Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Tawaran


__ADS_3

"Jamal, jeruk yang barusan di panen itu sudah ada yang pesan lho ya!"


Umi mengingatkan pada anaknya, supaya tidak menjual jeruk yang tadi di panen pada orang lain. Karena pemesan memang tidak datang sendiri ke rumah Jamal. Tapi melalui pesan online yang sekarang ini dijalani oleh mereka berdua.


"Iya Ami. Jamal ingat kok."


"Kalau seperti ini terus, sebaiknya kita ambil karyawan tetap saja Jamal. Tidak seperti sekarang. Hanya mempekerjakan para tetangga pas butuh saja."


"Kamu cukup kasih instruksi kepada para karyawan nantinya, Untuk pekerjaan yang harus mereka lakukan. Biar Kamu juga ada waktu untuk diri Kamu sendiri. Gak kerjaaa terus."


Umi justru ngomel-ngomel sendiri, melihat keadaan anaknya saat ini.


Dia merasa anaknya itu tidak mempunyai waktu untuk kehidupannya sendiri. Memikirkan masa depannya, agar bisa cepat berkeluarga.


Sawah Jamal sekarang ini sudah banyak, dengan luas lahan yang tidak bisa di hitung oleh Umi sendiri.


Kebun juga sudah di perluas, dengan membeli pekarangan rumah tetangga-tetangga yang memang ingin menjual tanahnya.


Begitu juga dengan rumah.


Jamal membangun rumah yang lebih besar daripada yang dulu.


Sedangkan rumahnya yang lama, di jadikan sebagai gudang penyimpanan hasil kebun atau sawahnya. Untuk persediaan sendiri. Karena untuk yang dijual, langsung diambil oleh para pembeli.


Selama ini, mereka berdua memang meminta bantuan pada para tetangga. Yang mau bekerja dengannya. Jika waktunya panen, atau sedang dibutuhkan tenaganya saja.


Jadi, Umi memberikan usulan pada anaknya itu. Untuk mempekerjakan pekerja yang ada setiap hari. Tidak hanya ada pada waktu panen saja.


"Jamal sudah pikirkan Ami. Tapi Jamal belum nemu karyawan yang cocok. Secara, usaha kita ini kan termasuk pekerjaan yang kotor. Karena ada di kebun atau sawah. Sedangkan orang-orang, lebih memilih bekerja di pabrik atau tempat yang terlihat lebih bersih."


Umi mengangguk mengiyakan perkataan anaknya. Karena itu memang benar adanya.


Orang-orang akan merasa lebih senang, jika bekerja di sebuah perusahaan besar. Meskipun sebenarnya menjadi kuli juga di sana. Sama seperti kerja di sawah.


"Nanti coba Jamal pasang iklan Umi. Siapa tahu, ada insinyur pertanian yang mau ikut bekerja dengan Jamal."


"Atau ahli gizi dan pengolahan pangan."


Akhirnya Jamal mengatakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya. Karena rencana kedepannya nanti, dia ingin membuat sebuah usaha lain. Yang masih ada kaitannya dengan hasil kebunnya ini.


Jamal juga ada beberapa ekor sapi, yang dia titipkan pada orang-orang di sekitar desanya.

__ADS_1


Dia juga punya keinginan, untuk membuat kandang ternak sapi dengan standar yang lebih baik. Yang akan dia gunakan untuk ternak sapi perah.


Jadi, pengolahan sari jeruk, juga akan didampingi dengan pengolahan susu sapi segar. Yang dihasilkan oleh usahanya juga.


"Terus kapan Kamu kawin Jamal?"


Pertanyaan yang diajukan oleh ami nya ini, tidak bisa di jawan dengan cepat dan mudah oleh Jamal sendiri.


"Ami kenalkan Kamu dengan pemilik kios yang ada di ruko depan pasar ya?"


"Masih muda, baru mau wisuda juga. Cantik lagi. Mau ya Mal?" bujuk Umi pada Jamal.


"Ami. Apa nanti Ami gak malu, seandainya gadis itu menolak permintaan Ami?"


"Menolak? Maksudnya, gadis itu gak mau sama Kamu?"


Jamal mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Ami nya.


"Kenapa dia berani menolak anak Ami yang sudah sukses begini?" tanya Ami bingung. Dia berpikir bahwa, semua gadis akan suka. Jika melihat keadaan Jamal yang sekarang.


"Gadis itu lulusan kuliah Ami. Sarjana. Sedangkan Jamal? Hanya lulus SD. Itupun banyak tinggal kelas dulunya."


Tenyata Jamal merasa tidak percaya diri, jika sudah berurusan soal pendidikan.


Jamal tua di sekolah dasar.


"Tapi nasib seseorang tidak ada yang tahu Jamal. Dan kehidupan ini banyak sekali keberuntungan yang bisa diperoleh. Dan itu tidak tergantung pada ijazah dan tingkat pendidikan seseorang."


"Umi tidak meremehkan pendidikan. Tapi Kamu jangan lupa dengan kuasa Tuhan juga Jamal. Dan semua yang ada pada dirimu sekarang ini adalah sebuah keberuntungan yang diberikan oleh Tuhan juga."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ami nya, Jamal pun menganggukkan kepalanya. Dia paham dengan maksud yang semua itu.


Ini ditujukan supaya dia tidak rendah diri. Jika berhadapan dengan seseorang atau ada pada suatu keadaan tertentu.


"Iya. Jamal ikut saja apa yang Ami mau."


Senyuman terbit di bibir Umi.


Dia merasa sangat senang, karena pada akhirnya anaknya itu mau ikut dengan apa yang dia rencanakan.


"Assalamualaikum... Ami. Ami!"

__ADS_1


Terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam. Suara itu suara seorang perempuan.


"Waallaikumsalam..."


Umi dan Jamal menyahuti salam tersebut bersamaan, kemudian mereka berdua berjalan untuk keluar rumah. Melihat siapa yang datang ke rumahnya saat ini.


"Eh, indah. Ada apa ya Ndah?" tanya Umi, karena yang datang ternyata adalah Indah. Adiknya Lina.


"Ami, mas Jamal. Indah... Indah mau ikut kerja di kebun jeruk bisa?"


Pertanyaan ini membuat Umi dan Jamal mengerutkan keningnya. Karena mereka berdua tahu, jika keluarga Lina, termasuk keluarga berada. Meskipun bukan seorang petani.


Ayah Lina seorang pegawai negeri dan bertugas ke kecamatan. Sedangkan ibunya Lina, punya pekerjaan sebagai perias pengantin, atau MUA.


Tapi kenapa sekarang Indah justru ingin bekerja, padahal dia baru saja lulus sekolah.


"Kamu gak kuliah Ndah? Kan mbak Lina jga sudah mau lulus ya, mungkin setahun atau kurang lulusnya?" Umi bertanya tentang alasan Indah, yang justru ingin bekerja di kebunnya Jamal.


"Indah gak mau repotin bapak saja ibu Ami. Indah pengen kerja, tapi kuliah juga. Jadi, uang sakunya Indah cari sendiri."


"Kuliah bukannya seharian? Apa Kamu ada waktu untuk bekerja?" Ami kembali bertanya pada Indah.


"Indah mau ambil kuliah terbuka saja Ami. Biar bisa tetap bekerja." Ami menganggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Indah tadi.


"Bagaimana Mal?"


"Emhhh... sebenarnya Aku butuh tenaga administrasi untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan penjualan. Apa Kamu bisa pembukuan?"


Akhirnya Jamal menemukan pekerjaan yang kira-kira cocok untuk Indah.


"Bisa Mas bisa! Indah mau."


"Jadi... ini Indah di terima Jan Mas?"


Tawaran yang diberikan oleh Jamal, di sambut dengan gembira oleh Indah. Dia pun berkali-kali mengucapkan terima kasih, kepada Jamal dan Umi.


"Terima kasih ya mas Jamal, Ami. Indah akan berusaha untuk bisa bekerja dengan baik."


"Terima kasih banyak pokoknya!"


Indah pun tidak bisa banyak berkata-kata, karena rasa haru yang dia rasakan.

__ADS_1


Dia memang ingin mandiri saat kuliah nantinya. Sehingga dia tidak merepotkan orang tuanya.


Indah tidak mau manja seperti kakaknya Lina. Yang apa-apa selalu minta, dan selaku merengek-rengek. Agar permintaannya segera dipenuhi.


__ADS_2