
"Bagaimana keadaanmu Ndah? apa masih ada sakit atau pusing?"
Ami bertanya, sambil mengengam tangan Indah dengan satu tangannya. Sedang satu tangannya yang lain, memeriksa kening Indah. Memeriksa suhu tubuhnya Indah.
'Ami perhatian sekali dengan Indah,' batin Lina yang ada di dapur, dan mendengar pembicaraan mereka.
Kini, dia kembali menajamkan pendengarannya.
"Sudah gak pusing Ami. Panasnya juga sudah gak terlalu seperti kemarin. Cuma masih lemas aja." Indah juga menjawab, dengan apa yang sekarang ini dia rasakan.
"Ya, gak apa-apa. Bertahap ya. Nanti juga sehat lagi, bisa kerja lagi. Ketemu Ami, Jamal dan yang lain."
Indah tersenyum mendengar perkataan Umi, karena sejujurnya, dia juga sudah bosan berada di rumah atau rumah sakit. Tidak ada kegiatan yang bisa dia lakukan. Jadi jenuh juga akhirnya.
"Ndah. Emhhh... Ami mau bicara sesuatu, Kamu..."
"Ami. Biar Jamal saja yang ngomong sama Indah soal itu." Jamal memotong kalimat Umi, karena dia tidak mau membuat Ami nya itu kesulitan untuk berbicara. Menyampaikan keinginannya.
Umi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan yang dikatakan oleh anaknya itu.
Indah yang tidak tahu apa-apa, hanya melihat keduanya dengan tatapan bingung.
'Apa yang mau mereka omongkan? Kenapa harus mas Jamal? Apa Aku akan di pecat?' Indah justru memikirkan pekerjaannya. Sebab dia sudah lama tidak masuk kerja.
"Ndah. Aku mau ngomong ini jika ada bapak dan ibu Kamu. Tapi karena mereka sedang tidak ada di rumah, dan Ami sepertinya gak sabar. Jadi Aku akan ngomong sekarang juga. Tapi untuk kelanjutannya, memang harus menunggu kedua orang tuamu."
Deg!
Indah deg-degan juga, mendengar perkataan Jamal yang tampak serius.
Begitu juga dengan Lina yang ada di dapur.
Dia semakin deg-degan, karena memikirkan perkataan Jamal yang tampak serius dengan kalimat yang dia sampaikan kepada Indah.
'Apa mas Jamal mencintai Indah sekarang? bukan Aku lagi? tapi kenapa harus Indah? Aku... Aku bagaimana ini?' batin Lina bertanya-tanya, apakah yang sedang dia pikirkan saat ini adalah sebuah kebenaran atau hanya sekedar ketakutannya saja.
"Aku mau melamar Kamu, untuk menjadi istriku. Apakah Kamu mau Ndah?"
Duarrr!
Lina menyandarkan tubuhnya pada dinding dapur, saat mendengar perkataan Jamal barusan. Yang ditujukan untuk adiknya, Indah.
Sedangkan Indah sendiri, yang ada di hadapannya Jamal, tidak tahu apa yang harus dia katakan sebagai jawabannya. Sebab dia juga tahu, jika kakaknya, Lina, selama ini mencintai Jamal.
"A_aku... Mas Jamal serius? gak lagi nge_prankkk Indah kan?" tanya Indah, yang tidak langsung percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Jamal padanya.
"Indah. Kami datang memang tidak memberitahu terlebih dahulu. Tapi, tadi Ami berpikir bahwa bapak dan ibumu ada di rumah, jadi kami bisa sekalian bicara dengan mereka. Malah ternyata mereka sedang pergi." Umi membantu Jamal, untuk meyakinkan Indah.
"Hummm..."
Indah belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba...
__ADS_1
"Ini minumannya Ami, mas Jamal. Maaf lama." Lina muncul dari arah dapur, dengan membawa nampan berisi teh hangat untuk kedua tamunya itu.
Indah, Jamal dan Umi, menghela nafas panjang bersamaan. Atas kemunculan Lina.
Mereka lupa, jika di rumah juga ada Lina selain Indah.
Akhirnya mereka tidak lagi membicarakan tentang hal yang tadi. Mereka tidak mau, jika Lina mengetahui tentang apa yang mereka bicarakan sebelumnya.
Padahal sebenarnya, Lina sudah mendengarnya sendiri. Saat berada di dapur.
Setelah berbasa-basi sebentar, Umi mengajak Jamal untuk pulang. Karena Indah masih perlu beristirahat yang cukup.
"Kami pamit dulu. Dan Indah, tolong bicarakan tadi sama bapak dan ibu ya! jika setuju, kami akan langsung datang ke sini."
Ami berbisik di dekat telinga Indah. Membicarakan tentang spa yang tadi mereka bahas, sebelum kedatangan Lina.
Indah hanya mengangguk saja, kemudian menyalami tangan Umi. Baru kemudian menyalami tangannya Jamal.
Lina juga melakukan hal yang sama, tapi di saat dia mau menyalami tangannya Jamal, Jamal justru berpura-pura tidak memperhatikan dan langsung keluar.
Dia menunggu Umi di luar rumah.
Lina hanya bisa menahan nafas, saat diabaikan oleh Jamal.
*****
Tiba di rumah, Jamal langsung menuju ke meja makan. Dia ingin makan terlebih dahulu, karena sudah merasa lapar.
'Kenapa modal yang sudah ada tidak Aku gunakan untuk membuka pengilingan padi saja? ya? jadi Aku bisa menjualnya dalam keadaan yang sudah siap untuk dikonsumsi. Dan bisa lebih mahal tentunya. Menyerap tenaga kerja dan modalku bisa segera dikembangkan, tidak mandek hanya ada di tabungan saja.'
Jamal yang tidak langsung memakan makanan yang sudah dia ambil, membuat Ami nya bingung.
Ami yang baru saja datang ke ruang makan, bermaksud untuk meletakan jeruk di atas meja makan. Akhirnya bertanya kepada anaknya, yang sedang melamun sehingga tidak segera menyantap makanannya.
Pluk!
"Jamal. Apa yang Kamu pikirkan?" tanya Ami, dengan menepuk pundaknya Jamal.
"Eh Ami."
"Apa yang Kamu pikirkan lagi?" tanya Umi ingin tahu, apa yang sedang menganggu pikiran anaknya itu.
"Emhhh... itu Ami. Modal yang Jamal miliki, belum cukup untuk membuat pabrik pembuatan minuman sari jeruk. Bagaimana jika dialihkan ke pengilingan padi saja?"
Jamal meminta pendapat Ami nya, tentang usaha mereka selanjutnya.
"Iya, itu lebih baik Mal. Ami setuju itu, dari pada pabrik pengemasan minuman." Umi menyetujui usulan yang diajukan oleh Jamal.
Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar pendapat yang dikatakan oleh Ami nya barusan.
Sekarang, dia menyakinkan dirinya sendiri. Untuk mengalihkan modalnya ke pengilingan padi saja. Jadi rencana sebelumnya dipending terlebih dulu.
__ADS_1
*****
Selesai makan, Jamal masuk ke dalam ruangannya. Dia mencari tahu tentang pengilingan padi dari sistem.
[ Ding ]
[ Perlu bantuan Tuan ]
'Aku ingin mengalihkan modal ke pengilingan padi. Apa itu sudah bisa dialokasikan ke usaha tersebut?'
[ Ding ]
[ Baik Tuan. Anda Bisa mencari pada sistem, bagaimana keadaan pengilingan padi modern, mesin-mesin, dan cara kerjanya ]
'Baiklah. Aku akan pelajari dulu.'
[ Ding ]
[ Pencarian dilakukan ]
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Sampai dengan selesai menjadi 100%.
[ Ding ]
[ Pencarian selesai dilakukan ]
Akhirnya Jamal serius memperhatikan ke layar transparan yang ada di depannya. Mempelajari sistem bertani, dengan usaha penggilingan padi.
[ Ding ]
Layar transparan sistem langsung menghilang dari pandangan mata Jamal, setelah selesai mempelajari tentang pengilingan padi.
Sekarang dia paham, dengan apa yang harus dia kerjakan selanjutnya. Apalagi, modal yang dia miliki sudah cukup untuk mendirikan pabrik penggilingan padi, yang bisa mengolah sendiri hasil panen padi di sawahnya.
"Aku akan segera mencari orang-orang yang bisa bekerja di pengilingan padi. Biar semuanya bisa langsung dikerjakan."
"Eh, tapi harus membuat tempatnya dulu. Kan belum bangun gudang pengilingan padi."
Jamal akhirnya menghubungi kontaktor, yang dulu pernah merenovasi rumah lamanya, dan membantunya membangun rumahnya yang sekarang dia tinggali. Supaya membangun gudang pengilingan padi yang dia perlukan.
__ADS_1