Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Bagaimana Bisa


__ADS_3

Susana orkes dangdut yang ada di lapangan semakin meriah dan panas. Membuat Jamal sedikit merasa pusing, sehingga dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


"Maaf ya, Saya tinggal dulu. Kepala Saya terasa sakit," pamit Jamal pada tamu-tamunya yang duduk di sebelah kiri kanan, dan juga belakangnya.


"Oh iya, gak apa-apa Bos."


"Bisa pulang sendiri Bos?"


"Perlu di antar gak Bos?"


"Tidak. Tidak perlu. Saya bisa sendiri," sahut Jamal dengan usahanya untuk tetap bisa membuka matanya, agar bisa melihat bagaimana keadaan malam di lapangan yang meriah karena acara yang dia gelar.


Ternyata masih banyak pedagang yang bertahan hingga malam hari. Karena pengunjung di lapangan memang bukan hanya laki-laki, tapi juga banyak anak-anak yang datang bersama dengan orang tuanya.


Dengan langkah yang tidak tegak lagi, Jamal berjalan mencari jalan menuju ke rumahnya. Pandangan matanya yang mulai mengabur, membuatnya jalan dengan limbung dan sempoyongan. Hingga pada akhirnya...


Seseorang menangkap tubuh Jamal yang hampir jatuh, kemudian memapahnya untuk segera menepi. Menjauh dari hiruk pikuk meriahnya acara di lapangan desa.


Sementara di rumah, Umi menunggu Indah yang tidak juga kembali dari kamar mandi.


"Dia katanya pamit ke kamar mandi sebentar, kok lama banget. Apa langsung pergi tidur?" gumam Umi, dengan melihat ke arah pintu rumahnya yang terbuka lebar.


Tapi dia tidak menemukan keberadaan anak menantunya, yang tadi pamit pergi ke kamar mandi. Karena orang hamil memang tidak bisa menahan diri dari panggilan alamnya. Baik yang kecil maupun besar.


Umi semakin cemas dan khawatir, sehingga memanggil ART untuk mencari Indah di dalam rumah.


"Coba Kamu tengok ke dalam rumah, jika sudah beristirahat di kamar biarkan saja. Tapi jika terjadi sesuatu, cepat bantu dia!"


"Baik Ami."


ART segera melakukan apa-apa yang tadi diperintahkan padanya, karena Umi tidak bisa meninggalkan tempat duduknya. Sebab ada besan dan ibu RT yang ikut duduk di sebelahnya.


Jadi dia tidak enak hati, jika harus meninggalkan tempat duduknya.


Tapi di saat melihat ART kembali lagi dengan wajah yang tenang, Umi jadi ikut merasa lega. Karena berpikir bahwa, Indah sudah beristirahat di dalam kamarnya.


"Ami, mbak Indah tidak ada di mana-mana. Tapi pintu kamar tertutup seperti biasanya. Apa mungkin Mbak Indah sudah pergi tidur?"


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh ART nya, Umi sedikit lega. Meskipun dia tidak yakin, jika Indah sudah pergi tidur di jam segini tanpa ada Jamal di rumah.

__ADS_1


"Ya sudah, Kamu kembali duduk saja. Biar Aku sendiri yang coba liat nanti."


ART tersebut mengangguk mengiyakan, kemudian mencari tempat duduk yang masih kosong untuk dia duduki.


Sedangkan Umi sendiri, kembali melihat ke layar lebar yang ada di depan. Untuk melihat keadaan yang ada di lapangan desa, dengan sesekali berbincang dengan ibu Anita, besannya. Dan juga Ibu RT.


Beberapa saat kemudian, perasaan Umi merasa tidak tenang. Dia kembali melihat ke arah rumah, untuk memastikan apakah Indah benar-benar tidur atau tidak di kamarnya.


Akhirnya dia pamit untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Dengan alasan ingin buang air kecil.


"Maaf ya, Saya mau masuk ke dalam dulu," pamit Umi pada ibu Anita dan juga ibu RT.


Setelah ibu-ibu tersebut mengangguk, begitu juga dengan ibu-ibu yang lainnya. Umi masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak menentu. Entah apa yang dia rasakan saat ini.


"Kenapa perasaanku tidak enak ya?" tanya Umi bergumam seorang diri.


Dia melewati ruang tamu dan ruang tengah, kemudian menengok ke arah pintu kamar anaknya dan juga ruang kerja anaknya.


Semuanya dalam keadaan seperti biasanya. Tidak ada sesuatu yang lain, yang bisa membuatnya merasa curiga.


Akhirnya Umi melangkah ke arah dapur, dan dia masuk ke dalam kamar mandi dapur.


Kebetulan, kamar mandi yang ada di dapur ini, bersebelahan dengan kabar mandi yang ada di ruang tamu. Sehingga Umi dengan lamat-lamat mendengar suara orang yang meminta tolong dengan suara yang lemah.


Umi terkejut dan juga merinding, ketika mendengar suara tersebut.


"Rumahku ini tidak pernah ada hantunya, tapi suara apa itu?" Umi justru berfikir bahwa, suara tersebut adalah suara makhluk halus, yang ada di luar rumah. Karena selama ini, rumahnya ini tidak pernah ada hal-hal yang seperti itu.


"Tolong..."


"Buka... tolong..."


Umi kembali menajamkan pendengarannya, di saat telinganya menangkap suara orang meminta tolong.


Akhirnya Umi keluar dari dalam kamar mandi. Dia mencoba untuk mencari sumber suara, yang tadi meminta tolong dan terdengar sangat jelas. Meskipun lemah.


Tapi ternyata, Umi tidak mendengarkan suara tersebut di luar kamar mandi. Sehingga dia menjadi merinding sendiri, karena takut jika, suara itu adalah suara makhluk halus yang sedang mengerjai dirinya.


"Masak iya ada makhluk halus di rumah ini?" tanya Umi bergumam seorang diri.

__ADS_1


Dia mencoba untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi yang tadi, untuk bisa mendengarkan suara yang sama lagi. Karena dia pikir bahwa, suara tadi terdengar ada di dalam kamar mandi dapur.


Sayangnya, Umi tidak bisa mendengarkan apa apa lagi. Karena memang sudah tidak ada lagi suara orang yang sedang meminta tolong seperti tadi.


"Hufhhh... apa Aku sudah berhalusinasi karena mengantuk ya?"


Umi justru berpikir bahwa, dia yang sedang berhalusinasi. Karena rasa kantuk dan lelahnya, sehingga dia segera menggelengkan kepalanya beberapa kali. Untuk menghilangkan perasaan yang tidak nyaman di dalam hatinya.


Pada saat Umi berjalan menuju ke arah depan rumahnya, dia kembali mendengar suara orang yang sedang meminta tolong. Sehingga Umi berhenti untuk mempertajam indra pendengarannya lagi.


"Tooolonnggg..."


"Tolong..."


Suara tersebut seakan-akan melemah dan tidak jelas didengar.


Pada saat Umi teringat dengan anak menantunya, dia segera berjalan menuju ke arah kamar anaknya dengan mengetuk pintu.


Tok tok tok!


"Indah... Ndah!"


Umi juga memanggil-manggil nama Indah, sambil terus mengetuk pintu kamar.


Tok tok tok!


Tok tok tok!


Tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar, sehingga Umi berinisiatif untuk membuka pintu kamar tersebut.


Clek Cklek Clek!


Tapi ternyata, pintu kamar tersebut terkunci. Tidak ada sahutan dari dalam kamar juga. Sehingga Umi semakin deg-degan, karena memikirkan keadaan Indah.


"Indah, Ndah!"


Umi berlari tergopoh-gopoh, menuju ke arah depan. Untuk mencari bantuan.


"Bu. Bu Anita!"

__ADS_1


Dengan memanggil-manggil nama besannya, Ami juga mencari keberadaan laki-laki, yang bisa dia mintain bantuannya.


Tapi ternyata memang hanya ada ibu-ibu, anak-anak dan para gadis yang ada di sini. Sebab, para laki-laki kebanyakan ada di lapangan desa. Untuk menyaksikan acara dangdut secara langsung.


__ADS_2