Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Sesuatu Yang Beda


__ADS_3

Seharian penuh Jamal dan Tarno berputar-putar, untuk mencari bibit pohon durian yang diperlukan oleh Jamal.


Karena sangking banyaknya, mereka harus mencari ke penjual bibit yang lain. Karena satu tempat saja, tidak akan mencukupi kebutuhan lahan yang sudah disediakan oleh Jamal, di lahan jagung yang belum digunakan sebelumnya.


Sore hari, mereka baru mendapatkan sekitar 750 bibit pohon durian. Yang akan dikirim oleh penjualnya. Ke alamat yang sudah diberikan oleh Jamal langsung pada mereka.


Sebab, 750 pohon durian tersebut juga didapat dari tiga tempat. Bukan hanya sekedar saru orang saja.


"Kita pulang saja dulu No. Besok-besok, jika Kamu ada waktu luang dan tidak ada kerjaan, kita bisa cari lagi sekalian jalan-jalan. Sama seperti sekarang ini. Hehehe..."


"Eh gampang itu Mal. Yang penting, Aku pas waktunya free aja," sahut Tarno dengan cepat.


Sekarang, mereka memutuskan untuk mencari tempat beristirahat dulu. Sekedar untuk menikmati makanan dan minuman sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah. Meskipun sebenarnya mereka berdua sudah makan siang, tapi tidak ada salahnya, jika hanya sekedar mampir ngopi dan makan-makanan ringan yang lainnya.


Tapi nyatanya, Jamal justru mengajak Tarno untuk masuk ke sebuah kafe, yang bukan hanya sekedar kafe biasa. Sebab, kafe di sini menyediakan berbagai menu makanan dan minuman sesuai dengan selera mereka.


Hampir mirip dengan sebuah rumah makan pada umumnya.


Padahal, Kafe atau kafetaria identik dengan kopi dan makanan ringan pendamping. Seperti roti, pie, es krim, kentang goreng, atau pasta. Yang tidak semua jenis makanan tersebut cocok untuk lidahnya Jamal.


Menu di kafe juga cenderung sama setiap harinya dan jarang berganti. Kafe biasanya menyediakan tempat yang nyaman, santai, kasual, dan memiliki desain interior yang cukup unik.


Pada umumnya sebuah kafe memang ramai dikunjungi oleh konsumen atau pembeli, karena kafe tersebut memiliki hidangan yang lezat dan memanjakan lidah.


Makanan yang menggugah selera tentunya akan membuat sebuah kafe digandrungi oleh banyak konsumen atau pengunjung.


Tarno yang terbiasa makan di jalan, karena sering ikut bus pariwisata ataupun luar kota, tentunya lebih berpengalaman tentang banyak jenis makanan.


Akhirnya, Jamal meminta kepada Tarno, supaya memesankan makanan yang tidak biasa menurutnya. Tapi, tetap nyaman di lidahnya. Yang tentunya belum terbiasa dengan makanan yang aneh-aneh, dari luar negeri misalnya.


"Kamu mau makan apa memangnya Mal?"


"Kira-kira yang enak dan tidak terasa aneh di lidahku ajalah No!"


Tarno menyipitkan matanya, mendengar permintaan yang dikatakan oleh Jamal. Tentang jenis makanan yang diinginkan.

__ADS_1


Akhirnya Tarno harus berpikir sejenak, sebelum memutuskan untuk memesan makanan untuk mereka berdua. Sebab, dia juga tidak mau jika, apa ya nanti dia bosan tidak dimakan oleh Jamal karena tidak doyan.


Tak lama kemudian, Tarno memutuskan untuk memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Yang kemungkinan besar, Jamal masih bisa menikmatinya juga.


Pilihan Tarno kali ini, untuk pesanan makanan dan minuman, memilih yang kategori biasa tidak yang aneh-aneh.


Yaitu dua porsi Pai atau pie, dengan dua porsi kentang goreng. Untuk minumannya, Tarno memesan dua coffe latte.


PAI, atau pie dalam bahasa Inggris, merupakan sebutan bagi kue dengan adonan pastry yang diberi isian. Kemudian disajikan dengan bentuk adonan isi yang tertutup maupun terbuka, kecil, besar, gurih, ataupun manis. Pai pertama dibuat secara sederhana, dan umumnya dengan rasa gurih yang terdiri dari keju dan daging.


Kentang goreng adalah hidangan yang dibuat dari potongan-potongan kentang yang digoreng dalam minyak goreng panas. Di dalam menu rumah-rumah makan, kentang goreng yang dipotong panjang-panjang dan digoreng dalam keadaan terendam di dalam minyak goreng panas. Yang biasanya disebut dengan French fries.


Untuk Caffé latte atau kopi latte, merupakan salah satu jenis minuman kopi susu yang populer di samping Cappucino. Sekilas, kedua jenis minuman ini memang mirip, tapi mereka punya takaran dan rasa yang berbeda.


Jamal mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Tarno. Karena dia memang tidak begitu memperhatikan tentang jenis-jenis makanan, dan juga minuman yang tenar saat ini.


"Kalau untuk kentang goreng, bahannya ada banyak rumah itu. Kadang kala Indah juga buat kentang goreng untuk camilan kita sekeluarga. Tapi Aku yakin, jika rasa kentang goreng di rumah dengan kentang goreng yang ada di kafe, pastinya juga berbeda."


Tarno tersenyum tipis, mendengar perkataan Jamal. Yang menanggapi pesanan yang dia lakukan untuk makanan dan minuman yang akan mereka nikmati nanti.


"Sesekali Aku akan ajak Kamu No, buat cari makanan dan minuman. Yang bisa buat kita yantai dan menginspirasi tentang masalah yang tentunya akan terus kita hadapi sepanjang masa."


Sama halnya seperti sekarang ini.


Meskipun Jamal belum terbiasa dengan makanan ataupun minuman yang sekiranya tidak cocok untuk lidahnya, dia akan tetap mencobanya. Dan kemungkinan besar, Jamal akan terus ketagihan nantinya.


Mungkin, sesuatu yang belum pernah dicoba, memang perlu untuk dicoba. Jika sudah demikian, tinggal kita bagaimana cara memutuskan. Apakah mau terus mencobanya, atau berhenti. Kemudian mencoba dengan yang lain lagi.


*****


"Kita langsung pulang nih? Gak mampir ke mana lagi gitu Mal?"


Tarno bertanya pada Jamal, di saat mereka baru saja ke luar dari kafe. Yang telah memberikan pengalaman baru untuk Jamal tentang makanan dan minuman yang digemari oleh masyarakat saat ini.


"Jika Kamu ada ide bagus gak apa-apa, jika kita mampir ke mana gitu," sahut Jamal, memberikan kebebasan kepada temannya itu.

__ADS_1


"Emhhh... ke mana ya?"


Tarno memegang keningnya sendiri, mencoba untuk mencari ide.


"Mas Tarno!"


Sebelum Tarno menemukan ide untuk pergi ke suatu tempat, atau seorang wanita yang memanggil namanya.


Tarno menoleh ke belakangnya, ke arah sumber suara yang sepertinya dia sudah kenal dengan baik.


"Kadek? Sedang apa di sini?"


Ternyata, yang menegur Tarno adalah Kadek Ajeng. Janda muda, yang di kenal Tarno waktu berada di Bali.


Akhirnya, Tarno menyalami Kadek Ajeng, dengan maksud untuk memperkenalkan Jamal pada janda muda tersebut.


"Ini, Aku bersama dengan temanku ke sini. Namanya Jamal."


Tarno menggeser tubuhnya, untuk memperkenalkan Jamal pada Kadek Ajeng.


Sedetik kemudian, Jamal dan Kadek Ajeng sama-sama saling pandang. Kemudian mengulurkan tangan mereka dengan ragu-ragu.


Hal ini membuat Tarno menyipitkan matanya. Karena dia melihat sesuatu pada kedua orang tersebut. Yang sepertinya dia tidak ketahui sebelumnya.


"Mas Jamal, apa kabar?"


Akhirnya, Kadek Ajeng menyapa dan menyelami jamal terlebih dahulu. Padahal, Jamal sudah berusaha untuk pura-pura tidak mengenali Ajeng.


Tapi ternyata, Ajeng sendiri yang menyapa Jamal terlebih dahulu. Sehingga membuat Tarno mengerutkan keningnya bingung. Melihat Kadek Ajeng yang ternyata sudah mengenal Jamal juga.


Namun beberapa saat kemudian, Tarno akhirnya berpikir bahwa, Kadek Ajeng mengenal Jamal melalui channel khususnya. Yaitu Jamal Farm News.


"Wah Mal! Ternyata Kamu itu udah ngartis ya. Hahaha... Aku jalan sama artis ini!"


Tarno salah paham dengan apa yang dia lihat, sebab Kadek Ajeng yang ternyata sudah mengenal temannya itu.

__ADS_1


Jamal sendiri, yang belum menjawab pertanyaan dari Ajeng, hanya bisa tersenyum tipis. Dan tidak tahu, apa yang harus dia katakan saat ini.


Tapi Ajeng ternyata cukup peka, sehingga dia hanya menanggapi nya dengan tersenyum tipis. Sebab, dia sebenarnya juga mengikuti Jamal Farm News. Meskipun tidak pernah berkomentar, sehingga Jamal tidak pernah mengetahui keberadaan akun memilikinya.


__ADS_2