
[ Ding ]
[ Selamat malam Tuan ]
'Panen kentang cantik sudah sukses dengan sistem lelang.'
[ Ding ]
[ Bagus Tuan, lanjut kentang berwarna ]
'Kentang berwarna? Emang ada?'
[ Ding ]
[ Semua bisa terjadi Tuan ]
[ Dan bagi sistem, itu adalah hal yang mudah ]
'Tapi, kentang berwarna itu tidak lazim. Apakah akan laku di pasaran?'
[ Ding ]
[ Pasar justru akan ramai karena penasaran ]
'Hemmm... juga baiklah, akan Aku coba. Tapi, dari mana aku mendapatkan bibit tentang berwarna itu?'
[ Ding ]
[ Sistem akan mengirimkannya secara online ]
'Kapan itu?'
[ Ding ]
[ Sistem sedang mempersiapkan ]
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Sampai selesai menjadi 100%.
[ Ding ]
[ Bibit kentang berwarna masuk keranjang ]
[ Pengiriman akan tiba besok pagi ]
'Wah, cepat sekali!'
[ Ding ]
__ADS_1
[ Sistem menagih Tuan ]
'Eh, apa yang bisa Aku bayarkan?'
[ Ding ]
[ Bercinta sampai pagi ]
[ Ding ]
Layar sistem menghilang. Dan Jamal telah dikuasai oleh sistem itu sendiri, untuk keluar dari dalam kamarnya Indah, menuju ke kamarnya Lina.
"Mas, mau pindah ke kamar Mbak Lina?" tanya Indah, yang hanya dijawab Jamal dengan anggukan kepala saja.
Tapi Indah tidak tahu, jika tubuh dan pikirannya Jamal, telah diambil alih oleh sistem. Sehingga suaminya itu tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Namun Indah tetap merasa senang, karena melihat Jamal yang akan datang ke kamar kakaknya. Tanpa dia minta terlebih dahulu.
Biasanya, dia akan mengingatkan dan juga menyuruh suaminya itu secara terus-menerus, agar pindah ke kamar kakaknya, Lina. Yang sudah menjadi istrinya juga. Dia tidak mau jika, Jamal tidak adil dalam memperlakukan dirinya dan juga Lina.
Itulah sebabnya, dia selalu mengingatkan Jamal. Agar mau bersikap manis dan baik pada istri keduanya itu. Karena dia merasa kasihan juga, jika Jamal sampai mengabaikan perasaan kakaknya.
Tok tok tok!
Pintu kamar Lina diketuk dari luar. Karena dia sendiri merasa lelah, di saat menunggu kedatangan Jamal.
Sekarang, Lina tersenyum senang. Dengan kedatangan suaminya itu.
Lina sudah mempersiapkan segala sesuatunya, untuk menyambut kedatangan Jamal malam ini.
Lina sudah menggunakan pakaian haram yang sangat cantik, menarik hasrat untuk bisa segera menyentuhnya. Dan dua sangat berharap, agar Jamal menyukai dirinya yang dalam keadaan seperti ini.
Clek!
"Mas," sapa Lina dengan malu-malu.
Dia merasa senang, karena Jamal melihatnya tanpa berkedip. Dan tatapan mata suaminya yang sayu itu, menandakan perasaan yang membuncah dalam hasratnya.
Tapi Lina juga malu untuk memulainya terlebih dahulu. Sehingga dia menunggu Jamal yang memulai semuanya.
Dan Jamal yang sedang dikuasai oleh sistem, tentu saja tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia bisa menyentuh bagian-bagian tubuh Lina sesuka hatinya, dengan bersemangat.
Sedangkan Lina, merasa sangat bahagia. Dengan perubahan sikap Jamal malam ini.
Dia merasa bahagia, karena pada kenyataannya, Jamal bisa berubah menjadi seorang suami yang baik dan lembut. Memperlakukan dirinya dalam permainan mereka di atas tempat tidur.
Sehingga malam ini, dia bisa sampai ke puncak rasa, dengan kepuasan yang diberikannya oleh suaminya.
Lina jadi berpikir bahwa, adiknya, Indah, bisa dipastikan jika selalu merasa bahagia dan puas. Karena memiliki seorang suami yang seperti Jamal.
Hal ini justru membuat Lina menyesal lebih dalam lagi, dengan apa yang dulunya pernah dilakukannya di masa lalu.
"Mas..."
Lina menyebut nama Jamal, di sela-sela permainan mereka berdua.
Tapi Jamal tidak pernah menanggapi. Dia tidak peduli dengan apapun. Karena dia hanya berkonsentrasi untuk bisa memuaskan Sonya. Yang ada pada diri Lina.
Bahkan hingga menjelang pagi harinya, dan Lina sudah terkapar tak berdaya. Jamal masih terus melanjutkan kegiatannya, tanpa mendapatkan perlawanan dari istri keduanya itu. Sebab Lina benar-benar sudah tidak sanggup lagi melayani Jamal.
__ADS_1
*****
Hingga jam setengah sepuluh pagi, Lina belum bisa bangun dari tempat tidurnya.
Indah, yang tidak tahu keadaan yang sebenarnya, juga tidak bertanya kepada Jamal. Karen suaminya itu juga tidak mengatakan apa-apa padanya pagi ini.
Dia berpikir bahwa, kakaknya itu sedang lelah dan merasa capek. Karena semalam suaminya itu masuk ke dalam kamarnya Lina.
Akhirnya, Indah mengurus kelima anaknya sendiri, tanpa bantuan Lina.
Sedangkan Jamal, sedang beraktifitas di luar rumah. Sambil menunggu kedatangan kurir yang mengantar bibit kentang berwarna dari sistem bertani miliknya.
"Ma. Besok kita sudah mulai sekolah ya Ma?" tanya Beta, yang lebih agresif dan ingin tahu banyak, jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain.
"Beta mau masuk sekolah?" tanya Indah, sambil menyisir rambut anaknya itu.
"Iya Ma. Kan bisa punya banyak teman. Di rumah, cuma bisa bermain dengan Alfa dan yang lain saja. Lama kelamaan bosan Ma!"
Indah menggelengkan kepalanya beberapa kali, mendengar perkataan anaknya yang seperti orang dewasa.
"Tidak boleh seperti itu Sayang. Alfa, Candra, Della dan Elsa adalah saudara Kamu. Jadi, Kamu juga harus menyayangi mereka, sama seperti Kamu menyayangi dirimu sendiri."
Indah mencoba untuk menjelaskan kepada anaknya itu, supaya tidak egois dan merasa lebih dari salah satu saudaranya yang lain.
Dia tidak mau jika anak-anaknya akan mempunyai kepribadian yang egois, dan tidak mau mengalah pada sesama saudaranya.
"Tapi, Elsa itu cengeng Ma," adu Beta lagi.
Dia memang seorang anak yang tegas, dan tidak suka, jika ada yang suka cengeng dan menangis, jika ada sesuatu yang terjadi.
"Makanya, Beta harus bisa menjaga adik-adik yang lain, supaya mereka tidak cengeng."
Beta menganggukan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh mamanya kali ini. Dia tidak membatah lagi, karena ada papanya yang masuk ke dalam rumah.
"Anak-anak. Hari ini pembagunan rumah akan dimulai. Jadi, kalian tidak boleh bermain sembarangan di tempat bangunan. Karena ada banyak paku dan bahan bangunan lain, yang bisa berbahaya untuk kalian."
Beta dan saudaranya yang lain, mengangguk patuh pada perkataan dan pesan yang disampaikan oleh papanya barusan.
"Yang. Mana Lina?" tanya Jamal, yang tidak melihat keberadaan Lina di antara mereka semua.
"Belum keluar dari kamar Mas," sahut Indah, memberikan jawaban atas pertanyaan suaminya.
"Belum keluar? Tumben sekali," ujar Jamal, yang merasa heran dengan kelakuan istri keduanya. Karena hal ini tidak biasa terjadi.
"Coba liat sana Mas!"
Indah meminta kepada Jamal, untuk melihat kakaknya yang masih ada di dalam kamar.
"Kamu saja Yang."
Jamal menolak permintaan istrinya kali ini. Dia tidak ingin melihat Lina pagi ini.
Entah apa yang dia pikirkan, sehingga malas untuk masuk ke dalam kamarnya Lina. istri keduanya, yang sudah dia ajak bermain hingga pagi hari.
Jamal sendiri tidak sadar jika, semua yang sudah dia lakukan bersama Lina. Telah dipengaruhi oleh sistem secara keseluruhan.
"Aku mau pergi ke sawah. Mau nanam kentang berwarna dulu."
Jamal justru pamit untuk pergi ke sawah, karena bibit kentang berwarna sudah ada di deras depan rumah.
__ADS_1