
Dua hari sudah kasus penipuan yang dilakukan oleh akun palsu tersebut terjadi. Sehingga banyak sekali orang-orang yang membagikan ulang dari hasil penyidikan polisi dan komentar dari akun tersebut.
Dan sekarang, akun palsu itu benar-benar sudah tidak diaktifkan lagi.
Polisi juga tidak bisa menjamin bahwa, akun tersebut akan terungkap. Apalagi, Jamal tidak memiliki nomor ponsel yang aktif. Sebab, yang diberikan pada Jamal waktu itu adalah nomor ponsel yang sudah tidak aktif lagi.
Akhirnya Jamal pasrah. Dia tidak ingin memperpanjang khusus ini, karena tidak perlu memikirkan hal yang tidak pasti.
Secara tiba-tiba, sistem aktif dengan sendirinya. Tanpa diaktifkan terlebih dahulu oleh Jamal.
[ Ding ]
[ Penting Tuan ]
'Haa, penting? Apa yang penting itu?'
[ Ding ]
[ Planet XMoon melacak adanya kebocoran ]
'Maksudnya kebocoran apa?'
[ Ada agen dari sistem yang menyamar Tuan ]
'Aku tidak mengerti maksudnya.'
[ Ding ]
[ Tuan harus hati-hati dengan orang dekat ]
'Maksudnya, orang-orang terdekat ku ini, adalah orang yang dipengaruhi sistem karena dia menyamar. Apakah begitu?'
[ Ding ]
[ Benar Tuan ]
'Kira-kira, apa misi dari penyamarannya itu?'
[ Ding ]
[ Mengacau sistem Sonya Tuan ]
'Kenapa?'
'Apakah ada persaingan di planet XMoon sana? sehingga harus berdampak di dunia nyata dan menjadi hama atau semacamnya yang bisa mengancam keselamatan?'
[ Ding ]
[ Semacam itu Tuan ]
[ Bisa dikatakan juga sebagai persaingan ]
'Aku semakin tidak mengerti dengan maksudmu ini.'
[ Ding ]
[ Sistem memberikan peringatan pada Tuan ]
[ Jika lalai sistem akan hancur Tuan ]
'Hahhh! Separah itu?'
__ADS_1
'Lalu, apa yang harus Aku waspadai? jika hanya orang-orang terdekat, banyak sekali orang yang dekat denganku. Maksudnya ini dekat dalam arti masih ada dalam lingkungan keluarga, atau dekat dari jarak, atau... karena suatu hubungan?'
[ Ding ]
[ Semua bisa terjadi Tuan ]
[ Dekat artian menurut sistem ]
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Sampai selesai menjadi 100%.
[ Ding ]
Layar sistem menunjukkan sosok yang tidak diketahui berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, karena hanya berupa siluet yang tidak jelas sama sekali.
Yaitu seperti sebuah bayangan yang sudah tak berurutan, dan ada pada permainan kotak-kotak atau puzzle, yang harus disusun sedemikian rupa. Sehingga bisa menjadi bayangan sosok yang bisa dikenali.
Sepertinya, misi ini penuh dengan misteri. Dan Jamal yang tidak terbiasa mendapatkan misi seperti ini kebingungan.
Akhirnya, dia memutuskan untuk menonaktifkan sistem terlebih dahulu. Untuk memberinya waktu berpikir. Supaya bisa menentukan, bagaimana cara untuk bisa menyusun potongan-potongan puzzle tersebut.
Mungkin saja dengan bermain bersama anak-anak, dia bisa menemukan ide, atau setidaknya pikirannya kembali fress. Karena terhibur dengan kelucuan dan keluguan anak-anak juga.
"Kemana mereka semua?"
"Kok gak ada ya?"
Jamal bertanya-tanya dengan melihat ke segala arah, untuk mencari keberadaan anak-anaknya.
"Mbak!"
Jamal memanggil salah satu pengasuh anaknya, yang kebetulan lewat dari rumah sebelah menuju ke halaman.
"Ya Bos Jamal. Ada yang bisa Saya bantu?"
"Anak-anak di mana? Apa mereka ada di rumah sebelah?" tanya Jamal, yang ingin tahu keberadaan anak-anaknya.
"Iya Bos Jamal. Mereka semua sedang ada di studio mini, bersama dengan Mbak Dewi Riani yang sedang bekerja. Tapi ada beberapa pernak-pernik yang diberikan mbak Dewi pada anak-anak, jadi mereka anteng Bos."
Jamal mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh pengasuh anaknya itu, dengan menyipitkan matanya.
Tapi dia segera sadar, kemudian mengajak pengasuh itu untuk pergi ke studio mini.
"Aduh Mbak, ayok ajak anak-anak keluar! nanti mengganggu mbak Dewi kerja lho!"
Sadar dengan teguran yang baru saja selesai diucapkan oleh Bos nya itu, pengasuh tersebut segera berjalan dengan cepat, mengikuti Jamal ke rumah sebelah. Di mana studio mini berada.
"Alfa!"
Jamal perseru memanggil nama anaknya yang paling besar, di saat melihat Alfa sedang bermain kabel.
__ADS_1
Dia juga melihat anak-anaknya yang lain, yang sedang bermain kertas berwarna, yang sudah dipotong-potong. Dengan bentuk-bentuk yang lucu dari bunga dan buah.
Ternyata, Dewi Riani bisa membuat potongan-potongan kertas tersebut dengan cara yang sederhana, tapi menarik. Sehingga bisa digunakan untuk bermain anak-anaknya.
"Ada apa ya Bos Jamal?" tanya Dewi Riani bingung, dengan kedatangan Jamal yang tiba-tiba dan terkesan marah.
"Kenapa Alfa bermain kabel?" tanya Jamal bingung, karena Dewi Riani sepertinya menanggapinya dengan biasa saja. Tidak ada rasa terkejut sama sekali.
"Itu hanya potongan kabel yang tidak berbahaya Bos. Jadi, tetap aman. Dan mereka cukup menggemaskan, dan tidak rewel. Jadi, mereka tetap bisa di sini, tanpa harus mengganggu kegiatan Saya."
Jamal merasa lega, mendengar pengakuan dari Dewi Riani sendiri.
Akhirnya, Jamal memberi pesan kepada anak-anaknya. Supaya tidak ribut dan membuat kekacauan di studio mini ini.
Dia juga memberikan pesan kepada dua pengasuh anaknya, agar tidak membiarkan anak-anaknya itu menyentuh peralatan atau barang-barang milik Dewi Riani. Sebab, peralatan dan perlengkapan di studio mini ini merupakan bagian dari pekerjaan Dewi Riani.
"Ya Bos. Pasti akan Saya jaga."
Setelah memberikan pesan kepada dua penghasil tersebut, Jamal pamit untuk kembali ke rumahnya sendiri.
Dia ingin mengecek kondisi bibit kentang, yang akan digunakan untuk mengganti panen kentang yang akan di lakukan besok pagi.
Dan untuk malam ini, Jamal akan berada di lahan kentang. Supaya kentangnya terhindar dari hama ulat-ulat penggerak. Apalagi jika sampai di curi, sama seperti yang pernah terjadi kemarin itu.
"Yang. Nanti malam Aku pergi ke lahan kentang. Soalnya, besok pagi panen. Tapi, Aku akan mengajak Dewi Riani, untuk melakukan pekerjaannya. Jadi, Aku tidak perlu capek-capek membawa kamera sendiri."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya, Indah menyipitkan matanya. Mencoba untuk menyakinkan dirinya bahwa, semua dikatakan oleh suaminya itu tadi benar adanya. Bukan hanya sebuah rencana, yang bisa saja berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan dan waktu.
"Mas gak sedang bercanda kan?"
"Maksudnya bercanda bagaimana Yang?" tanya Jamal bingung, dengan pertanyaan yang diajukan oleh istrinya tadi.
Sekarang, Indah yang kebingungan sendiri, untuk memberikan penjelasan kepada suaminya.
"Emhhh... itu, mas Jamal mau ajak Dewi kan?"
Jamal segera mengganggukan kepalanya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh istrinya itu.
"Kenapa tidak Rian saja?" tanya Indah lagi, yang membuat Jamal lebih bingung lagi.
"Maksudnya apa sih Yang? Rian itu sama dengan Dewi Riani juga kan? Lalu, apa bedanya dengan nama yang Aku sebutkan tadi?" tanya Jamal lagi, karena dia merasa tidak ada yang salah dengan pernyataannya soal Dewi Riani ataupun Rian.
Indah menghela nafas panjang terlebih dahulu, sebelum akhirnya memberikan penjelasan kepada suaminya. Tentang perbedaan saat menyebut nama Dewi Riani.
Menurut penjelasan singkat dan diberikan Dewi Riani sendiri pada indah, Dia akan bertingkah laku atau berperilaku sesuai dengan mana yang disebut atau di panggil oleh orang lain.
Jadi, jika pada saat itu di panggil dengan nama Dewi, maka dia akan berperilaku sama seperti perempuan pada umumnya.
Tapi jika pada saat di panggil dengan nama Rian, tanpa ada akhiran i, maka dia akan menjadi seorang pria.
"Kok aneh Yang?" tanya Jamal heran.
"Makanya Mas, tadi Aku menyuruh mu memanggil dia Rian. Sebab dia akan menemanimu malam-malam di lahan kentang. Jika harus Mas panggil dengan nama Dewi, dia pasti akan menolaknya. Sebab pastinya dia merasa takut juga, semalaman ada di lahan kentang. Apalagi cuma berdua saja dengan Kamu Mas."
Jamal semakin bingung, dengan apa yang dijelaskan oleh istrinya itu.
Dia tidak pernah berpikir, jika karyawan barunya itu benar-benar aneh dan unik.
Jamal tidak pernah menemukan satu orang yang perilaku ganda, hanya karena sebuah panggilan nama saja.
"Jadi, seandainya kita memanggil dia dengan nama lengkap, Dewi Riani gitu, apa dia akan berpindah-pindah perilakunya juga?" tanya Jamal dengan antusias. Sebab, dia merasa penasaran dengan karyawan barunya yang memang terlihat aneh.
__ADS_1