
Di layar sistem yang transparan, Jamal bisa melihat bagaimana cara peternakan sapi perah yang seharusnya. Dengan metode yang lebih baik, karena bisa menghasilkan susu sapi segar yang berlimpah.
Jamal dengan serius mempelajari, bagaimana seharusnya dia mengikuti kerja sistem yang akan dia kerjakan nantinya.
Teknik peternakan modern membuat sapi-sapinya lebih produktif menghasilkan laktasi. Karena seekor sapi perah bisa memproduksi 30 liter susu per hari, meningkat dari sebelumnya yang cuma 15 liter saja. Dengan penangganan yang tepat.
Cara pemilihan sapi yang siap untuk diperah juga tidak sembarangan.
Apabila sapi beranak pertama umur 2-3 tahun dengan jarak beranak atau calving interval 12 bulan, lama laktasi 10 bulan atau 305 hari dewasa produksi atau produksi tertinggi dicapai pada laktasi ke empat atau umur sapi sekitar lima sampai enam tahun.
Semua itu akan disesuaikan dengan sistem bertani miliknya Jamal, agar bisa maksimal menghasilkan produksi susunya.
Sistem juga akan mengirim mesin pemerah sapi, agar peternakan sapi perah milik Jamal tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk bisa memerah sapi secara manual.
Mesin itu akan Jamal dapatkan, jika sapi-sapi perah miliknya siap untuk diperah nantinya.
Mesin perah itu biasa disebut dengan MOOSPIN. Yaitu alat pemerah dan sterilisasi susu otomatis yang menggunakan plasma. Sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan sekitar kandang.
[ Ding ]
[ Tuan harus perhatikan sapi-sapi yang siap untuk diperah agar bisa maksimal menghasilkan susu segar ]
'Aku akan memeriksa keadaan sapi itu sendiri, secara langsung nantinya.'
[ Ding ]
[ Jika semuanya sudah siap, Tuan bisa kembali belajar untuk proses selanjutnya. Mengenai pupuk organik dari kotoran sapi ]
'Tentu saja Aku akan mempelajarinya.'
'Aku juga sangat berterima kasih pada sistem bertani ini, karena sudah banyak membantuku mewujudkan impian dan harapan ami.'
[ Ding ]
[ Sama-sama Tuan ]
Akhirnya Jamal selesai juga dengan pembelajarannya pada sistem bertani yang dia miliki. Dan sekarang, saatnya dia untuk beristirahat. Karena waktu memang sudah menunjukkan pukul setengah dua malam.
*****
Hari ini, sapi-sapi yang dikirim akan datang. Sedangkan kandang sapi yang dipersiapkan lumayan jauh dari rumah.
Dan saat ini, hati masih pagi.
Indah baru saja datang, dan langsung diajak bicara sama Jamal. Tentang sapi-sapi perah.
"Indah, ikut bersamaku pergi ke peternakan ya! Nanti jika sapi-sapinya datang, Aku akan panggil Kamu. Jadi selesaikan pekerjaanmu dengan cepat."
"Baik Mas."
"Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya Jamal memotong kalimat Indah yang tidak diteruskan.
"Emhhh... gak sampai sore jam Mas? Indah... Indah ada kelas sore ini. Takutnya Indah telat masuk kuliah."
Jamal mengangguk mengiyakan.
"Aku akan langsung mengantarmu ke kampus, sepulang dari peternakan."
Indah menatap ke arah Jamal, dengan mengecilkan matanya. Dia tidak bermaksud untuk meminta pada Bos nya itu, untuk mengantarkan dirinya pergi kuliah.
Jamal tahu, jika setiap mau ada jam kuliah, Indah sudah membawa semua buku-buku dan perlengkapan kuliahnya juga saat bekerja. Jadi dia tidak perlu repot-repot untuk pulang terlebih dahulu, karena akan lebih cepat jika berangkat kuliah dari rumahnya Jamal ini. Di mana Indah bekerja selama ini.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku hanya tidak mau Kamu terlambat datang, hanya karena mengikuti kegiatanku nanti."
Akhirnya Indah hanya bisa mengangguk saja. Meskipun dia juga sedikit merasa heran dengan sikap Jamal hari ini.
'Ah sudahlah. Bukan urusanku juga. Yang penting Aku tidak terlambat datang nanti.' Batin Indah, yang tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi pada Jamal saat ini.
Dia berpikir bahwa, Bos nya itu hanya sedang banyak pekerjaan. Di tambah lagi dengan keadaan Ami nya yang sedang tidak sehat.
'Oh iya, Aku belum tengok Ami. Tapi, mas Jamal marah gak ya, jika Aku masuk ke dalam rumah dan mengecek Ami? Kan tadi dia bilang, Aku harus segera menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum siang.'
Indah jadi ragu, antara keinginannya untuk pergi melihat Umi, atau langsung pergi bekerja.
Ternyata apa yang terjadi pada Indah tidak luput dari perhatian Jamal, sehingga membuatnya bertanya pada anak buahnya itu. "Kamu kenapa Ndah? Aku kan sudah memberikan penjelasan tadi. Sekarang Kamu lanjutkan pekerjaan Kamu saja."
Indah sedikit terkejut, mendengar perkataan Jamal barusan. Tapi akhirnya dia bertanya kepada Jamal, "maaf Mas. Keadaan Ami bagaimana?"
"Ami baik. Dia sedang beristirahat di kamar. Kamu lihat saja sana, sebelum Kamu mulai bekerja."
"Terima kasih Mas. Aku pergi liat Ami dulu!"
Jamal tersenyum tipis, melihat bagaimana cara Indah mengucapkan terima kasih padanya.
Meskipun mereka berdua sudah saling kenal sejak lama, tapi Indah tidak asal dalam bekerja. Karena Indah tetap bisa menempatkan dirinya sebagai seorang anak buah, dan tetap menghormati Jamal sebagai Bos nya.
Indah juga tidak asal keluar masuk ke dalam rumah, jika tidak ada ijin dari Jamal atau Umi.
Jadi Indah bekerja secara profesional, dan bisa membedakan waktu untuk bekerja dan di saat dia sedang dalam keadaan tidak bekerja.
"Huhfff..."
Jamal mengelengkan kepalanya beberapa kali, saat sadar jika dia sedang menilai Indah. Adik dari Lina.
*****
Siang harinya, di saat Indah baru saja mencuci tangannya.
"Indah. Ayo kita berangkat!"
Indah pun mengangguk mengiyakan ajakan Jamal. Dia memang sudah selesai dengan pekerjaannya, dan baru saja mencuci tangan di pancuran. Tak jauh dari tumpukan keranjang-keranjang jeruk.
__ADS_1
"Indah ambil tas dulu Mas!"
Dengan berkata demikian, Indah berlari-lari kecil menuju ke tempat dia menyimpan semua buku-buku dan perlengkapan kuliahnya.
Tak lama kemudian, Indah sudah kembali berada di depannya Jamal.
Sekarang, mereka berdua akan berangkat menuju ke tempat peternakan sapi perah. Karena sapi-sapi yang dikirim baru saja datang sekitar lima menit lagi.
Dalam perjalanan menuju ke tempat sapi, Jamal dan Indah hanya saling diam. Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka.
Jamal tidak bisa berbicara dengan Indah, jika bukan karena pekerjaan.
Sedang Indah sendiri, tidak pandai berbasa-basi. Jika hanya untuk sekedar mencari perhatian semata.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua tiba di peternakan. Ada tiga sapi, yang baru saja tiba dalam pengiriman. Karena masih ada dua lagi, untuk dua atau tiga hari ke depan nanti.
[ Ding ]
[ Sapi perah telah datang Tuan ]
[ Jangan lupa aktifkan sistem bertani, supaya sapi-sapi terhindar dari virus dan bakteri ]
'Aku aktifkan saat menegang sapi-sapi itu.'
Jamal pun melihat-lihat sapi yang dia miliki sekarang. Kemudian memegangi satu persatu dari sapi-sapi tersebut.
Dengan begini, sistem memproses sterilisasi terhadap virus dan bakteri, yang bisa membuat sapi-sapi tidak sehat.
[ Ding ]
[ Proses sterilisasi di mulai ]
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Hingga sempurna menjadi 100%
[ Ding ]
[ Proses sterilisasi selesai ]
Proses sterilisasi ini ternyata membuat sapi-sapi menjadi gaduh sendiri.
__ADS_1
Mungkin para sapi itu merasakan rasa sakit pada bagian-bagian tertentu pada tubuhnya yang gemuk.