
Jamal keluar rumah dengan menggunakan pakaian rapi, kemudian menghidupkan mesin motornya yang ada di depan rumah.
Semua yang dilakukan oleh jamal, diperhatikan oleh Lina dari dalam rumah. Karena dia mengintip dari balik tirai.
"Mau ke mana mas Jamal siang-siang begini?" tanya Lina pada dirinya sendiri.
"Pakaiannya rapi lagi!"
Lina tersungut-sungut, akibat perasaannya yang sedang tidak nyaman.
Dia merasa cemburu, karena Jamal justru mendiamkan dirinya. Dan tidak mau memberikan penjelasan, kenapa semalam sampai tidak datang ke rumahnya.
"Huhhh! Mas Jamal itu gak adil! nyatanya, dia semalam gak datang ke rumahku ini. Seharian ini di rumahnya Dek Indah sana, meskipun sebenarnya memang itu rumah utama. Tapi setidaknya kan dia datang ke sini membujukku! Ini malah pergi begitu saja!"
Lina terus menggerutu, karena sikap dari suaminya. Yang dirasa tidak adil dan semena-mena terhadap dirinya sekarang ini.
"Hiks... Mas Hendra... huhuhu..."
"Meskipun Aku tidak mencintaimu sepenuh hati, tapi Kamu tidak pernah menyakitiku seperti ini. Huhuhu..."
Tangisan Lina tidak bisa dia bendung lagi. Di saat Jamal sudah pergi meninggalkan rumah, dengan menggunakan sepeda motornya.
Dia berpikir bahwa, Jamal sudah punya kekasih atau pacar lain di luar sana. Sehingga mengacuhkan dirinya.
"Ke mana sih dia? hiks..."
"Aku harus tanya dek Indah! Tapi... Aku juga malas bertemu dengannya. Nanti dia besar kepala, karena Aku mendatanginya terlebih dahulu."
"Tapi Aku juga kangen sama anak-anak. Alfa, Beta, Candra, Dinda, Elsa."
"Apa mereka dilarang datang ke rumahku, sehingga tidak ada yang datang ke rumah seharian ini tadi?"
Lina semakin berprasangka buruk terhadap adiknya sendiri, karena kejadian tadi pagi.
"Hiks, Aku jadi merasa kesepian di rumah sebesar ini. Meskipun rumah ini tidak terlalu besar, dibandingkan dengan rumahnya dek Indah. Tapi tetep saja, Aku merasa ini terlalu besar untukku sendirian."
"Sayangnya, Aku sudah tidak bisa punya anak lagi. Apa mungkin mas Jamal mencari istri lagi, karena Aku tidak punya anak?"
Sekarang, Lina justru berpikir yang tidak-tidak dan macam-macam. Tentang keadaan dirinya dan juga suaminya
Dia tidak mau jika, Jamal akan mengambil seorang istri lagi.
Dengan satu istri yang lain saja, dia sudah merasa cemburu. Padahal istri Jamal yang lain itu adalah adiknya sendiri, dan merupakan istri pertama dari suaminya.
__ADS_1
Apalagi jika wanita yang akan dijadikan istri Jamal adalah orang lain, yang belum pernah dia kenal sebelumnya.
Lina pasti merasa sakit hati, dan tidak bisa merasakan ketenangan. Karena harus bersaing dengan dua istri Jamal yang lain.
"Tidak-tidak. Mas Jamal tidak boleh punya istri lagi. Aku harus bicarakan ini dengan dek Indah, dan memintanya untuk melarang mas Jamal menikah lagi. Aku tidak mau!"
Sekarang, Lina berniat untuk ke rumah adiknya. Karena dia ingin membicarakan tentang suaminya itu.
Tak lama kemudian, Lina sudah sampai di depan pintu rumahnya Indah.
Tok tok tok!
"Dek. Dek Indah!"
Clek!
"Mbak Lina, ayok masuk Mbak!"
"Anu Dek, Mbak... Mbak mau..."
"Maruk dulu Mbak, ayok!
Indah menarik tangan kakaknya, kemudian mengajak kakaknya itu untuk masuk ke dalam rumah. Sebab, dia tidak merasakan rasa marah Lina lagi. Tapi lebih pada rasa khawatir dan was-was.
"Dek, emhhh... Mbak... Mbak mau bicara sama Kamu. Ini serius Dek!" bisik Lina, dengan kalimat yang ditekan.
Indah memiringkan kepalanya, karena melihat ekspresi wajah kakaknya yang sangat cemas.
"Mbak mau bicara apa? Aku ambilkan minum dulu ya," ujar Indah, dengan berdiri dari tempat duduknya.
Dia mengambilkan Lina minum terlebih dahulu, dan meminta pada semua anak-anaknya, untuk bermain di ruang bermain yang ada di lantai dua.
"Beta, anak yang lain main ya. Mama mau buat kue sama Ibu. Jadi, nanti jika udah makan sama panggil lagi ya!"
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh mamanya, Beta mengganggu dengan pasti. Beta merasa sangat senang, karena setelah ini, dia akan mendapatkan kue yang enak-enak, buatan mamanya sendiri.
Tapi semua yang dikatakan oleh Indah pada anaknya, tidak semuanya bohong. Sebab, dia sudah membuat puding dengan dua rasa, untuk anak-anaknya itu. Namun untuk saat ini, puding-puding tersebut masih ada di dalam lemari pendingin.
Setelah merasa yakin jika anak-anaknya sudah pergi, dan tidak ada lagi yang ada di tempatnya berada. Indah meminta kepada kakaknya itu, untuk tenang. Supaya dia bisa menceritakan semua yang akan dilakukan oleh suaminya siang ini.
Meskipun Lina masih belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh adiknya, tapi dia berusaha untuk tetap diam. Dengan menunggu adiknya itu selesai bercerita.
Sesekali, dia mengerutkan keningnya, memiringkan kepalanya, untuk memperhatikan bagaimana perkataan yang diucapkan oleh Indah tentang suami mereka.
__ADS_1
"Tapi, kenapa Mas Jamal tidak mau bicara sendiri dengan Aku Dek tadi pagi? Bahkan dia langsung pergi ke kamar. Siang ini juga dia tidak mau menemui Mbak Lina, dan memberikan penjelasan tentang keadaan yang sebenarnya." tanya Lina, masih dengan rasa kesalnya pada Jamal.
"Mas Jamal tadi pagi kan capek Mbak. Semalam gak tidur, karena berperang dengan ulat-ulat penggerak. Dan saat dia bangun, dia harus segera pergi. Sebab sudah ada janji dengan pihak yayasan sosial."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Indah, Lina merasa malu sendiri.
Tapi dia tidak mau jika harus meminta maaf terlebih dahulu. Sebab dia merasa tidak bersalah. Karena seharusnya, dia memang diberitahukan dan tidak diabaikan oleh Jamal.
"Sebenarnya, semalam Mas Jamal sudah Indah peringatkan. Supaya pamit pada mbak Lina terlebih dahulu. Tapi katanya, dia tidak sempat dan terburu-buru."
Bibir Lina mengerucut kesal.
"Mbak. Di maklumi ya dengan semua kegiatan dan kesibukan mas Jamal. Dia... maksudku mas Jamal, orangnya kan memang seperti itu Mbak. Jadi, kita yang seharusnya bersabar dan tidak banyak penutup untuk waktunya."
Lina masih mendengarkan perkataan adiknya itu, yang menurutnya memang ada benarnya.
Semua yang sudah diperoleh oleh Jamal selama ini, juga hasil dari kerja kerasnya, tanpa mengenal waktu.
Baik pagi maupun malam, Jamal terus bekerja dengan semangat sedari dulu. Dia tidak hanya ongkang-ongkang kaki, meskipun dulu sudah punya banyak karyawan.
Sekarang, Lina jadi malu sendiri. Karena dia ternyata tidak begitu mengenal karakter Jamal yang sebenarnya.
"Maaf Dek. Mbak pikir, Kamu yang sudah mempengaruhi mas Jamal. Supaya dia tidak menemuiku lagi."
Kepala Lina menunduk. Dia benar-benar merasa sangat malu, karena tidak bisa mengendalikan dirinya. Dan hanya mengedepankan cemburu buta, tanpa mau mendengarkan alasan yang akan diberikan oleh Jamal maupun Indah.
Dia benar-benar merasa menyesali semua perbuatannya yang tadi pagi.
"Mbak, Mbak harus minta maaf pada mas Jamal Dek. Mbak, Mbak merasa sangat bersalah. Sebab sudah menuduhnya sebagai suami yang tidak adil."
Indah tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh kakaknya itu.
Dia merasa sangat senang, karena bisa memberikan penjelasan. Yang bisa diterima oleh kakaknya yang tadi sedang emosi.
Lina merangkul adiknya dengan rasa haru.
"Terima kasih Dek. Maafkan Mbak ya, yang tidak bisa menahan diri dari rasa marah dan keegoisan Kakak selama ini."
Sekarang, keduanya saling berangkulan dan maaf memaafkan.
*****
NB: maaf untuk semua yang mengidolakan Jamal, sebab othor tidak bisa up dengan stabil. Sebab aktivitas dan kegiatan di RL yang sangat-sangat padat.
__ADS_1
Jadi mohon dimaklumi ya agan-agan dan Bos-bos semuanya 🙏🙏🙏