
Lahan kentang yang sedang panen, sudah selesai dan beres, dengan panen yang berhasil dikumpulkan. Kemudian di kirim ke agen, sesuai dengan permintaan dan list yang sudah dibuat oleh Jamal.
Sekarang, mereka semua para pekerjanya, diajak makan-makan oleh Indah. Dengan makanan ya sudah dipesan dan dikirim langsung ke lahan kentang. Sehingga mereka bisa langsung menikmatinya, tanpa harus pergi ke rumah makan, atau ke rumahnya Jamal untuk makan.
"Ayo-ayo di makan. Ini sudah di pesan mbak Indah, khusus untuk panen raya ini. Hahaha..." Salah satu dari mereka, berkelakar bersama temannya, pada saat mulai mengambil makanan.
"Iya. Ayo di nikmati ya! Maaf lho, Aku sempat masak sendiri. Dan jika masak dalam jumlah yang banyak, dan macam-macam jenis nya, Aku juga gak sanggup jika harus masak sendiri. Hehehe..."
Indah justru menimpali candan mereka, dengan meminta maaf. Karena dia memang tidak bisa memasak dalam jumlah yang besar dan banyak jenis makanan, seperti cathering atau rumah makan.
"Hehehe... gak apa-apa Mbak Indah! kami tahu kok bagaimana keadaan Mbak Indah di rumah. Meskipun ada pengasuh anak-anak, Mbak Lina Indah juga masih ikut menjaga mereka. Apalagi saat ini mereka sedang aktif-aktif nya."
"Iya Mbak, gak ada rencana nambah lagi Mbak biar tambah rame?"
"Hiiih... memang enak apa punya anak mulu! Mbak Indah juga repot dan pastinya sakit kan ya kemarin, saat melahirkan mereka berlima!"
Sekarang, perbincangan mereka bukan lagi soal kentang, makanan yang sedang mereka makan, atau yang lain tentang keadaan sekitar. Tapi membahas tentang anak-anaknya Jamal dengan indah. Dengan kondisi Indah pada saat itu.
Ingatan Indah jadi kembali pada saat dia hamil dan hampir saja keguguran, karena ulah dari anaknya kang Wahid.
Saat ini, Kang Wahid memang tidak ada lagi, alias meninggal dunia. Selain karena memang sudah tua dan sakit-sakitan, akibat memikirkan nasib anaknya yang ada di dalam penjara, dia juga tidak sanggup menanggung penderitaan panca bencana kemarin. Karena semua hartanya sudah habis, dan dia tidak punya apa-apa lagi.
Indah jadi menitikkan air matanya, mengingat semua hal yang pernah dialami.
"Haruslah air mata mu. Kamu tidak pantas untuk menangisi hal yang tidak perlu."
Indah mendongakkan wajahnya, melihat ke arah seseorang yang menyerahkan sapu tangan, sambil memintanya untuk menghapus air mata.
Dia tertegun sejenak, melihat dan mendengar perkataan orang tersebut. Karena terkesan sangat memperhatikannya.
"Haruslah Mbak, atau Aku yang harus maju untuk menghapusnya?"
Indah segera sadar, pada saat mendengar perkataan orang itu lagi. Sehingga dengan cepat ia menerima sapu tangan tersebut.
"Terima kasih," ucap Indah sambil mengelap air matanya, yang sebenarnya belum sempat mengalir.
Sekarang, indah bingung dengan sapu tangan yang ada di tangannya. Dia ingin sekali mengembalikan sapu tangan itu pada pemiliknya. Tapi dia merasa jika sapu tangan ini sudah kotor. Jadi, dia berencana untuk mencucinya terlebih dahulu, dan mengembalikannya lagi setelah bersih.
"Sini! Tidak perlu dicuci. ini masih bersih kok. Di pakai untuk membersihkan air matamu yang mengalir deras juga masih akan tetap bersih."
Indah kembali tertegun, mendengar perkataan orang tersebut.
"Dew... Rian. Terima kasih," ucap Indah pada akhirnya. Karena sudah meminjamkan sapu tangannya, untuk membersihkan air mata.
Dia bingung harus menyebutkan nama Dewi Riani yang sekarang.
__ADS_1
Untungnya, hal ini tidak diperhatikan orang lain. Karena di mata mereka semua, Dewi Riani tetap saja Dewi Riani yang biasanya mereka lihat.
Dewi Riani, yang saat ini sedang menjadi Rian, hanya mengangguk samar dan kembali bergabung dengan kerumunan para pekerja yang lain, untuk menikmati makanan yang tadi sempat tertunda. Karena dia secara tidak sengaja melihat Indah yang sedang bersedih hati. Di saat ingat dengan kejadian yang hampir saja merengut nyawanya dulu, di saat dalam keadaan hamil kelima anaknya.
Indah menghela nafas panjang, saat merasa ada yang aneh, dari perhatian yang diberikan oleh Dewi Riani padanya.
"Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja."
Indah mencoba untuk tidak memikirkan apapun, yang sedang ada di dalam pikirannya. Karena dia tidak mau, jika salah dalam menilai perasaannya kali ini.
"Sebaiknya Aku menghubungi mas Jamal saja. Apakah dia sudah selesai dengan urusannya atau belum."
Akhirnya, Indah mencoba untuk mengalihkan perhatiannya, dengan menghubungi suaminya. Yang saat ini sedang pergi ke pusat kota. Untuk mencari mobil baru, yang akan digunakan untuk keperluan keluarganya.
Tapi sebelum Indah membuka kontak telpon, dia melihat banyak sekali notifikasi di dalam akun sosial miliknya. Yang terkait dengan Chanel Jamal Farm News.
Dan dia membelalakkan matanya kaget, karena melihat beberapa video yang dibagikan ulang, ke chanel khusus milik suaminya itu.
Dari berbagai video yang dibagikan, juga ada komentar-komentar yang menyertainya. Sehingga mau tidak mau, Indah mencoba untuk membacanya satu persatu. Supaya dia bisa tahu, kejadian apa yang dialami oleh suaminya di pusat kota sana.
Indah menghela nafas panjang berkali-kali, setelah selesai melihat bagaimana keadaan Jamal di showroom mobil.
"Mas-mas, Kamu mau buat kejutan. Tapi semua itu justru lebih dari sebuah kejutan."
Indah akhirnya menghubungi Jamal dengan cepat, karena merasa khawatir dengan keadaan suaminya. Yang sedari tadi tidak menghubungi dirinya.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
..."Mas, Kamu gak apa-apa kan Mas?"...
..."Gak apa-apa kok Yang, ini Mas baru saja selesai. Jadi mau pulang Yang."...
..."Ah, Indah sudah merasa khawatir Mas. Indah juga baru selesai. Lagi pada makan-makan, dan didokumentasikan sama Dewi Riani juga. Mas sudah makan belum?"...
..."Baguslah kalau begitu. Mas juga sudah makan tadi siang, dan ini juga tadi, barusan di jamu di showroom mobil."...
..."Emhhh... kok bisa Mas?"...
..."Iya, nanti saja Aku ceritanya. Ini pulang dulu, nanti sampai rumah Aku ceritakan ya!"...
..."Iya Mas, hati-hati ya Mas! Oh ya Mas, jangan lupa itu, pesanan anak-anak! Nanti mereka nagih lho Mas. Hehehe..."...
..."Ok Yang, siap!"...
__ADS_1
Klik!
Indah tersenyum sendiri, setelah selesai melakukan panggilan telpon dengan suaminya sendiri.
Dan apa yang dilakukan oleh Indah, tidak ada yang luput dari perhatian Dewi Riani. Meskipun dia masih sibuk dengan kameranya, yang digunakan untuk merekam semua kegiatan di lahan kentang. Yang sudah selesai dipanen hari ini.
Dia hanya tersenyum samar, sehingga tidak ada seorang pun yang memperhatikan, dengan semua yang dia lakukan dan perhatikan.
*****
Di pusat kota.
Jamal baru saja keluar dari showroom mobil, setelah semua urusannya selesai.
Dia menerima panggilan telpon sebentar, dari isterinya, yang menanyakan kabarnya hari ini. Karena ternyata, apa yang terjadi di depan showroom mobil ini, viral media sosial.
Padahal Jamal tidak pernah berpikir untuk membuat berita ini. Dia, yang tadinya tidak ingin membuat publikasi tentang kegiatannya yang sedang membeli mobil baru, akhirnya malah ketahuan sendiri. Dari beberapa video yang direkam oleh orang lain.
Tapi karena berita itu juga, akhirnya Jamal bisa mendapatkan pelayanan yang lebih baik Daripada penyambutan yang tadi dia terima, di saat security dan pegawai showroom, yang melihat dan menilainya hanya sebatas dari penampilan saja.
Jamal tersenyum miris, pengingat kejadian ini juga pernah dirasakan, pada saat dia mau membeli tiga buah truk baru beberapa waktu yang lalu.
Ternyata, orang-orang lebih mengutamakan menilai seseorang yang baru mereka lihat atau kenal, dari tampilannya saja. Tanpa mau tahu lebih lanjut, bagaimana orang tersebut yang sebenarnya.
Sekarang dari dua pengalaman ini, Jamal jadi semakin tahu, bagaimana seharusnya dia menilai seseorang.
Padahal selama ini, dia tidak mempermasalahkan seseorang yang baru dia kenal maupun yang sudah lama dia kenal, tanpa melihat hal-hal tersebut.
"Aku tidak perlu menjadi orang lain, hanya untuk bisa mendapatkan perhatian dan dukungan. Yang sebenarnya tidak Aku butuhkan juga."
"Aku tetap Jamal, yang bekerja sebagai seorang petani dari desa G. Yang sedari dulu memang selalu dipandang sebelah mata."
"Mereka akan sadar dengan sendirinya, tanpa harus Aku katakan, bahwa Aku adalah orang kaya dan sukses. Dengan segala sesuatu yang Aku miliki."
Jamal tidak mau menjadi orang lain, meskipun dia bisa saja melakukannya dengan mudah. Untuk bisa merubah dirinya lebih stylish, dan juga terlihat lebih kaya dari pada yang terlihat.
Keadaan yang dulu pernah dirasakannya, baik pada saat dia belum menjadi apa-apa, hingga bisa memiliki apa-apa, kemudian tidak memiliki apa-apa lagi. Semua itu sudah pernah dirasakan. Sehingga jamal tidak perlu menyombongkan diri, dengan apa yang sudah dia miliki.
Hal ini juga, yang membuatnya menjadi lebih disegani. Oleh orang-orang yang mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.
Akhirnya, Jamal pulang dengan sepeda motornya. Karena mobilnya baru akan dikirim beberapa hari kemudian, setelah surat-surat resminya selesai diurus.
Bos showroom mobil, mengucapkan permintaan maafnya secara langsung. Tadi, di saat dia baru saja datang dan menemui Jamal.
Pelanggan yang datang dengan segala macam insiden, yang justru membuatnya lebih viral dan terkenal.
__ADS_1
Begitu juga dengan showroom mobil itu.
Tapi Bos pemilik showroom tersebut, sudah membuat klarifikasi secara resmi. Dengan membuat dokumentasi juga, pada saat berbincang bersama dengan Jamal juga, di saat selesai melakukan transaksi dan jamuan makan dengan pelanggannya. Yang merupakan bos di Channel khusus yang diikutinya juga. Yaitu Bos Jamal.