
Sekarang, rencana yang telah dibuat oleh Jamal benar-benar direalisasikan.
Setelah kebun jeruk miliknya berhasil, dengan sistem jualan online untuk bakul-bakul yang memesan, Jamal tidak perlu menjual sendiri ke pasaran.
Bahkan ada juga salah satu pabrik minuman yang sekarang ini menjadi langganannya, pada saat panen kebunnya. Yang berupa buah jeruk.
Kini Jamal membulatkan berniat, untuk bisa membuat sebuah pabrik, yang memproduksi minuman sari jeruk.
Sama seperti yang ada di minimarket, yang sering dia jumpai.
Dia benar-benar ingin membuat sebuah usaha yang berhubungan dengan hasil kebunnya sendiri. Sehingga tidak tergantung pada pabrik yang meminta jeruk hasil kebunnya.
"Mas Jamal. Ini laporan untuk hasil panen jeruk selama satu minggu ini. Dan yang ini laporan untuk keuangan yang diperoleh selama satu minggu ini juga."
Indah datang ke tempat duduknya Jamal, dengan membawa dua berkas yang sudah dia kerjakan.
"Terima kasih Ndah."
Indah pun mengangguk, kemudian pamit untuk kembali ke tempat kerjanya sendiri.
"Tolong diperiksa ya Mas. Jika ada sesuatu yang mas Jamal kurang pahami, bisa tanya pada Indah."
"Sekarang, indah balik ngerjain pekerjaan yang lain."
"Ya Ndah. Terima kasih ya!"
Indah mengangguk lagi, kemudian segera undur diri. Dia kembali ke tempat kerjanya, untuk mengerjakan tugas lainnya.
"Jamal. Di luar ada Lina."
Umi datang memberitahu anaknya, jika di luar rumah ada Lina. Kakaknya Indah.
"Ngapain Ami? Bukannya dia sedang tugas KKN ya di luar kota," tanya Jamal.
Dia tahu keadaan Lina dari Indah. Jika kakaknya, Lina, sedang ada tugas kuliah kerja nyata di luar kota.
"Mana Ami tahu Mal."
"Apa mungkin dia ke sini mau ketemu Indah?" tebak Jamal, yang diangguki juga oleh Umi.
"Bisa jadi."
"Ami, kenapa ke sini? Indah kan tempat kerjanya di sana Ami!"
"Eh, Ami pikir Kamu…"
Jamal mengeleng beberapa kali, saat mendengar kalimat Umi yang bekum selesai diucapkan.
Tapi sepertinya Jamal sudah bisa menebak, apa yang saat ini ada di dalam pikiran dan hati Ami nya itu.
"Ya sudah. Ami panggil Indah duku."
__ADS_1
Umi memilih untuk segera pergi dari hadapan Jamal, agar tidak menyingung perasan anaknya itu.
Meskipun Umi tahu, jika Jamal sudah tidak lagi memikirkan Lina. Tapi karena Lina adalah cinta pertamanya, Umi memahami. Bagaimana perasaan Jamal saat ini.
Rasa hati itu tidak bisa diterka. Bilang tidak peduli, tapi sebenarnya sangat khawatir.
Di mulut bilang sudah melupakan. Tapi di hati, nama dan gambar wajah orang tersebut masih berdiam diri di pojok ruangan hati.
"Hemmm…"
Jamal membuang nafas panjang, kemudian berdiri menuju jendela ruangannya.
Dari jendela ini, dia bisa melihat ke luar. Di mana ada bangku panjang yang ada di halaman depan rumahnya. Dan sekarang, Lina ada di sana.
Tak lama kemudian, ada Indah yang datang menemui kakaknya itu. Bersama dengan Ami nya juga.
Tapi ternyata Umi hanya mengantar Indah saja. Karena tak berselang lama, Umi pergi meninggalkan kedua. Untuk berbicara tanpa ada orang lain yang ikut mendengarkan.
*****
"Bagaimana kabarnya Mbak Lina? Betah di tempat KKN?" tanya Indah pada Lina, yang ternyata memang sengaja pulang selama dua hari. Karena waktu KKN masih harus dia lakukan selama dua bulan ke depan.
"Ya betah gak betah Dek. Mau gimana lagi," kesah Lina dengan nada sedih.
"Sabar Mbak. Gitu-gitu juga yang akan mengantarkan mbak Lina jadi sarjana sebentar lagi kan!"
"Hehehe… iya Dek."
"Tapi itu kesalahan Mbak juga sih dulu nya." Tambah Lina menyatakan penyesalannya.
"Udah Mbak. Sabar ya. Jika jodoh mbak Lina itu mas Jamal, dalam keadaan apapun. Pasti akan ada waktunya nanti Mbak Lina untuk bersama mas Jamal."
Indah mencoba untuk menghibur kakaknya, supaya tidak bersedih hati.
"Hiks… dalam hal ini mbak Lina memang yang salah Dek. Jika mas Jamal memilih gadis lain, Mbak akan berusaha untuk mengikhlaskan."
Indah memeluk Lina dari samping, karena mereka berdua dalam keadaan duduk.
"Mbak Lina mau ketemu mas Jamal?"
Lina mengeleng. Kemudian menjawab pertanyaan dari adiknya itu, "Mbak sengaja ke sini, mau ajak Kamu pulang dulu. Masak Mbak pulang Kamu gak ada di rumah."
"Hehehe… Indah kan kerja Mbak. Tapi, coba Indah ijin dulu ya!"
Indah berdiri dari tempat duduknya, tapi dicegah oleh Lina.
"Gak usah Dek. Kamu lanjutkan kerja nya. Gak apa-apa kok. Nanti malam kan kita bisa kumpul juga. Gak enak sama pekerja lain. Nanti dikira ambil kesempatan."
Indah tersenyum mendengar perkataan kakaknya, yang sekarang jadi lebih dewasa.
Tidak sama seperti dulu, yang selalu ingin menang sendiri dan ingin didahulukan.
__ADS_1
"Ya sudah, Mbak pulang saja dulu ya."
Lina akhirnya pamit pulang. Karena jam kerjanya Indah, masih setengah hari. Sekitar 3 atau 4 jam lagi.
Dari balik jendela ruangannya, Jamal pun hanya bisa memandang kepergian Lina. Tanpa berusaha untuk keluar dan menemui gadis itu.
Dari pintu ruangan yang tidak tertutup, Umi memperhatikan anaknya.
"Semoga Jamal bisa mendapatkan cinta yang tulus, tanpa memandang keadaannya yang dulu maupun yang sekarang." Harap Umi, pada anak semata wayangnya itu.
"Ami."
Umi gagap, karena ketahuan sedang memperhatikan Jamal.
Untuk menghilangkan rasa canggungnya, Umi pun akhirnya mendekat ke tempat duduknya Jamal sekarang. Karena saat ini, Jamal sudah kembali duduk, dan tidak berdiri lagi.
Umi ketahuan berdiri di depan pintu, karena dalam keadaan melamun. Sehingga tidak memperhatikan Jamal, yang sudah berpindah tempat.
"Mal. Ami mau bicara serius."
Akhirnya Umi menemukan topik pembicaraan, agar rasa canggungnya yang tadi tidak terlihat.
"Apa Ami, tentang Lina? Gak usah bahas itu lagi ya Ami."
"Gak. Ami hanya ingin membicarakan tentang gadis yang dulu mau Ami kenalin sama Kamu."
Jamal mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ami nya itu.
Dia lupa, jika keinginan Ami nya, yang ingin mengenalkan dirinya dengan gadis yang baru saja lulus kuliah, memang belum terlaksana hingga saat ini.
"Terus?" tanya Jamal ingin tahu, apa yang sekarang ini direncanakan oleh Ami nya.
"Besok ya Ami kenalkan?"
"Cantik gak Ami?"
Pluk!
Ami memukul pundak anaknya itu, karena bertanya tentang fisik, yang sensitif untuk dinilai dari seorang gadis.
"Jangan meremehkan pilihan Ami! Dasar Kamu ini." Ketus Umi kesal, mendapatkan pertanyaan yang dia anggap sebagai sebuah ledekan.
"Ya… tanya lebih baik Ami. Dari pada sesat di jalan."
Perkataan Jamal justru membuat Ami nya semakin merasa kesal. Karena Jamal menganggapnya bercanda saja.
"Hilih... apa Kamu bertanya sama Ami dulu, saat kamu jatuh cinta pada Lina?"
Umi justru bertanya tentang perasaan Jamal yang dulu.
Dan sedetik kemudian, Umi pun tersadar dari ucapannya yang tadi.
__ADS_1
"Maaf Mal. Ami hanya ingin kebahagiaan kamu. Tidak ada maksud lain."