
Jamal masih punya waktu dua menit untuk menyelesaikan misinya kali ini, dengan transaksi yang dilakukan, sampai dengan membayarnya.
Untungnya, dua orang petani tersebut tidak berpikir lama, dan menyerahkan lahannya untuk dibeli Jamal dengan harga yang sudah ditentukan. Bahkan mereka merasa senang, karena Jamal membelinya dengan harga di atas rata-rata. Karena lahan di sini memang tidak begitu laku, dengan akses jalan yang susah. Itulah sebabnya, lahan di sini tidak laku seandainya dijual dengan harga yang mereka dapatkan dari Jamal.
"Terima kasih banyak Tuan. Ini merupakan harga yang paling tinggi selama ini. Karena lahan di sini memang tidak ada yang berminat."
Jamal juga mengucapkan terima kasih kepada mereka, yang mau menjual sawah kepadanya.
"Saya juga mengucapkan terima kasih, karena kalian mau menjual sawah dan tetap mau menggarapnya nanti."
Dalam hatinya, Jamal bertekad berencana untuk membuat jembatan, yang bisa menghubungkan lahan di seberang sini dengan seberang sana. Sebab yang ada di sana, memang ada di dekat jalan besar. Sedangkan seberang sungai ini, tidak ada jembatan yang bisa memudahkan jika musim panen, untuk memindahkan hasil panen.
"Saya pikir-pikir dulu ya Tuan. Soalnya sawah itu bukan milik Saya. Tapi milik istri Saya. Jadi dia yang punya wewenang untuk menjual atau tidak."
Satu diantara mereka, yang tidak ikut menjualnya hari ini, harus bertanya kepada istrinya terlebih dahulu. Karena lahan tersebut ternyata bukan miliknya secara pribadi, tapi milik istrinya yang merupakan warisan dari orang tuanya sendiri, alias mertuanya.
"Iya tidak apa-apa Kang. Besok-besok juga tidak apa. Yang penting saking tahu dan mengerti saja. Saya tidak memaksa."
Setelah semuanya selesai jaman kembali melihat ke pergelangan tangan ternyata waktunya tepat sekali dengan waktu misi untuk menyelesaikannya hari ini dan jamal pun bernafas dengan lega karena semua bisa diatasi.
Untungnya, tadi dia tidak langsung pulang karena putus asa. Tapi dia mau berusaha terlebih dahulu, meskipun waktunya hanya tinggal sedikit.
"Saya pulang dulu ya Kang!" pamit Jamal pada orang-orang yang masih berada di tempat yang tadi.
"Iya Tuan Jamal. Hati-hati menyebrang sungai nya!" pesan dari salah satu orang tersebut.
Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar pesan dan nasehat tersebut. Karena arus sungai di bawah sana, memang cukup deras.
Akhirnya Jamal kembali bersusah payah, untuk bisa menyeberang ke sana, di mana motornya berada.
__ADS_1
Dengan pakaian yang basah dan kotor, Jamal berhasil sampai di tempat motornya berada. Kemudian dia kembali pulang ke rumah, disaat waktu sudah sore menjelang malam.
*****
"Mas, tadi main-main di sungai ya? kok basah dan kotor semua ini," tanya Indah heran, melihat keadaan jamal yang pulang dalam keadaan basah dan kotor di sekujur tubuhnya, termasuk rambutnya juga.
"Hemmm... hari ini sangat melelahkan Sayang. Aku hampir saja terseret arus sungai tadi," jawab Jamal menjelaskan pada istrinya.
Umi yang ikut melihat dan mendengar jawaban Jamal, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh anaknya. Kemudian bertanya, "Memangnya apa yang Kamu lakukan di sungai kampung sebelah sana?"
"Hum... Jamal sedang mencari lahan untuk jagung Ami."
"Yang kemarin belum cukup?" tanya Umi, yang sudah tahu, bahwa beberapa hari ini anaknya itu memang mendapatkan beberapa lahan untuk jagung.
"Masih butuh sekitar sepuluh hektar lagi Ami."
"Sepuluh hektar? Itu sangat banyak Jamal. Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan dengan lahan yang begitu luasnya?"
"Sebenarnya ini untuk kebutuhan pabrik yang meminta pada Jamal, untuk bahan bakunya jagung, yang mereka gunakan untuk makanan ternak. Dan satu pabrik lagi, yang memproduksi makanan ringan."
Jamal memberikan penjelasan kepada Umi dan juga Indah, meskipun istrinya tidak bertanya.
"Tapi lahan yang ada di seberang sungai sana itu tidak ada akses jalan yang baik. Tidak ada jembatan juga Jamal."
Umi kembali merasa heran, kenapa anaknya mengambil lahan yang ada di sana. Padahal Jamal juga tahu bahwa, di sana itu tidak bisa mengangkut hasil panen dengan mudah.
"Nanti jika semua lahan yang ada di sana sudah menjadi miliknya Jamal, Jamal akan membuat akses jalan dan juga jembatan, agar bisa mengangkut panen lebih baik dan cepat lagi Ami. Jadi doakan saja, Jamal bisa melakukannya secepat mungkin."
Akhirnya Umi hanya bisa mengangguk saja, kemudian membiarkan Jamal masuk ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Indah. Kamu tidak usah memikirkan banyak hal. Biarkan saja Jamal yang bekerja dan memikirkan sesuatu untuk semua usahanya. Yang penting, Kamu mendukung dan membantunya di rumah, jika dia meminta bantuan. Tugasmu saat ini adalah membuat cucu-cucu Ami tetap dalam keadaan sehat."
Umi memberitahu Indah, supaya tidak bekerja terlalu keras, dan membiarkan jamal dengan segala usahanya saat ini.
Indah mengangguk mengiyakan perkataan Umi. Karena dia juga tidak mau suaminya itu menganggapnya terlalu banyak bicara dan mengurusi urusan pekerjaannya di luar rumah.
Dia cukup dengan menerima apapun yang diberikan Jamal kepadanya. Karena selama ini, Jamal juga tidak pernah melakukan hal-hal yang diluar dugaannya.
Jamal tetap perhatian dan memberikan penjelasan jika berada di luar rumah. Tetap melayaninya sebagai seorang suami yang baik dan perhatian.
Bahkan, selama dia hamil, Jamal semakin bertambah kuat dengan apa yang dilakukan di kamar jika sedang bersama dengannya.
*****
"Sayang. Hari ini Aku sangat capek. Karena ada banyak sekali kejadian yang tidak pernah Aku bayangkan sebelumnya."
Jamal akhirnya menceritakan tentang kejadian kecelakaan yang tadi melibatkan dirinya sebagai orang yang harus membawa korban ke klinik.
"Itulah sebabnya, urusanku jadi semakin sore, dan Aku pulang hampir malam. Maafkan Aku ya Sayang, karena tidak sempat memberimu kabat lagi tadi."
"Iya Mas gak apa-apa. Yang penting, Mas tetap harus hati-hati dalam melakukan apapun. Karena di rumah, Aku menunggumu. dan anak-anakmu ini, juga pasti membutuhkan Kamu Mas. Jadi, apapun yang Kamu lakukan, Kamu harus memikirkannya masak-masak ya Mas."
Indah mengengam tangan suaminya itu, kemudian menciumi punggung tangan tersebut. Dan membawanya ke perutnya, yang saat ini sudah semakin membuncit.
"Iya Sayang. Mas juga tidak mau membuatmu khawatir."
Jamal menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Dia menciumi pucuk kepala istrinya, kemudian kening, pipi dan bibir Indah dengan lembut. Kemudian mencium perut istrinya beberapa kali, sebelum akhirnya kembali mencium bibir lagi.
"Malam ini Aku tidak mau jika hanya lima kali Sayang. Jadi, Kamu harus siap untuk memberikan kepuasan sebanyak sepuluh kali. Karena jika Aku sedang lelah dan capek, Aku ingin mendapatkan perhatian yang lebih."
__ADS_1
Indah hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar permintaan suaminya itu. Karena dia juga sudah siap, untuk bisa memuaskan suaminya, dengan cara apapun.