Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Kabar Bahagia


__ADS_3

Jamal tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan lihat di layar USG yang diterangkan oleh dokter kandungan.


"Yang bener Dok, anakku itu ada lima?" tanya jamal tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter.


Indah juga sama terkejutnya, mendengar penjelasan yang tadi dia dengar dari dokter. Yang mengatakan bahwa, bayi yang dia kandung saat ini ada lima.


"Bagaimana mungkin lima Dok?" Indah juga mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh suaminya tadi.


"Mas, Mas... Jamal..."


Indah meminta penjelasan kepada suaminya, bagaimana caranya dia mengandung lima anak sekaligus di dalam perutnya saat ini. Sedangkan dia merasa baik-baik saja, dan masih bisa melayani suaminya di tempat tidur dengan sangat baik.


"Tidak apa-apa Nyonya, Tuan. Janin sangat sehat, dan sepertinya Mamanya juga sehat. Jadi aktivitas tetap seperti biasanya tidak apa-apa, yang penting tetap berhati-hati. Karena masa-masa kehamilan di awal-awal seperti ini, memang sangat rawan. Apalagi ini untuk pertama kalinya untuk Nyonya."


Setelah memberikan beberapa nasihat dan resep obat, serta multivitamin yang aman bagi ibu hamil, dokter mempersilahkan mereka untuk pulang.


"Obat dan multivitamin nya di minum secara teratur ya Nyonya. Dan Tuan, harus lebih peka ya. Hehehe..."


Jamal hanya menanggapi dengan senyuman tipis dan anggukan kepala saja.


Jamal dan Indah keluar dari ruangan dokter kandungan, dengan tersenyum bahagia. Karena ternyata dalam kandungan Indah tidak hanya ada satu bayi tapi lima sekaligus.


Ini merupakan kebahagiaan yang tiada tara untuk mereka berdua. Dan tentu saja, jika kabar ini disampaikan kepada Umi, pasti umi juga akan sangat bahagia. Karena mempunyai cucu lima sekaligus bukan hanya sekedar satu saja.


"Mas. Indah boleh minta sesuatu gak?" tanya Indah dengan ragu-ragu.


"Mau minta apa Sayang?" tanya Jamal sambil menundukkan Indah di kursi tunggu. Karena saat ini mereka sedang antri di depan apotek rumah sakit, untuk menebus resep obat.


"Indah mau bercinta setiap malamnya lima kali juga, sesuai dengan jumlah anak kita," jawab Indah sambil malu-malu.


"Yang bener Sayang, memang kuat?" tanya Jamal tidak percaya dengan permintaan istrinya kali ini.


Tapi ternyata Indah menggangguk pasti, meskipun dengan wajah yang merah merona karena malu.


"Apakah ini permintaan mu sendiri, atau ngidam karena bayi kita ini?" tanya jalan memastikan.


"Tidak tahu Mas. Tapi Indah merasa ingin lima kali, gak cuma tempat atau tiga kali seperti kemarin." Indah justru mengungkapkan keinginannya, dengan alasan yang dia berikan kepada Jamal.


Tentu saja ini membuat Jamal bahagia, karena selain istrinya bisa mengungkapkan apa yang diinginkan, dia juga sangat menyukai permintaan istrinya kali ini.

__ADS_1


"Jika itu benar, tentu saja Aku mau. Lebih dari itu juga Aku mau kok sayang, hehehe..."


Cup!


Jamal mengecup bibir istrinya sekilas. Dia hampir saja lupa, jika saat ini mereka sedang berada di rumah sakit.


"Ihsss... mas Jamal!"


"Hehehe... tapi kalau Kamu kecapean bagaimana?" tanya jambal yang khawatir dengan keadaan istrinya.


"Yang penting Mas melakukannya dengan lembut. Pasti bayi-bayi kita pasti akan mengerti keadaan orang tuanya. Mereka juga pasti tahu, dan berharap untuk dijenguk papanya Mas. Hihihi..."


Jamal mengelus-elus rambut istrinya, sambil tersenyum senang.


"Oh iya pasti, hahaha... mereka di dalam sini, pasti tahu keadaan orang tuanya yang selalu... ah jadi pengen sekarang," ujar Jamal dengan beralih mengelus-elus perut indah yang sudah mulai terlihat membuncit.


"Mas, ini di rumah sakit," desis Indah mengingatkan. Dengan memukul lengan suaminya pelan.


Setelah beberapa saat kemudian, nama indah dipanggil untuk menerima obat yang mereka.


*****


"Aku pengen anggur hijau sama anggur merah Mas. Ada kan yang jual?"


"Iya. Kita cari kios buah dulu ya, yang lengkap biar Kamu bisa pilih buah yang Kamu inginkan."


Indah menggangguk senang, karena apa yang diinginkan akan segera dia dapatkan. Setelah mendapat persetujuan dari suaminya.


"Sejak kapan Kamu ingin anggur Sayang? kenapa diam saja, tidak ngomong. Aku kan sudah bilang, jika ingin sesuatu, ngomong ya Sayang. Jangan dipendam, itu ngidam namanya."


"Iya Mas. Aku juga baru kepengen ini tadi kok, pas keluar dari rumah sakit."


Jamal mengengam tangan istrinya, dengan satu tangan. Karena satu tangannya yang lain memegang setir.


"Pokoknya nanti, kalau Kamu pengen apa-apa ngomong. Tidak boleh diam saja, ingat itu ya sayang!"


Indah tersenyum lebar, sambil mengangguk kemudian memberikan kecupan setelah ke pipi suaminya.


"Lho kok cuma di pipi?" protes Jamal, sambil memajukan bibirnya.

__ADS_1


"Ihsss... nanti aja di rumah kalau mau lebih," sahut Indah sambil memajukan bibirnya.


Akhirnya, sore itu mereka berputar-putar sekitar jalan, untuk menemukan kios buah yang lengkap.


Setelah mendapatkan anggur yang diinginkan, Jamal dan Indah pulang ke rumah karena hari sudah hampir malam.


Sampai di rumah, mereka berdua langsung masuk dengan membawa barang bawaan yang tadi mereka beli. Yaitu buah anggur merah dan hijau. Dan beberapa buah tangan untuk Umi.


Umi yang baru saja keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan anak dan menantunya itu dengan senang hati. kemudian bertanya, "bagaimana hasil pemeriksaannya, sehat kan cucuku?"


"Sehat Ami. Dan pastinya, Ami akan sangat terkejut sekaligus senang mendengarnya."


"Apa maksudmu, kabar apa? cepet katakan!" Umi jadi tidak sabar, untuk mendengar berita apa yang ingin disampaikan oleh anak dan menantunya itu.


"Cucu Ami nanti tidak hanya satu lho," sahut Jamal dengan maksud untuk menggoda Ami nya. Karena tidak memberikan jawaban dengan tuntas.


"Maksudnya cucu Ami kembar?" tanya Umi menebak apa yang ingin disampaikan oleh anaknya itu.


Indah mengangguk sambil tersenyum, tidak membiarkan Umi dalam keadaan penasaran terlalu lama.


"Bener cucuku kembar?" tanya Umi mengajukan pertanyaan yang sama, karena tadi belum sempat dijawab oleh anak maupun menantunya dengan pasti.


"Coba tebak, nanti cucu Ami ada berapa?"


Jamal justru mengajukan pertanyaan kepada Umi, yang tentu saja membuat Umi mengerutkan keningnya.


"Maksudmu, cucuku itu lebih dari dua? kembar lebih dari dua berapa?" tanya Umi dengan antusias, menantikan jawaban dari Jamal. Karena anaknya itu justru membuat tebak-tebakan yang membuatnya semakin penasaran.


"Lima sekaligus Ami," terang Jamal memberikan penjelasan kepada Ami nya.


"Lima? maksudmu Indah hamil cucuku dalam jumlah lima?"


Jamal mengangguk pasti, dan pada saat Umi melihat ke arah Indah. Ternyata Indah menganggukkan kepalanya, mengiyakan jawaban diberikan oleh suaminya.


Umi pun tersenyum senang, kemudian pemeluk anak dan menantunya itu secara bergantian.


"Kamu harus menjaga Indah dan anak-anaknya, jangan sampai kenapa-kenapa. Pokoknya Ami mau, mereka lahir dengan selamat. Baik mama maupun anak-anaknya. Ahhh... terima kasih! cucuku langsung lima!"


Ami berkali-kali mencium pipi Indah kiri dan kanan, begitu juga saat memeluk Jamal. Dia sangat bahagia, karena selama ini hanya memiliki Jamal sebagai anaknya saja.

__ADS_1


__ADS_2