Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Gurauan Sistem


__ADS_3

"Sebaiknya Kamu temani Indah istirahat dulu Mal. Dia pasti belum terbiasa tidur di kamarmu, malah gak bisa tidur-tidur nanti."


"Ya Ami."


Jamal menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Ami nya, agar menyusul istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Mereka memang sudah sampai di rumahnya sendiri, setelah tadi memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Dari pada harus berada di rumah Indah, dengan adanya drama yang diciptakan oleh Lina yang sepertinya hanya ingin mendapatkan perhatian dari orang-orang.


Clek!


Jamal menutup pintu kamar, sehingga membuat Indah menoleh kearah pintu.


"Mas..." sapa Indah, di saat mengetahui siapa yang masuk ke dalam kamar.


"Istirahatlah Yang. Nanti sore sampai malam, mungkin Kamu tidak bisa istirahat. Karena ada banyak tamu yang datang."


"Iya Mas."


Tapi di saat Indah baru saja berjalan menuju ke tempat tidur, Jamal justru menarik tangannya, kemudian membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku akan temani tidur. Tapi... Aku juga tidak tahu, apakah kita akan bisa tidur dengan nyenyak atau justru..."


"Mas, ahhh... mmm..."


Indah yang ingin menyahuti perkataan suaminya itu, justru tidak bisa mengucapkan kata-katanya lagi. Sebab mulutnya sudah dibungkam dengan bibirnya Jamal.


Tapi karena dia sadar jika saat ini mereka berdua sudah sah, Indah hanya pasrah. Mengikuti kemauan dan tidak menolak ciuman tersebut.


Dia justru memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut bibir Jamal yang menelusuri seluruh wajahnya.


Di saat bibir Jamal turun kebawah, di lehernya yang jenjang nan mulus, Indah merasakan sensasi yang luar biasa pada tubuhnya. Dia pun tidak sadar, mengeluarkan suara lenguhan yang membuat Jamal jadi semakin bersemangat untuk mencicipi setiap pori-pori kulit tubuhnya.


Jamal membawa tubuh istrinya ke tempat tidur dengan gerakan yang tidak disadari oleh Indah sendiri. Bahkan, sekarang baju yang dikenakan oleh Indah pada bagian atas sudah terlepas begitu saja.


Tangan Jamal juga tidak mau menganggur. Dia seakan-akan mendapat mainan baru di gunung kembar istrinya itu.


"Eghhh... Masss..."


Suara Indah yang terdengar merdu di telinga, di tambah tubuh Indah yang bergerak seirama dengan nafasnya yang memburu, membuat mereka lupa. Jika saat ini masih siang hari, belum malam hari. Sehingga dipastikan jika ada banyak tamu dan orang-orang di luar kamar. Yang sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan resepsi pernikahan mereka nanti sore.


Tok tok tok!


Tok tok tok!


Pintu kamar di ketuk, di saat Jamal sedang asyik mengulum salah satu gunung milik istrinya, sedang yang satunya lagi dibuat mainan oleh satu tangannya.


Indah sendiri sudah tidak bisa melakukan apa-apa, karena tubuhnya yang sudah ikut terbawa arus permainan dari suaminya itu.


"Mas."


Indah tersadar di saat Jamal melepaskan tangan dan mulutnya dari dua gunung yang ada di dada istrinya.


"Hihhh! Siapa yang menggangu sih!" Gerutu Jamal dengan wajah kesal.


Sedangkan Indah sendiri segera merapikan pakaiannya yang sudah tidak beraturan, akibat dari perbuatannya Jamal.


Tapi Jamal tidak segera membuka pintu kamarnya. Dia menunggu hingga istrinya itu selesai merapikan dirinya. Setelah di rasa cukup, baru dia bangkit. Kemudian berjalan menuju ke arah pintu kamar.


Clek!


"Woi pengantin baru! Ayolah keluar, kita berbincang-bincang dengan teman-teman yang lain. Mereka semua sudah datang sebelum acara Kamu di mulai!"

__ADS_1


Jamal hanya meringis saja, mendengar perkataan Hendra.


Ternyata yang datang dan mengetuk pintu kamarnya adalah Hendra. Teman sekaligus orang yang dulu pernah ikut andil dalam permainan Lina. Yang sudah menyakiti hati dan perasaannya.


"Keluarlah dulu. Aku akan segera menyusul ke sana!"


"Ok. Kami tunggu. Jangan lama-lama ya!"


Sekali lagi Jamal mengangguk mengiyakan permintaan dari Hindra, kemudian menutup pintu kamar lagi.


"Siapa Mas?" tanya Indah yang sudah berpakaian seperti tadi.


"Hendra," jawab Jamal pendek.


"Mas Hendra pulang? Terus dia tidur di mana jika pulang" tanya Indah, yang sudah tahu keadaan Hendra yang saat ini sudah tidak punya rumah lagi di desa G.


Hendra sudah menjual rumahnya pada Jamal. Bahkan, bapaknya, kang Kasan, juga sudah di jemput oleh saudaranya. Yang dulu pernah merawat adiknya Hendra. Yaitu Sholeh, yang sudah meninggal dunia di rumah sakit jiwa.


Sedangkan kang Kasan sendiri, sudah sedikit terganggu mentalnya. Jadi tidak bisa diajak berkompromi dengan normal seperti dulu.


"Tidak tahu. Dia tidak minta kunci rumah padaku. Jika dia mau tinggal sementara di rumah itu juga tidak apa-apa menurutku. Tapi... entahlah. Aku juga tidak mau ikut campur dalam urusannya."


Indah hanya mengangguk saja, kemudian membiarkan Jamal kembali mengecupnya.


"Aku tinggal ke luar. Ada teman-teman di luar sana. Kamu tidurlah, agar nanti malam bisa langsung Aku makan. Hehehe..."


Jamal terlihat sangat senang, dengan melihat Indah yang merona merah pada wajahnya. Apalagi jika ingat kejadian barusan.


Sebenarnya Jamal juga tidak mau meninggalkan istrinya sendiri di dalam kamar. Dia ingin melanjutkan permainannya yang belum selesai.


Sayangnya Hendra dan temannya yang lain tidak mungkin dia abaikan begitu saja tanpa adanya dirinya di antara mereka.


"Ya Mas. Indah juga mau tidur."


Cup!


Akhirnya Jamal mengecup bibir Indah sekali lagi, sebelum dia benar-benar pergi keluar dari kamarnya.


*****


Di rumah tuan Wiro.


Ajeng merengek minta ikut papa dan mamanya untuk pergi ke acara resepsi pernikahan Jamal.


Dia ingin melihat dan membandingkan dirinya, dengan gadis yang sudah diperistri oleh Jamal.


'Aku harus ikut mama dan papa. Aku ingin lihat, cantik mana antara Aku dengan istrinya Jamal yang petani itu? pastinya cantikan Aku ke mana-mana! Secara, Aku lebih berpengalaman di banding dengan istrinya. Yang katanya hanyalah pekerja di kebun jeruknya jamal.'


'Cihh! Dasar selera petani. Orang kampung juga yang dia dapat.'


"Tapi kenapa dia menolak ku, saat Aku sudah mau meneruskan rencana perjodohan itu? Apa Aku tidak lagi menarik hatinya?'


Ajeng bertanya-tanya sendiri dengan membandingkan dirinya dengan istrinya Jamal, yang dia tidak ketahui secara keseluruhan.


Dia hanya tahu, jika istrinya Jamal bekerja di kebun jeruk miliknya Jamal. Tanpa tahu, jika Indah juga seorang mahasiswi di sebuah universitas di kotanya ini.


*****


[ Ding ]


[ Selamat siang Tuan ]

__ADS_1


'Kenapa tiba-tiba aktif sistem?'


[ Ding ]


[ Tuan melupakan sesuatu ]


'Lupa sesuatu! Apa?'


[ Ding ]


[ Tuan belum mengatakan untuk hadiah yang akan dikirim sistem untuk pernikahan Tuan hari ini ]


'Aku tidak mau hadiah apa-apa.'


[ Ding ]


[ Harus Tuan ]


'Kenapa?'


[ Ding ]


[ Jika Tuan tidak mengajukan permintaan hadiah, maka hadiah dari sistem akan selamanya tidak ada ]


'Kok aneh sih?'


'Tapi baiklah. Aku ingin bisa bercocok tanam tanpa gangguan seperti tadi. Untuk nanti malam.'


[ Ding ]


[ Permintaan akan segera di proses ]


1%


10%


20%


30%


40%


50%...


Hingga selesai menjadi 100 %.


[ Ding


[ Bisa dipastikan jika nanti malam Tuan tidak akan ada yang menggangu lagi ]


'Wahhhh itu baru keren!'


[ Ding ]


[ Tapi Tuan harus tetap berhati-hati saat bercocok tanam ]


'Eh, kenapa?'


[ Ding ]


[ Di pastikan akan ketagihan lagi dan lagi ]

__ADS_1


????


__ADS_2