
Malam hari, Indah membicarakan tentang apa yang dikatakan oleh Lina pada Jamal.
"Mbak Lina ingin kita mengadakan upacara selamatan dengan acara yang meriah Mas. Bagaimana menurut mas Jamal?"
Jamal terdiam sejenak, mendengar perkataan istrinya itu.
"Sepertinya itu benar. Apalagi ini adalah kehamilan mu yang pertama, dengan anak yang berjumlah lima orang. Jadi harus dibuat berkesan. Aku setuju dengan usulan Lina."
Indah hanya tersenyum, mendengar jawaban suaminya. Karena sebenarnya, dia juga tidak ingin mengecewakan kakaknya. Meskipun sebenarnya dia tidak suka dengan sesuatu yang ramai. Karena dia berpikir bahwa, pasti akan ada akibatnya dari sesuatu ramai itu. Tapi dia tidak mau mengatakannya, sebab dia juga tidak ingin membuat suaminya itu merasa kecewa, karena sudah terlanjur bahagia dengan rencana tersebut.
"Apa kita harus mulai sekarang?" tanya Jamal dengan menaik-turunkan alisnya. Karena memberikan kode untuk istrinya itu.
Indah kembali tersenyum, karena suaminya mengingatkan dengan apa yang diinginkan sendiri. Yang sudah menjadi persyaratan atas kehamilannya.
Akhirnya, mereka berdua memulai ritual malam yang sudah disepakati bersama, jika minimal harus bermain lima kali setiap malamnya.
*****
Pada pagi hari, Jamal mengaktifkan sistemnya untuk mendapatkan misi lagi. Karena misi untuk lahan jagung sudah selesai dikerjakan oleh Jamal
[ Ding ]
[ Selamat pagi Tuan ]
'Ada misi untuk selanjutnya?'
[ Ding ]
[ Misi disesuaikan dengan arahan sistem ]
'Apa itu?'
[ Ding ]
[ Tuan menjadi pembicara dalam seminar ]
'Hah? Aku mana bisa?'
[ Ding ]
[ Selesaikan misi Dalam waktu terdekat ]
'Kapan itu?'
[ Ding ]
[ Satu minggu ]
'Baiklah, Aku akan usahakan.'
[ Ding ]
[ Selamat bertugas Tuan ]
__ADS_1
[ Ding ]
Misi kali ini ternyata cukup sulit, karena sebagaimana yang diketahui bahwa, jamal itu tidak menguasai berbagai teknik teknologi. Dan otaknya juga pas-pasan, sehingga dia harus berpikir lebih berat untuk menyelesaikan misi kali ini.
Jamal jadi pusing, karena harus mengerjakan misi yang tidak biasa. Yaitu menjadi mentor, atau pembicara pada sebuah seminar.
"Apa yang harus Aku lakukan? bagaimana Aku bisa bicara soal apa dalam seminar? Lagipula, seminar apa, di mana? Aku kan gak tahu hal-hal semacam itu."
"Aku saja lulusan SD. Bagaimana bisa memberikan penjelasan kepada orang-orang yang ada dalam sebuah seminar?"
"Seminarnya di mana, kapan?"
Jamal bergumam seorang diri, dengan hal-hal yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Dan ternyata benar. Tak lama kemudian, ada telpon yang masuk, dari dinas pertanian yang ada di kecamatan.
Mereka memintanya untuk menjadi narasumber pada sebuah seminar, yang akan dilakukan tiga hari lagi.
..."Bagaimana Tuan Jamal? Anda bisa kan menjadi nara sumber kami?" ...
..."Kenapa harus Saya?" ...
..."Karena Anda dipandang sebagai seorang petani muda yang sukses dan bisa mengembangkan kebun dan sawah dengan sangat baik." ...
..."Baiklah. Akan Saya usahakan." ...
..."Terima kasih Tuan Jamal. Kami akan mengirimkan surat undangan resmi dan juga tema dari seminar besok." ...
..."Baik Tuan. Selamat pagi." ...
Klik!
Jamal menghela nafas panjang, saat panggilan telpon ditutup.
Dia mulai berpikir, apa yang akan dilakukan pada saat seminar nanti. Karena selama ini, dia memang tidak pernah menghadiri acara seperti itu.
Akhirnya Jamal ingat dengan istrinya. Dia akan meminta pendapat pada istrinya, Indah, yang merupakan seorang mahasiswi di sebelah perguruan tinggi terbuka, untuk mengajarinya.
"Sayang... Sayang!"
Jamal berteriak dengan tidak sabar, di saat keluar dari dalam kamar kerjanya. Apalagi dia juga tidak menemukan istrinya di kamar mereka.
"Sayang... Indah!"
"Ada apa Mal?" tanya Umi, karena mendengar suara anaknya yang sedang mencari keberadaan menantunya.
"Indah di mana Ami?" tanya Jamal, di saat sudah mendekat ke tempat Ami nya.
"Sepertinya dia pergi ke kebun jeruk tadi," jawab Umi, mengingat bahwa dia berpapasan dengan Indah beberapa menit yang lalu.
"Oh... ya sudah Jamal ke sana dulu Ami!"
Umi mengangguk mengiyakan, dengan mengelengkan kepalanya. Melihat bagaimana anaknya itu yang panik saat tidak menemukan keberadaan istrinya.
__ADS_1
Di kebun jeruk.
"Sayang..."
Jamal kembali memangil Indah, dengan panggilan Sayang, sehingga banyak pekerja yang menoleh dan berakhir bisik-bisik. Membicarakan tentang dirinya dan juga istrinya.
"Beruntungnya Mbak Indah itu. Punya suami kaya dan penyayang."
"Iya, bikin ngiri ya!"
"Hihihi... Aku nganan aja deh!"
Indah yang secara kebetulan ikut mendengarkan perkataan mereka, jadi tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ya Mas. Ada apa?" tanya Indah, di saat sudah mendekat ke tempat suaminya berada.
"Kamu itu Yang, udah Aku suruh diam saja di rumah malah masih main ke kebun." Jamal mengomeli Indah, karena rada khawatir dengan keadaan istrinya itu. Apalagi, perutnya indah sudah semakin membuncit.
Indah hanya tersenyum, mendapatkan omelan sayang dari suaminya.
"Aku bosan berdiam diri di dalam rumah terus Mas." Indah mengatakan alasannya. Sehingga dia mencari kesibukan di luar rumah.
"Ya sudah kalau begitu. Biar Kamu gak bosan, Mas mau ada pekerjaan untukmu."
Indah mengerutkan keningnya, mendengar perkataan suaminya yang saat ini sedang tampak serius. Dia tidak tahu, pekerjaan apa yang dimaksud oleh suaminya barusan.
Melihat Indah yang terdiam dan seperti orang yang sedang berpikir, Jamal pun menarik tangan istrinya itu, untuk diajak pulang.
"Sudah, gak usah banyak berpikir. Kita pulang dan bicara di rumah saja ya Yang."
Akhirnya Indah hanya menurut saja. Karena dia juga merasa penasaran dengan pekerjaan apa yang akan diberikan oleh suaminya itu. Sebab, dia merasa tidak ada pekerjaan lainnya yang ada di rumah.
Di tempat yang lain, di mana ada seseorang yang bisa mendengar semua pembicaraan Jamal pada Indah, merasa iri. Sehingga dia ingin merencanakan sesuatu untuk bisa merebut perhatian Jamal.
"Huh! Dia pikir dia yang paling cantik, menarik? Awas aja, Aku pastikan akan ada kesempatan, di mana akulah orang yang ada pada posisimu itu!"
Orang tersebut melihat kepergian Jamal dan Indah, dengan mata memicing. Seakan-akan menabuh genderang perang di antara mereka.
"Aku pasti bisa merebut mas Jamal dan kebahagiaan yang Kamu rasakan saat ini. Dan itu tidak akan lama lagi, Aku pasti bisa menempati posisimu itu."
******
Di rumah Lina, dua juga sedang tersenyum bahagia. Dengan semua rencana yang sudah dia rancang.
"Aku akan membuat pesta selamatan keponakanku, menjadi sesuatu yang sangat berkesan. Akan ada surprise, untuk adikku Indah, dan juga mas Jamal."
Lina kembali tersenyum, dengan melihat layar handphone miliknya.
Di layar handphone tersebut, ada beberapa foto pernikahan adiknya dengan Jamal. Laki-laki, yang dulu pernah dia pandang sebelah mata.
"Semoga rencana ku ini, akan membawa dampak yang baik, bagi mereka berdua dan juga diriku sendiri."
Ternyata Lina punya rencana yang bagus, untuk memberikan kado untuk adiknya yang saat ini sedang mengandung anaknya Jamal.
__ADS_1