
"Indah sakit Mal."
Pendengaran Jamal, langsung menangkap suara Umi. Du saat dia baru saja datang dari sawah, dan menghentikan sepeda motornya.
"Sakit? Sakit apa Ami?"
"Gak tau juga. Tadi Lina cuma bilang, jika Indah demam tinggi. Sekarang sedang di bawa ke rumah sakit." Jamal tertegun sejenak, mendengar perkataan ibunya yang seperti sedang dalam keadaan kesal.
'Ami kenapa tampak kesal dengan berita ini? Bukannya Ami baik dan perhatian sama Indah?' batin Jamal bertanya-tanya, apa yang dirasakan oleh Ami nya itu.
Umi juga melihat bagaimana Jamal yang hanya diam saja, saat mendengar tentang keadaan Indah barusan.
"Mal. Kamu gak coba telpon Indah atau orang tuanya?" tanya Umi, yang sebenarnya juga ingin tahu bagaimana keadaannya Indah. Karena Indah juga berstatus sebagai pegawainya di kebun jeruk, dan sering membantunya selama ini.
"Maksud Ami, tadi Ami gak tanya soal Indah sama Lina?" Jamal justru balik bertanya pada Umi, yang membuang nafas kesal.
"Hhh... malas Ami Mal, liat dia."
"Ami. Ami kan pernah bilang sama Jamal. Katanya gak boleh marah-marah. Gak boleh benci sama orang yang sudah menyakiti hati kita. Ami lupa?"
Umi menundukkan kepalanya, mendengar nasehat yang diberikan oleh Jamal. Karena sebenarnya, nasehat itu juga sama seperti yang dia katakan pada Jamal waktu itu. Di saat Jamal sedang merasa kecewa pada kelakuan Lina. Yang sudah mempermainkan perasaannya.
"Nanti kita tanya, di mana Indah di rawat. Ami mau ikut jenguk Indah?" Jamal menawari Umi, untuk ikut bersamanya menjenguk indah di rumah sakit.
"Iya. Aku ikut ya Mal!"
Jamal menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan dari Ami nya itu.
*****
Jamal baru saja pergi ke peternakan sapi perah miliknya, untuk mengambil susu segar. Yang akan dia bawa ke rumah sakit nantinya. Dia akan membawakan jeruk dan juga susu sapi segar untuk Indah, supaya lekas sembuh dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Tapi Umi sudah gelisah. Karena menunggu kedatangan anaknya itu.
"Jamal lama sekali sih..." kesah Umi, yang merasa tidak tenang. Karena Jamal belum juga kembali.
Jeruk yang tadi dipilihkan Jamal, sudah dia bungkus sedemikian rupa agar mudah dia bawa. Jadi, sekarang tinggal menunggu susu nya saja. Supaya buah tangan mereka lengkap, saat menjenguk Indah.
"Ami. Ami tidak ganti baju dulu? Biar nanti bisa langsung berangkat ke rumah sakit, di saat mas Jamal sudah pulang."
IRT rumah, memperingatkan Umi. Supaya bersiap-siap saja. Dari pada gelisah menunggu kedatangan Jamal.
__ADS_1
"Oh ya. Benar juga itu. Baiklah, Aku akan bersiap-siap dulu."
ART rumah Umi, hanya mengelengkan kepalanya saja. Melihat majikannya yang tidak seperti biasanya jika ada Indah bekerja.
'Aku berharap, Umi dan mas Jamal menyadari sesuatu yang seharusnya mereka sudah sadari,' batin ART tersebut.
Tak lama kemudian, Jamal telah kembali.
Umi juga sudah bersiap, untuk pergi bersama dengan Jamal ke rumah sakit. Menjenguk Indah yang sedang dirawat di sana.
"Mal. Kamu sudah tahu, di mana rumah sakit tempat Indah di rawat?" Umi bertanya, karena merasa khawatir. Jika anaknya itu lupa untuk bertanya terlebih dahulu, pada pihak keluarganya Indah.
"Sudah Bu. Tadi Jamal telpon ke ponselnya Indah. Tapi yang angkat Lina."
Wajah Umi langsung berubah kesal, saat mendengar Jamal menyebutkan nama Lina.
Dia belum bisa melupakan kesalahan Lina. Meskipun sudah berusaha untuk menghilangkan dari pikiran dan hatinya juga.
"Ami," tegur Jamal, saat melihat perubahan warna pada wajah Ami nya.
"Hemmm... ya-ya. Maaf," desah Umi, dengan menghembuskan nafas panjang.
"Ya sudah ayok Ami!"
"Yu, saya mau pergi dulu sama Jamal. Jika ada yang nyari, bilang aja pergi. Tapi gak tau ke mana gitu ya!"
"Iya Ami."
ART pun menjawab patuh, dengan menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Jamal meninggalkan halaman rumahnya. Dia bersama dengan Umi, pergi ke rumah sakit. Untuk menjenguk Indah.
Dalam hati Umi berharap, 'semoga saja, tidak ada Lina yang sedang menunggui Indah. Aku tidak mau jika, Jamal berbicara dengan gadis itu. Entah kenapa Aku merasa tidak suka dengannya. Meskipun sekarang ini dia sudah baik dan tidak lagi sama seperti dulu.'
"Ami. Ami kenapa?" tanya Jamal, memecah keheningan yang ada di dalam mobil.
"Emhhh... gak apa-apa. Ami baik-baik saja."
"Oh..."
Mulut Jamal hanya membola, menanggapi jawaban yang diberikan oleh Ami nya.
__ADS_1
Dia pun tidak lagi bertanya-tanya, karena sudah memasuki gerbang rumah sakit daerah. Di mana Indah sedang di rawat.
Setelah mendapat persetujuan dari security, Jamal dan Umi segera masuk ke dalam. Mereka menuju ke ruang Bougenville, di lantai satu kamar A07. Karena di kamar tersebut, Indah di rawat.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Jamal dan Umi sampai juga di depan pintu kamar rawat inap Indah.
Bukan ruangan VIP, tapi juga bukan ruangan kelas tiga. Karena hanya ada dua tempat tidur pasien, di dalam kamar tersebut.
"Assalamualaikum..."
"Assalamualaikum..."
Jamal dan Umi, sama-sama mengucapkan salam, saat masuk ke dalam kamar tersebut.
"Waallaikumsalam..."
Jawan orang-orang yang ada di dalam kamar.
Ternyata, hanya ada satu pasien. Yaitu Indah, yang ada di dalam kamar rawat inap tersebut. Karena pasien sebelah, baru saja pulang satu jam yang lalu.
"Ami..."
"Mas Jamal..."
Indah dan Lina, sama-sama menyapa kedua tamu tersebut. Sedangkan bapaknya Indah, baru saja pergi untuk mengurus ijin ke kantor.
Ibunya juga baru saja pulang, karena harus mengurus pengantin yang harus dia rias hari ini. Dan ibunya itu tidak menemukan pengganti MUA, yang bisa dia mintai tolong mengantikan tugasnya.
Setelah saling bersalaman, Umi bertanya pada Indah. "Sakit apa sebenarnya Kamu Ndah? kemarin kan Kamu baik-baik saja."
"Ami," tegur Jamal, memperingatkan pada Ami nya. Supaya tidak mengajak Indah untuk banyak berbicara.
"Oh iya, ini ada susu sapi segar. Baik untuk kesehatan. Kamu minum ya!"
Umi sudah memposisikan dirinya, untuk membantu Indah meminum susu sapi yang tadi dia bawa.
Tapi ternyata, Lina merasa tidak nyaman, di saat melihat Umi yang kerepotan membantu Indah untuk duduk. Dia pun mendekat dan meminta susu sapi tersebut. Agar dia saja yang membantu adiknya minum.
"Biar Lina saja Ami."
Namun Umi tidak senang dengan niat baik Lina. Dia justru melihat Lina dengan tatapan marah. Sehingga Jamal harus segera menengahi mereka berdua.
__ADS_1
"Ami. Ami sini! Biar Jamal saja yang bantu Indah." Jamal mendekat dan meminta gelas berisi susu sapi segar yang dia bawakan untuk Indah.
Umi akhirnya menepi. Membiarkan Jamal sendiri, yang membantu Indah. Supaya bisa meminum susu sapi tersebut.