Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Berita Bahagia


__ADS_3

Misi lahan sudah didapatkan, akhirnya Jamal lanjut untuk mencari bibit jagung yang terbaik. Yang bagus untuk ditanam di lahan tersebut.


Tapi karena lahannya dikerjakan oleh orang lain, dia tidak menyatukan jagung dengan sistem. Hanya lahannya saja yang dia sambungkan dengan sistem. Agar tidak lagi kekeringan seperti yang pernah terjadi pada pemilik lahan sebelumnya.


Jamal mau, lahan jagung ini bisa menjadikan tempat kerja untuk orang lain dan bermanfaat. Dari pada membiarkan lahan tersebut kosong dan menjadi sia-sia.


Dia juga berpesan kepada orang yang memiliki lahan jagung sebelumnya, seandainya nanti ada orang yang mau menjual sawah atau kebun, bisa menghubungi dirinya. Supaya bisa dibeli oleh Jamal.


Mendengar pesan yang diberikan oleh Jamal, tentu saja orang tersebut tentu sangat senang. Karena itu bisa menjadi ladang bisnis dia untuk menjadi calo juga ke depannya nanti.


Orang tersebut akhirnya bisa mengatasi kesulitan dalam hidupnya dengan menjadi pekerjaannya Jamal juga.


[ Ding ]


[ Selamat siang Tuan ]


'Aku sudah menyelesaikan misi untuk mendapatkan lahan jagung.'


[ Ding ]


[ Selamat Tuan atas keberhasilan ]


[ Hadiah akan segera di kirim ]


[ Tuan bisa cek langsung ]


'Tapi Aku mau menyatukan lahan jagung dengan sistem. Biar kedepannya tidak terjadi suatu kendala yang berarti.'


[ Ding ]


[ Bisa Tuan ]


'Baiklah. Aku mau menyatukan lahan jagung dengan sistem sekarang. Agar orang yang menggarap tidak ada banyak kesulitan kedepannya nanti.'


[ Ding ]


[ Penyatuan diproses ]


1%


10%


20%


30%


40%


50%...


Dan selanjutnya hingga 100%.

__ADS_1


[ Ding ]


[ Penyatuan selesai ]


[ Ding ]


Selesai dengan urusan sistem, Jamal akhirnya kembali ke rumah. Dia ingin segera menemui istrinya.


*****


Tiba di rumah, Jamal langsung masuk ke dalam kamar. Dia melihat istrinya yang terbangun karena mendengar suara pintu kamar yang terbuka.


"Bagaimana keadaanmu Sayang?" tanya Jamal dengan duduk di samping istrinya di tempat tidur.


"Sudah lebih baik Mas."


"Sebaiknya kita periksa ke dokter Yang. Sepertinya Kamu kurang sehat," ajak Jamal pada istrinya.


"Emhhh... iya Mas. Tapi tunggu sebentar ya. Aku bersiap dulu."


Akhirnya Indah membersihkan diri di kamar mandi terlebih dahulu, untuk pergi ke dokter. Memenuhi ajakan suaminya.


Setelah selesai, mereka pamit pada Umi. Mereka mengatakan bahwa, mereka akan pergi ke dokter.


Tapi Umi justru merasa khawatir. Dia takut terjadi sesuatu pada Indah sehingga dia ingin ikut juga bersama dengan keduanya.


Akhirnya, mereka bertiga pergi naik mobil menuju ke klinik dokter, untuk memeriksakan keadaan Indah yang sepertinya sedang tidak baik baik saja.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di klinik. Kemudian Jamal melakukan pendaftaran.


Jamal dan Indah masuk, kemudian duduk di kursi yang ada di depan seorang dokter. Setelahnya, dokter tersebut bertanya tentang keluhan yang dirasakan oleh Indah.


Indah menceritakan keluhan yang dia rasakan, sesuai dengan apa yang dia rasakan.


Akhirnya dokter memeriksa keadaan Indah. Tekanan darah, suhu badan dan sebagainya. Sehingga dokter tersenyum melihat ke arah Indah yang berbaring tempat tidur pasien.


"Sepertinya ini hal yang serius Nyonya. Apakah Anda bisa melakukan tes urine sekarang?"


Indah sangat khawatir mendengar perkataan dokter tersebut.


"Apakah ada penyakit yang berbahaya dokter?" tanya Indah dengan wajah pucat.


"Sebaiknya lakukan tes saja Nyonya, biar semuanya lebih jelas lagi."


Akhirnya Indah setuju untuk melakukan tes urine, sedangkan Jamal bertanya-tanya dalam kekhawatirannya juga, sekiranya penyakit apa yang diderita oleh istrinya itu.


Setelah selesai melakukan serangkaian tes yang diminta, dokter meminta Indah dan Jamal untuk duduk kembali di depannya. Dia akan memberitahukan hasil tes tersebut.


"Jadi, apa penyakit Saya Dok?" tanya Indah tidak sabar.


"Iya, istri Saya sakit apa?" Jamal juga ikut menimpali dengan pertanyaan yang sama.

__ADS_1


"Tenang Tuan, Nyonya. Di dalam perutnya Nyonya, ada buah hati Anda berdua."


"Maksud Dokter apa, tidak usah berbelit-belit. Kami sedang panik?" tanya Jamal tidak sabar.


Tapi dokter tersebut hanya tersenyum saja, kemudian kembali berkata, "selamat, anda akan segera menjadi Papa dan Mama."


"Maksud Dokter..."


Baik Jamal maupun Indah, sama-sama kaget, saat mendengar penjelasan yang diberikan oleh dokter tadi.


"Mas..." Indah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, karena dadanya terasa sesak penuh kebahagiaan.


Dia hanya menggenggam tangan suaminya, yang ada di atas meja praktek, karena tadi tidak sabar untuk mendapatkan penjelasan.


Jamal menoleh ke arah Indah, dengan wajahnya yang penuh dengan rasa bahagia.


"Apa maksud Dokter, Yayang hamil?"


Indah mengangguk mengiyakan pertanyaan suaminya itu. Begitu juga saat jaman menoleh ke arah dokter, yang juga mengangguk mengiyakan.


"Yang bener Dok?" tanya Jamal tidak percaya begitu saja dengan apa yang dia dengar.


"Benar Tuan. Istri anda ini sedang hamil dan kondisinya yang sedang capek. Jadi membuatnya lemas dan tidak seperti biasanya," terang dokter tersebut.


"Terima kasih Dokter. Saya akan menjaganya dan tidak membuatnya capek. Terima kasih."


"Sama-sama Tuan. Selamat ya buat kalian. Semoga sehat sampai waktunya lahir nanti, dan jangan lupa untuk periksa setiap bulannya."


Jamal dan Indah mengangguk mengiyakan, dengan penuh rasa bahagia. Mendengar ucapan selamat dan pesan dari dokter.


Setelah selesai dengan urusan administrasi, Jamal dan Indah kembali bersama menemui Umi, yang masih menunggu mereka berdua.


Umi merasa sangat bahagia, mendengar bahwa, menantunya telah mengandung cucunya


"Wahhh... Ami jadi nggak sabar pengen cepet-cepet gendong cucu."


Respon Umi justru berlebihan, sehingga membuat Indah dan Jamal tersenyum dengan saling berpandangan.


Mereka segera pulang untuk menyambut kebahagiaan ini bersama dengan yang lain. Tak lupa, Umi meminta Jamal untuk mampir ke pasar dan kios buah untuk diberikan kepada para tetangga. Dengan berbagi kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.


"Biar Ami saja yang belanja Indah, Kamu diam-diam saja di dalam mobil sama Jamal. nanti kalau udah selesai, baru kita pulang."


Indah hampir saja turun untuk membantu ibu mertuanya itu. Karena dia tidak tega membiarkan ami sendiri berbelanja. Tapi pada waktu Jamal menawarkan diri untuk menemani, Umi tetap tidak memperbolehkan anaknya itu untuk ikut bersama dengannya.


"Gak usah Mal. Kamu temani Indah saja di dalam mobil. Ami bisa kok sendiri. Jika nanti Ami gak bisa bawa, Ami sewa orang buat dan bantu-bantu."


Akhirnya jamal mengikuti apa yang dikatakan oleh Ami nya, karena dia juga tidak tega jika harus meninggalkan istrinya sendiri di dalam mobil, di parkiran pasar.


"Yang, rebahan saja Yang."


"Gak apa-apa Mas. Aku gak begitu pusing kok," totak Indah yang diminta oleh Jamal untuk merebahkan tubuhnya di bangku belakang, karena Umi sedang pergi masuk ke dalam pasar.

__ADS_1


"Kamu gak ngidam sesuatu kan Yang?" tanya Jamal, yang ingat jika orang yang sedang dalam keadaan hamil, biasanya suka menginginkan sesuatu. Yang diluar kebiasaannya.


Biasanya orang-orang menyebutnya dengan istilah ngidam.


__ADS_2