Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Panik


__ADS_3

"Sayang, ini baju kamu gak terlalu seksi ini?" tanya Jamal, dengan memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh istrinya.


"Masa sih Mas? Ini gak terlalu seksi ah, gak terbuka juga bajunya."


Indah memang tidak mengenakan pakaian yang seksi, dengan potongan yang ketat ataupun terbuka. Karena masih bisa bisa dikatakan sebagai pakaian atau gaun yang sopan.


Pakaian Indah, panjang hingga di bawah lutut. dengan lengannya yang sebatas siku. Tidak terlalu ketat juga di tubuh Indah. Tapi ternyata, ada beberapa pasang mata laki-laki, yang melihat ke arah indah dengan tatapan mata lapar.


Apalagi pakaian yang dikenakan oleh Indah berwarna hitam, sehingga memperlihatkan kulitnya yang bersih meskipun tidak putih seperti orang-orang kebanyakan yang mengunakan lotion pemutih.


Sehingga banyak pria bule menatapnya dengan pandangan kagum. Karena kulit badannya Indah yang alami.


Akhirnya Jamal mengajak Indah kembali ke hotel. Dia tidak mau melihat istrinya itu dinikmati oleh para laki-laki bule, meskipun hanya sebatas melihat saja. Sebab dia tahu, bagaimana otak para laki-laki normal, jika melihat wanita cantik seperti istrinya.


"Lebih baik kita makan di dalam kamar sajalah. Aku tidak mau orang lain melihatmu dengan mata seperti itu!"


Sebenarnya Indah bingung dengan perkataan suaminya yang tanpa alasan jelas. Karena dia juga tidak melihat orang-orang yang aneh saat melihatnya.


"Mas, ada apa sih? aku kan tidak ngapa-ngapain. Tidak ada orang yang sedang titik mendekatiku juga kan?" tanya Indah meminta penjelasan. Meskipun dia tetap ikut beranjak dan berjalan di samping suaminya.


"Tapi Aku tidak suka, jika ada orang lain, apalagi itu orang luar sana, itu bule-bule, melihatmu dengan mata buas. Seakan-akan mau menerkam. Memangnya Kamu apaan, enak saja mereka melihatnya dengan melotot begitu!" gerutu Jamal dengan kesal.


Indah akhirnya memperhatikan sekitarnya, sambil berjalan disampingnya Jamal. Dia akhirnya mengerti, karena memang di sana memang ada beberapa laki-laki bule, yang sedang melihatnya aneh, tanpa berkedip.


Padahal dia tidak mengenakan pakaian terbuka, sama seperti para wanita bule yang ada di sana.


Indah juga akhirnya tahu jika, suaminya itu sedang cemburu. Kemudian Indah tersenyum tanpa sadar.


"Tidak usah senyum-senyum dan tebar pesona!" Jamal kembali memperingatkan istrinya itu. Sebab dia tidak mau para bule itu salah sangka dengan senyuman yang diperlihatkan oleh istrinya.


Begitu tiba di hotel, mereka langsung masuk ke dalam kamar. Jamal tidak bisa menahan diri lagi. Dia ingin menyentuh tubuh Indah yang hanya untuknya saja.


"Buka Sayang!" pinta Jamal meminta Indah untuk membuka bajunya.


Indah pun mengangguk mengiyakan, sambil membuka resleting gaunnya. Tapi nyatanya Jamal tidak sabar. Dia ikut membantu istrinya itu untuk membuka bajunya, sehingga sekarang ini dia melihat keindahan tubuh istrinya yang memang hanya untuknya saja. Dengan semua tanda kepemilikan yang belum hilang. Bahkan terus bertambah dan bertambah lagi.

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahan lagi, Aku tidak mau orang-orang itu melihatmu!" dengan rakus, Jamal menciumi seluruh tubuhnya Indah yang masih dalam keadaan berdiri.


"Enak saja melihat tubuh istriku yang sangat manis ini!" gerutu Jamal disela-sela ciumannya.


Ternyata emosinya belum reda, sehingga melampiaskan emosinya itu dengan mencumbu istrinya.


Akhirnya ciuman Jamal cepat berpindah ke bagian-bagian sensitif, yang pastinya disukai juga oleh istrinya. Dia mau, istrinya itu tidak berpikir selain memikirkan dirinya saja.


"Masss... aaa..."


Jamal menambah ciumannya menjadi lebih ganas lagi, sehingga membuat istrinya itu terpuaskan terlebih dahulu dalam keadaan masih berdiri. Sehingga indah ambruk memeluknya yang sedang berjongkok.


Tapi ternyata dia tidak membiarkan Indah untuk beristirahat barang sejenak. Jamal berdiri, kemudian membopong tubuh istrinya itu untuk dibaringkan di atas tempat tidur.


Dia melanjutkan kegiatannya lagi dan lagi, untuk mencapai kepuasan.


Beberapa saat kemudian.


"Mas.. hhh...hhh..."


Indah sendiri heran, kenapa dia tidak pernah merasa capek dalam waktu yang lama, atau mengeluhkan kondisi tubuhnya yang selalu digarap suaminya itu.


Dia justru bisa mengimbangi permainan jamal, yang mungkin saja berbeda ukuran laki-laki Indonesia pada umumnya.


Jamal termasuk laki-laki yang perkasa, sebab bisa melakukan apa-apa yang dia inginkan dalam waktu dekat. Dan juga dalam waktu yang lama.


Mungkin karena waktu umur dan makanan serta minuman yang dikonsumsi oleh jamal juga memang sangat sehat. Sehingga hormonnya bisa seaktif itu.


Indah juga tidak mengeluh diperlakukan Jamal dalam keadaan apapun. Yang penting dia masih bisa mengimbangi dan ikut merasakan rasa puas, dalam melaksanakan tugasnya memuaskan Jamal. Karena ternyata, Jamal termasuk laki-laki yang tidak egois, yang hanya mementingkan kepuasannya sendiri


"Lapar ya Sayang?" tanya Jamal, yang tidak mendengar suara istrinya lagi.


Indah hanya mengangguk saja, sambil tersenyum, dengan menolehkan kepalanya ke arah suaminya yang sedang berbaring di sampingnya.


"Aku sudah pesan makanan tadi. Paling sebentar lagi juga datang."

__ADS_1


Mendengar perkataan suaminya, Indah menyatukan alisnya, karena dia tidak tahu, kapan Jamal melakukan pesanan.


"Aku memesannya tadi, sebelum memulai kegiatan kita yang terakhir kalinya ini. Hehehe..." Jamal memberikan penjelasan, saat melihat alis Indah, yang seakan-akan sedang bertanya padanya.


Akhirnya, sebelum pesanan benar-benar datang, mereka melakukan kegiatan mereka lagi. Tapi kali di dalam kamar mandi. Supaya mereka bisa langsung membersihkan diri setelah selesai dengan urusannya.


Di kamar mandi.


"Mas, gak pernah bosan dengan Indah kan?" tanya Indah, di saat Jamal membantunya menggosok bagian punggungnya.


"Gak. Aku gak kan bosen sama kamu Sayang. Kecuali jika Kamu sampai mengkhianati ku. Aku tidak mau ada penghianatan!" tekan Jamal memberikan warning untuk istrinya.


"Tidak mungkin Indah mengkhianati mas Jamal. Buat apa Indah menghianati suami sempurna, dan yang terbaik. Indah sangat mencintaimu Mas Jamal."


Mendengar kata cinta yang diucapkan oleh Indah, membuat Jamal menyentuh bibir istrinya itu dengan jari tangannya dengan perasaan yang hangat. Dia akhirnya kembali bersemangat untuk melakukan kegiatannya, apalagi saat ini mereka juga masih dalam keadaan polos di kamar mandi. Tanpa berpikir tentang kejadian yang dialami oleh Hendra dan Umi di rumah Tuan Wiro.


*****


Di rumah Tuan Wiro.


Tuan Wiro dan Nyonya Yenny sama-sama panik, karena Ajeng yang memang tidak bisa ditemukan di semua sudut rumah mereka.


Apalagi sebentar lagi, Hendra dan Umi akan segera datang ke rumahnya untuk melamar anak gadisnya itu.


"Pah. Bagaimana ini! Ajeng ke mana sih?" tanya Nyonya Yenny dengan wajah yang sangat khawatir.


"Anakmu itu gak tidak bisa diatur Mah. Bagaimana bisa dia seperti ini? Sungguh memalukan!" Tuan Wiro pun menyahuti pertanyaan istrinya dengan wajah menahan amarah, karena kelakuan ank gadisnya.


Sebelum mereka berpikir untuk mencari keberadaan anaknya lagi, di luar rumah terdengar suara mobil yang sedang berhenti.


"Pah, mereka sudah datang. Bagaimana ini?" tanya Nyonya Yenny semakin panik.


"Hhh.. Mau bagaimana lagi? ya sudah suruh masuk. Kita bilang yang sebenarnya. Memangnya kalau kita terima lamaran mereka,mau dinikahkan dengan siapa? Dengan Mamah?"


"Papah!" teriak Nyonya Yenny dengan kesal, karena perkataan suaminya yang ngawur.

__ADS_1


__ADS_2