Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Masa Kritis


__ADS_3

Di saat semua orang panik karena keadaan Indah, Umi semakin panik lagi dengan ponselnya Jamal yang tidak bisa dihubungi.


"Ke mana dia ini?"


Umi jengkel karena di saat genting seperti ini, Jamal justru seperti orang yang sedang menghilang. Tidak bisa dihubungi. Apalagi sekarang ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Karena harus mengurus Indah secepatnya.


Bu Anita juga tidak bisa menghubungi anaknya Lina. Yang sama-sama berada di lapangan.


Tapi akhirnya dia bisa menghubungi suaminya, pak Hadi. Untuk memberikan kabar tentang Indah. Supaya suaminya itu memberitahu menantunya, Jamal. Agar bisa diberikan kabar juga tentang keadaan istrinya.


..."Pak. Tolong cari Jamal. Kasih tahu bahwa Indah di bawa ke rumah sakit ya!"...


..."Indah kenapa Bu?"...


..."Indah jatuh di kamar mandi. Tapi Jamal tidak bisa di hubungi ini. Lina juga Aku hubungi tidak bisa Pak."...


..."Iya-iya. Bapak akan cari dia sekarang."...


..."Cepat ya Pak!"...


..."Iya Bu!"...


Klik!


Umi sedikit lega, karena besannya itu akan segera mencari anaknya. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada anak menantunya dan juga cucu-cucunya.


"Semoga bapaknya Indah segera menentukan Jamal Ami."


Umi menganggukkan kepalanya beberapa kali, mendengar harapan yang diucapkan oleh ibu besannya itu.


Kini mereka bersama di dalam satu mobil, yang membawa Indah ke rumah sakit.


*****


Di lapangan, pak Hafi sibuk mencari keberadaan Jamal.


Dia sudah bertanya kepada beberapa orang, tapi mereka semua tidak tahu, di mana keberadaan jamal saat ini.


Akhirnya dia bertanya pada pak Lurah, dan beberapa orang yang ada di barisan depan. Tempat di mana diperkirakan tempat duduknya Jamal yang tadi.


"Maaf, apa ada yang melihat keberadaan Jamal?" tanya pak Hadi, dengan suara yang keras. Karena terus bersaing dengan suara sound system orkes dangdut.


"Lho, Bos Jamal bukannya sudah pulang dari tadi? Dia sudah pamit dari tadi kok!"


Pak Hadi tertegun mendengar jawaban dari orang yang dia tanya, begitu juga pada saat pak Lurah mengaakukan kepalanya.

__ADS_1


"Ada apa memangnya?" tanya pak Lurah curiga. Jika telah terjadi sesuatu pada Jamal.


Akhirnya pak Hadi menceritakan tentang keadaan Indah, dan juga istrinya yang mencari keberadaan Jamal. Karena jamal tidak ada di rumah. Sedangkan ponselnya Jamal juga tidak bisa dihubungi.


Dengan segera, pak Lurah berdiri dari tempat duduknya. Dia akan ikut mencari keberadaan Jamal malam ini juga.


Pak Lurah kumpulkan pengamanan desa, atau hansip untuk mencari keberadaan Jamal di lapangan. Karena saat ini, hansip-hansip sedang tugas di lapangan.


Mereka menyebar ke seluruh penjuru lapangan, untuk mencari keberadaan jamal yang ternyata tidak sampai di rumah.


Beberapa orang yang ditanya, menyatakan bahwa jamal tadi di papah oleh seorang wanita. Tapi tidak jelas siapa wanita itu, sehingga mereka mencari ke seluruh tempat, yang memungkinkan jamal berada.


Tapi nyatanya, hingga lewat tengah malam, saat acaranya dangdut selesai, mereka tidak bisa menemukan sosok Jamal.


Hendra yang menjadi ketua panitia acara ini, juga ikut mencari keberadaan Jamal yang menghilang.


Begitu juga dengan beberapa orang pemuda desa, yang sama ikut serta membantu mencari keberadaan Jamal yang menghilang dan tidak diketahui ke mana perginya.


Akhirnya seluruh warga desa G, di minta untuk ikut mencari keberadaan Jamal. Ataupun wanita yang telah membawa Jamal pergi.


Meskipun sebenarnya mereka tidak yakin, jika Jamal pergi menghilang tanpa jejak.


*****


Di rumah sakit.


Ini karena Indah sudah kehilangan banyak tenaga, sedangkan bayi-bayi yang ada di dalam perutnya, butuh kekuatan ibunya.


Jika Indah melemah, anak-anaknya tentu saja ikut melemah.


"Sebenarnya ke mana Jamal?"


Umi masih penasaran dengan keadaan anaknya yang tidak ada kabar. Bahkan dia mendengar bahwa, anaknya itu menghilang bersama dengan seorang wanita.


Tapi dia tidak tahu jika, Lina juga menghilang, sejak Jamal dinyatakan hilang.


Sekarang pak Hadi dan juga Hendra, sudah menyusul ke rumah sakit. Mereka berdua juga memberikan beberapa kabar dan penjelasan yang belum tentu kebenarannya. Karena Jamal dan Lina belum diketahui keberadaannya.


"Jadi, maksudnya Jamal pergi dengan Lina gitu?" tanya Umi kaget.


Bu Anita juga terkejut, mendengar berita ini. Karena dia tidak menyangka bahwa, anaknya akan berbuat setega itu pada saudaranya sendiri. Karena Indah merupakan adik kandung dari Lina.


"Kita tunggu saja kabar selanjutnya. Pak Lurah dan beberapa orang sedang mencari mereka," ujar pak Hadi menejelaskan. Karena dia sendiri belum tahu kebenaran yang sesungguhnya seperti apa terkait dengan berita yang dia dengar terakhir kali tadi.


Umi menghela nafas panjang, dengan memejamkan mata. Karena dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar kali ini.

__ADS_1


Dia tidak percaya, jika Jamal akan setega itu pada Indah. Istrinya yang telah mengandung anaknya sebanyak lima anak.


"Pasti ada yang tidak beres," gumam Umi sambil mengeleng lagi.


Setelah menunggu cukup lama, dokter yang menangani Indah keluar dari ruangan.


"Keluarga Nyonya Indah Dewi?"


"Ya Dok!"


"Kami Dok!"


"Bagaimana anak dan cucu-cucu Saya Dok?"


"Tenang Ibu-ibu, Pak. Nyonya Indah sudah melewati masa kritis. Tapi, dia harus beristirahat terlebih dahulu. Dan jangan ada berita-berita atau kabar yang membuat dirinya terkejut." Dokter memberikan penjelasan kepada pihak keluarga pasien.


Semua orang bernafas lega, meskipun sebagian hati mereka masih belum lega. Karena kabar tentang Jamal dan Lina belum ada kejelasan hingga saat ini.


Tapi setidaknya, Indah dan anak-anaknya masih ada harapan untuk tetap selamat.


*****


Dokkk dokkk dokkk!


"Buka pintunya!"


Rumah Hendra di kepung orang banyak. Karena setiap rumah di desa G, di geledah untuk bisa menemukan keberadaan Jamal dan Lina.


"Hendra mana Hendra?"


Salah satu dari mereka, mencari keberadaan Hendra yang tadi ikut bersama dengan mereka. Karena rombongan orang-orang yang mencari keberadaan Jamal di bagi beberapa kelompok. Agar pencarian segera dapat dilakukan dengan cepat.


Tapi ternyata, Hendra tidak ikut rombongan mereka, yang menuju ke rumahnya sendiri. Sehingga harus dicari terlebih dahulu.


"Ini dia Hendra!"


Akhirnya Hendra di, agar membuka pintu rumahnya sendiri. Untuk mencari keberadaan Jamal dan juga Lina.


Hendra tidak bisa mengelak lagi. Dia mengambil kunci pintu rumahnya di dalam saku celana.


"Aku kan sendirian di rumah. Ikut kalian, kok rumahku harus digeledah juga sih," gerutu Hendra dengan memutar anak kunci.


Clek Cklek Clek!


"Tuh kosong!"

__ADS_1


Hendra membuka pintu rumah dengan memperlihatkan keadaan rumahnya yang kosong. Tidak ada orang yang mereka cari.


Tapi di saat semua orang membenarkan perkataan Hendra, karena Hendra memang tinggal sendiri dan kunci rumah ada padanya, mereka memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Ada suara yang keluar dari dalam kamar, yang membuat mereka akhirnya saling pandang.


__ADS_2