Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Cepatlah Menikah


__ADS_3

Pagi ini, Jamal sudah bersiap-siap untuk mengerjakan segala sesuatu yang memang menjadi kegiatannya.


Dia sudah berpesan kepada Indah, untuk tetap beristirahat saja. Karena dia berfikir bahwa, janin yang dikandung oleh istrinya itu tidak hanya satu saja, meskipun belum bisa dipastikan juga. Karena belum melakukan memeriksakan lagi.


Tapi perasaan Jamal meyakini bahwa, anaknya lebih dari satu.


Tapi dia juga tidak membicarakannya dengan istrinya ataupun pada Ami nya. Karena takut, jika mereka justru akan panik, saat mengetahui apa yang dia yakini.


Dan sekarang dia sudah menyiapkan segala sesuatu yang akan dia bawa. Untuk kegiatannya hari ini.


Jamal sudah menyiapkan bibit jagung, yang akan dia serahkan kepada orang yang akan mengerjakan lahan jagungnya nanti.


Tapi dia mau menemui Hendra terlebih dahulu, agar menemaninya ke sana. Karena selain menyerahkan bibit jagung, Jamal juga ingin mencari lahan yang lain.


Ternyata Hendra belum sampai di penggilingan padi, sehingga dia harus menunggu untuk beberapa saat.


Namun ternyata yang datang bukannya Hendra, tapi justru Lina yang datang.


"Ada apa kamu ke sini pagi-pagi Lina? apa tidak ada pekerjaan di rumah, atau kamu tidak ada pekerjaan?" tanya Jamal pada kakak iparnya itu.


"Aku mencari mas Hendra. Apakah dia sudah datang?" Lina memberikan jawaban dan juga pertanyaan sekaligus.


"Belum. Aku justru menunggunya. Duduklah!" ajak Jamal, dengan menunjuk pada sebuah kursi yang tidak jauh dari tempatnya berada.


"Oh ya mas Jamal, bagaimana kabarnya Indah?" tanya Lina, setelah dia duduk.


"Kenapa Kamu bertanya padaku? Kenapa Kamu tidak menghubungi sendiri, atau Kamu datang ke rumah? sebaiknya seperti itu lina, agar renggang juga hubungan antara adik dan kakak. Maaf ya. Aku bukannya tidak mau menjawab, tapi lebih baik Kamu memperbaiki hubungan kamu sama Indah. Jangan memusuhinya, karena ini bukan kesalahannya, jika dia sekarang ini menjadi istriku." Terang Jamal memberikan nasehat pada Lina.


"Tidak Mas. Aku tidak menyalahkan Indah. Aku hanya menyalahkan diriku sendiri, karena memang Aku yang bersalah. Maaf ya mas, untuk kelakuanku yang dulu."


"Tidak apa-apa, Aku sudah melupakannya. Berubah Lina, demi masa depanmu sendiri. Mungkin Kamu bisa mendapatkan suami yang lebih baik daripada aku. Karena kamu itu cantik, pintar dan tentunya di luar sana banyak cowok yang lebih baik dariku, sesuai dengan kriteria mu yang dulu."


Lina justru menunduk, karena merasa sedih dengan apa yang dikatakan oleh jamal. Mungkin itu sebuah sindiran dan juga nesehat untuknya, karena memang dulu dia hanya melihat seseorang dari penampilan luarnya saja.

__ADS_1


"Hai! kalian ngapain pagi-pagi di sini? berduaan lagi," sapa Hendra yang baru saja datang.


Jamal hanya tersenyum tipis, sedangkan lina mengangkat wajahnya dengan sedih melihat ke arah Hendra.


"Ada apa Lin?"


"Jamal, kenapa Lina terlihat sedih begitu? apa yang Kamu lakukan padanya?" tanya Hendra bertubi-tubi, karena dia bingung dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Aku melakukan apa? tanya saja sama Lina, apa yang aku lakukan. Aku tidak melakukan apa-apa."


"Terus kenapa Kamu terlambat datang ke sini?" Jamal menjawab pertanyaan Hendra, tapi tidak memberikan penjelasan apa-apa. Dia justru memberikan pertanyaan juga pada anak buahnya itu.


"Hehehe... maaf. Ini tadi ban motorku bocor, jadi Aku pergi ke bengkel motor dulu. Makanya terlambat." terang Hendra.


"Ya sudah. Kamu urus Lina dulu, nanti baru sama Aku. Dia mencarimu tadi "


Mendengar perkataan Jamal, Lina justru berdiri dari tempat duduknya. Kemudian berkata, "oh tidak usah. Aku mau pulang saja jika kalian ada pekerjaan. Aku tidak mau mengganggu kalian berdua."


Jamal maupun Hendra saling pandang saat Lina pamit mau pulang. Apalagi Lina juga pergi begitu saja, tanpa menunggu Jamal maupun Hendra menyahuti perkataannya.


"Dia mencarimu tadi. Makanya Aku bilang urus dia dulu, Kamu malah tidak bertanya padanya. Kejar sana! mungkin ada yang penting, sehingga pagi-pagi sudah mencarimu ke sini."


"Biarin lah! nanti aku kirim pesan atau telpon saja, biar dia dia pulang."


"Terus, Kamu kenapa pagi-pagi juga sudah mencariku?" tanya Hendra, mengalihkan perhatian Jamal.


"Oh... Aku mau mengajakmu ke kampung sebelah. Aku sudah dapat lahan untuk jagung. ini mau bawa bibit ke sana dikasih ke orang yang mau mengerjakannya jugalah. Tapi aku juga mau cari kebun atau lahan lagi. Apakah Kamu bisa menemaniku?"


"Tentu saja bisa! tapi di sini bagaimana?" jawab Hendra, dengan melihat ke sekeliling pengilingan padi ini.


"Serahkan saja sama asisten! di sini juga ada banyak pekerja, apakah Kamu tidak mau iku?"


"Aku tentu saja mau. Apa lagi Aku ini cuma kuli, Kamu yang bosnya! Jadi Aku pasti ikut."

__ADS_1


"Ya sudah ayo! tapi Aku boncengin ya! Aku gak mau bawa motor sendiri atau nyetir, biarin di sini mobilnya." Jamal memberikan penjelasan kepada Hendra.


"Okelah Bos!"


Akhirnya Hendra membantu Jamal, mengangkut benih jagung yang sudah disediakan di dalam karung, ke atas motornya. Sedangkan Jamal membonceng, sambil memegangi karung jagung tersebut. Untungnya, bibit jagung tersebut tidak terlalu banyak, jadi posisinya tetap nyaman.


"Tiba di kampung sebelah, ternyata orang yang akan mengerjakan lahan jagung juga sudah siap. Karena di sudah dihubungi oleh Jamal terlebih dahulu.


Dia menyambut Jamal dengan senang hati, karena dia juga ada kabar baik. Sebab ada dua sawah yang dia ditawarkan pada Jamal setelah ini. Karena ada dua orang pemilik lahan, yang memintanya untuk menawarkan lahan miliknya kepada jamal.


Dengan senang hati, Jamal mengiyakan tawaran untuk membeli dua lahan tersebut. Setelah melihat lahannya secara langsung.


Tidak butuh waktu lama, satu jam kemudian lahan tersebut sudah menjadi miliknya Jamal.


Dia membayarnya secara online, sama seperti kemarin dia membayar lahan jagung sebelumnya.


Pemilik lahan yang dia orang barusan, juga sangat senang. Karena ternyata, Jamal juga memberlakukan bekerjasama seperti lahan sebelumnya.


Jadi pemilik lahan tersebut masih bisa bekerja seperti biasanya, di lahan mereka sendiri,yang saat ini sudah menjadi lahannya Jamal secara sah.


Setelah semuanya beres, Jamal mengajak Hendra untuk pulang.


"Kita mampir makan dulu yuk! Aku sudah lapar ini. Bagaimana Hen?" tanya Jamal, dengan melihat jam tangannya.


Dia mengajak Hendra untuk mampir di sebuah warung, untuk mengisi perutnya yang sudah lapar. Karena ternyata, saat ini sudah jam setengah dua siang.


Hendra dengan senang hati mengikuti ajakan tersebut. Karena sebenarnya, dia juga merasa lapar.


"Kamu kalau pagi sarapannya bagaimana Hen? secara Kamu sendirian di rumah, tidak ada orang lain di rumah."


"Ya... Aku beli sarapan di warung. Mau bagaimana lagi? aku tidak bisa masak, jadi siangnya juga begitu, malam juga begitu."


Jamal meringis mendengar jawaban yang diberikan oleh Hendra barusan.

__ADS_1


"Sebaiknya Kamu cepatlah menikah Hen, biar ada orang yang menemanimu di rumah."


"Dengan siapa?" sahut Hendra cepat.


__ADS_2