Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Selesai menelpon Indah, Jamal kembali berjalan di pematang sawah, yang ada di kampung sebelah. Karena dia masih mencari para petani, yang mau menjual lahannya.


Tapi ternyata, sudah cukup lama dia berjalan dan bertanya pada beberapa orang, dan tidak ada yang mau menjual lahan sawahnya.


Hari sudah semakin siang, dan Jamal belum mendapatkan lahan jagung untuk hari ini.


"Apa Aku akan gagal untuk hari ini mendapatkan misi?" pikir jamal yang sudah lelah berjalan.


Akhirnya dia kembali ke jalan besar, untuk ngambil sepeda motornya. Dia ingin pergi ke warung sebentar, untuk mengisi perutnya yang sudah merasa lapar.


"Jika hari ini aku gagal, besok aku harus mencari lahannya dobel. Tapi jika tidak bisa dapat seminggu ini, berarti Aku tidak bisa menyelesaikan misi. Meskipun sebenarnya Aku sudah mendapatkan beberapa hektar lahan."


"Tapi tidak apa-apa, karena dengan begitu, Aku tetap bisa menikmati misi ini dengan hasil yang sudah Aku usahakan."


Jamal berpikir bahwa, seandainya dia gagal juga tidak apa-apa. Yang penting dia bisa mengembangkan usahanya di bidang tanaman jagung. Dan ini bisa dia jadikan sebagai pengalaman ke depannya nanti.


Namun sistem tiba-tiba saja aktif, sebelum dia menghidupkan mesin motornya.


[ Ding ]


[ Selamat siang Tuan ]


'Aku belum mendapatkan lahan. Jadi Aku belum bisa membuat laporan untuk hari ini.'


[ Ding ]


[ Tuan bisa mencari di sebelah sungai sana ]


'Sebelah sungai sana itu lahan yang cukup curam. Apa bisa dikerjakan untuk lahan jagung?'


[ Ding ]


[ Cari tahu Tuan ]


[ Di sana ada banyak sekali permasalahan ]


'Baiklah. Aku akan ke sana. Tapi Aku mau mengisi perut dulu. Aku tidak bisa jika dalam keadaan lapar.'


[ Ding ]


[ Silahkan Tuan ]


[ Waktu Tuan hari ini tinggal dua jam lagi ]

__ADS_1


[ Ding ]


Jamal membuang nafas panjang, setelah sistem nonaktif lagi. Kemudian dia melihat pergelangan tangannya, dan ternyata, dua jam lagi waktu misi selesai untuk hari ini.


"Aku harus cepat pergi makan. Agar bisa segera pergi ke seberang sungai sana."


Dengan segera, jamal menghidupkan mesin motornya, untuk mencari warung makan. Dan tak lama kemudian, dia menemukan sebuah warung, yang menjual berbagai macam makanan.


"Bu, makan sini ya!"


"Oh ya Tuan. Pakai lauk apa?"


Jamal melihat beberapa lauk yang terpanjang di meja makan warung. Sehingga dia memilih ayam goreng dan sayur beserta sambalnya saja untuk menu makan siangnya kali ini.


Tapi di saat dia baru saja memakan beberapa suap, ada kecelakaan dan ada yang berteriak minta tolong di jalan. Karena warung ini memang ada di dekat jalan. Sehingga bisa melihat dan mendengar, jika ada kecelakaan yang terjadi.


Bruakkk!


"Huwaaa...!"


"Tolong... tolong...!"


Beberapa orang sudah tiba di tempat kejadian pada saat jamal datang.


Ternyata pada dua sepeda motor yang saling bertubrukan, sehingga penumpangnya pun jatuh berdarah-darah.


"Ini tadi bagaimana bisa terjadi?"


"Wah, motornya mati! gak bisa dinyalakan lagi. Jadi bagaimana membawa mereka ke klinik?"


"Bawa motor..."


Di tempat itu, tidak ada motor lain selain motornya Jamal. Karena kedua motor orang yang mengalami kecelakaan, tidak bisa dinyalakan lagi.


Jamal akhirnya memberikan kunci sepeda motornya, untuk digunakan sebagai transportasi yang bisa membawa korban kecelakaan tersebut ke klinik terdekat.


"Tuan Jamal, maaf. Ini... tidak ada yang bisa mengendarai motornya Tuan jamal. Jadi sebaiknya Tuan Jamal yang membawa mereka ya!"


Orang tersebut mengenal Jamal, karena itulah dia memanggil Tuan.


Jamal lupa jika, dia membawa sepeda motor tuanya, yang tidak bisa digunakan oleh sembarangan orang. Karena ada beberapa cara yang harus dilakukan untuk menghidupkan mesin motor tersebut.


Akhirnya Jamal langsung bertindak sendiri, untuk membawa korban ke klinik. Karena dia tidak mau jika korban semakin parah, dengan kehabisan darah yang keluar dari beberapa luka di tubuh korban.

__ADS_1


Dia melupakan misinya, untuk segera pergi ke lahan yang ada di seberang sungai. Karena hal ini lebih penting daripada misinya itu.


*****


Begitu urusan di klinik selesai, dan korban udah ditunggui keluarganya, Jamal kembali ke kampung yang tadi.


Tapi ternyata hari sudah sore. Dan waktu misinya tinggal beberapa menit lagi.


Jika dia harus ke sana, kemudian melihat lahan sendiri di seberang sungai itu, dia membutuhkan waktu lebih dari setengah jam. Jadi dia tidak mungkin bisa ke sana dan menyelesaikan misi untuk hari ini.


Dengan menghela nafas panjang, Jamal pasrah dan berniat untuk pulang ke rumah.


"Tapi bisa jadi, untuk beberapa menit ini Aku bisa mendapatkan lahan juga. Jadi Aku harus segera ke sana. Aku tidak boleh putus asa."


Akhirnya Jamal tidak jadi pulang. Dia ingin menyelesaikan misi hari ini, meski apapun yang terjadi. Karena dia akan tetap berusaha dalam beberapa menit saja.


Jamal menjalankan sepeda motornya dengan kecepatan penuh, karena sedang memburu waktu yang tidak lama lagi.


Begitu tiba di tepi sungai, ternyata tidak ada jembatan yang bisa membawanya ke seberang. Jadi, dia harus turun ke sungai untuk bisa sampai ke lahan sebelah sana.


Akhirnya Jamal menghentikan motornya di tepi sungai, kemudian menuruni tebing sungai, supaya bisa menyeberang ke sana. Untuk mencari beberapa orang petani, yang masih ada di ladang.


Dengan sudah payah, Jamal menyeberang sungai sehingga seluruh pakaiannya basah. Kemudian kembali naik ke tebing sebelah untuk bisa sampai ke tempat yang dituju.


Untungnya masih ada beberapa petani di sana, dan justru mereka sedang mengobrol titip pematang.


Mereka sedang membicarakan tentang kesulitan mereka, jika mengangkut hasil panen sehingga berpikiran untuk menjual lahannya saja.


"Wahhh, pada ngomongin soal apa ini?" tegur Jamal pada mereka.


"Lho, Tuan Jamal! Kok basah semua ini? Tadi nyebrang ke sini?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya Kang. Kalau gak nyebrang bagaimana caranya Saya bisa sampai di sini?" jamal justru bertanya balik, karena memang tidak ada jembatan yang menghubungkan antara lahan yang di sini dengan yang ada di seberang sana.


"Karena itu juga Tuan, kami kesulitan. Kami baru saja ngomong-ngomong, mau jual sawah ini saja. Tapi bingung, nanti bagaimana dapur kami bisa tetap ngebul untuk bisa kasi makan anak istri?"


Mereka mengeluhkan nasib mereka, seandainya lahannya ini jadi dijual.


Akhirnya Jamal mengutarakan maksudnya, untuk bisa membeli lahan mereka. Nanti, mereka tetap bisa bekerja dengannya.


"Jadi, kami yang menggarap sawah ini juga? meskipun menjadi miliknya Tuan Jamal?"


Mereka bertanya, karena belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh jamal tadi.

__ADS_1


"Tentu saja, kalian masih bisa menggarapnya. Karena Aku tidak mungkin menggarapnya sendiri. Bagaimana, apa kalian mau menjualnya?" tanya Jamal sekali lagi.


Jamal kembali melihat pergelangan tangannya, melihat jarum jam, untuk mengetahui waktu yang bisa dia lakukan dalam menyelesaikan misi hari ini.


__ADS_2