
..."Assalamualaikum Tuan Wiro."...
..."Waallaikumsalam Le!"...
..."Ada apa Tuan Wiro menelpon pagi-pagi sekali ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?"...
..."Ajeng sudah ada di rumah Le. Baru pulang kemarin sore. Mungkin, Kamu mau datang untuk bertemu dengannya."...
Tuan Wiro menelpon Jamal, sesuai dengan apa yang dia katakan kemarin. Jika dia akan menghubungi Jamal, saat anaknya sudah pulang ke rumah.
..."Oh ya Tuan. Biar nanti Jamal bicarakan ini dengan Ami dulu."...
..."Iya-iya. Aku harap, Kamu dan Ami mu itu cepat datang ya!"...
..."Terima kasih Tuan. Sudah memberitahukan hal ini."...
..."Iya sama-sama. Ini kan demi kebaikan kita semua Le."...
..."Hehehe... iya Tuan Wiro."...
..."Ya sudah. Aku tutup ya telponnya!"...
Klik!
Jamal menghela nafas panjang, saat sambungan telpon tertutup.
Tak lama kemudian, dia terlihat berjalan menuju ke luar ruangannya. Mencari keberadaan Ami nya, yang tadi ada di luar rumah bersama dengan Indah.
"Ami," panggil Jamal begitu sudah ada di dekat Ami nya.
"Gimana?" Ami justru balik bertanya.
"Tuan Wiro kasih kabar, jika Ajeng sudah pulang. Sekarang, Dia ada di rumah."
"Benarkah?"
Jamal mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Ami nya, yang terlihat jelas jika sedang dalam keadaan senang.
Indah yang ada di sekitar mereka berdua, hanya diam saja. Karena dia juga tidak tahu apa-apa. Tentang masalah yang dibicarakan oleh dua Bos nya itu.
"Ndah, Indah. Tolong Ami ya, bawakan jeruk yang terbaik dari keranjang-keranjang itu!" pinta Umi, dengan menunjuk pada keranjang-keranjang jeruk. Yang baru saja dipetik para pekerja.
"Iya Ami."
Dengan cekatan, Indah melakukan apa yang diminta oleh Umi. Tanpa bertanya lagi. Karena itu bukan menjadi urusannya.
Indah mulai memilih jeruk-jeruk terbaik, yang bisa dia kumpulkan. Di saat Jamal dan Umi masuk ke dalam rumah. Karena ada sesuatu yang harus mereka kerjakan.
Meskipun sebenarnya Indah juga ingin tahu, apa yang sedang terjadi pada Jamal dan Umi. Tapi dia cukup tahu diri, jika itu bukan wilayah wewenangnya. Yang hanya sekedar pekerja saja di rumah ini.
__ADS_1
Setelah mendapatkan satu keranjang penuh jeruk terbaik, Indah memindahkan keranjang tersebut ke dalam rumah.
"Ami. Jeruk yang di minta Ami, Indah taruh di dekat meja tamu ya," pesan Indah pada Umi.
"Oh iya Ndah! Terima kasih ya!"
Tak lama kemudian, Jamal dan Umi pergi dengan mobilnya. Serta satu keranjang jeruk, yang tadi di bawa Indah ke dalam rumah.
Di saat Indah mau kembali bekerja, ada seseorang yang datang mencari keberadaan Jamal. Dan ternyata, orang tersebut adalah Hendra.
"Mas Hendra!"
"Eh, Indah. Kamu ngapain di rumah Jamal?"
"Aku kerja di sini Mas. Mas Hendra sendiri, baru pulang?" tanya Indah, yang memang sudah mengenal Hendra.
"Iya. Baru tadi pagi. Dapat kabar jika adikku kritis," jawab Hendra dengan raut wajah sedih.
"Mas Sholeh kritis? Maksudnya dia sakit?"
Indah kaget, mendengar berita yang disampaikan oleh Hendra barusan.
Dia mengenal Sholeh, adiknya Hendra itu, di saat masih berada di bangku sekolah dasar. Karena saat itu, Sholeh masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Termasuk dengan Hendra juga.
"Iya. Aku baru dapat kabar dari Paman."
Hendra terlihat murung. Mungkin menyadari semua kesalahan yang dia lakukan selama ini. Saat bapaknya, kang Kasan dalam tekanan kejiwaan, dia justru tidak ada di rumah. Karena harus bekerja di kota besar.
Dia harus bekerja keras, untuk biaya pengobatan adiknya di rumah sakit jiwa, dan menghidupi bapaknya juga.
Apalagi, semua harta benda bapaknya juga sudah dijual sedikit demi sedikit.
Yang tersisa kini hanya tanah dan rumah tuanya, yang memang sudah ada sedari dulu. Dan masih ditempati bapaknya hingga sekarang.
"Mas Jamal dan Ami, baru saja pergi Mas Hendra. Apa ada yang penting? Jika ada, telpon saja Mas."
Tapi Hendra hanya menggeleng, kemudian pamit untuk pulang terlebih dahulu. "Aku pulang aja dulu Ndah. Nanti sore atau malam saja, Aku balik untuk bertemu dengan Jamal."
Indah pun hanya mengangguk saja.
Hendra pulang dengan segala macam rasa kecewa, sedih dan perasaan yang lain. Yang tidak bisa dia bayangkan sebelumnya.
*****
Di rumah Tuan Wiro.
Ajeng yang tidak mau keluar dari dalam kamar, membuat Nyonya Yenny merasa malu. Karena kelakuan anaknya yang susah di atur.
"Maaf lho nak Jamal, Umi. Tidak biasanya dia membangkang seperti ini."
__ADS_1
"Aku tidak tahu, apa yang membuat dia jadi seperti sekarang?" Tuan Wiro juga ikut kebingungan, karena kelakuan anaknya itu.
"Tapi Pah, Mamah takut. Jika Ajeng nekad melakukan sesuatu di dalam kamar. Kan sedari tadi dia tidak mau keluar Pah!"
Wajah Nyonya Yenny, pucat pasi. Karena mengkhawatirkan keadaan anak gadisnya.
Jamal sendiri hanya bisa diam, menunggu Ami nya bicara terlebih dahulu.
"Jika Ajeng tidak mau dijodohkan, ya tidak apa-apa Tuan Wiro, Nyonya Yenny. Mungkin, dia sudah punya kekasih di luar sana."
Tuan Wiro dan Nyonya Yenny, mengeleng beberapa kali. Karena mereka berdua memang tidak pernah tahu, dan juga tidak pernah melihat, jika anaknya, Ajeng, ada dekat dengan seorang pria manapun.
Dalam hatinya Jamal, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ajeng dari kedua orang tuanya itu.
"Boleh Saya bicara dengan Ajeng. Sebentar saja. Ini bukan masalah rencana perjodohan ini kok," pinta Jamal, memberikan penjelasan kepada Tuan Wiro dan Nyonya Yenny.
"Ayo nak Jamal!"
Nyonya Yenny justru mengajak Jamal ke lantai atas. Di mana kamar Ajeng ada di lantai dua rumah ini.
Tok tok tok!
"Ajeng! Ajeng!"
"Biar Saya saja Nyonya," pinta Jamal, agar Nyonya Yenny diam saja.
Nyonya Yenny mundur beberapa langkah, kemudian Jamal yang saat ini mengantikan posisi Nyonya Yenny. Dia pun mengetuk pintu kamar Ajeng, dengan memperkenalkan dirinya sebagai Jamal.
Tok tok tok!
"Maaf Nona Ajeng. Saya Jamal. Jika Nona tidak mau menjalani perjodohan ini, Saya harap Anda keluar dari dalam kamar. Jika tidak, pintu kamar ini Saya dobrak."
Tidak ada sahutan atau suara dari dalam kamar, sehingga membuat Nyonya Yenny merasa khawatir dengan keadaan putrinya.
Tok tok tok!
Jamal kembali mengetuk pintu depan keras. Dia sedikit jengkel, karena melihat ada seorang gadis yang keras kepala seperti anaknya Tuan Wiro, yaitu Ajeng.
"Baiklah, Saya akan dobrak pintu kamar ini!"
"Satu, dua, ti..."
Clek!
"Berisik sekali sih!"
Ajeng keluar dari dalam kamar, dengan mengenakan headset di telinga. Pantas saja dia tidak mendengar apa-apa.
Tapi di saat Jamal melihat ke tangannya Ajeng, dia merasa penasaran. Karena yang terlihat di layar handphone tersebut, bukanlah aplikasi musik atau rekaman suara. Tapi sebuah video yang tidak biasa.
__ADS_1
'Tidak mungkin kan, Ajeng seperti itu?' tanya Jamal dalam hati.