Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Mencoba Lagi


__ADS_3

"Mal."


"Jamal."


"Jamal!"


Umi memanggil-manggil nama anaknya, yang tidak terlihat ada di rumah. Di ruangan yang biasa digunakan untuk bekerja Jamal juga kosong. Tidak ada Jamal di mana-mana. Sehingga Umi berteriak-teriak.


"Yu. Liat Jamal hak Yu?" tanya Umi, pada ART nya, yang baru saja mau masuk ke dapur.


"Gak liat Ami. Mungkin ada di kebun atau pergi ke peternakan sapi," jawab ART, yang biasa di panggil dengan sebutan Yu.


"Tapi motor yang biasa digunakan oleh Jamal ada di teras depan." Umi bergumam seorang diri, mendengar jawaban yang diberikan oleh ART nya itu.


"Coba telpon saja lah."


Akhirnya Umi menghubungi Jamal mengunakan ponsel miliknya, yang biasa ada di meja ruang tengah.


Tut tut tut!


Panggilan telpon belum dijawab oleh Jamal, sehingga Umi mencobanya sekali lagi.


Tut tut tut!


..."Assalamualaikum Ami."...


..."Waallaikumsalam... Kamu ada di mana?"...


..."Di gudang Ami."...


..."Rumah lama maksudmu?"...


..."Iya Ami. Ada apa?"...


..."Ya sudah. Ami nyusul ke sana!"...


..."Ya Ami. Jamal tunggu."...


Klik!


Tak berapa lama kemudian, Ami sudah sampai di gudang. Atau lebih tepatnya di rumah lamanya, yang dulu dia tempati sebelum Jamal sesukses sekarang ini.


"Mal."

__ADS_1


Umi langsung menyapa anaknya, begitu tiba di rumahnya yang dulu. Yang memang ada di depan rumahnya. Dia menemukan keberadaan anaknya yang sedang mencuci cangkul dan peralatan lainnya, di samping rumah tersebut.


"Ada apa Ami mencariku?" tanya Jamal, setelah berdiri dan menghadap Ami nya.


"Ada yang ingin Ami bicarakan Mal. Ini... ini penting," jawab Umi dengan wajah cemas.


"Tapi, tapi Kamu jangan marah ya... jangan memotong pembicaraan Ami dulu ya!" pinta Umi, meminta Jamal untuk mendengarkan semua yang ingin dia katakan pada Jamal.


"Hum.. iya."


Jamal akhirnya mengiyakan permintaan dari Ami nya, kemudian memposisikan dirinya. Untuk duduk di samping Ami nya yang sudah duduk di bale panjang yang ada di dekatnya.


"Ami, Ami ingin Kamu segera menikah Mal. Jika tidak ada gadis yang Kamu inginkan saat ini, Ami mau Kamu menikahi Indah."


Deg!


Jamal tertegun mendengar perkataan Ami nya, yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya. Karena sejak gagal dengan rencana perjodohan dengan Ajeng, anaknya Tuan Wiro, Ami nya itu tidak pernah lagi menyingung soal pernikahan.


"Kamu nikah sama Indah saja. Ami pikir, dia gadis yang baik dan tekun. Dia juga sopan, tidak seperti Mbak nya itu, si Lina."


Jamal masih mendengarkan perkataan Ami nya, karena dia ingin tahu, apa maksud dari permintaan Ami nya. Yang sempat merasa bersalah atas perjodohan yang gagal itu.


"Ami bukannya mau balas dendam pada Lina. Bukan, bukan itu maksud Ami Mal!"


"Indah pasti bisa menjadi seorang istri yang baik, dan tidak banyak menuntut. Ami ingin dia jadi menantu Ami."


Jamal masih terdiam. Dia tidak mau menyahuti, atau memotong kalimat Ami nya. Sesuai dengan permintaan yang tadi dikatakan oleh Ami nya juga.


"Bagaimana menurutmu Mal?"


Kali ini, Jamal baru bicara. Karena Ami nya sendiri yang bertanya, sehingga dia harus menjawabnya juga. Sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.


"Kenapa Ami bicarakan ini, saat Indah tidak berangkat kerja beberapa hari?"


"Ami kangen dengan Indah?"


"Atau... Ami hanya pengen punya menantu, kemudian memberikan Ami cucu?"


Pertanyaan demi pertanyaan, diajukan oleh Jamal. Dia juga ingin tahu, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Ami nya saat ini. Karena menurut Jamal, pernikahan yang diadakan hanya karena keinginan sesaat, tidak bisa bertahan lama.


Apalagi dia juga sudah pernah kecewa dengan perasaan cintanya pada Lina. Di tambah dengan kegagalan perjodohan yang sudah diatur dan disetujui oleh kedua belah pihak, meskipun hanya sekedar orang tuanya Ajeng. Yaitu Tuan Wiro dan Nyonya Yenny.


Ami menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan, baru kemudian menjawab pertanyaan dari Jamal.

__ADS_1


"Ami hanya ingin Kamu punya istri yang baik Mal. Jangan sampai salah memilih. Dan menurut Ami, Indah yang bisa ngertiin Kamu. Yahhh... jika Lina kecewa, itu resiko yang harus dia tanggung."


"Hemmm... Ami, Ami."


Jamal mengelengkan kepalanya, mendengar alasan yang dibuat oleh Ami nya itu.


Meskipun dia tidak mencintai Indah sebagai layaknya seorang laki-laki pada seorang wanita, tapi dia juga menyayangi Indah. Yang sudah dia anggap sebagai seorang adik.


Tapi Jamal juga tidak bisa menyalahkan Ami nya. Karena selama Indah bekerja dengannya, Indah memang bersikap baik dan tidak memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Jamal, atau mengambil hati Ami nya.


Apa yang dikerjakan Indah, sewajarnya saja. Sebatas pekerja, yang memang dipercaya oleh keluarganya.


Namun Jamal juga tidak bisa memaksakan diri, untuk bisa menerima Indah sebagai seorang istri. Sama seperti yang dikatakan oleh Ami nya. Karena sejujurnya, hatinya masih ada Lina.


Cewek pertama yang bisa membuatnya jatuh cinta, bahkan setelah dia tersakiti sekalipun.


Jamal juga bingung dengan perasaannya sendiri. Yang tidak bisa melupakan Lina begitu saja. Padahal dia sangat sadar, jika Lina menganggap dirinya remeh di masa lalu.


"Mal. Rasa cinta akan datang seiring waktu. Sama seperti Ami sama ayah dulu."


"Kami juga tidak saling kenal. Bahkan bertemu juga setelah ijab kabul. Tapi, ternyata itu tidak membuat Kami harus memberontak, terhadap keinginan kedua orang tua. Karena sejatinya, rumah tangga, cinta, dan kebahagiaan itu terletak pada rasa syukur di dalam diri kita sendiri."


Mendengar penuturan Ami nya, Jamal tersadar dari keegoisan hatinya selama ini.


Dia memang belum bisa membuka pintu hatinya, karena menganggap semua wanita sama. Yang hanya memandang penampilan luar semata.


"Baiklah Ami. Jamal akan mengikuti saran dari Ami. Tapi... tapi ingat Ami. Jika rencana Ami kali ini gagal lagi, jangan pernah meminta Jamal untuk cepat-cepat menikah."


Umi tersenyum dan mengangguk mengiyakan persyaratan yang diajukan oleh anaknya itu.


Sepertinya Umi sangat yakin, jika Indah tidak mungkin menolak permintaan darinya.


"Ami. Apa Ami tidak bertanya lebih dulu pada Indah? takutnya dia sudah punya pacar Ami. Nanti Ami kecewa, terus sakit lagi kayak dulu, pas sama Ajeng." Jamal berusaha meningkatkan Ami nya, supaya tidak gegabah dalam membuat keputusan. Sebelum tahu kejelasannya, bagaimana dengan perasaannya Indah.


"Iya-iya. Ami akan tanyakan pada Indah dulu."


Jamal pun tersenyum senang, mendengar persetujuan dari Ami nya.


Dia tidak mau membuat Ami nya itu punya harapan yang terlalu besar, yang akan membuatnya kecewa. Jika mendapati kenyataan bahwa, Indah ternyata sudah punya kekasih lain. Yang tidak pernah diketahui oleh Umi.


"Ya sudah. Simpan dulu itu semua peralatan yang sudah Kamu cuci ke tempatnya lagi. Nanti kita jenguk Indah lagi ke rumahnya. Dia kan sudah pulang dari rumah sakit."


"Iya Ami. Siap!"

__ADS_1


Jamal pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan perintah dari Ami nya. Karena peralatan yang dimaksud oleh Ami nya itu adalah, semua peralatan yang sudah terhubung dengan sistem bertani miliknya.


__ADS_2