Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Dewi Riani


__ADS_3

Untuk lebih jelasnya, akhirnya pak RT meminta waktu pada Jamal, supaya mereka bisa bertemu. Dan Jamal, juga bisa berkenalan dengan keponakannya itu.


Tapi karena saat ini pak RT sedang tidak berada di rumah, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertemu nanti malam saja, di rumahnya Jamal.


Setelah selesai menghubungi pak RT, Jamal meminta pada Indah, untuk menemaninya beristirahat siang ini.


"Anak-anak di mana Yang?"


"Sedang istirahat di rumah sebelah Mas. Sama pengasuh," jawab Indah, yang memang terbiasa menemani suaminya, jika suaminya itu sedang tidak melakukan pekerjaan.


"Ya sudah, kita tidur yuk!" ajak Jamal, yang tentunya dipahami oleh Indah. Jika kegiatan mereka tidak hanya sekedar tidur.


Tapi Indah juga tidak pernah protes, dengan apa yang diinginkan oleh suaminya.


Akhirnya, mereka berdua masuk ke dalam kamar. Setelah memastikan keadaan aman, sehingga tidak ada yang akan mengganggu kegiatan mereka berdua.


*****


Malam harinya, pak RT benar-benar datang ke rumahnya Jamal, dengan membawa keponakannya juga. Agar bisa perkenalkan dan berbincang dengan Jamal, yang akan menjadi bos-nya nanti.


Tapi yang tidak pernah disangka-sangka oleh Jamal adalah, keponakannya pak RT itu, bukanlah seorang pemuda atau laki-laki dewasa, yang biasa berprofesi sebagai seorang supir.


Keponakannya itu, ternyata adalah seorang wanita yang masih muda, kira-kira seumuran dengan Indah. Istrinya Jamal sendiri. Tapi berpenampilan seperti seorang laki-laki pada umumnya.


Dengan potongan rambut yang cepak, celana jins dan kemeja, dipadukan dengan jaket. Terlihat jelas jika keponakannya pak RT ini seperti cewek yang macho. Tidak seperti kebanyakan cewek yang ingin terlihat cantik dan anggun.


Setelah dipersilahkan duduk di ruang tamu, pak RT memperkenalkan nama keponakannya itu. Yaitu Dewi Riani, yang katanya, biasa dipanggil Dewi atau Rian.


Mendengar dua nama panggilan yang berbeda untuk keponakannya pak RT, membuat Jamal dan Indah mengerutkan keningnya, memikirkan hal yang sedikit aneh, menurut mereka berdua.


Tapi menurut pengakuan Dewi Riani, dia memang terbiasa mendapatkan panggilan seperti itu, sesuai dengan tempat di mana dia berada. Jadi, panggilan tersebut fleksibel.


"Biasanya kalau di rumah dipanggil Dewi. Tapi jika ada di tempat kerja, banyak temannya yang memanggil dengan nama Rian.


"Kok bisa?" tanya Indah penasaran.


Akhirnya, mengalir cerita dari mulut Dewi Riani, tentang asal-usul panggilan namanya yang berbeda, di setiap tempat.

__ADS_1


Jadi, Dewi Riani ini awalnya adalah supir taksi. Yang beroperasi di pusat kota.


Tapi karena suatu kejadian yang tidak bisa dia ceritakan, akhirnya dia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Kemudian mencoba untuk mencari pekerjaan lain, yang tidak berprofesi sebagai supir.


Sayangnya, tidak ada tempat kerja yang bisa menerima dirinya. Sehingga dia harus meminta tolong pada pamannya, yaitu pak RT, supaya mencarikan pekerjaan untuknya.


Kembali menjadi supir pun tidak apa-apa, asal bisa kembali bekerja dan tidak menyusahkan orang lain.


Akhirnya, karena mendapat keluhan dari keponakannya itu, pak RT teringat dengan Jamal, yang kemungkinan besar bisa menolongnya.


Itulah sebabnya, tadi pagi dia mencari Jamal, untuk membicarakan tentang hal ini.


Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dan alasan yang dibuat oleh Dewi Riani. Alias Rian.


Sebenarnya, Jamal bingung juga mau memberikan pekerjaan apa pada keponakan pak RT ini. Sebab, supir sudah ada. Pengasuh untuk anak-anak juga sudah ada.


Setelah terdiam beberapa saat kemudian, Jamal memutuskan untuk memberikan pekerjaan pada Dewi Riani ini, untuk mengurus editing videonya. Yang akan ditayangkan di Channel khusus miliknya.


Selama ini Jamal dan Indah, tidak pernah mengedit-edit video yang sedang mereka siarkan. Jadi, semua berjalan apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi atau di rekayasa.


Jadi, untuk saat ini memungkinkan sebuah fitur yang lebih baik yang sudah diedit sebelum ditayangkan.


"Saya pernah kuliah di bagian IT. Tapi droup out. Jadi, sudah lama tidak pegang. Jika ada pekerjaan bagian tersebut, ya mungkin perlu sedikit belajar lagi."


Jawaban yang diberikan oleh Dewi Riani, membuat Jamal tersenyum. Karena dia merasa mendapatkan pegawai yang cocok, untuk pekerjaan ini.


"Baiklah jika begitu. Kamu bisa bekerja di sini, dan akan saya buatkan studio sendiri, di rumah sebelah. Untuk tempat tinggal, Kamu bisa di rumah itu juga. Atau jika Kamu tidak nyaman, Kamu bisa tidur di rumah Paman mu, juga tidak apa-apa. Terserah Kamu senyaman mungkin."


Dewi Riani mengganggukan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Jamal barusan.


Begitu juga dengan pak RT.


Dia menyerahkan keputusan untuk urusan tempat tinggal, pada keponakannya sendiri. Sebab, anaknya yang paling besar, Nastiti, juga sudah menikah dan ikut suaminya di kota lain. Sedangkan anaknya yang masih kecil, tidak akan terganggu dengan kehadiran Dewi Riani ini.


Indah juga tidak keberatan, seandainya rumah sebelah, yang dulunya adalah rumahnya Lina, digunakan untuk studio dan tempat tinggal Dewi Riani. Karena bisa jadi, untuk kedepannya nanti mereka akan merekrut beberapa karyawan cewek. Guna membantu pekerjaan Dewi Riani juga.


Apalagi, rumah sebelah juga termasuk rumah yang besar meskipun tidak bertingkat. Masih ada beberapa ruangan kosong, meskipun anak-anaknya terbiasa bermain di rumah tersebut.

__ADS_1


Setelah menemukan kesepakatan, akhirnya pak RT dan Dewi Riani, pamit untuk pulang terlebih dahulu.


Dewi Riani sendiri, akan kembali dua hari kemudian. Karena dia juga perlu bersiap-siap untuk pindah ke rumah sebelah.


Lagipula, studio yang diperlukan untuk pekerjaannya, belum tersedia. Dan baru akan dibuatkan oleh Jamal.


*****


Malam semakin larut. Anak-anak juga sudah tertidur. Tapi Jamal masih berbincang dengan istrinya. mengenai sosok Dewi Riani.


"Menurut Kamu, Dewi Riani ini cenderung menjadi cewek apa cowok Yang?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya, Indah mengerutkan keningnya, sambil mengirimkan kepala.


Dia tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu. Karena dia merasa tidak ada yang aneh, dengan penampilan keponakan Pak RT. Yaitu Dewi Riani, yang tadi datang bersama pak RT ke rumahnya ini.


"Kamu... Kamu gak liat penampilannya yang aneh tadi Yang?" tanya Jamal lagi, karena istrinya itu tidak segera memberikan jawaban.


"Aneh bagaimana sih Mas?"


Indah justru bertanya balik, karena dia memang tidak memiliki pemikiran yang aneh tentang Dewi Riani.


Akhirnya, Jamal mengutarakan maksud pertanyaannya tadi, mengenai keanehan yang dia lihat dari penampilan keponakan pak RT.


Menurut Jamal, Dewi Riani ini bukan sosok perempuan tulen, maupun laki-laki tulen.


"Jadi, menurut mas Jamal, Dewi Riani ini banci?" tanya Indah, memperjelas maksud dari pemikiran suaminya.


Dan Jamal menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Istrinya barusan.


"Hilihhh... udah sih Mas. Gak usah berpikir yang aneh-aneh. Untuk urusan penampilan atau apa, itu selera masing-masing." Indah memberikan tanggapan, atas penampilan Dewi Riani yang menurut Jamal aneh.


"Hhh... iya sih Yang. Cuma, Aku kok ada sesuatu yang mengganjal ya di pikiranku," terang Jamal, yang tidak bisa memberikan penjelasan secara rinci, apa yang sedang dipikirkannya kali ini.


"Mas Jamal mau tidur gak ini? Udah malam lho Mas!" Indah mengingatkan Jamal, jika waktu malam sudah semakin larut.


"Hehehe... iyalah Yang mau tidur. Tapi... kasih jatah dulu ya!"

__ADS_1


Indah belum sempat menjawab, tapi sudah diserang oleh suaminya terlebih dahulu. Sehingga dia hanya bisa pasrah, dan mengimbangi apa yang dilakukan oleh Jamal terhadap dirinya.


__ADS_2