Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Seminar


__ADS_3

Setibanya di rumah, akhirnya jamal memberitahu istrinya, Indah, dengan apa yang baru saja dia terima dari dinas pertanian kecamatan. Bahwa dia diminta untuk menjadi pembicara di sebuah seminar pertanian di kecamatan. Untuk tiga hari ke depan nanti.


"Terus kira-kira, apa yang harus Mas persiapkan Sayang?" tanya Jamal dengan antusias. Karena dia memang tidak begitu fasih berbicara pada forum formal.


"Kita tunggu saja undangan yang akan diberikan oleh pihak kecamatan. Kita kan gak tahu, apa tema seminarnya Mas."


"Tapi... Mas bisa kok mulai berlatih untuk bicara di depan orang banyak, dengan bahasa yang baik dan sopan tentunya."


Indah memberitahu Jamal, apa yang sebaiknya dia lakukan di saat berada di tengah-tengah seminar. Karena peserta seminar, bukan hanya orang-orang biasa. Tapi juga akan ada banyak orang yang berpendidikan tinggi tentunya.


Jadi, jangan Indah memberikan beberapa tips pada suaminya itu. Supaya bisa menghadiri seminar dengan baik.


Jamal mendengarkan semua perkataan istrinya dengan seksama, karena ini adalah sebuah pelajaran yang penting untuk dirinya sendiri, dan keberhasilan dari misi juga


Yang perlu diperhatikan saat berbicara di muka umum, atau orang banyak antara lain, wawasan yang luas, pola berpikir yang sistematis, pembicaraan yang dilakukan harus kongkrit, persiapan mental, perhatikan penampilan, juga perhatikan volume suara dan intonasi, dan mengontrol waktu, atau ingat dengan batasan waktu yang dibutuhkan.


Indah juga menjelaskan satu persatu, dari setiap hal yang tadi dia katakan. Agar Jamal bisa mengerti dan memahami, bagaimana cara untuk bisa berada di depan forum formal seperti seminar.


"Wah, Aku bisa gak ya Yang? kok Aku ragu ya," terang Jamal jujur, dengan kegugupannya.


"Mas Jamal bisa mulai belajar dari sekarang. Sekalian nunggu undangan yang dikirim oleh pihak panitia pelaksana seminar. Supaya tahu, tema dari seminar itu apa, gitu Mas."


Cup!


Cup!


"Terima kasih Sayang. Kamu the best pokoknya!"


Jamal mengecup kening istrinya, karena merasa sangat bahagia, bisa mendapatkan kesempatan belajar dari Indah, untuk misi yang harus dia kerjakan.


Meskipun sebenarnya Indah juga tidak tahu, jika apa yang dilakukan oleh suaminya itu adalah sebuah misi dari sistem yang dimiliki oleh suaminya. Karena pada kenyataannya, tak lama kemudian, utusan dari pihak kecamatan memang memberikan sebuah undangan. Yang tadi sudah dikabarkan pada Jamal sebelumnya.


"Sama-sama Mas. Aku juga seneng kok, mas Jamal tidak malu untuk bertanya dan belajar agar bisa terus maju."


Sekarang, dia mengajari suaminya itu, dengan beberapa hal yang perlu diperhatikan saat seminar nanti. Karena, tema seminar sekarang sudah diketahui dari undangan yang diberikan tadi.


"Mas. Acara selamatan besok, kan mas Jamal udah selesai seminar itu."

__ADS_1


"Iya, kenapa Sayang?" tanya Jamal, yang diingatkan oleh Indah tentang rencana mereka untuk acara pesta penyambutan kehamilannya yang keempat bulan.


"Memang Mas mau buat acaranya seperti apa?" tanya Indah, yang juga ingin tahu, bagaimana kira-kira keadaan pestanya nanti.


"Mas mau buat acaranya seperti pesta rakyat Sayang. Biar semua warga, dan juga undangan, bisa menikmati suasana pesta yang Aku selenggarakan."


"Bagaimana menurutmu?"


Indah terdiam sejenak, mendengar penjelasan dari suaminya.Karena dia memang tidak tahu, apa yang direncanakan untuk pesta tersebut.


"Indah ikut saja Mas. Lagian, karyawan mas Jamal juga butuh hiburan yang menarik. Selain makanan sehat, yang biasanya dikonsumsi setiap hari."


"Emhhh... Aku juga berharap Kamu bahagia dengan acara pesatnya nanti. Karena sebenarnya ini kan memang untuk Kamu dan anak-anak."


Indah menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan suaminya.


Dia juga memeluk suaminya itu, sambil mengucapkan terima kasih. "Terima kasih Mas. Aku juga bahagia dengan semua yang sudah Kamu berikan untukku."


*****


"Sayang. Sudah cukup rapi belum?"


Jamal mematut diri di depan cermin, memperhatikan kondisi rambut dan juga pakaiannya yang formal.


Kemeja panjang berwarna putih, dipadukan dengan celana panjang hitam yang senada dengan jas hitam. Membuat penampilan Jamal terlihat sangat mempesona, dan juga berwibawa.


Apalagi sekarang ini, tubuhnya Jamal tidak lagi kurus. Tapi padat berisi.


Tentu saja, itu membuat penampilannya semakin bertambah bagus, Sehingga membuat Indah tidak bisa menoleh ke arah lainnya, dengan terus menatap ke arah suaminya yang masih berdiri di depan cermin.


"Ada apa Sayang?" tanya Jamal, yang melihat Indah menatapnya dari pantulan cermin depannya.


"Suamiku sangat gagah," puji Indah dengan tersenyum bahagia.


"Apakah Kamu tidak memperbolehkan Aku pergi? Agar Kamu bisa terus menatapku hingga puas," tanya Jamal, dengan membalikan badannya menghadap ke arah istrinya. Yang saat ini, sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Hihihi... sebenarnya sih maunya begitu. Tapi Aku juga tidak mau membuat panita seminar kecewa, karena Tuan Jamal tidak bisa datang. Hehehe..."

__ADS_1


Indah justru mengolok-olok suaminya, dengan tertawa-tawa senang.


"Ihsss... Kamu mau menggodaku Sayang?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya, Indah menyatukan alisnya bingung.


"Aku, menggoda? Dari mana Aku menggoda? apakah Aku diperbolehkan untuk menggoda suamiku sendiri?" tanya Indah kepalanya yang dimiringkan, agar Jamal datang mendekat ke arahnya.


"Hahaha... Aku memberikan ijin, untuk istriku ini, yang ingin menggodaku."


Tapi ternyata Indah langsung menghindar, di saat Jamal ingin memeluknya.


"Ingat Mas. Kamu sedang ditunggu orang banyak di kecamatan. Jadi jangan coba-coba untuk membangunkan belalaimu yang sedang tertidur. Hehehe..."


Jamal menepuk keningnya sendiri, mengingat undangan yang harus dia hadiri.


"Hahhh... Kamu mengingatkan hal yang sebenarnya tidak Aku inginkan. Huhfff... tapi Aku juga tidak mau mengecewakan mentor ku yang kemarin sudah capek-capek mengajariku. Hehehe..."


Akhirnya Jamal pamit untuk pergi ke kecamatan. Karena Indah tidak ikut bersama dengannya. Sehingga dia pergi sendiri.


"Aku pergi dulu ya Yang. Awas nanti malam, Aku mau lebih!"


"Ihsss... sudah sana pergi Ayang. Hahaha..."


Cup!


Jamal mengecup bibir istrinya sekilas, sehingga Indah juga tidak lagi tertawa terbahak-bahak, di saat dia berpamitan.


Di seberang jalan, tepatnya di depan pintu masuk kebun jeruk, ada seseorang yang sedang memperhatikan keduanya, dengan tatapan mata yang tajam.


"Cihhh! Terus saja pamer kemesraan. Tak lama lagi, Aku lah orang yang ada pada posisimu."


Orang itu juga menyatukan giginya, hingga terdengar gemelutuk.


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh orang tersebut, sehingga tidak menyukai perlakuan Jamal yang berlaku mesra dengan istrinya sendiri.


Karena saat ini, dia sudah memiliki rencana untuk bisa mendapatkan perhatian khusus dari Jamal.

__ADS_1


__ADS_2