Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Jamal Tanpa Sistem


__ADS_3

Semua rasa penasaran dan tidak percaya dari warga desa G ini, akhirnya tuntas. Dengan terkuaknya misteri jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh Wati pada pihak penyidik.


Wati melakukan semua itu karena, dia ingin Indah meninggal dunia, sehingga Jamal akan menjadi seorang duda.


Jika Jamal tertarik pada Indah, karena Indah adalah pekerjanya dan juga seorang mahasiswi di perguruan tinggi terbuka, maka Wati juga menginginkan hal yang sama.


Sebab itu, dia merasa sebagai pekerjaannya Jamal, yang juga sudah tercatat sebagai seorang mahasiswi di perguruan tinggi terbuka, sama seperti Indah. Meskipun dengan tingkatan yang berbeda.


Tapi Wati menginginkan nasib yang sama seperti nasibnya Indah. Yaitu menjadi istrinya Jamal, yang diperhatikan, mendapat curahan kasih sayang, dan juga harta yang berlimpah. Sehingga dia tidak akan kekurangan suatu apapun kedepannya nanti. Bersama dengan anak-anaknya juga.


"Itu Wati sudah gila ya!"


"Gadis gak bener!"


"Sekarang gak ada yang bener hanya karena rasa iri."


"Kenapa ada-ada saja pikirannya Wati?"


"Apa Wati tidak berpikir bahwa, jika dia jadi istrinya Jamal, bisa saja ada pekerja lain yang sama iri seperti dirinya. Terus nasibnya Indah jadi nasibnya dia. Kan bisa jadi itu!"


Warga akhirnya banyak yang berkomentar dan menyalahkan Wati, karena sudah bertindak keterlaluan.


Begitu juga dengan keluarganya sendiri, terutama kang Wahid. Dia merasa malu karena perlakuan anaknya yang tidak pernah dia ketahui selama ini.


"Itu namanya sakit hati, iri dengki. Seharusnya tidak diperbolehkan."


"Mau bagaimana lagi, semua sudah menjadi bubur! Gak perlu ada kata seandainya."


"Penyesalan itu memang adanya dibelakang. Kalau didepan ya pendaftaran itu! Wati-wati. Yang di pikir kok cuma enaknya saja!"


"Sudah-sudah. Semua putus terlanjur. Sudah terjadi. Mau bagaimana lagi? Biarkan dia menanggung akibatnya, dengan mempertanggungjawabkan perbuatannya pada pihak yang berwajib."


Di warung-warung, toko, sawah serta kebun, semua orang membahas tentang Wati, yang melakukan sabotase terjadi Indah.


Istri dari bos nya sendiri, yang sudah mengajarinya juga. Di saat awal-awal Wati masuk sebagai pegawainya Jamal


Kang Wahid juga pergi ke rumah sakit, untuk meminta maaf secara langsung kepada Jamal, terutama pada Indah.

__ADS_1


Tapi Jamal juga tegas, karena semuanya sudah terlambat. Hukum sedang diproses. Jadi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, meskipun sebenarnya dia secara pribadi, sudah memberikan maaf kepada Wati.


"Maafkan Wati ya Indah. Dia itu masih lugu, tidak tahu bagaimana cara bersikap. Mungkin karena iri, dan akhirnya nekad melakukan apa-apa yang diluar akal sehat."


Indah hanya tersenyum menanggapi perkataan kang Wahid.


"Indah sebenarnya sudah maafkan Wati kang Wahid. Indah juga selamat. Begitu juga dengan anak-anak Indah juga selamat. Tapi, hukum harus tetap berjalan untuk memberikan efek jera. Apa kang Wahid mau, seandainya Wati akan melakukannya lagi suatu hari nanti? Kang Wahid mau, anaknya jadi seorang penjahat?"


Kang Wahid tertunduk malu. Dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Indah barusan.


"Kang wahid Semoga setelah ini, Wati benar-benar menyesal, dan tidak akan pernah mengulanginya lagi suatu hari nanti. Dia akan menjadi seorang gadis yang baik, dan akan berubah setelah mendapatkan bimbingannya dari kesalahannya kali ini."


Sekarang, kang Wahid hanya bisa mengangguk saja. Karena semua ini memang kesalahan anaknya sendiri.


Akhirnya, setelah seberapa saat kemudian yang pahit pahit untuk pulang.


*****


Sore harinya, Indah diperbolehkan pulang ke rumah.


Hanya saja, mulai sekarang, dia tidak perkenalkan untuk melakukan aktivitas yang banyak bergerak. Atau mengeluarkan banyak tenaga.


Sama seperti malas ini, dia masih belum berani untuk melakukan apa-apa yang biasanya dia lakukan bersama Jamal dulu. Di saat belum kejadian kemarin itu.


"Mas, maaf ya. Indah belum berani banyak gerak. Lagian mas Jamal juga tahu sendiri, dengar sendiri. Bagaimana nasehat dari dokter kandungan."


Jamal hanya tersenyum, menanggapi perkataan istrinya yang merasa bersalah malam ini.


"Gak apa-apa Yang. Mas gak minta juga kok. Ini ada beberapa pekerjaan yang harus Aku selesaikan. Karena pihak administrasi yang biasanya mengurus pekerjaan online tiba-tiba off. Gak bisa mengerjakan pekerjaan yang biasanya."


Jamal beralasan bahwa, orang yang selama ini bekerja sama dengannya, mengurus hasil-hasil pertanian secara online, sudah tidak bisa bekerja sama dengannya lagi.


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, sistem yang selama ini membantunya, telah memutuskan untuk off sementara waktu.


Dan itu terjadi karena kelalaian Jamal sendiri, meskipun secara tidak sengaja.


"Oh gitu ya Mas. Ya sudah, semoga tidak begitu besar mempengaruhi sesuatu yang sudah biasa terjadi. Karena Indah tidak mau jika, para pekerja harus kehilangan pekerjaannya. Karena dampak dari perubahan dan cara kerja yang Mas lakukan besok-besok."

__ADS_1


"Iya Yang. Semoga saja Aku bisa melanjutkan Semuanya dengan baik. Meskipun tanpa adanya sistem yang mengatur dan membantuku."


Akhirnya, mulai malam ini. Jamal resmi tidak menggunakan sistem lagi, untuk kehidupannya sehari-hari.


"Tapi, jika kedepannya Aku tidak bisa mendapatkan hasil sebesar yang kemarin-kemarin, kamu tidak apa-apa kan Yang?" tanya Jamal cemas.


Indah tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu dari suaminya.


"Mas, apa yang Mas miliki selama ini kurang? tidak kan? Dan ini semua udah lebih dari cukup, dibandingkan dengan orang-orang yang ada di sekitar kita."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya, Jamal mengeleng beberapa kali.


"Bukan begitu maksudku Yang. Aku..."


"Mas, yakinlah bahwa, apapun yang akan terjadi nanti, sudah digariskan. Besok-besok, kita tidak tahu, apa yang terjadi juga kan. Kita usahakan untuk tetap menjaga usaha yang sekarang ini tetap bisa berjalan dengan baik."


Jamal kembali tersenyum, mendengar perkataan istrinya yang sedang menasehati dirinya.


*****


Lima bulan kemudian.


Indah melahirkan anaknya dengan cara operasi Caesar. Karena Indah tidak mungkin melahirkan semua anaknya secara normal.


Tiga anak laki-laki, dengan dua anak perempuan. Lahir dengan sehat, meskipun tubuh mereka sangat kecil-kecil. Dan masuk inkubator selama lima hari.


Kelahiran anak-anak mereka, sangat dinantikan oleh orang banyak. Bukan hanya dari pihak keluarga Jamal maupun keluarganya Indah saja.


Mereka semua merasa penasaran, karena ada bayi kembar lima di desa G ini. Dengan banyak kejadian yang menimpa kedua orang tua mereka, di saat mereka masih berada di dalam kandungan.


Umi, bersama dengan Bu Anita, membuat acara syukuran atas kelahiran cucu mereka.


Begitu juga dengan Lina, yang ikut membantu dalam acara ini, meskipun perutnya sudah mulai membuncit, karena Lina sudah hamil empat bulan.


"Kamu istirahat saja Lin. Ibu bisa bantu Ami kok," ujar Bu Anita menasehati anaknya.


"Gak apa-apa kok Bu. Aku juga bosan tidak bisa melakukan apa-apa."

__ADS_1


__ADS_2