
"Kenapa bertanya kepadaku? Kamu pilih saja yang mana, yang ingin Kamu jadikan istri. Ada Lina atau Ajeng, anaknya pak RT juga ada. Atau Kamu mau cari gadis di kampung ini?"
"Jangan menyebutkan nama Ajeng lagi. Aku muak!" Hendra tidak suka jika Jamal menyebutkan nama Ajeng, yang telah kabur dari acara lamaran kemarin.
"Oh yang maaf. Aku lupa untuk mencoret nama Ajeng dalam daftar gadis yang bisa Kamu pilih."
"Entahlah Mal. Aku ingin menenangkan hatiku dulu, biar Aku bisa berfikir lebih baik daripada hanya memikirkan seorang gadis. Yang kebanyakan dari mereka ternyata hanya melihat sesuatu dari bentuk materi."
"Sedangkan Kamu tahu sendiri, sekarang ini Aku sudah tidak punya apa-apa. Hanya rumah itu, itu pun belum Aku bayar penuh. Karena rumahku di sana belum laku. Kamu sudah terlalu baik padaku, dengan membiarkan aku tidur di sana. Tanpa ngontrak ataupun membelinya lunas terlebih dahulu."
Hendra mengatakan apa yang saat ini sedang dia pikirkan.
"Sudahlah Hen. Kamu tempati aja gak apa-apa. Aku gak memikirkan uangmu." terang Jamal sambil tersenyum.
'Jika Kamu mau menikahi Lina, justru rumah itu akan Aku jadikan hadiah untuk pernikahan kalian berdua nantinya.' Batin Jamal, tanpa di ketahui oleh Hendra.
"Jika Kamu ada pandangan gadis yang mau denganmu, segera lamar dan menikahlah. Jangan lama-lama, nanti bisa sama seperti Ajeng lagi. Aku berharap sih orang kampung kita saja, tapi jika Kamu ingin orang luar juga tidak apa-apa Hen."
"Entahlah Mal. Aku tidak tahu."
Hendra mengangkat kedua bahunya, karena dia memang sedang bingung dan tidak ada nama gadis yang sekarang ini menempati hatinya. Sepertinya dia sedang menutup diri daripada gadis-gadis yang dulu sering mendekatinya. Di saat dia belum bangkrut.
"Kenapa nasibku seperti ini ya? sepertinya Aku salah langkah dulu. Seharusnya Aku sukses setelah menikah saja, Tapi kemarin, Aku sukses sebelum menikah. Dan di saat mau menikah, malah sudah tidak sukses. Makanya sekarang cewek-cewek pada menjauh dariku." Hendra mengeluhkan kondisi nasibnya yang sekarang.
Pluk!
Jamal menepuk pundak temannya itu, untuk memberikan semangat.
"Sudahlah Hen. Tidak usah dipikirkan lagi, yang penting bagaimana Kamu memperbaiki diri. Nanti juga ada kok cewek yang mau sama Kamu, dan tidak memandang Kamu dari luarnya saja. Atau sekedar materi yang Kamu miliki. Jadi tetaplah semangat ya!"
Hendra menghela nafas panjang, mendengar perkataan Jamal barusan.
__ADS_1
"Iya-iya Mal. Baiklah, Aku mengerti."
Kini keduanya kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang, karena selain sudah siang, jamal juga akan menemani Indah untuk memeriksakan kandungannya sore ini.
"Jadi Indah udah isi?" tanya Hendra, yang baru tahu jika Indah sudah hamil.
"Iya sudah hamil itu istriku. Bagaimana top kan? Hahaha... tapi kami juga baru tahu kok waktu periksa kemarin. Dan ini mau Aku periksakan lagi, karena Aku merasa jika bayiku itu bukan hanya satu Hen."
Hendra memiringkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Jamal.
"Maksudmu... anakmu kembar?" tanya Hendra kaget. Karena Jamal seakan-akan merasa yakin, jika istrinya itu sedang mengandung lebih dari satu bayi.
"Iya Hen. Entahlah," sahut Jamal.
"Waduh, selamat ya Mal! Tapi untuk lebih jelasnya sih mending Kamu pergi sama Indah untuk periksa, biar tahu penjelasannya. Anak Kamu itu satu atau dua, biar Indah juga berhati-hati."
"Atau Kamu bisa bertanya sama Madam Noer? mungkin dia bisa memberitahu atau memprediksi berapa anak Kamu yang masih ada di dalam perut istrimu itu. Hahaha..."
"Eh, sial_lan Kamu Hen! Emangnya Madam Noer itu kamera cctv yang bisa tahu segalanya? hehehe..." Jamal mengumpat sambil cengengesan, di saat mendengar usulan Hendra yang pastinya hanya sekedar bercanda saja.
Plak!
Jamal memukul pundak Hendra dengan keras. Karena Hendra bicara ngawur.
"Wahh kalau lima Aku bakalan puasa lama dong! karena Indah pasti akan merasa capek bawa anak lima dalam perutnya sekaligus. Apalagi juga sampai tujuh. Gak bisa membayangkan Aku Hen," ujar Jamal dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali m
"Kapok Kamu! biar ngerasain kayak Aku lagi. Hahaha..."
"Udah-udah kawin sana Kamu! gak usah ngeledek Aku terus. Daripada Kamu, malah belum pernah merasakan. Hehehe..."
Mereka berdua saling bercanda dan mengejek satu sama lain dengan riangnya.
__ADS_1
"Kamu mau ke penggilingan padi dulu kan? ambil mobil?" tanya Hendra pada Jamal, yang tadi memang membawa mobil dari rumah. Tapi meninggalkannya di pengilingan padi.
"Antar Aku langsung pulang saja. Kalau ke pengilingan padi malah lebih jauh, jadi Kamu entar ke rumah bawa mobilnya."
Hendra heran dengan jawaban yang diberikan oleh Jamal, kemudian bertanya, "terus nanti antar Indah periksa kandungan pakai apa?"
"Ada mobil satu lagi, baru datang kemarin. Hehehe..."
"Wehhh..m mobilnya baru lagi?" tanya Hendra, yang tidak tahu jika Jamal baru saja membeli mobil kemarin.
"Itu sebenarnya Aku beliin buat Indah, buat kendaraan dia kalau dia mau pergi kuliah. Tapi ternyata dia selama hamil ini, malah ambil cuti. Tapi mobilnya sudah terlanjur dikirim ke rumah. Ya udah gak apa-apa, Aku bawa buat ganti-ganti saja."
"Ya udah deh kalau begitu. Nanti Aku pulangnya bawa mobil Kamu." Hendra akhirnya menyetujui permintaan Jamal.
"Sekalian Kamu mandiin juga ya itu mobil, biar kinclong begitu Kamu antar ke rumah."
"Haduh Mal... itu sih kasih kerja namanya!" Hendra protes dengan perkataan Jamal, yang memintanya untuk mencuci mobilnya terlebih dahulu.
"Jangan mengeluh Hen, itu kan tidak setiap hari Aku suruh Kamu. Hahaha..."
Mereka berdua kembali bercanda dalam pembicaraan mereka. Meskipun jika ada orang yang mendengar perbincangan mereka ini, justru berpikir bahwa mereka sedang berantem. Padahal sebenarnya hanya bercanda saja.
Jamal tiba di rumah hari sudah sore, sekitar jam setengah empat. Dan Hendra langsung kembali ke pengilingan padi, begitu Jamal turun dari boncengan.
Indah sudah mandi, karena dia sudah tahu jika sore ini akan diajak Jamal untuk periksa kandungannya.
Dia menyambut suaminya, yang baru saja datang bersama dengan Hendra. Sedangkan Umi baru keluar dari dalam rumah sambil bertanya, "lho kok sama hendra, mobilnya mana?"
"Tadi di tinggal ke di penggilingan padi. Kami keliling ke kampung sebelah bersama Ami," jelas Jamal pada Ami nya.
"Terus Kamu nanti mengantar Indah periksa kandungan pakai apa?" tanya Umi, yang ternyata lupa, jika sudah ada mobil satu lagi di garasi samping rumah.
__ADS_1
"Pakai mobil yang kemarin Ami," terang Jamal sambil melihat ke arah samping rumah.
Dan akhirnya Umi sadar, jika dia telah melupakan mobil satunya lagi, yang memang seharusnya untuk Indah.