
Malam harinya, Jamal dan Umi bersama dengan dua orang karyawan, yang merupakan temannya Indah sendiri di kebun jeruk dan ART di rumahnya, datang ke rumah Indah. Guna melamar Indah untuk dijadikan sebagai calon istrinya Jamal.
Jamal juga mengajak kang Wahid dan pak RT bersama dengan istrinya, guna di jadikan sebagai seseorang yang dihormati sebagai sesepuh di sekitar rumahnya. Karena dia sendiri sudah tidak punya ayah.
Orang tuanya Indah, yang sudah diberitahu oleh Indah sebelumnya, juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk menyambut kedatangan tamu-tamu, yang akan melamar anaknya.
Meskipun tamunya adalah bukan orang jauh, dan tidak dalam jumlah yang banyak, mereka berdua tetap mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Di bantu juga oleh kedua anak gadisnya, yaitu Indah dan juga Lina. Kakaknya Indah sendiri.
"Assalamualaikum... "
"Assalamualaikum..."
Rombongan Jamal mengucapkan salam, begitu sampai di depan teras depan rumahnya Indah.
Bapaknya Indah dan ibunya, yaitu pak Hadi dan bu Anita, yang memang sudah ada di teras menyambut kedatangan mereka dengan membalas salam.
"Waallaikumsalam..."
"Waallaikumsalam..."
Dengan menjawab salam, Pak Hadi dan bu Anita juga mempersilahkan semua tamunya itu, untuk masuk ke dalam rumah.
"Mari, mari silahkan masuk."
"Monggo lho, monggo..."
Para tamu yang juga membawa beberapa buah tangan sebagai oleh-oleh, atau hantaran lamaran, masuk ke dalam rumah setelah di persilahkan oleh tuan rumah.
Mereka juga meletakkan apa yang mereka bawa, sebelum akhirnya duduk di tempat yang sudah disediakan.
Akhirnya pak RT, berbicaralah terlebih dahulu, sebagai wakil dari keluarga Jamal. Yang memang memintanya untuk ikut, sebagai wakil dari ayahnya.
Setelah beberapa penyampaian informasi tentang lamaran yang mereka ajukan, pak RT menyatakan bahwa, Jamal mengajukan permohonan lamaran untuk anak mereka berdua, yang bernama Indah Dewi.
"Kami, sebagai orang tua, terutama bapaknya, menyerahkan keputusan tersebut pada Indah Dewi sendiri. Karena ini adalah sebuah keputusan untuk kehidupannya di kemudian hari. Jika dia mau, Saya hanya bisa merestui hubungan mereka berdua."
Kini, bu Anita mengajak kedua anaknya, Indah Dewi dan Lina, untuk keluar dari dalam kamar.
"Wah... sama-sama cantik ya!
"Indah meskipun masih sedikit pucat tetap cantik ya!"
"Mas Jamal gak bingung kan ya?"
"Itu Mbak nya udah punya calon belum ya?"
Beberapa dari mereka, justru saling bisik-bisik, membicarakan Indah dan Lina.
__ADS_1
Akhirnya Pak RT bertanya pada Indah, tentang lamaran yang dia bawa untuk Jamal.
"Katanya sih, yang mbak nya itu dulu menolak mas Jamal. Gak tau nya sekarang malah jadi adik iparnya ya."
"Udah-udah. Bekuk jodoh mau gimana lagi."
Bisik-bisik pun kembali terjadi, saat pak RT bertanya pada Indah. Apakah dia bersedia untuk menerima lamaran Jamal atau tidak.
Dengan tersenyum malu-malu dan wajah yang tampak memerah, Indah melihat ke arah kedua orang tuanya. Dan di saat mereka berdua menganggukkan kepalanya, begitu juga saat dia melihat ke arah kakaknya, Lina, dan Lina juga ikut menganggukkan kepalanya, meskipun dengan senyuman yang dipaksakan. Indah akhirnya ikut menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
"Alhamdulillah..."
Pak RT mengucapkan rasa syukur, atas diterimanya lamaran Jamal pada anaknya pak Hadi dan bu Anita.
Jamal dan Umi, di panggil oleh pak RT untuk maju ke depan. "Nak Jamal dan Umi, mari ke depan untuk memasangkan cincin dan acara yang lainnya juga."
Dengan senyuman yang terus mengembang di bibir mereka berdua, Jamal dan Umi sama-sama maju ke depan.
Acara lamaran berjalan dengan lancar, kemudian disambung dengan acara makan-makan. Dengan beberapa hidangan yang sudah disediakan oleh keluarga pak Hadi dan bu Anita.
Indah juga selalu menyunggingkan senyuman manis, menggambarkan bagaimana keadaan hatinya yang sedang dalam keadaan bahagia.
Setelah acara selesai, Jamal dan rombongannya pamit untuk pulang.
Tapi sebelum Jamal keluar dari dalam rumah, dia berbisik pada Indah. "Cepat sembuh dan kembali bekerja ya! Aku kangen jika Kamu gak ada."
Dan Lina yang melihatnya dari jarak yang cukup jauh, menjadi berkaca-kaca menahan rasa sedih dalam hati. Melihat Jamal yang sekarang terlihat lebih mesra dengan adiknya.
*****
Pembangunan gudang untuk pengilingan padi Jamal, sudah 50%. Tinggal setengahnya lagi, kemudian di isi dengan mesin-mesin yang sudah dia pesan.
Jamal datang untuk melihat proses pembangunan gudang tersebut. Setelah dia selesai dengan pekerjaannya di sawah.
Dia juga berbincang-bincang dengan mandor bangunan, yang sudah dia kenal dengan baik. Sebab mandor bangunan tersebut juga yang dulu merenovasi rumahnya. Membangun rumah baru yang sekarang dia tempati, dan juga tempat peternakan sapi perah miliknya.
"Bos Jamal, terima kasih ya! Udah percayakan pada Saya atas semua pembangunan yang Bos buat untuk usaha Bos selama ini."
"Hehehe... terima kasih kembali. Saya senang dan puas dengan hasil kerja tim Bapak. Jadi, buat apa cari pemborong lainnya."
Akhirnya mereka berdua berbincang-bincang sebentar, sebelum Jamal pamit untuk pulang.
"Hati-hati Bos!"
Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan tersenyum senang. Kemudian pergi dengan mengunakan sepeda motornya yang sudah tua.
"Bos kok gak mencerminkan kekayaannya. Masa pakai sepeda motor buntut begitu? aneh-aneh saja itu Bos Jamal. Padahal, kekayaannya, ck ck ck... gak nyangka aja. Padahal usianya juga masih muda. Baru dua enam ternyata. Tapi sukses dengan usaha yang dia tekuni."
__ADS_1
"Pak mandor, sedang bicara dengan siapa?" tanya anak buahnya, yang sedang lewat dan melihatnya berbicara seorang diri.
"Sama demit sawah!" celetuk psk mandor, menjawab pertanyaan dari anak buahnya.
"Hahaha... pak mandor gak kesurupan kan?"
"Ah, sialll Kau!"
Teng!
Gubrakkk!
"Awww..."
Pak mandor menendang tangki air yang ada di dekatnya, tapi justru dia yang terjatuh. Dan ternyata, dia tidak bisa bangun dengan mudahnya. Sehingga anak buahnya tadi panik melihat keadaannya.
"Pak mandor. Pak mandor!"
"Woiii tolong woiii..."
Anak buahnya tadi berteriak-teriak memanggil temannya yang lain, untuk meminta bantuan. Agar bisa menolong pak mandor yang jatuh.
Akhirnya semua anak buahnya pak mandor datang, untuk membantu atasannya itu.
Kini, pak mandor di tidurkan di sebuah bangku panjang, terbuat dari bambu, yang biasa digunakan untuk duduk-duduk jika sedang beristirahat.
"Apa yang terjadi?"
"Ini bagaimana pak mandor bisa begini?"
Semua panik, karena keadaan pak mandor yang tidak biasa. Badannya lemas, dan diam saja. Tapi matanya terbuka dan berkedip biasa saja.
Dan di saat semuanya sudah dalam keadaan panik, tiba-tiba...
"Baaa!"
"Astaghfirullah..."
"Aduh!"
"Wow..."
"Hiiiih..."
"Hahaha..."
Ternyata pak mandor hanya mengerjai anak buahnya saja. Supaya tidak merasa jenuh saat bekerja di tempat yang sepi seperti sekarang ini.
__ADS_1
Gudang yang dibangun ini, memang ada di area persawahan. Tentunya tidak seramai jika ada di perkampungan.