Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Misi Akun Bodong


__ADS_3

Ding ]


[ Sistem membuka brankas ]


1%


10%


20%


30%


40%


50%...


Sampai selesai menjadi 100%.


[ Ding ]


Layar sistem langsung menunjukkan isi brankas Jamal, yang belum diketahui sepenuhnya. Karena dia memang tidak pernah melihat setiap hari isi brangkas miliknya. Apakah berkurang atau bertambah.


Sistem bertani dari planet XMoon, dengan kode series XX2121.


Cek in : Setiap hari


Hadiah : 220.321


Kemampuan : 90 %


Kekayaan : 112


Pesona : 95%


Kecerdasan : 85/100


[ Ding ]


'Wah ternyata kekayaan ku dan hadiahnya banyak berkurang.'


[ Ding ]


[ Pencairan Sistem kemarin cukup besar ]


'Iya sih. Secara Aku menggunakannya untuk membeli dua mobil sekaligus.'


[ Ding ]


[ Tuan tidak mau ambil misi ]


'Misi apa yang bisa aku kerjakan?'


[ Ding ]


[ Misi pencarian akun bodong ]


'Hai, aku sudah tidak bisa mencarinya bukannya ke mana itu sudah hilang?'


[ Ding ]


[ Bisa Tuan ]


[ Dia masih ada tapi dengan akun yang lain ]


'Oh, berarti akun itu memang sengaja dibuat banyak, untuk menipu-menipu begitu?'


[ Ding ]


[ Kira-kira seperti itu Tuan ]


'Baiklah. Jika Aku mau mengambil misi ini, dan berhasil. Berapa hadiah yang bisa Aku dapatkan dari sistem?'


[ Ding ]


# Hadiah misi \= 10.000

__ADS_1


# Kecerdasan \= +5%


[ Ding ]


[ Terima atau tidak ]


Jamal terdiam sejenak, untuk memikirkan langkah yang akan diambil, terkait misi dari sistem kali ini.


Dia tidak mungkin menolaknya, karena jika dia menolak misi sistem, dia akan kehilangan beberapa persen dari kemampuan, kecerdasan, dan juga pesona. Dan yang pasti dia tidak akan mendapatkan poin hadiah yang cukup besar. Padahal saat ini, poin miliknya tinggal sedikit.


Hal ini membuat dilema Jamal, karena jika dia menerima dan gagal dia juga akan kehilangan semua itu. Sama seperti jika dia menolak.


Jadi menerima atau tidak, tetap saja Jamal akan mendapatkan resiko yang harus dia dapatkan dari misi sistem.


Dan setelah terdiam diri untuk berfikir, Jamal akhirnya menerima misi tantangan. Yang akan diberikan oleh sistem. Karena dia sendiri juga tidak tahu, misi apa yang akan diterima kali ini.


Sebab, selain diminta untuk membuka kedok akun bodong yang sudah menipunya. Pastinya sistem akan memberikan tantangan yang harus dihadapi, pada saat membongkar atau mencari tahu, akun siapa sebenarnya yang sudah melakukan penipuan terhadap dirinya beberapa waktu kemarin.


Hal inilah yang kemungkinan besar, menjadi tantangan yang harus bisa ditaklukkan Jamal.


Apalagi, tantangan yang sering ada, tidak pernah bisa diprediksi oleh Jamal. Apa dan bagaimana bentuknya, karena biasanya itu datang tiba-tiba.


'Baiklah Sonya. Aku menerima misi ini.'


[ Ding ]


[ Selamat bertugas Tuan ]


[ Yang perlu diperhatikan adalah orang-orang yang ada di sekitar Tuan sendiri ]


[ Dia tidak ada tapi sebenernya ada ]


'Jangan yang horror ya, awas lho!'


[ Ding ]


[ Lihat Tuan sendiri sudah horor ]


'Hahaha... suka bener Kamu ini!'


Jamal justru sedang bercanda dengan Sonya, yang pada saat ini sedang menjadi sistem. Karena hanya sebatas layar transparan sistem, yang ada di hadapannya saat ini.


[ Ding ]


[ Lewat waktu jam 16.00 poin akan berkurang pada kemampuan dan kecerdasan ]


'Ehhh, itu jika hanya lewat saja. Jika bisa tapi lewat tetap hilang?'


[ Ding ]


[ Benar Tuan ]


'Jika malah gagal bagaimana?'


[ Ding ]


[ Jika kali ini gagal, sistem akan menghapus semua yang Tuan miliki. Termasuk dengan sistem Sonya ]


'Wahhh... berat juga. Tapi jika menolak bagaimana?'


[ Ding ]


[ Tuan sudah terlambat ]


[ Tapi menolak juga akan terhapus ]


'Hemmm... baiklah. Aku akan berusaha semampuku, sekuat tenaga, untuk memecahkan tentang akun bodong ini.'


[ Ding ]


[ Semoga berhasil Tuan ]


Jamal menghela nafas panjang, saat sistem menghilang dari hadapannya.


Ternyata misi kali ini yang terberat sepanjang dia memiliki sistem. Karena apapun yang akan dilakukan, akan mendapatkan risiko yang cukup berat.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya Jamal tetap saja bisa menjalani kehidupannya tanpa sistem, sama seperti selama satu tahun dulu, setelah anaknya lahir. Tapi tentu saja dia tidak akan mendapatkan kemudahan-kemudahan, seperti jika dia memiliki sistem.


Dan saat ini, Jamal harus berjuang untuk bisa membuktikan, bahwa dia bisa melakukan apa saja demi mempertahankan sistem yang dia miliki. Atau dia harus kehilangan sistem untuk selama-lamanya, jika dia tidak mampu melakukan misi kali ini.


"Aku harus bisa menyelesaikan misi ini. Tapi, bagaimana Aku melakukannya ya? Aku minta tolong sama siapa ini?"


Pertanyaan demi pertanyaan, muncul begitu saja setelah layar sistem menghilang.


Jamal harus segera berpikir, langkah awal apa yang harus dilakukannya, dan meminta bantuan pada siapa juga, supaya pekerjannya ini cepat selesai.


"Aku minta tolong pada Indah saja."


Jamal akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan pada istrinya. Tapi detik kemudian, dia juga ingat bahwa kemarin, dia bersama dengan Indah, sudah mencoba untuk melakukan penyidikan dan pelacakan akun yang sudah menipunya, terkait dengan kasus bibit durian yang tidak di kirim.


Padahal seharusnya, penanaman bibit duriannya selesai hari ini.


Tapi karena masalah kemarin, akhirnya rencananya untuk menanam bibit durian mundur. Karena bibit duriannya juga belum lengkap, dan baru 80%. Sedangkan 20% lagi masih dalam pengiriman, dan baru akan datang dua hari lagi.


Tapi untuk bibit yang 80%, sudah mulai ditanam pada pagi tadi. Dan sudah berkurang menjadi 40%.


Jadi, bibit durian yang saat ini ada di rumahnya tinggal 40% lagi, yang akan ditanam besok pagi oleh para pekerja.


"Oh iya, besok juga harus menyelesaikan tanaman bibit durian yang masih ada. Tapi Aku juga sudah terlanjur menerima misi dari sistem. Bagaimana ini? Siapa yang akan menggantikan Aku, untuk mengawasi penanaman bibit durian besok?"


Kebingungan Jamal semakin bertambah, pada saat dia juga ingat bahwa batasan waktu sistem sampai pukul 16.00. Dan jam itu juga adalah, batas waktu di mana biasanya para pekerja juga selesai dengan jam kerjanya.


Jadi bisa dipastikan jika, Jamal tidak akan bisa mengawasi penanaman bibit durian. Karena dia harus segera menyelesaikan misi sistem yang dia terima.


Akhirnya Jamal menemui istrinya yang ada di ruang tengah bersama dengan anak-anak. Dia meminta bantuan pada istrinya itu, untuk mengawasi penanaman bibit durian besok.


"Yang. Kamu besok yang mengawasi penanaman bibit durian ya!" pinta Jamal, begitu dia duduk di samping istrinya.


"Memangnya Mas Jamal mau ke mana?" tanya Indah, yang tidak tahu apa rencana suaminya besok.


"Mas ada urusan. Pokoknya gak ada waktu buat ngawasin itu."


Jamal tidak memberitahukan alasannya secara pasti. Tapi Indah juga tidak keberatan, dengan tugas yang diberikan oleh suaminya.


"Indah sendirian Mas?" tanya Indah, yang tidak begitu tahu, di mana saja posisi lahan durian yang akan ditanam ini.


Indah memang tidak mengetahuinya, karena tadi pagi, Jamal pergi ke lahan durian itu bersama dengan Dewi Riani.


"Kamu sama Dewi Riani saja Yang. Dia sudah tahu tempat-tempat nya kok tadi. Soalnya Aku sudah memberitahu dia, pas mau itu lho... apa sih, ambil gambar pas pembuatan video di awal-awal sebelum menanam."


Indah hanya mengangguk saja, mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh suaminya.


"Iya deh Mas. Besok Indah tanya sama Dewi Riani. Tapi, siangnya Mas Jamal bisa datang untuk melihatnya tidak?" tanya Indah, yang sedang memastikan bahwa, suaminya masih bisa datang atau memang seharian besok dia ditinggal sendirian, hanya bersama dengan Dewi Riani saja, untuk memantau para pekerja di lahan durian.


"Kita lihat saja besok Yang. Aku tidak bisa janji, soalnya urusanku ini juga sedikit rumit sih! jadi Aku gak tahu kapan selesainya."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya, Indah menyatukan alisnya karena berpikir jika, sesuatu yang rumit menurut suaminya itu adalah hal seperti apa.


Indah sangat paham dengan karakter Jamal, yang tidak suka berpikir terlalu ribet atau rumit. Dan sekarang, suaminya itu justru mengatakan bahwa urusannya besok itu sedikit rumit. Itu artinya bukan hanya sedikit, tapi sangat rumit.


"Mas yakin jika bisa menyelesaikan masalah itu sendiri? Gak mau di bantu gitu?" tanya Indah, mencoba untuk memberikan penawaran pada Jamal. Soal masalah yang akan diselesaikannya besok.


"Hhh..."


"Sebenarnya... Mas gak mau melibatkan siapapun dalam penyelesaian masalah ini Yang. Tapi saat Kamu bertanya demikian, Aku jadi ragu ini. Bisa gak ya besok selesai?"


Mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya, Indah justru semakin bingung sendiri. Karena sepertinya saat ini, Jamal memang dalam kebingungan. Karena permasalahan yang tidak diketahui oleh Indah.


"Memangnya apa sih Mas?" tanya Indah ingin tahu, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh suaminya itu.


Jamal tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Indah. Karena dia sedang berpikir, apakah harus mengatakan yang sejujurnya pada Indah, atau tetap pada rencana awalnya. Yaitu menyelesaikan permasalahan ini sendirian.


"Mas, jika ada masalah berat, sebaiknya itu diberitahukan ke orang lain. Seandainya orang yang kita beri tahu itu tidak bisa memberikan solusi atau tidak bisa menolong, setidaknya dia mungkin bisa memberi saran. Supaya kita itu bisa melakukan hal-hal yang mungkin lebih baik, atau mencarikan seseorang yang kemungkinan besar, bisa membantu permasalahan yang sedang kita hadapi atau miliki."


Jamal masih terdiam, mendengarkan semua perkataan istrinya, yang memang benar adanya.


Tapi dia masih tetap ragu, untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin dilakukannya besok pagi hingga sore hari.


Selain Jamal yang merasa ragu jika Indah bisa membantunya, dia juga tidak mau jika istrinya itu jadi ikut berpikir, tentang hal-hal yang sudah mereka lupakan beberapa waktu yang lalu.


"Tapi, ini sebenernya masalah sudah lama. sudah beberapa waktu kemari Yang. Tapi, Aku mau mencoba menyelidikinya lagi."

__ADS_1


"Soal apa Mas? Yang penipuan mas Jamal kemarin itu?" tebak Indah, dengan permasalahan yang disembunyikan oleh Jamal darinya.


Karena Indah sudah bisa menebaknya, akhirnya Jamal hanya bisa mengangguk kan kepalanya saja. Mengiyakan, tanpa harus memberikan informasi lebih lanjut lagi.


__ADS_2