Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Rencana Ternak Sapi


__ADS_3

"Ami. Jamal kok gak sreg ya dengan perjodohan ini. Seperti ada sesuatu yang... Ah, entahlah. Jamal belum bisa menerka."


Umi menoleh ke arah anaknya, yang sedang menyetir mobil sendiri.


"Karena Kamu belum ketemu Ajeng. Dia cantik lho Mal!"


"Kamu lihat kan tadi, fotonya yang ada di dinding atau meja?"


Jamal hanya mengangguk samar. Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ami nya.


"Ya sudah sih Mal, nungguin Ajeng pulang. Terus kalian bisa ketemu, bicara dan langsung lanjut nikah saja!" Umi sepertinya benar-benar menginginkan Ajeng, agar bisa menjadi menantunya.


"Kenapa mesti Ajeng Ami?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Jamal, membuat Ami memiringkan kepalanya. Untuk melihat Jamal yang masih dalam keadaan melihat ke arah depan sana.


"Kamu ini gak kapok apa Mal? Lina, gak bisa dipercaya dengan perasannya sama Kamu. Dan itu sedari dulu lho!"


"Terus Kamu mau dengan siapa? Indah, adiknya Lina? Atau anaknya kang Wahid?"


Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Umi, sebenarnya merupakan ungkapan perasaan yang sedang kesal.


Sebagai seorang ibu, Umi tentu saja ikut merasakan sakit hati. Di saat anaknya yang baru saja beranjak dewasa, justru kecewa dengan cewek yang ditaksir.


Meskipun pada akhirnya cewek tersebut mengakui, jika penolakannya dulu hanyalah permainan. Tentu saja, hati sudah terlanjur sakit dan kecewa.


Sebab itulah, Umi meminta pada Jamal. Supaya berkonsentrasi pada pekerjaannya dan semua usaha yang saat ini dikembangkan. Termasuk rencana untuk peternakan sapi perah.


"Tapi Jamal tetap lebih sreg dengan cewek yang biasa Jamal kenal Ami. Apalagi, Ajeng itu cewek berpendidikan dan mandiri. Mana mau dia dengan Jamal, dan harus tinggal di desa juga!" terang Jamal pada Umi, dengan apa yang dia rasakan.


"Kita lihat saja nanti Mal. Kan belum ketemu Ajeng juga," sahut Umi, dengan harapan supaya rencananya dengan Nyonya Yenny untuk menjodohkan kedua anak mereka bisa dilaksanakan.


"Huhfff..."


"Sudah, tidak usah mengeluh!" tutur Umi, mengingatkan Jamal.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Jamal masuk ke dalam halaman rumahnya.


Di teras rumah, ada Indah yang sedang menghitung keranjang buah jeruk. Karena satu jam lagi, ada truk yang akan mengambil hasil panen kebun jeruk.

__ADS_1


Indah pun menghentikan kegiatannya, di saat melihat Jamal dan Umi baru saja datang.


"Truk nya belum datang Ndah?" tanya Jamal, dengan menghampiri Indah.


"Emhhh... satu jam lagi Mas. Ini Indah sedang mempersiapkan semuanya kok," jelas Indah menerangkan.


"Oh," mulut Jamal hanya membola, menanggapi penjelasan yang diberikan oleh Indah barusan.


Setelah saling diam, Umi yang menenteng tas belanjaan bertanya pada Indah. "Sapi yang dipesan sudah ada konfirmasi belum? Maksudnya, ada berapa ekor yang akan dikirim ke sini?"


"Seminggu lagi Ami. Mungkin ada tiga ekor. Dan untuk pengiriman keduanya, nanti ditambah lima ekor.


"Ada dua tahap to pengirimannya?"


Indah pun mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Umi.


Penjelasan Indah, membuat Jamal teringat dengan persiapan kandang sapi yang belum selesai dikerjakan semuanya oleh tukang.


"Ami. Kandang sapi nya aja belum semuanya selesai. Biar bertahap aja dulu. Kan sambil jalan, kita cari orang yang bisa ngurus sapi-sapi itu juga."


Umi pun mengangguk mengiyakan perkataan Jamal. Karena dia tidak mungkin mengurus semua sapi yang akan mereka ternak.


Dan untuk itu, Jamal meminta pada Indah, agar membuat iklan pada lowongan pekerjaan. Khusus untuk mengurus sapi-sapi mereka nantinya.


Indah hanya mengangguk mengiyakan permintaan Jamal. Karena itu adalah tugas yang diberikan oleh Bos nya.


Secara, sekarang ini Jamal adalah Bos yang memiliki sawah berhektar-hektar. Kebun jeruk yang luas. Dan sebentar lagi, juga punya usaha ternak sapi perah.


Bahkan rencana kedepannya nanti, akan ada usaha untuk pembuatan minuman sari jeruk dan juga susu sapi.


'*Roda itu berputar. Dan mas Jamal, yang dulunya ada di posisi paling bawah, sekarang ini ada di posisi atas.'


'Dulu dia di tolak Mbak Lina. Tapi sekarang, justru mbak Lina yang tampak mengemis cinta pada mas Jamal*.'


Indah membatin tentang perubahan atas kehidupan yang dialami oleh Jamal.


'*Beruntung Aku bisa kerja di sini sambil kuliah. Mas Jamal dan Ami juga ngertiin kesibukanku jika ada tugas kuliah. Jadi mereka berdua tidak pernah memaksa untuk kerja lembur, atau pada saat Aku ada jam kuliah juga.'


'Semoga saja, mas Jamal juga berjodoh dengan gadis yang baik. Sehingga sikap baik mas Jamal tidak berubah karena terpengaruh oleh istrinya nanti*.'

__ADS_1


Harapan Indah ini, bukan tanpa alasan.


Ada banyak cowok yang dulunya baik jadi berubah kurang baik, setelah menikah. Karena pengaruh dari sikap dan perilaku istrinya yang baru saja masuk ke dalam kehidupan cowok tersebut.


Tapi ada juga yang sebaliknya.


Pada saat masih sendiri, cowok tersebut sedikit breng_sekkk. Tapi setelah menikah, dia menjadi lebih baik. Karena istrinya bisa menggiring sikap dan perilaku suaminya itu.


Jika ada yang mengatakan bahwa jodoh adalah cerminan diri seseorang. Itu tidak semuanya benar.


Sebab yang terlihat sebelum menikah, bisa tampak jelas setelah pernikahan terjadi.


Jadi baik dan buruknya pasangan seseorang, tergantung dari seseorang itu sendiri dalam mengiring pasangan barunya itu pada suatu perubahan. Lebih ke titik yang buruk atau baik.


*****


"Papa! Apa-apaan sih jodoh-jodohin Ajeng."


Ajeng berteriak dengan marah, di saat pulang ke rumah, atas permintaan dari Tuan Wiro, ternyata karena rencana perjodohan.


"Laki-laki ini baik Ajeng. Dia juga pekerja keras. Bertanggung jawab dan sayang sama ibunya," tutur Nyonya Yenny memberikan gambaran tentang calon suami anaknya.


"Terus, kalau sayang sama ibunya, belum tentu juga sayang sama istrinya nanti. Kan dia lebih mementingkan ibunya, dari pada isterinya!"


Ajeng tetap bersikeras ingin membatalkan rencana perjodohan dirinya, dengan laki-laki yang tidak dia kenal.


"Lihat dulu lah Ajeng. Kenalan, ngobrol-ngobrol gitu. Kan baru rencana. Tapi Mama tetap pengen Kamu setuju."


Pendengar penuturan mamanya, Ajeng tersenyum sinis. Kemudian berkata, "ya sudah kalau begitu, Mama aja yang nikah sama itu cowok Ma!"


"Ajeng!"


Tuan Wiro membentak Ajeng, yang dirasa sudah keterlaluan bicara dengan mamanya.


Sedari tadi Tuan Wiro hanya diam mendengarkan pembicaraan istri dan anaknya itu. Tapi di saat Ajeng sudah keterlaluan seperti tadi, dia tidak bisa menahan diri lagi.


"Ingat Ajeng! Jangan sampai membuat Papa dan Mama malu. Meskipun Jamal bukan laki-laki dari kota, atau punya pendidikan tinggi. Tapi dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab."


Ajeng hanya berdecak kesal, mendengar perkataan yang diucapkan oleh papanya.

__ADS_1


Perkataan tersebut bukan hanya sekedar nasehat, tapi sebuah perintah. Yang harus dia patuhi.


'Jangan panggil Aku Ajeng. jika tidak bisa membatalkan rencana perjodohan ini nantinya!' tekad Ajeng membatin.


__ADS_2