Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Mencari Solusi


__ADS_3

Setelah beberapa saat saling pandang tanpa bicara, baik Ajeng maupun Hendra sama-sama berjalan maju untuk bisa bertemu satu sama lain.


Hendra turun dari panggung pelaminan, menemui mantan kekasihnya itu.


Sedangkan Ajeng, maju ke depan. Tapi dia tidak hanya melewati Hendra yang mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengannya.


Ajeng justru berjalan terus dan naik ke atas panggung pelaminan, di mana ada Jamal dan Indah yang duduk di apit orang tua mereka.


"Mas Jamal! Kenapa tidak mau meneruskan rencana perjodohan kita? Mas jamal justru memilih gadis kampung ini! Apa istimewanya dia di banding denganku Mas?" tanya Indah dengan menunjuk ke arah Indah, yang tentu saja kaget dengan kedatangan tamu Jamal kali ini.


Jamal langsung berdiri, menghadang Ajeng yang mendekat ke tempat duduknya Indah.


Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada istrinya itu. Apalagi ini masih dalam acara resepsi pernikahan mereka berdua.


Umi juga ikut berdiri, berusaha menarik tangan Ajeng yang nekat mau menjambak Indah yang ketakutan.


'Ajeng apa-apaan sih! Dia kan gadis terpelajar, dari keluarga terhormat juga. Kenapa kelakuannya bar-bar seperti itu?' batin Umi, yang tidak pernah menyangka jika kelakuan Ajeng bisa se_extrim sekarang ini.


Pak Hadi dan bu Anita, segera mengamankan anaknya, supaya tidak terkena amukan dari gadis yang tidak mereka kenal ini.


'Ini gadis siapa sih? bikin kacau saja!' batin keduanya kesal karena anaknya jadi ketakutan pada tamu yang tidak mereka kenal sebelumnya.


Dari bawah panggung, Hendra tercengang mendengar perkataan Ajeng yang sedang marah-marah di atas panggung pelaminan.


'Ternyata cowok yang mau dijodohkan dengan Ajeng adalah Jamal? Pantas saja dia memutuskan hubunganku, setelah tahu keadaanku yang sebenarnya memang jauh berbeda dengan Jamal yang sekarang.'


Hendra miris mengingat kembali hubungannya dengan Ajeng yang kandas.


Begitu juga dengan Lina. Dia terkejut dengan apa yang dia dengar dan lihat. Tapi akhirnya dia juga tersenyum sinis, karena acara resepsi pernikahan adiknya jadi kacau balau.


'Syukurin. Ternyata Indah cuma dijadikan istri pelarian karena mas Jamal gagal dalam perjodohan dengan gadis itu!'


Sedangkan Tuan Wiro dan Nyonya Yenny, segera naik ke atas panggung pelaminan, untuk menenangkan anaknya yang sedang nekat mengamuk pada kedua pengantin.


"Ajeng. Ajeng!"


"Ingat sopan santun! Kita ini tamu, tidak boleh bikin kekacauan tahu?" cicit Nyonya Yenny kesal dengan sikap anak gadisnya.


Sedangkan Tuan Wiro, meminta maaf pada Umi dan juga Jamal. Bersama dengan pengantin wanita dan kedua orang tuanya.


"Maaf. Maaf atas perkataan dan perbuatan anak Saya Ajeng yang sedang emosi."


"Sekali lagi maaf," ucap Tuan Wiro berkali-kali.


Dengan cepat, dia menarik tangan anaknya, supaya ikut pulang bersama dengannya.

__ADS_1


"Pa. Aku belum mau pulang Pa! Aku mau bicara juga dengan mas Hendra!" tolak Ajeng, dengan memandang ke arah tempat Hendra berada.


"Hendra siapa?" tanya Tuan Wiro, yang tidak mengenal siapa Hendra.


"Itu mas Hendra Pa. Dia pacarnya Ajeng, saat Papa mau menjodohkan Ajeng dengan mas Jamal. Ajeng menolak mas Jamal karena dia pa!" Ajeng tidak terima dengan kenyataan ini.


Dia mau Hendra kembali lagi menjadi kekasihnya.


Para tamu undangan yang menyaksikan kejadian tersebut jadi kasak kusuk membicarakan tentang hal ini.


Ada beberapa dari mereka yang berbicara dengan teman atau tamu yang lainnya juga.


"Ada-ada saja ya. Di acara resepsi pernikahan seperti ini, jati kayak di sinetron-sinetron TV."


"Itu gadis yang baru datang mungkin baru sadar, jika Jamal adalah pemuda yang kaya raya meskipun berprofesi sebagai petani."


"He em. Pasti nyesel tuh dia!"


"Hahaha... dia justru milih Hendra yang sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan bapaknya saja sampai depresi mikir kebangkrutannya."


"Dulu aja gak nganggap Jamal. Sekarang, semua milik keluarga kang Kasan sudah dibeli sama Jamal."


"Wah bener banget tuh! Hebat kan ya Jamal."


"Itulah, satu dari sekian banyak pemuda yang tidak menuruti keinginan sesaat untuk bisa sukses."


"Tapi sayangnya tidak semua orang bisa menjadi seperti Jamal."


Mendengar kasak kusuk membicarakan tamu yang menjalar ke mana-mana, membuat Jamal dan Umi memberikan usulan pada Hendra. Supaya mereka, Hendra dan Tuan Wiro, bicara secara baik-baik di dalam rumahnya saja.


"Hendra. Ajak Tuan Wiro dan Ajeng masuk ke dalam rumah. Bicaralah di dalam sana Hen," ujar Umi menawari mereka tempat untuk berbicara dengan tenang.


Akhirnya Hendra mau menerima tawaran Umi, setelah Jamal juga mengangguk menyetujui usulan tersebut.


Kini Hendra mengajak Tuan Wiro, Ajeng dan Nyonya Yenny untuk masuk ke dalam rumahnya Jamal. Dia ingin membicarakan tentang apa yang dikatakan oleh Ajeng tadi.


*****


Di acara resepsi pernikahan Jamal dan Indah.


Penyanyi dangdut sedang menyanyikan lagu yang biasa di putar di acara pesta pernikahan di desa-desa, yang memang identik dengan lagu dangdut.


Dan lagu ini sebenarnya lagu Nasida ria tapi sudah tidak asing dan jadi salah satu lagu andalan, yang sering dinyanyikan oleh penyanyi di saat ada acara seperti ini.


Lagu yang sangat populer pada masanya, bahkan hingga kini masih saja terdengar di setiap ada pesta pernikahan.

__ADS_1


______


Dang dung dang dug dang...


Suara musik mengiringi lagu pengantin baru yang sedang dinyanyikan.


🎶🎶🎶


Duhai, senangnya pengantin baru


Duduk bersanding, bersenda gurau


Aduhai, senangnya pengantin baru


Duduk bersanding, bersenda gurau


Bagaikan raja dan permaisuri


Tersenyum simpul bagaikan bidadari


Duhai, senangnya menjadi pengantin baru


🎶🎶🎶


Suasana di atas panggung pelaminan juga sudah kembali tenang dan kondusif.


Jamal mengengam tangan Indah sejak kejadian tadi. Dia melihat kepanikan di wajah istrinya itu.


"Tidak usah khawatir Yang. Aku tetao memilihmu, bukan Ajeng." Bisik Jamal menenangkan hati dan pikirannya Indah.


Indah jadi tersenyum dan mengangguk mengiyakan, sambil membalas genggaman tangan suaminya itu dengan satu tangannya yang lain.


"Aku sudah tidak sabar menunggu resepsi pernikahan ini selesai Yang," bisik Jamal lagi.


"Kenapa Mas? Capek ya?" tanya Indah tidak paham dengan maksud perkataannya Jamal barusan.


"Iya capek Yang. Tapi Aku tidak sabar ingin memakanmu!" Jamal kembali berbisik-bisik dengan cara mendekat ke telinga istrinya.


Apa yang dilakukan Jamal bersama dengan Indah di atas panggung pelaminan, membuat Lina membuang nafas kesal.


"Huhhh! Sok romantis! Liat aja, dulu mengejarku dan Aku abaikan. Tapi... kenapa Aku sedih melihat mereka berdua bahagia seperti itu... Sedangkan Aku... hiks..."


Akhirnya, untuk melupakan kesedihannya, Lina bangkit dari tempat duduknya. Kemudian berjalan menuju ke meja prasmanan.


Dia ingin makan makanan yang dia inginkan.

__ADS_1


Dia ingin merencanakan sesuatu pada adiknya itu, sambil mengisi perutnya yang terasa lapar saat ini.


__ADS_2