
Kesuksesan merupakan satu hal yang tentu saja ingin dicapai oleh setiap orang. Meskipun tolak ukur sukses tiap orang itu berbeda-beda.
Tapi sebagian besar orang, menganggap bahwa kesuksesan tersebut mampu memberikan kebahagiaan, dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Untuk mencapai kesuksesan, bukanlah hal mudah dilakukan. Terdapat beragam tantangan, masalah, hingga orang-orang yang menyepelekan, ketika seseorang tengah berproses untuk meraih kesuksesannya.
Bahkan, tidak sedikit pula orang-orang yang menemui kegagalan dan merasa terpuruk, ketika tengah berjuang mencapai kesuksesan.
Supaya tidak patah semangat, dan tetap konsisten pada proses menuju sukses, seseorang butuh motivasi dan dukungan dari orang-orang terdekat. Yang akan selalu ada, untuk memberikan kekuatan pada orang tersebut.
Sama halnya dengan keluarga Jamal, dan bahkan Jamal nya sendiri.
Dia juga sudah sukses, bukan karena dirinya sendiri. Atau hanya karena adanya sistem, yang memberinya banyak kemudahan.
Tapi ada sesuatu, seseorang, yang membuatnya untuk tetap bisa berfikir fokus, dan memberinya nilai lebih, pada saat membuat keputusan.
Sama seperti kemarin, disaat sistem memberinya ujian. Manakah yang harus dipilih oleh Jamal, antara umurnya dan keberhasilan yang singkat.
Semua itu ada kaitannya, antara satu dengan yang lainnya.
Jika dia harus memilih umurnya, atau sayang dengan umurnya, itu artinya, dia tidak akan mendapatkan kemudahan dalam kesuksesan yang singkat dari sistem.
Tapi jika dia ingin memilih keberhasilan yang singkat, itu artinya, dia tidak akan bisa menikmati keberhasilannya. Karena umurnya yang tidak lama lagi, Katena sudah dia pertarungan demi kesuksesannya itu.
Dari sini, sebuah keputusan harus ditentukan dengan cara berpikir kedepan, tidak hanya untuk saat ini saja. Tanpa harus berpikir panjang, dengan berbagai macam pertimbangan yang matang.
Dan Jamal sudah bisa melakukan hal tersebut, dengan memberikan keputusannya. Bahwa apapun yang dia lakukan saat ini adalah untuk keluarganya, istri dan anak-anaknya.
Tapi dia juga tidak gelap mata, dengan cara mengorbankan dirinya sendiri.
Dia masih bisa berfikir jernih, untuk tetap bisa mendapatkan kesempatan. Supaya dia juga bisa bersama keluarganya, dengan ikut menikmati keberhasilannya itu. Meskipun tidak dengan cara yang cepat.
Dan kini, Jamal sedang survei ke tempat pembibitan pohon buah durian. Untuk membuat pesanan 2.500 batang pohon durian. Yang tentunya siap tanam untuk berapa minggu kemudian.
Jamal, minta tolong untuk ditemani Tarno. Yang sudah berpengalaman ke kota sana sini, karena itu memang pekerjaan Tarno, sebagai pengusaha bus antar kota dan transportasi pariwisata juga.
Jadi, Jamal meminta pendapat dan juga bertanya-tanya kepada Tarno, di mana kira-kira dia bisa mendapatkan bibit pohon durian itu, dalam jumlah yang sangat banyak.
"Kita langsung berangkat ini Bos?" tanya Tarno, yang sudah siap berada di depan rumahnya Jamal. Lengkap dengan mobilnya juga. Karena hari ini, dia akan diajak Jamal untuk mencari bibit pohon durian.
__ADS_1
"Kamu sudah sarapan pagi belum Bos Tarno? Kita sarapan dulu sini!"
Jamal, yang belum sarapan, mengajak Tarno untuk sarapan terlebih dahulu. Sebab dia tahu jika, temannya itu belum sarapan.
"Udah sarapan aja Kamu. Aku tunggu di teras saja sini," sahut Tarno, kemudian turun dari dalam mobil.
Dia justru duduk di teras depan rumah, untuk menunggu Jamal, yang katanya mau sarapan pagi terlebih dahulu.
Tapi tentu saja Jamal tidak mau melihat Tarno hanya menunggunya saja. Dia meminta pada istrinya, Indah, supaya membawa keluar menu sarapan pagi mereka keluar.
"Yang, tolong bawa sarapan pagi kita ke teras ya! kita mau sarapan bareng sama Bos Tarno!" pinta Jamal, yang membuat mata Tarno membola.
"Eh, maksudnya apa ini?"
Tapi Jamal tidak peduli. Dia justru ikut duduk di teras depan rumah, bersama dengan Tarno juga. Dengan demikian, anak-anaknya, yang tadi sudah siap di meja makan, juga ikut keluar semua. Kemudian duduk bersama di teras depan rumah juga.
Tentu saja hal ini membuat Tarno merasa tidak enak hati. Tapi, Jamal meminta kepadanya untuk tetap bersikap biasa saja.
"Udah gak apa-apa! Sesekali kita sarapan pagi sama-sama di teras kayak gini. Hehehe..."
Akhirnya, Indah sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua. Dengan membawa semua menu makanan yang tadi ada di atas meja makan ke luar rumah.
Setelah beberapa saat kemudian, Jamal pamit pada isterinya, Indah, untuk pergi bersama Tarno terlebih dahulu. "Yang, Aku mau pergi cari bibit pohon durian sama Tarno. Kamu di rumah sama anak-anak ya!"
"Ya Mas. Hati-hati ya Mas. Semoga saja, usahanya pagi ini ada hasilnya."
Setelah berpamitan pada anak-anaknya juga, Jamal segera masuk ke dalam mobilnya Tarno. Kemudian mereka berdua pergi ke tempat tujuan, yang sudah diketahui lokasinya. Sehingga Tarno tidak perlu bertanya-tanya pada Jamal lagi. Sebab, dia memang sudah mengetahui lokasinya.
Dalam perjalanan menuju ke lokasi pembibitan pohon durian, Jamal dan Tarno juga berbincang-bincang ringan mengenai banyak hal.
"Oh ya Mal. Aku mau kenalin Kamu sama cewek, yang kemarin Aku ceritain sama Kamu itu lho Mal!"
Jamal memiringkan kepalanya, mencoba untuk mengingat-ingat, cewek mana yang diceritakan oleh Jamal padanya.
Tapi sepertinya Jamal lupa, sehingga dia tidak mengingat satu nama cewek, yang sekiranya pernah keluar dari mulut Tarno pada saat bercerita.
"Cewek yang mana Bos?" tanya Jamal bingung. Sebab, dia memang lupa siapa nama cewek tersebut.
"Itu lho, yang Aku kenalan di Bali."
__ADS_1
Tarno mencoba memberikan penjelasan kepada Jamal, supaya Jamal mengingatnya kembali. Apa yang dia ceritakan beberapa waktu yang lalu.
"Yang Kadek Ajeng itu lho Mal," terang Tarno, karena melihat Jamal yang kesulitan mengingat ceritanya.
"O..."
Mulut Jamal membola, disaat mendengar penjelasan yang diberikan oleh Tarno barusan.
Dia akhirnya ingat bahwa, Kadek Ajeng yang diceritakan oleh Tarno, katanya berasal dari daerahnya ini juga.
"Memangnya dia pulang ke sini? Maksudnya, Kadek Ajeng itu dan berada di kota ini?"
"Iya. Bahkan katanya, dia tidak bakalan balik ke Bali lagi." Tarno kembali memberikan penjelasan kepada Jamal, tentang cewek yang dikenalnya sebagai Kadek Ajeng.
Sekarang, Jamal akhirnya berpikir bahwa, mungkin saja yang dimaksud dengan Kadek Ajeng ini adalah orang yang berbeda, dengan Ajeng yang dia kenal. Anak dari Tuan Wiro.
"Cantik gak tuh cewek?" tanya Jamal, bermaksud untuk menggoda Tarno.
"Hehehe... cantik sih Mal. Tapi, seandainya Lina masih hidup, masih cantik Lina."
Mendengar nama Lina disebut boleh Tarno, Jamal sedikit tidak senang. Sebab, walau bagaimanapun juga, Lina adalah istrinya juga. Sama seperti Indah.
Tapi dengan cepat, Jamal mencoba untuk merubah raut wajahnya. Yang tadi tidak merasa senang, untuk kembali pada wajahnya yang biasa saja. Supaya Tarno tidak menyadarinya perubahan wajahnya yang tadi.
"Menurutmu, sebaiknya Aku mengajaknya untuk berteman dulu, atau langsung Aku lamar sebagai istri?" tanya Tarno, meminta pendapat kepada Jamal.
Dia berpikir bahwa, temannya itu sudah cukup berpengalaman mengenai wanita. Apalagi sekarang ini, Jamal juga menjadi idola para ibu-ibu dan cewek-cewek cantik di beberapa media sosial yang mengikuti Chanel khusus miliknya. Yaitu Jamal Farm News.
"Lha Kamu yakin gak untuk menjadikannya sebagai seorang istri? Jika belum yakin, sebaiknya berteman dulu. Kenal bagaimana wataknya, bagaimana kebiasaannya juga. Kamu kan belum lama kenal juga No!"
Tarno mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Jamal.
Dia sebenernya juga berpikir hal yang sama, seperti yang dijelaskan oleh Jamal barusan.
Apalagi, dia juga masih ada orang tua yang harus ikut dirawat di rumahnya. Sebab dia tidak mau jika, Kadek Ajeng merasa keberatan.
Tarno juga merasa khawatir, seandainya cewek tersebut tahu, bahwa dia bukanlah orang yang benar-benar sukses secara mandiri. Sebab, usaha yang dia pegang ini adalah usaha keluarganya.
Sedang dia hanyalah orang yang mengurus dan menjalankan usaha tersebut. Itu bisa diartikan bahwa, Tarno juga sama juga seperti pegawai yang lain.
__ADS_1
Jadi, jika dibandingkan dengan Jamal, Tarno tetap merasa ada di bawahnya Jamal. Tentang sebuah kata sukses.