Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Mereguk Kenikmatan


__ADS_3

Ternyata kegiatan Jamal dan Indah di kamar mandi membutuhkan waktu satu jam lebih. Dan begitu keluar dari kamar mandi, tentu saja rasa lapar sudah mereka rasakan.


Kriukk...


Perut Indah sampai berbunyi minta segera diisi, saking laparnya.


"Hihihi... maaf Mas, Indah udah lapar banget." Indah meminta maaf saat bunyi perutnya terdengar menjerit-jerit.


"Hahaha.. justru Mas yang minta maaf Sayang. Karena Mas yang sudah membuatmu kehabisan tenaga, dan juga lapar. Ayolah kita makan dulu," kata jamal mengajak Indah untuk segera menyantap makanan yang sudah mereka pesan tadi.


Apalagi makanan tersebut sudah sedikit dingin, sebab ditinggal begitu saja ke kamar mandi dengan waktu lebih dari satu jam.


Tapi keduanya tidak mempermasalahkan soal itu. Mereka berdua menikmati makanan tersebut dengan rasa syukur, sambil suap-menyuapi satu sama lain.


"Setelah ini kita mau kemana Sayang?" tanya Jamal kepada Indah, untuk acara jalan-jalan mereka pada sore dan malam harinya.


"Mas gak capek? tanya Indah balik.


Mereka baru saja datang, dalam perjalanan yang lumayan jauh.


"Gak juga sih, tapi jika Sayang capek, kita istirahat saja di dalam kamar." Jamal tidak memaksa istrinya itu untuk mengikuti kemauannya.


"Yakin cuma tidur dan beristirahat di kamar?" jawabannya yang diberikan Indah justru seperti sedang memberikan sebuah tantangan saja.


"Hahaha... tahu saja sih Kamu Sayang," sahut Jamal dengan tertawa terbahak-bahak. Karena Indah akhirnya tahu kebiasaan barunya saat ini.


"Ya... soalnya Indah gak percaya sih, kalau mas Jamal cuma tidur saja," jawab Indah, mengingat bagaimana Jamal yang tidak pernah ada habisnya dalam menyulut hasrat mereka berdua selama seminggu lebih menjadi sepasang suami istri.


"Habisnya Sayang juga bisa mengimbangi. Kalau tidak, Mas juga nggak tahu ini." Jamal mengelengkan kepalanya beberapa kali, mengingat bagaimana Indah yang begitu agresif mengimbangi permainannya.


Dalam hatinya jamal bersyukur, karena dia tidak salah memilih istri.


Indah selalu bisa menerima dan mengimbangi segala kemauannya dalam melakukan percintaan.


Tapi sebenarnya Indah juga takut, jika dia hamil nanti. Bagaimana suaminya itu bisa mengerti dengan keadaannya yang sedang mengandung. Karena bisa dipastikan bahwa, dia tidak akan bisa maksimal dalam melayani suaminya untuk menyalurkan hasratnya.


"Mas..." panggil Indah, yang tidak melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Ada apa Sayang?" tanya Jamal, yang berpikir bahwa istrinya membutuhkan sesuatu.


"Jika Indah hamil, Mas Jamal tidak bisa meminta Indah untuk bisa bercinta seperti sebelumnya," jawab Indah dengan wajah sedih. Dia takut jika Jamal akan merubah saat dia sedang hamil nantinya.


"Tidak apa-apa Sayang. Aku juga pasti bisa mengertilah, bagaimana keadaan Kamu. Memangnya Kamu sudah merasakan jika hamil saat ini?"


Indah mengeleng, sebelum akhirnya menjawab, "belum Mas. Lagi pula kita kan baru menikah seminggu lebih. Belum juga satu bulan, jadi coba lihat bulan depan. Jika Indah telat datang bulan, itu artinya ada..."


Indah tidak menyelesaikan kalimatnya, sambil menunjuk ke arah perutnya yang rata.


"Ihsss, jangan menggoda Sayang, Karena dengan memperlihatkan perutmu itu, Kamu sudah sengaja menggodaku. Apalagi dengan semua tanda kepemilikan itu, Aku jadi ingin menambahkannya lagi agar lebih banyak. Hahaha..."


Indah menggeleng dengan cepat, kemudian segera berlari menuju ke tempat tidur.


"Lho Sayang, malah siap sedia ini!" seru Jamal, yang melihat Indah justru berbaring di tempat tidur dengan posisi menggoda.


Apalagi pakaian yang dikenakan oleh istrinya itu sedikit terbuka, sehingga memperlihatkan sebagian tubuhnya yang mulus dengan beberapa tanda kebiruan yang dia lakukan.


Akhirnya dengan langkah cepat Jamal menyusul istrinya ke tempat tidur, untuk melakukan sensasi yang biasa dia lakukan agar bisa melepaskan hasratnya. Bersama dengan Indah yang selalu bisa membuatnya puas dengan berbagai macam gaya.


di rumahnya Jamal, sore hari.


Hendra diminta Umi untuk tinggal di rumahnya, sekalian menemaninya. Karena tidak ada Jamal dan Indah di rumah.


Apalagi nanti malam, Hendra juga mengajaknya untuk melamar Ajeng.


"Bagaimana persiapan untuk lamaran dan hantarannya, sudah kamu persiapkan?" tanya Umi pada Hendra.


"Sudah Ami, tinggal ambil di rumah Hendra. Apa perlu Hendra ambil sekarang saja Ami?"


"Ambil saja sekarang Hen, nanti malam kita langsung bisa berangkat. Terus jika ada yang kurang, Ami bisa cek."


Akhirnya Hendra menuruti perkataan Umi. Dia pulang ke rumahnya, untuk mengambil perhiasan dan juga hantaran lamaran yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


Tapi disaat Hendra ada di pertengahan jalan menuju ke rumahnya, dia bertemu dengan lina yang sedang mengendarai sepeda motor.


"Mas Hendra tunggu!" panggil Lina, sambil mempercepat laju sepeda motornya menuju ke arah Hendra.

__ADS_1


"Ada apa Lin, Kamu mau pergi kemana?" tanya Hendra, yang melihat lina dalam keadaan rapi.


Sekarang keduanya sama-sama menepikan sepeda motornya, sambil berbincang-bincang di atas jok motor.


"Gak kemana-mana cuma Mas, cuma mau ketemu mas Hendra saja," jawab Lina, sambil merapikan rambutnya yang terkena angin.


Dalam hati Hendra membatin. 'Sebenarnya Lina itu cantik, tapi... entahlah. Kenapa Aku jadi berpikir yang aneh-aneh.'


"Ada apa mencariku?" tanya Hendra lagi, karena Lina tidak melanjutkan kalimatnya.


"Sebenarnya tadi pagi Aku sudah datang ke rumahnya mas Hendra. Tapi mas Hendra nya gak ada. Kata tetangga mas Hendra pergi ke rumahnya mas Jamal. Terus Aku ingat jika Jamal dan Indah pagi ini mau pergi ke Bali."


Lina memberikan jawaban dengan mata berkaca-kaca. Dia tampak sedih setelah menyebutkan nama Jamal dan adiknya.


"Memangnya ada keperluan apa Kamu datang mencariku?" tanya Hendra lagi. Dia takut jika Lina berbuat hal yang aneh-aneh lagi.


"Gak ada apa-apa sih Mas. Aku cuma mau mencari mas Hendra untuk teman ngobrol."


Hendra menghela nafas panjang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Lina padanya.


"Sebaiknya Kamu cari kerjaan saja Lina. Siapa tahu, dengan pekerjaan dan kesibukan, Kamu bisa melupakan Jamal dan membuka hatimu untuk pemuda yang lain."


Lina kembali menundukkan kepalanya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku memang mau pulang, tapi Aku cuma sebentar. Karena ada pekerjaan yang harus Aku lakukan. Umi juga sudah menunggu di rumahnya."


Mendengar perkataan Hendra yang seperti sedang mengusirnya, lina menitikkan air mata sedih. Dia merasa tidak ada lagi yang bisa memperhatikannya sekarang ini.


"Memangnya mas Hendra ada kerjaan apa sih di rumahnya mas Jamal? Mas Jamal kan gak ada di rumah sekarang." Lina ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh Hendra di rumahnya Jamal. Sedangkan Jamal tidak ada di rumah.


"Aku ada kerjaan sama Ami," jawab Hendra, yang tidak mau memberikan penjelasan.


"Pekerjaan apa? kan Mas Hendra kerjanya di penggilingan padi, bukan di rumahnya mas Jamal," selidik Lina ingin tahu.


"Hemmm... itu Aku mau minta tolong sama Ami, untuk ikut melamar Ajeng malam ini."


Lina akhirnya kaget sendiri, mendengar jawaban yang diberikan oleh Hendra padanya.

__ADS_1


__ADS_2