Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Gagal


__ADS_3

Sore hari ini juga, Jamal dan Indah datang ke rumah pak Hadi dan bu Anita. Mereka berdua mau berpamitan, sebab rencananya, besok pagi mereka akan pergi untuk bulan madu yang belum sempat mereka lakukan.


Lina yang ikut mendengarnya merasa sangat kesal, karena dia merasa, seharusnya dialah yang berada pada posisi adiknya saat ini. Dan bukan Indah yang menjadi istrinya Jamal.


'Awas aja Kamu Dek! Kamu bermanja-manja dengan mas Jamal, yang seharusnya milikku. Padahal Kamu tau sendiri, bagaimana perasaan Mbak pada mas Jamal. Tapi sekarang Kamu berubah sama sekali. Tidak mau memikirkan perasaan Mbak lagi. Pokoknya Mbak gak mau maafin Kamu!'


Lina membatin dalam hati dengan perasaan kesal dan jengkel. Kecewa dengan keputusan yang diambil oleh adiknya, yang menerima Jamal sebagai suaminya.


Indah melirik ke arah kakaknya yang baru saja datang, dengan membawakan minuman untuk mereka semua.


Sebenarnya dia merasa tidak enak hati, jika kakaknya ini melihatnya ataupun melihat suaminya. Seakan-akan kakaknya itu masih ada harapan dan mendamba pada Jamal.


Indah juga tahu bahwa, kakaknya itu masih ada rasa dengan suaminya. Tapi sebagai seorang istri, siapa sih yang tidak cemburu, disaat ada wanita lain yang mengharapkan suaminya dengan tatapan yang mendamba seperti itu. Apalagi wanita itu adalah kakaknya sendiri.


Egois? Ya mungkin bisa dikatakan Indah egois. Tapi itu akan dilakukan oleh semua wanita terhadap suaminya.


"Ya gak apa-apa kok bulan madu, yang penting kalian jaga diri dan tetap berhati-hatilah," pesan pak Hadi pada Jamal dan Indah.


"Iya nak Jamal, Ibu minta jagain Indah ya! jangan sampai dia sakit. Pokoknya kami pasrahkan Indah sama Kamu sebagai suaminya. Jadi sekarang Indah adalah tanggung jawabmu sebagai suaminya."


"Iya Pak, Bu. Jamal pasti akan menjaga Indah sebagaimana Jamal menjaga diri sendiri. Bagaimanapun Indah adalah istrinya Jamal. Sudah sepatutnya menjaga Indah sama seperti Jamal menjaga diri sendiri."


Pak Hadi dan bu Anita mengangguk dengan tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh menantunya itu.


Tapi tentu saja tidak bagi Lina. Dia tersenyum sinis, mendengar perkataan Jamal pada kedua orang tuanya. Namun dia tidak mau menyahuti perbincangan mereka.


Akhirnya, mereka berbincang dengan santai lagi, membicarakan tentang hal-hal yang biasa pada umumnya.


"Ayo diminum itu minumnya!" Bu anita menawari anak dan menantunya, untuk minum minuman yang sudah disediakan oleh anaknya Lina.


"Iya Bu, terima kasih.

__ADS_1


Jamal dan Indah akhirnya meminum teh hangat yang tadi sudah dibuatkan oleh Lina.


"Oh ya, kalian mau menginap di sini atau mau pulang langsung?" tanya Lina pada adiknya dan juga Jamal.


"Lina, kenapa bertanya seperti itu? Ini juga rumah mereka," timpal Bu Anita, yang tidak suka mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Lina pada anak dan menantunya itu.


Psk Hadi juga menatap tajam ke arah Lina. Dia tidak suka dengan pertanyaan anaknya itu. Karena itu tidak sopan ditanyakan kepada Indah maupun Jamal, yang artinya mereka berdua adalah anaknya juga.


Tapi Jamal langsung menjawab pertanyaan tersebut, agar Lina tidak dimarahi lagi oleh bapaknya. Yang sudah terlihat marah.


"Sepertinya kami langsung pulang. Soalnya harus bersiap-siap juga. Berangkatnya kan besok pagi. Dan kami belum menyiapkan segala sesuatunya," jawab Jamal, yang diangguki juga oleh Indah.


"Oh... jadi berangkatnya besok pagi, Aku bikin masih besoknya lagi sahut," sahut Lina dengan tersenyum sinis.


Dia memang sakit hati dengan perlakuan Jamal yang tidak mau menatapnya. Dan hanya berbicara dengan menatap istrinya, bapaknya atau ibunya saja. Padahal dialah yang jelas-jelas tadi sedang bertanya dan mengajak bicara.


'Awas Kamu Indah. Kamu sudah merebut posisiku, yang seharusnya menjadi istrinya mas Jamal.' runtuk Lina dalam hati.


Tak lupa jamal juga meninggalkan sejumlah uang kedua mertuanya itu.


"Nak Jamal, gak perlu seperti ini juga Nak. Yang penting ada buat kalian berdua di saat bulan madu," ujar Bu Anita yang tidak enak hati karena ditinggali sejumlah uang.


"Ada kok Bu, ini hanya untuk keperluan dapur saja. Sedikit," kata Jamal dengan tersenyum.


"Terima kasih nak Jamal, Ibu titip Indah sama Kamu," ucap Bu Anita dengan mata berkaca-kaca menahan rasa haru.


"Iya Bu, pasti."


*****


Malam harinya, Lina dengan sengaja datang ke rumahnya Hendra. Dia ingin bicara dengan Hendra, tentang rencananya Hendra yang ingin melamar Ajeng.

__ADS_1


"Mas Hendra gak usah nikah sama Ajeng, sama Aku saja. Ajeng kan sukanya anak kota, sedangkan mas Hendra tidak akan kembali lagi ke kota."


Hendra bingung dengan kelakuan Lina yang sedari dulu suka seenaknya sendiri.


"Apa sih Kamu ini Lina! dulu kita gak serius, cuma permainan Kamu aja, Aku gak tau apa-apa, malah ikut jadi korban. Dan akhirnya Aku merasa bersalah dan tidak enak hati sama Jamal karena ulahmu."


"Hubungan pertemanan kami sempat renggang gara-gara Kamu. Ingat gak semuanya gara-gara Kamu. Dan sekarang, jika Jamal memilih Indah, seharusnya Kamu itu berusaha untuk merubah diri menjadi lebih baik lagi. Bukan malah kayak gini!"


Hendra berusaha untuk memberikan pengertian kepada Lina, supaya menyadari kesalahannya sendiri.


"Aku gak butuh ceramah mas Hendra!" sahut Lina cepat, dengan menghentakkan kakinya kesal karena dinasehati Hendra.


"Sudahlah Lin, mending Kamu pulang saja. Aku gak enak masa warga, jika ada seorang gadis bertamu ke rumah. Apalagi malam-malam begini. Bisa-bisa nanti di gerebek sama warga. Apalagi Aku seorang diri di rumah, dan Aku itu bujangan Lina."


Hendra justru mengusir Lina dari rumahnya, karena dia merasa tidak nyaman dengan gadis tersebut.


Lina adalah gadis yang sering nekat dan semaunya sendiri.


"Tega banget sih Kamu mas ngusir Aku. Awas aja ya, Aku gak akan maafin Kamu mas Hendra!" Lina berteriak kesal.


Hendra tidak menghiraukan ancaman Lina, karena dia merasa gadis itu sedang frustasi. Dia memilih untuk menutup pintu rumahnya, supaya Lina segera pulang.


Dan itu sangat manjur, karena tak lama kemudian motor yang digunakan Lina terdengar pergi dari rumahnya.


"Kasihan sekali sih Kamu Lina, tapi Aku minta maaf. Kamu bukan tipe Aku. Aku tidak mau punya istri yang temperamen dan semuanya sepertimu. Jadi sebaiknya Kamu segera menyadari kesalahamu, sebelum semuanya terlambat." Hendra bergumam seorang diri.


Di perjalanan pulang ke rumahnya, Lina terus menggerutu, kesal dengan Hendra yang sudah mengusirnya tadi.


"Awas Kamu mas Hendra. Aku benci sama Kamu. Aku benci, benci!"


Lina terus men_dongkol dalam hati, karena apa yang dia inginkan tidak dia bisa dapatkan.

__ADS_1


Apalagi Hendra juga tidak bisa dia ajak untuk bekerjasama lagi, sama seperti dulu. Agar bisa mendapatkan Jamal lagi.


__ADS_2