Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Kebebasan Mencari Ilmu


__ADS_3

Pagi harinya, Umi memberikan beberapa bingkisan untuk para tetangga. Yang ada di sekitar rumahnya, sebagai bentuk syukur. Karena akan segera mendapatkan lima cucu, yang saat ini masih ada di dalam kandungan menantunya.


Semua orang ikut berbahagia, begitu juga dengan para pekerja yang mendapatkan bingkisan dan mendapatkan bonus langsung dari Jamal.


Tak lupa Jamal dan Indah juga mengantarkan bingkisan ke rumah orang tuanya Indah, yaitu pak Hadi dan ibu Anita.


Mereka juga sangat bersyukur, karena Indah hamil dalam keadaan sehat. Padahal anaknya itu ada lima, bukan hanya satu atau dua saja.


Lina yang mengetahuinya ikut merasa senang, meskipun perasaan cemburu masih ada. Tapi dia mencoba untuk melupakannya, karena bagaimanapun juga, istrinya Jamal adalah adiknya sendiri. Dan anak yang dikandung oleh Indah berarti keponakannya.


Dia mengucapkan selamat kepada Indah dan Jamal, yang sedang duduk di ruang tamu.


"Selamat ya mas Jamal, Dek. Semoga nanti anaknya lahir sehat semuanya."


"Nanti jika mereka sudah lahir, aku boleh kan menggendong mereka?" tanya lina yang menyambung ucapan selamatnya yang tadi.


Dia tersenyum senang, membayangkan dengan tidak sabar, bisa melihat dan mengendong keponakan-keponakan kecilnya yang akan lahir nanti.


"Boleh Mbak. Nanti kalau lahir Mbak pasti bolehlah menggendong mereka. Ada lima lho! pasti Aku juga kerepotan menggendong mereka satu persatu. Hehehe..."


Indah terkekeh sendiri, saat membayangkan bagaimana keadaan dirinya nanti, di saat anak-anaknya lahir.


Jamal juga tersenyum, dan kedua orang tuanya bersama dengan Lina ikut tertawa senang.


Mereka juga senang, melihat perubahan Lina yang sepertinya semakin baik.


Jamal justru berpikir, jika lina memang benar-benar sudah berubah, lebih baik nantinya dia akan meminta Hendra untuk menikahi Lina saja, daripada harus mencari gadis lain yang belum tentu tahu latar belakangnya.


'Lebih baik dia menikahi Lina," batin Jamal memutuskan.


Tapi dia juga tidak memaksa Hendra, seandainya temannya itu menolak. Karena segala keputusan tetap ada pada Hendra, yang akan menjalaninya nanti.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka pamit pulang karena Indah harus beristirahat.


"Iya hati-hati ya! pokoknya jaga kesehatan." Pesan ibu Anita pada anaknya.


"Iya Bu. Doakan Indah tetap sehat dan nanti melahirkan juga saya selamat."


Ibu Anita memeluk anaknya, sebelum pulang.


Begitu juga dengan pak Hadi, yang meminta menantunya itu untuk menjaga anaknya.


Dalam perjalanan pulang, mereka yang bertemu dengan kang Wahid, yang baru saja pulang dari warung bersama dengan anak laki-lakinya, yang saat ini sudah SMP. Sedangkan yang gadis nya, saat ini sudah lulus SMA.


"Jamal, Jamal! Aku sebenarnya mau ke rumahmu, tapi belum sempat." kang Wahid akhirnya mengatakan apa yang ingin dia katakan.

__ADS_1


"Iya kang, ada apa? silahkan datang tidak apa-apa. Selagi Aku ada di di rumah, pasti Aku akan menemui kang Wahid. Apa ada yang Aku bantu?" tanya Jamal tentang keperluan kang Wahid mencarinya.


"Itu lho Mal, anak gadis ku. Daripada dia pergi ke kota, atau mencari pekerjaan lain, lebih baik kan kerja di tempat Kamu saja. Jadi tetap dekat di rumah," ujar kang Wahid menjelaskan.


"Oh iya, anakmu itu baru lulus SMA ya Kang?" tanya jamal pada kang Wahid.


"Iya Mal. Sudah lulus sebulan yang lalu, dan Aku tidak bisa membiayai dia untuk kuliah. Jadi dia mau kerja saja," terang kang Wahid menjelaskan pada Jamal.


"Apa ada pekerjaan untuknya? soalnya dia belum punya pengalaman apa-apa." sambung kang Wahid yang merasa khawatir.


"Iya Kang, tidak apa-apa. Nanti aku bisa taruh dia di kebun atau peternakan susu. Karena kalau di penggilingan padi itu kebanyakan laki-laki."


"Iya terserah Kamu mau menaruhnya di mana. Yang penting dia ada kerjaan. Tidak lontong-lantung atau dia mencari pekerjaan yang jauh-jauh." Kang Wahid khawatir jika anak gadisnya akan terpengaruh dengan pergaulan di kota besar.


"Iya Kang. Besok bawa aja ke rumah, nanti Aku akan kasih kerjaan."


"Terima kasih banyak ya Mal. Baiklah kalau begitu, Aku mau melanjutkan perjalanan. Kamu juga mau pulang kan?"


Jamal mengangguk mengiyakan.


Akhirnya mereka berpisah di pertigaan, karena kang Wahid harus berbelok ke kiri, sedangkan Jamal lurus untuk sampai di rumahnya.


*****


"Sayang, katanya mau minta main lima kali. Nanti atau sekarang di mulai? ini udah jam sembilan lho." Jamal memperingatkan istrinya.


"Ini baru makan, nanti sebentar lagi Mas."


Jamal akhirnya menunggu indah selesai makan anggur, sesuai yang diinginkan. Dia tidak ingin mengganggu kesenangan istrinya, yang sedang memberikan nutrisi untuk bayinya juga.


Setelah Indah merasa puas dengan makan buah anggur, dia pun siap untuk dilayani Jamal hingga lima kali sebelum akhirnya tertidur dengan pulas dan puas.


*******


[ Ding ]


[ Selamat pagi Tuan ]


'Aku mau bertanya tentang misi lahan jagung. Masih kurang berapa hektar lagi lahannya?'


[ Ding ]


[ Perhitungan kekurangan lahan ]


1%

__ADS_1


10%


30%


40%


50%...


Sampai selesai menjadi 100%.


[ Ding ]


[ Kekurangan lahan seluas 12 hektar lagi ]


'Hemmm... masih cukup banyak juga.'


[ Ding ]


Jamal keluar dari ruangan kerjanya, untuk melihat istrinya yang sudah selesai menyiapkan sarapan pagi bersama dengan Umi dan ART.


"Apa sarapannya sudah siap Sayang?" tanya Jamal dengan mencium kening istrinya.


"Sudah Mas. Ayok sarapan!" ajak Indah, dengan mengambilkan piring untuk suaminya.


Akhirnya mereka memulai sarapan pagi tanpa banyak berbicara.


Beberapa menit kemudian kang Wahid datang bersama dengan anak gadisnya, yang ingin mendapatkan pekerjaan di tempatnya Jamal.


Jamal memberikan kebebasan pada anaknya kang Wahid, untuk memilih pekerjaan yang dia inginkan.


"Kamu mau di kebun jeruk atau peternakan sapi perah atau di penggilingan padi?" tanya Jamal dengan menyebutkan tempat pekerjaan yang udah dipilih.


"Sebaiknya di peternakan saja dulu, soalnya di sana dia bisa memberi makan sapi atau membersihkan kandang-kandang sapi."


Kang Wahid justru yang memilihkan pekerjaan untuk anaknya, sedangkan anaknya hanya diam sambil tersenyum kecu.t Karena merasa pekerjaan itu sangat berat untuknya


"Apa Kamu punya pilihan lain?" tanya Jamal yang sepertinya mengerti keadaan anaknya kang Wahid.


"Sebenernya Aku ingin kuliah mas Jamal, tapi bapak tidak punya biaya. Jadi Aku ingin seperti mbak Indah, yang bisa kuliah terbuka, tapi bisa juga bekerja. Apakah boleh?" tanya anaknya kang Wahid dengan takut-takut.


Jamal menoleh ke arah istrinya, yang saat ini sedang duduk di sampingnya, menemui kang Wahid yang datang bersama anaknya di ruang tamu.


Indah tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan oleh anaknya kang Wahid. Dia tidak pernah menyangka jika, apa yang dia lakukan selama menjadi inspirasi orang lain.


"Tidak apa-apa jika Kamu ingin kuliah terbuka sambil bekerja. Aku tidak membatasi kebebasan mu untuk mencari ilmu," jawab jamal sambil tersenyum, setelah Indah menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2