
"Hai! Warga baru ya?"
Jamal menoleh ke arah suara, di mana ada seorang wanita cantik yang sedang menegurnya.
"Ah iya. Aku baru saja datang."
Dengan sedikit gugup, Jamal menjawab pertanyaan tersebut.
"Oh ya, Aku Sonya. Kamu siapa?"
"Aku... Aku Jamal."
Akhirnya Jamal memperkenalkan diri kepada Sonya. Orang pertama yang dia lihat, karena mau menegurnya, di tempat asing ini.
"Kamu tinggal di blok mana?" tanya Sonya lagi, dengan melihat punggung tangan Jamal. Setelahnya, dia melihat wajah Jamal, tapi langsung turun ke dada bidang Jamal.
Ternyata Jamal tidak tahu jika, alamat rumah yang akan ditempati ada di punggung tangannya sendiri. Jadi dia tidak perlu bertanya kepada orang lain.
"Oh, kita tetangga ternyata."
Sonya tersenyum manis, melihat punggung tangan Jamal, yang memberitahukan alamat rumah di planet XMoon ini.
Jamal buru-buru melihat punggung tangannya sendiri, untuk mengetahui alamat rumah yang tertera di sana. Karena dia memang tidak tahu jika, alamat rumahnya sudah tertulis dipunggung tangannya sendiri.
"Ini..."
"Iya. Seharusnya Kamu masuk di rumah yang Kamu temui untuk pertama kalinya tadi datang ke sini."
Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Sonya. Wanita cantik yang pertamakali menegurnya, dan dia kenal.
Akhirnya Sonya mengajak Jamal kembali ke rumah yang tadi. Karena rumah tersebut adalah rumahnya jaman di planet XMoon ini.
Dari pembicaraan mereka berdua, akhirnya Jamal sedikit mengetahui tentang bagaimana kehidupan bersosial di sini. Sama seperti yang tadi di lihat oleh Jamal, saat ada sepasang manusia sedang berciuman di pinggir jalan, bahkan hampir melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan di tempat umum. Dan ternyata hal itu sudah biasa biasa terjadi. Karena planet XMoon ini tidak mengenal rasa malu, tidak mengenal agama dan sopan santun.
Jamal cukup kaget mendengar penjelasan yang diberikan oleh Sonya.
"Tapi yang dilakukan oleh orang-orang di sini, adalah cerminan kehidupan mereka pada waktu ada di planet bumi."
__ADS_1
Sonya menambahi keterangan yang dia berikan pada Jamal.
"Tapi, apa ada sepasang suami istri yang sama-sama ikut kemari?" tanya Jamal penasaran.
"Tidak perlu bawa suami atau istri ke sini. Kamu bebas kok mau bercinta dengan siapa saja yang Kamu inginkan. Asalkan dia juga mau dengan Kamu. Tidak ada yang melarang."
Sonya tersenyum, setelah selesai memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Jamal.
"Kamu tahu, kehidupan di sini adalah gambaran kehidupan di bumi untuk beberapa ratus tahun ke depan!" imbuh Sonya dengan wajah yang datar.
Tentu saja Jamal semakin tercengang dengan apa yang dia dengar kali ini.
Itu artinya, semua memang dikerjakan dengan kecanggihan teknologi, dan juga kehidupan manusia yang sudah tidak wajar lagi. Sama seperti yang dia lihat sekilas.
Baik dari segi bangunan rumah, lahan pertanian yang ada di atap rumah. Serta keadaan sosial penghuninya.
"Jika Kamu ingin bercinta denganku, Aku juga mau Jamal," ujar Sonya tiba-tiba, dengan bergerak maju untuk menyentuh dadanya Jamal, yang sepertinya menarik perhatiannya sedari tadi.
"Tap... tapi, kita..."
"Tidak perlu sungkan Jamal. Bukankah Aku tadi sudah memberitahumu, jika semuanya bisa kita lakukan di sini," terang Sonya, sambil menekan bibir Jamal dengan jari telunjuknya yang lentik.
Apalagi, saat ini mereka berdua sudah masuk ke dalam rumahnya Jamal. Yang disediakan oleh sistem untuknya.
Jamal yang mendapatkan perlakuan agresif dari Sonya, tidak bisa menolaknya. Dia terbawa suasana yang diciptakan oleh kenalan barunya itu.
Dan begitulah akhirnya, di hari pertama Jamal berada di planet XMoon, dia justru melakukan cocok tanam dengan penghuni planet XMoon yang lainnya. Yang sudah lebih dulu berada di tempat ini.
Setelah beberapa saat kemudian, Sonya mengajak Jamal untuk melihat lahan pertanian milik Jamal yang ada di atas.
Jamal cukup terkejut juga dengan apa yang dia saksikan.
Atap rumah yang dia tempati ini, bukanlah genteng atau sejenisnya. Bukan juga cor semen, sama seperti atap-atap gedung pada umumnya di bumi.
Tapi atap rumahnya terbuat dari tanah bercampur dengan akar-akar tanaman yang ada di lahan pertaniannya.
Di lahannya ini, sudah ada sayuran, buah-buahan dalam bentuk mini, dan juga padi sebagai bahan pangan pokok untuk manusia. Sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Ini... ini dari mana?" tanya Jamal heran.
"Ini dari sistem. Dia yang merancang semua ini. Dan Kamu harus bisa menjaga dan mengembangkannya. Dan satu lagi, keringat yang keluar dari setiap pori-pori kulitmu, selama Kamu ada di planet ini, sudah di tampung oleh alam XMoon menjadi pupuk yang disebarkan melalui angin."
Jamal semakin terkejut dengan penjelasan yang diberikan oleh Sonya padanya.
"Tap... tapi, Aku tidak kenapa-kenapa kan? meskipun keringatku keluar dan menjadi pupuknya?" tanya Jamal dengan cepat.
"Tentu saja tidak. Itu adalah sebuah hubungan yang hampir sama seperti kerja kerasmu di bumi, dan hasilnya adalah keberhasilan di saat Kamu panen."
Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Sonya. Meskipun masih ada banyak pertanyaan yang ada di dalam hatinya.
"Ok, Aku pulang dulu ya. Jika ada sesuatu yang ingin Kamu tanyakan, Kamu bisa menghubungku dengan cara menekan hari kelingking mu. Begini!"
Sonya memberikan contoh kepada Jamal, bagaimana cara untuk bisa menghubungi dirinya.
"Tidak pakai ponsel atau semacamnya?" tanya Jamal ragu.
"Tidak. Di sini kita tidak memerlukan ponsel, atau keperluan komunikasi lainnya. Karena yang ada pada tubuh kita, sudah menjadi alat komunikasi yang lebih cepat."
Sekarang Jamal berpikir, bagaimana bisa kelingkingnya memberikan sinyal khusus, yang bisa memangil Sonya.
Tapi sebelum Jamal membuka mulutnya untuk bertanya, Sonya sudah memberikan penjelasan lagi. "Jadi, tangan Kamu ini, terutama yang kelingking, adalah alat penghubung terdekat di sekitar rumahmu."
Dan selanjutnya, Sonya akan menjelaskannya lagi diwaktu yang lain. Karena dia harus segera pulang ke rumah.
"Apa ada seseorang yang sedang menunggmu di rumah?" tanya Jamal tiba-tiba.
Dia segera menutupi mulutnya sendiri, karena merasa lancang telah mencampuri urusan pribadi Sonya. Hal yang tidak perlu dia ketahui Ari sesama penghuni planet ini.
Tapi ternyata Sonya tidak tersinggung ataupun marah.
"Tidak ada. Tapi ini sudah waktunya untuk tidur siang. Jangan lupa Kamu juga tidak siang ya!"
Selesai bicara seperti itu, Sonya langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan keluar rumah untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Jamal memperhatikan bagaimana Sonya yang semakin menghilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
"Ini kehidupan yang aneh. Semuanya serba canggih, tapi kenapa Aku merasa jika ini tidak cocok ya untukku..."