yang tentunya tidak benar.
Berbeda dengan orang lain, Tarno, anaknya Pak kades, punya penilaiannya sendiri. Atas keberhasilan seorang Jamal di masa lalu dengan yang sekarang ini.
Maksudnya, keberhasilan Jamal sebelum datangnya bencana. Dengan keberhasilan Jamal, setelah pasca bencana alam yang terjadi kemarin.
Tarno yang berpikir bahwa Jamal tidak akan bisa bangkit dari keterpurukan, karena sudah tidak memiliki modal, ternyata salah besar.
Apalagi, setelah Hendra tiada dan Lina menjadi seorang janda, sebenarnya Tarno menginginkan Lina untuk menjadi istrinya.
Dia tidak pernah menyangka, jika akhirnya Lina justru mau diperistri oleh Jamal. Yang dulunya pernah dia tolak, kemudian gantian Lina yang ditolak oleh Jamal.
Perjalanan cinta yang rumit. Sebab Lina memang seorang wanita yang cantik.
Bisa dibilang, Lina dan Indah lebih cantik Lina. Jadi sebab itu juga, yang membuat Lina menjadi sombong di masa lalu.
Tarno juga merasa sangat heran, karena dia sangat tahu, bagaimana keadaan Jamal yang dulunya bodoh dan hanya lulusan SD saja.
Tapi ternyata, keberhasilan dan kesuksesan seseorang, kadang tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan, ataupun ijazah yang dimiliki oleh orang tersebut.
Dan Jamal membuktikan kebenaran tentang hal itu, dengan sebuah keberuntungan yang dia miliki.
Pagi ini, kebetulan Tarno bertemu dengan jamal di jalan. Mereka berdua akhirnya berbincang-bincang sebentar, sebagaimana kebiasaan orang-orang kampung, jika bertemu dengan temannya.
"Wahhh... makin sukses nih Bos Jamal!" tegur Tarno, dengan menaikkan dagunya.
"Ah, sukses bagaimana sih Gan Tarno ini, masih kalah dengan pak Lurah dan juragan Tarno tentunya." Jamal mengelak dari pujian yang diberikan oleh Tarno.
Pak Lurah atau pak kades, memang salah satu orang terkaya di desanya. Baik waktu sebelum, maupun pasca bencana alam kemarin.
Pak Lurah, punya banyak usaha. Dan usahanya itu tidak hanya ada di daerah ini saja. Tapi ada banyak di luar daerah juga. Dengan orang-orang kepercayaannya, yang memegang usaha tersebut.
Sedangkan anaknya, Tarno, ikut membantu memegang usaha yang ada di daerahnya ini.
Apalagi saat ini, Pak Lurah sudah tua dan mau pensiun. Sehingga Tarno sebagai seorang anak, yang menggantikan posisi pak Lurah di bidang usahanya. Yaitu sebuah usaha transportasi umum, untuk dalam dan luar kota.
"Orang bilang, laki-laki yang sukses itu yang berani ambil istri lebih dari satu. Lah Aku, satu aja belum. Wkwkwk.. ngenes banget hidupku ini." Tarno mengeluhkan kondisi nasibnya, dengan nada bercanda.
"Itu sih bukan karena gak ada, tapi juragan Tarno yang tidak mau saja!" sanggah Jamal, yang sangat tahu, jika Tarno adalah temannya yang juga tidak banyak bergaul dengan cewek-cewek cantik.
__ADS_1
Tarno termasuk orang yang gila kerja. Dengan semua usaha keluarga yang dia pegang. Membuat waktu untuk dirinya sendiri justru terabaikan.
"Yahhh... mau bagaimana lagi. Wanita yang Aku incar sudah menjadi istri orang lain!" keluh Tarno dengan tersenyum miris.
Jamal yang belum pernah mendengar tentang berita kedekatan Tarno dengan wanita manapun, menjadi menyipitkan satu matanya. Melihat kesungguhan pada wajah temannya itu.
"Siapa yang berani menikung gan Tarno coba? Atau, wanita itu tidak tahu, jika juragan Tarno ini adalah orang yang kaya raya?"
Sehabis bicara demikian, Jamal teringat dengan kejadian Ajeng.
Dulu, dia juga di tolak seorang gadis, saat mau dijodohkan dengannya. Sebab gadis tersebut, yaitu Ajeng, mengira jika Jamal hanyalah seorang pemuda kampung yang miskin.
Apalagi saat tahu, jika Jamal berprofesi sebagai petani. Ajeng dengan tegas menolak perjodohan tersebut.
"Hhh..."
Jamal menghela nafas panjang, saat ingat dengan kejadian perjodohan dirinya sendiri.
Pluk!
"Hai, ada apa Kamu Mal?" tanya Tarno, dengan menepuk pundak Jamal. menyadarkan Jamal dari lamunannya.
"Ah, gak apa-apa."
"Sudahlah. Tidak usah bahas soal jodoh. Mungkin saja, jodohku sedang nyangkut di rumah orang. Hahaha..."
Jamal hanya bisa mengangguk saja, sambil tersenyum-senyum. Dia bangga dengan kebesaran hati temannya itu. Tapi dia juga merasa penasaran, dengan sosok wanita yang dibicarakan Tarno tadi.
*****
Malam hari, sebelum Jamal pergi ke rumah Lina. Dia mengaktifkan sistem terlebih dahulu. Karena selama pembangunan dua rumahnya, Sonya tidak pernah muncul dengan sendirinya. Sama seperti dulu.
Jadi, setelah Jamal membuka pintu hatinya untuk Lina, Sonya sudah tidak lagi ikut campur dalam urusan cinta Jamal.
Sonya benar-benar hanya menjadi sistem bertani, yang membantu Jamal.
[ Ding ]
[ Selamat malam Tuan ]
'Selamat malam Sonya. Apa Aku tidak menganggu waktu istirahatmu?"
[ Ding ]
[ Tentu saja tidak Tuan ]
[ Apa Tuan perlu bantuan ]
__ADS_1
'Tidak. Aku hanya kangen dengan kehadiranmu.'
[ Ding ]
[ Terima kasih Tuan masih merindukanku ]
'Apa Kamu tidak merindukan diriku?'
[ Ding ]
[ Apa sistem punya rasa rindu ]
'Jadi... Kamu tidak pernah merindukanku ya?'
[ Ding ]
[ Tuan tidak perlu bersedih hati ]
[ Sistem bisa tetap merasakan kebahagiaan ]
'Kamu tidak marah kan? sebab Aku menerima Lina dari hatiku. Bukan hanya karena pengaruh dari sistem.'
[ Ding ]
[ Sistem bertugas untuk membantu Tuan ]
'Terima kasih Sonya. Aku merindukanmu.'
[ Ding ]
[ Sama-sama Tuan ]
Jamal menghela nafas panjang, setelah layar sistem menghilang dari pandangannya.
Sekarang, Jamal berjalan menuju ke rumahnya Lina. Karena tadi, dia sudah berada di rumahnya Indah.
Dan Indah juga tidak merasa keberatan, saat Jamal pamit ke rumahnya Lina.
Indah justru mengatakan bahwa, dia akan penjaga anak-anaknya sendiri malam ini. Sehingga tidak ada satu pun, anak-anaknya, yang ikut tidur bersama dengan ibunya, di rumahnya Lina.
Selama ini, anak-anak mereka diberikan kebebasan untuk memilih tempat tidur. Baik di rumah mamanya, Indah, maupun di rumah ibunya, yaitu Lina.
Tapi, baik Indah maupun Lina sendiri, tahu diri. Sehingga pada saat giliran Jamal harus bermalam di rumah siapa, anak-anak akan digiring ke rumah mereka yang tidak mendapatkan giliran.
Antara indah dan Lina, seperti punya perjanjian yang tidak tertulis. Untuk memberikan kenyamanan pada suaminya itu, yang sedang bersama istrinya.
Istri yang sedang mendapatkan giliran Jamal untuk bermalam, supaya bisa merasakan kenyamanan saat bersama.
__ADS_1
Mungin orang akan melihat keadaan ini dengan menilainya sangat istimewa.
Tapi siapa yang tahu, bagaimana keadaan di depan nanti. Sebab, hal yang menyangkut soal hati itu tidak bisa ditebak. Apalagi juga ada hati yang sedang bersaing.