Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Sejumlah Mahar Dan Persyaratan


__ADS_3

Pagi datang dengan segala kesibukan yang harus dilakukan untuk persiapan pernikahan Jamal hari ini.


Di kamarnya, Jamal juga sudah bersiap-siap, dengan pakaian yang tidak sama seperti biasanya. Karena dia harus mengenakan pakaian formal, layaknya seorang pengantin pria pada umumnya.


Celana panjang warna hitam, dengan kemeja panjang berwarna putih. Di padu dengan jas hitam yang senada dengan celananya, membuat aura Jamal benar-benar berbeda dari biasanya.


Biasanya, Jamal hanya mengenakan pakaian petani pada umumnya. Yaitu kaos oblong dan celana pendek di bawah lutut. Meskipun pakaian Jamal tetap saja sehari-harinya juga berbeda dengan para petani yang lain.


Tiba-tiba sistem bertani aktif, memberinya peringatan. Sesuai dengan permintaannya sendiri semalam.


[ Ding ]


[ Cek in harian Tuan ]


'Ok. Terima kasih ya sudah diingatkan.'


[ Ding ]


[ Sesuai dengan permintaan Tuan ]


'Ya terima kasih pokoknya.'


'Oh ya, ini bagaimana penampilanku?'


[ Ding ]


[ Pesona Tuan bertambah-tambah ]


'Ah, Kamu hanya membuatku merasa senang.'


[ Ding ]


[ Perhitungan sistem sesuai, tidak perlu berbohong karena ingin mendapatkan pujian ]


'Eh, Aku lupa. Jika sistem adalah sesuatu yang pasti, tidak sama seperti mulut seseorang. Yang kadang kala tidak sama antara ucapan di mulut dengan perasaan yang dirasakan oleh hatinya.'


[ Ding ]


[ Hati-hati dengan pesona Tuan kali ini ]


'Kenapa?'


[ Ding ]


[ Pesona Tuan bisa meluluhkan semua hati ]


'Hahhh! Mana bisa begitu?'


[ Ding ]


[ Lihatlah ke cermin Tuan ]


Jamal melangkah ke depan cermin, yang ada di dalam kamarnya. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh sistem padanya.


Jamal terkejut dengan apa yang dia lihat, karena merasa asing dengan keadaannya sendiri kali ini.

__ADS_1


'Apakah ini benar-benar Aku?'


[ Ding ]


[ Tentu saja, siapa lagi]


[ Pesona Tuan bertambah 50% ]


'Aku benar-benar tidak menyangka, jika Aku juga bisa setampan ini.'


[ Ding ]


[ Selamat menikmati hari Indah Tuan ]


[ Ding ]


Layar transparan sistem menghilang dari pandangan mata Jamal. Yang masih mematut diri di depan cermin.


Tok tok tok!


"Mal! Jamal!"


Tok tok tok!


Umi mengetuk pintu kamar Jamal dengan tidak sabar, sebab anaknya itu tidak keluar-keluar dari dalam kamar sedari tadi.


Clek!


"Jamal..."


Umi justru tidak melanjutkan kalimatnya, karena melihat pintu kamar yang terbuka, dengan memperlihatkan penampilan Jamal yang berbeda dari biasanya.


"Ya Allah Mal... ini beneran Kamu Jamal?"


Umi masih belum percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Dia seakan-akan melihat orang lain, yang sedang berperan sebagai anaknya, Jamal. Karena penampilan Jamal yang benar-benar diluar dugaannya sendiri.


Dengan wajah yang tersenyum bahagia, Umi memeluk anaknya itu untuk kesekian kalinya.


"Kamu anak Ami satu-satunya. Kamu memang tampan, sama seperti ayahmu Jamal." Umi justru berkaca-kaca, menahan air matanya yang ingin keluar. Di saat dia teringat dengan mendiang suaminya, yang sudah meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu.


"Ami. Ami, sudah."


Jamal langsung memeluk tubuh Ami nya yang sedang bergetar menahan tangisnya.


Jamal jadi ikut merasakan kesedihan yang sama seperti yang dirasakan oleh Ami nya juga saat ini.


Kini keduanya justru saling berpelukan dengan kesedihan mereka, mengingat almarhum yang sudah meninggalkan mereka berdua terlebih dahulu.


"Sudah Ami. Biarkan ayah tenang di alamnya. Kan Jamal sama Ami juga sudah ziarah ke makam ayah kemarin-kemarin dan kemarin sore juga."


Umi mengangguk mengiyakan perkataan Jamal, karena selama seminggu terakhir ini, mendekati hari H ini, Jamal dan Umi setiap sore selalu datang berziarah ke makam.


*****

__ADS_1


Rombongan Jamal telah tiba di rumah Indah, yang juga sudah di tata sedemikian rupa, sehingga bisa digunakan untuk hajatan pernikahan anaknya yang kedua, yaitu Indah Dewi binti bapak Mahmud Hadi.


Orang-orang saling bisik-bisik, membicarakan tentang mempelai wanita yang ada di atas panggung. Sebab, yang saat ini berada di atas panggung, dengan riasan dan pakaian yang lengkap adalah Lina. Bukan Indah Dewi.


Tapi tentu saja itu tidak menjadi kebingungan Jamal. Sebab, Jamal sudah tahu, jika Indah hanya akan mengenakan pakaian kebaya putih saat mendampingi dirinya di depan penghulu nantinya.


Sebenarnya Umi geram juga melihat Lina di atas panggung, dengan senyumannya yang seperti menggoda. Tapi perhatian Umi pada Lina, segera dialihkan Jamal, yang langsung memegang tangan Ami nya itu.


Umi hanya bisa menghela nafas panjang, mencoba untuk membuat dirinya sendiri tidak mempedulikan keadaan sekitarnya, dan hanya fokus pada Anaknya. Yang akan segera melakukan ijab kabul sebentar lagi.


'Aku benar-benar tidak tahu, apa yang dipikirkan oleh Lina saat ini. Meskipun sebenarnya Aku merasa kasihan juga dengannya. Tapi jika ingat kelakuan dan tingkahnya, Aku juga tidak menyukainya.'


Umi membatin dalam hati, dengan keadaan Lina saat ini.


*****


"Saya terima nikah dan kawinnya Indah Dewi binti bapak Mahmud Hadi, dengan mas kawin satu set perhiasan emas 24 karat, seberat 100 gram, di tambah dengan uang tunai sebesar 100 juta, dan deposito berjumlah 500 juta. Tunai!"


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah!"


"Sah!"


"Alhamdulillah... bismillahirrahmanirrahim..."


Prosesi akad nikah berlanjut doa-doa yang dipanjatkan, untuk memberikan doa kepada kedua mempelai yang baru saja sah menjadi suami istri.


Tapi banyak juga yang terkejut dengan mahar yang diberikan oleh Jamal pada Indah.


Bahkan Indah sendiri juga kaget, saat Jamal membacakan ijab kabul tadi


"Beruntung sekali ya Indah. Bisa dipersunting oleh Jamal yang sekarang ini kaya raya."


"Iya. Nasib itu tidak ada yang tahu, karena dulunya, kata orang, Lina menolak Jamal."


"Benarkah itu?"


"Tidak tahu juga. Itu adalah pembicaraan anak-anak muda yang sebaya mereka."


Dan masih banyak lagi pembicaraan yang katanya, harusnya, sebaiknya, kira-kira, yang belum tentu benar, dan belum tentu juga salahnya.


Di atas panggung pelaminan, Lina terkejut dengan ijab kabul yang diucapkan oleh Jamal kepada adiknya, dengan sejumlah mahar yang diberikan.


Dia hanya tahu, jika Jamal memberikan satu set perhiasan emas seperti yang disebutkan tadi. Sehingga dia juga hanya meminta persyaratan dengan perhiasan yang sama seperti yang didapatkan Indah dari mahar pernikahannya.


'*Sialll! Ternyata mas Jamal diam-diam menyiapkan mahar yang lain, yang tidak diketahui oleh orang lain.'


'Bahkan Indah sendiri juga tidak tahu. Aku bisa melihat rasa terkejut di wajahnya indah.'


'Tahu gitu, Aku juha minta sejumlah uang yang sama kemarin. Tidak hanya perhiasannya ini dan ini*."


Lina mengomel sendiri dalam hati, mengingat semua hal yang tidak dia ketahui.


Dia tidak tahu, jika semua ini memang direncanakan oleh Jamal sendiri. Tanpa meminta persetujuan dari Indah.

__ADS_1


Jamal ingin membuat kejutan, dan membedakan antar istri dan iparnya. Karena Lina saat ini hanya seorang ipar, bukan istri.


Itulah sebabnya, Jamal tidak mau menyamakan pemberiannya pada Indah dan Lina. Karena dihatinya, keduanya juga berbeda dalam bentuk hubungan di hidupnya.


__ADS_2