
Hari berganti hari, pernikahan Jamal dengan Indah juga semakin mendekati hari H. Karena besok pagi, Jamal akan mengucapkan ijab kabul untuk menjadikan Indah sebagai istrinya yang sah.
Semua persiapan juga sudah dilakukan. Dan Jamal tidak melakukannya sendiri.
Dia meminta pada event organizer, untuk mengurus segala sesuatunya yang berhubungan dengan acara pernikahannya besok, kecuali, untuk surat-surat dan persyaratan administrasi ke kantor KUA. Yang dilakukan sendiri oleh Jamal, di dampingi oleh pak RT.
Dan hari ini, semuanya sudah selesai. Tinggal pak penghulu yang akan datang ke rumah Indah besoknya, untuk menikahkan dirinya dengan anaknya pak Hadi. Yaitu Indah Dewi binti Mahmud Hadi.
Jamal sudah membayangkan bagaimana rasanya menikmati malam pertamanya bersama Indah lusa.
Ami memperhatikan anaknya yang sedari senyum-senyum sendiri, sambil melihat-lihat orang-orang EO yang sedang memasang tenda di rumahnya.
Karena acara resepsi pernikahannya, akan digelar di halaman depan rumahnya ini. Meskipun akad nikahnya akan dilaksanakan di rumah Indah Dewi binti bapak Mahmud Hadi, sesuai dengan permintaan mereka.
Tapi yang membuat Jamal kesal adalah permintaan Lina, sesuai dengan adat di desa G ini. Jika ada kakak perempuan yang dilangkahi adiknya untuk menikah, dia akan mengajukan syarat tertentu. Yang harus dipenuhi oleh calon mempelai, artinya Indah harus menyediakan sesuatu yang diminta oleh Lina sebagai persyaratan tersebut.
Dan Indah memintanya untuk ikut di dandani, sama seperti Indah. Yang tentunya nanti, akan seperti ada dua mempelai wanita.
Syaratnya Lina bukan hanya itu saja, tapi Lina juga meminta perhiasan yang sama, seperti perhiasan yang diberikan Jamal pada Indah.
Sebenarnya Ami merasa kesal dengan sikap Lina yang terkesan ingin menyabotase pernikahan adiknya.
Tapi bagi Jamal itu bukanlah suatu persoalan yang berat. Toh dia bisa membelikan perhiasan apa saja yang diminta Lina. Meskipun pak Hadi dan bu Anita meminta maaf atas permintaan Lina yang dirasa keterlaluan, dan meminta Jamal untuk tidak menuruti permintaan tersebut.
Indah juga sudah membujuk kakaknya itu, supaya mengambil semua perhiasan miliknya, yang penting bukan perhiasan yang diberikan oleh Jamal padanya.
Namun Lina tetap kekeh, sehingga Indah hanya bisa mengikuti kemauan kakaknya.
Apalagi Jamal merasa tidak keberatan dengan persyaratan yang diajukan oleh Lina kedua mempelai.
"Mal. Jamal!"
Umi menegur anaknya yang sedang melamun, sambil melihat karyawan EO bekerja di halaman depan.
"Eh iya Ami. Ada apa?"
"Kamu merasa Lina semakin aneh gak sih?" Umi mengajukan pertanyaan kepada Jamal, karena mengingat semua persyaratan yang diajukan oleh Lina, pada saat dia di tanya tentang persyaratan adat tersebut.
"Kenapa Ami?"
"Kenapa dia minta perhiasan yang sama seperti Kamu berikan pada Indah, dan harus diberikan sebelum Kamu ijab kabul? Kenapa gak sekalian saja minta Kamu nikahin dua juga gitu!"
Umi mengungkapkan perasaan kesal dan kecewanya pada Lina. Yang memang sedikit aneh menurut sebagian orang-orang.
Tapi karena pak Hadi cuma punya dua anak perempuan, mau tidak mau memang begitulah kira-kira adat yang harus dilakukan secara umum. Jika ada adik perempuan ataupun laki-laki, yang melangkahi kakak perempuannya yang belum menikah.
Bahkan ada desas-desus yang mengatakan bahwa, Lina itu pengen dinikahi juga sana Jamal. Secara, Jamal sekarang bukan lagi Jamal yang dulu.
__ADS_1
"Itu pertanda jika Lina iri. Pengen juga tuh dia jadi istrinya Jamal."
"Hahaha... kenapa Jamal gak embat aja keduanya ya?"
"Ehhh sarap Kamu kang!"
"Hahaha... jadi viral nanti tuh pernikahan Jamal, jika dia jadi nikahin Lina juga!"
Begitulah kira-kira pemikiran dan tebakan orang-orang yang tahu tentang keadaan Lina, yang meminta persyaratan aneh.
Kembali ke Jamal dan Umi.
"Ami gak usah terpengaruh dengan omongan dan pemikiran orang-orang. Toh Jamal bisa memenuhi syarat tersebut kan?"
"Jadi, Ami tenang saja ya!"
Tapi Umi merasa tidak tenang dengan perasaannya sendiri, yang terus memikirkan hal-hal yang dibicarakan oleh orang-orang.
Dia tidak suka dengan sikap dan perilaku Lina yang dulu, bahkan yang sekarang ini.
"Mungkin Lina memang merasa kecewa, tapi tidak seperti itu juga seharusnya." Umi berkata demikian, dengan perasan kesalnya.
Jamal mengambil tangan Ami nya, kemudian menepuk-nepuk punggung tangan tersebut.
"Ami. Apa Ami pikir Jamal juga suka dengan gadis yang menjadikan Jamal sebagai permainan? Tidak!"
"Jadi, Jamal mencoba untuk membalas dendam pada Lina dengan cara menikahi adiknya. Dan ternyata justru Ami mengusulkan agar Jamal menikah saja dengan Indah."
Mungkin, jika yang menjadi calon isterinya bukan Indah, gadis itu akan meminta mahar dan seserahan yang fantastis.
Secara, saat ini Jamal adalah pemuda yang sukses dan kaya raya.
Selain punya sawah berhektar-hektar, dia juga punya perkebunan jeruk yang bisa panen setiap harinya.
Di tambah lagi dengan peternakan sapi perah miliknya, yang diserbu banyak pelayan.
Dan yang baru saja dirintis saat ini adalah pembangunan pabrik pengilingan padi. Yang di gadang-gadang sebagai pengilingan padi terbesar dan tercanggih di kotanya ini.
Tapi nyatanya Indah memberikan kebebasan kepada Jamal untuk menentukan mahar dan seserahan pernikahan mereka. Karena indah tidak mau memberatkan calon suaminya itu.
Meskipun demikian, tentunya Jamal juga tidak sembarangan memberikan mahar.
Seperangkat perhiasan dan uang tunai dalam jumlah yang besar, sudah dipersiapkan oleh Jamal sebagai mahar nya nanti.
Untungnya, Lina hanya tahu tentang perhiasan saja. Dia tidak mengetahui, jika Jamal juga akan memberikan sejumlah uang untuk mahar adiknya.
*****
__ADS_1
Malam ini, banyak orang yang jagong di rumah Jamal. Karena besok adalah hari pernikahan Jamal dengan Indah.
Banyak ibu-ibu dan bapak-bapak, yang sebagian besar adalah para karyawan Jamal, juga ikut membantu dalam persiapan untuk hantaran pernikahan besok pagi.
Meskipun untuk beberapa hal sudah dipesan lewat catering, tapi orang desa G akan selalu meramaikan rumah calon mempelai.
Saat ini Jamal sudah pergi ke kamarnya, untuk beristirahat. Supaya besok pagi dia bisa tetap segar, saat mengucapkan ijab kabul.
Tapi sebelum tidur, dia mengaktifkan sistem bertani miliknya.
[ Ding ]
[ Selamat malam Tuan ]
'Aku besok mau menikah. Bagaimana pekerjaan harian ku? Apa itu berpengaruh terhadap sistem?'
[ Ding ]
[ Tuang cukup cek in harian seperti biasa ]
'Untuk yang lainnya?'
[ Cukup off saja Tuan ]
'Baiklah. Tolong ingatkan Aku besok. Takutnya Aku lupa, karena kesibukan pesta pernikahanku.'
[ Ding ]
[ Siap Tuan ]
[ Selamat atas pernikahan Tuan ]
'Hahaha... masih besok!'
[ Ding ]
[ Tuan minta hadiah apa untuk pernikahan pertama ini ke sistem ]
'Eh, pernikahan pertama? Maksudnya Aku akan mengadakan pernikahan yang lainnya?'
[ Ding ]
[ Siapa tahu Tuan mau menikah lagi kedepannya ]
[ Bukankah manusia tidak ada kata puas ]
'Hah. Ada-ada saja Kamu sistem.'
__ADS_1
[ Ding ]
[ Selamat malam Tuan ]