
Jamal akhirnya pamit pada Indah dan anak-anaknya. Karena dia akan melakukan siaran langsung sendiri tanpa bantuan Indah.
Dia meminta pada istrinya itu, untuk menjaga anak-anaknya di rumah. Karena Lina, istri keduanya belum bangun. Apalagi, dia hanya perlu waktu sebentar saja, untuk siaran langsung nya ini.
Sebab siang hari nanti, bahan dan alat-alat bangunan akan datang. Karena pembangunan rumahnya akan segera dimulai.
Jadi, dia tidak bisa pergi meninggalkan rumah, dalam jangka waktu yang lama.
Tapi sebelum Jamal benar-benar pergi, Lina keluar dari kamarnya. Dia juga berkata, "Kamu pergi saja Dek. Aku bisa jagain anak-anak di rumah."
Indah melihat ke arah Jamal yang belum pergi. Dia ingin meminta persetujuan suaminya itu, karena di lahan kentang, tetap akan ada banyak pekerjaan. Meskipun Jamal sendiri mengatakan hanya sebentar.
Jamal tampak menghela nafas panjang, karena apa yang dipikirkan oleh Indah saat ini memang benar.
Dia akan sedikit kerepotan, seandainya menanam kentang sambil melakukan siaran langsung. Tanpa ada orang yang memegang kameranya, yang digunakan untuk siaran langsung Chanel Jamal Farm News.
"Ya sudah. Ayo Yang!"
Akhirnya Jamal mengajak Indah, dan membiarkan Lina yang mengurus anak-anaknya di rumah.
Indah segera bersiap-siap, untuk membantu suaminya di lahan kentang. Apalagi, tanaman kentang ini adalah varietas baru, dengan kentang yang mempunyai daging berwarna. Tidak sama seperti biasanya yang putih pucat atau putih tulang.
"Mbak. Nitip anak-anak ya!"
Lina menganggukkan kepalanya, mendengar perkataan adiknya.
Setelah Jamal dan Indah pergi, Lina segera mengunci pintu rumah. Supaya anak-anak tetap berada di rumah, sedangkan dia segera melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya.
Jadi, anak-anak dibiarkan Lina bermain di ruang tamu, dengan diberikan beberapa mainan yang ada. Sedangkan dia melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu dan membersihkan bagian-bagian rumah yang lain, serta mencuci pakaian.
Dia juga menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan. Agar waktunya memasak nanti tidak kerepotan sendiri.
"Ibu... Ibu Lina!"
Tiba-tiba, Beta berteriak memanggil Lina yang ada di dapur.
"Ibu Lina... ibu Lina!"
Sekarang, gantian Chandra yang berteriak memanggil Lina, karena tidak segera datang.
"Ada apa anak-anak?" tanya Lina, yang datang dengan tergopoh-gopoh, menuju ke arah ruang tamu. Sebab di sanalah anak-anaknya Jamal dan Indah berada.
"Itu, itu..."
"Elsa Bu! Elsa..."
__ADS_1
Beta dan Candra, saling sahut-sahutan, menjawab pertanyaan Lina dengan menunjuk ke arah Elsa.
Saat ini, Elsa sedang terbaring di lantai. Dan darah keluar banyak dari hidungnya.
"Elsa!"
Melihat keponakannya yang paling kecil itu terbaring tak berdaya, Lina tentu saja berteriak dengan panik.
Dia tidak tahu harus berbuat apa, untuk membuat darah di hidung Elsa berhenti.
Akhirnya, Lina menghubungi Indah ataupun Jamal, yang saat ini ada di lahan kentang.
Lina sebenarnya merasa tidak enak hati, karena tadi sudah mengatakan kepada keduanya, untuk pergi. Karena dia yang akan menjaga anak-anak di rumah. Sehingga Jamal dan Indah bisa pergi dengan tenang ke lahan kentang.
Tapi ternyata, saat ini Elsa dalam keadaan seperti sakit. Dan Lina tidak mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi pada Elsa. Karena dia memang sedang sibuk berberes di dapur.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
"Angkat Dek, angkat!"
Lina merasa was-was, karena panggilannya tidak segera diterima oleh Indah. Sehingga dia kembali melakukan panggilan telpon.
Dia berharap, kali ini panggilannya akan direspon oleh Indah ataupun Jamal.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
..."Indah, ini...Elsa Ndah!" ...
..."Elsa kenapa Mbak? Apa yang terjadi pada Elsa mbak Lin" ...
..."Elsa... Dia pingsan, dan hidungnya berdarah Dek. Ini, ini sudah banyak sekali!" ...
..."Hahhh! Indah segera pulang Mbak sekarang!" ...
Klik!
Lina menangis dan juga gemetaran, karena takut dengan keadaan Elsa. Apalagi, dia juga merasa takut jika, nantinya akan disalahkan oleh Indah maupun Jamal.
"Hiks... Elsa Sayang, ayo bangun Nak..."
Dengan menangis, Lina memanggil, manggil-manggil keponakannya itu, supaya bisa cepat badan.
__ADS_1
Dalam keadaan panik seperti ini, Lina tidak bisa berpikir panjang. Dia hanya bisa menangis, dan berharap supaya Jamal dan Indah segera tiba di rumah.
Dan bener saja, lima menit kemudian Jamal dan Indah tiba di rumah.
Jamal segera mengambil alih tubuh Elsa yang masih dalam keadaan pingsan, dan juga lemas. Karena banyak mengeluarkan darah dari kedua lubang hidungnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Dengan cepat, Jamal membopong tubuh anaknya itu, untuk dibawa ke rumah sakit.
Saat ini, dia memang belum memiliki mobil. Sehingga dia harus mencari ke rumah Pak Lurah, untuk bisa membantunya ke rumah sakit, dengan menggunakan mobilnya Pak Lurah.
Untungnya, ada Tarno, anak sekaligus temannya Jamal, yang bisa mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Tapi Jamal melarang Indah, supaya tidak ikut pergi ke rumah sakit. Karena diminta untuk ikut menjaga anak-anak bersama Lina di rumah saja.
"Kamu pulang saja Yang! Jaga anak-anak bersama dengan Lina."
Indah hanya mengangguk saja, meskipun sebenarnya dia juga merasa sangat khawatir dengan keadaan anaknya, Elsa.
Dengan menundukkan wajahnya, karena menahan rasa sedih. Indah pulang ke rumahnya, untuk menjaga keempat anak-anaknya yang lain.
Setibanya di rumah.
"Dek, kok balik lagi? Bagaimana Elsa?" tanya Lina dengan wajah cemas.
"Sudah di bawa mas Jamal ke rumah sakit, bersama dengan mas Tarno." Lina sedikit merasa lega saat mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya ini.
"Tapi, kenapa Kamu balik Dek?" tanya Lina lagi. Karena dia merasa heran, sebab adiknya ini tidak ikut ke rumah sakit. Tapi justru pulang ke rumah.
Indah adalah termasuk istri yang patuh pada suaminya, sehingga apapun yang dilakukan oleh suaminya, dia pun mengiyakan saja.
Dia punya keyakinan bahwa, suaminya itu mampu melakukan apa yang akan dikerjakan, sehingga dia tidak banyak membantah.
Tapi dia tidak mengatakan apa-apa pada Lina. Dia hanya membawa anak-anaknya itu untuk melanjutkan kegiatan mereka. Yaitu bermain lagi, sama seperti tadi.
"Beta. Sayang tadi Elsa kenapa hidungnya?" Sekarang, Indah mulai bertanya kepada anaknya dengan lembut.
Dia tidak ingin anak-anak merasa dijadikan sebagai tertuduh, atas kejadian yang menimpa saudaranya Elsa.
Akhirnya Beta dan Candra mulai bicara. Menceritakan kembali tentang apa yang terjadi pada mereka tadi, di saat sedang main bersama-sama
Indah mendengarkan cerita keduanya, tanpa memotong ataupun menjeda. Karena dia ingin melihat anak-anaknya itu bisa berbicara, tentang kecilkan apapun yang sudah mereka alami.
Sekarang, Indah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena dia merasa bahwa, anaknya itu, Elsa, tidak ada keluhan apapun selama ini.
__ADS_1
Apalagi, tadi pagi, sewaktu Elsa sarapan bersama-sama, anaknya itu tidak mengeluhkan apa-apa.