
Jamal baru pulang pada siang hari, sekitar pukul dua siang.
Tapi dia lihat bersemangat, begitu melihat anak-anak yang berlarian menyambut kedatangannya.
"Papa..."
"Papa, Papa..."
"Papa endong!"
"Endong Pa..."
"Papa..."
Mereka berebutan untuk bisa digendong oleh papanya, yang baru saja datang. Padahal itu juga tidak mungkin, karena mereka berlima. Dan Jamal, tidak mungkin mengendong mereka semua, atau salah satu dari mereka. Karena itu bisa membuat salah satu dari mereka merasa cemburu, karena tidak digendong papanya juga.
Jadi untuk mengantisipasi hal tersebut, Jamal cukup mengajak mereka untuk bersama-sama masuk ke dalam rumah, tanpa harus menggendong salah satu dari mereka.
Tapi dia cukup kaget juga, di saat baru masuk dan melihat keberadaan Dewi Riani. Yang sedang berbincang-bincang dengan istrinya di ruang tamu.
"Lho, sudah datang ya?" tanya Jamal, menyapa tamunya, yang akan menjadi anak buahnya juga.
"Iya Mas. Tadi, Indah sudah menghubungi Mas Jamal beberapa kali. Tapi, Mas Jamal gak angkat-angkat telponnya."
Jamal mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya itu. Dia juga mencari keberadaan handphonenya, yang ternyata tidak dia pegang sedari tadi.
"Lho, handphoneku mana?"
Indah ikut mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Jamal, meskipun itu bukan ditujukan untuknya. Karena sebenarnya, Jamal hanya sedang mengingat-ingat, dimana sebenarnya dia menyimpan ponselnya.
Jamal melupakan keberadaan ponselnya, yang sudah dia simpan. Tapi lupa, di simpan di mana tadi.
Akhirnya, Jamal untuk mencarinya di sepeda motornya. Mungkin saja, dia menaruhnya di jok motor, atau saku jaket, yang saat ini dia sampirkan pada stang motor.
Indah dan Dewi Riani, juga ikut keluar, setelah jamal berjalan keluar kembali, untuk mencari keberadaan ponselnya.
Indah memanggil dua pengasuh, supaya menjaga anak-anak. Karena dia mau membantu suaminya yang sedang kebingungan.
"Mbak! Tolong anak-anak ya," pinta Indah pada kedua pengasuhnya, supaya ambil alih kelima anaknya.
"Mbak Dewi, tolong ambilkan air minum ya!" pinta Indah pada Dewi Riani, supaya mengambilkan air minum untuk suaminya.
Dewi Riani mengangguk cepat, mendengar permintaan Indah. Kemudian masuk ke dalam rumah, untuk mengambilkan air minum yang diminta oleh Indah tadi.
Tak lama kemudian, ternyata Jamal sudah menemukan keberadaan ponselnya, yang dia simpan di dalam jok motor, bersama dengan beberapa berkas yang tidak terpakai, saat berada di kantor polisi.
"Harusnya pakai tas Mas, biar mudah dan tidak kelupaan," usul Indah, mengingat kebiasaan suaminya. Yang akhir-akhir ini sering lupa.
"Iya Dek, tadi Aku lupa."
"Pantesan telpon gak diangkat-angkat. Ternyata ponselnya ada di dalam jok motor." keluh Indah, dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali.
"Hehehe... maaf ya Dek."
Tak lama kemudian, Dewi Riani datang dengan membawa satu gelas air putih, kemudian diberikan kepada Indah.
"Terima kasih mbak Dewi."
Dewi Riani hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapkan terima kasih yang diucapkan oleh Indah padanya.
Setelah dirasa aman, Katena ponselnya Jamal sudah ketemu, mereka kembali masuk ke dalam rumah. Karena mau membahas tentang studio mini, yang diperuntukkan bagi Dewi Riani, yang akan bekerja sebagai editing untuk Chanel Jamal Farm News.
*****
Malam harinya, Jamal mencoba untuk mengingat kembali mimpi yang kemarin malam. Yang berkaitan dengan sistem.
Dia ingat betul, jika mimpinya itu adalah upgrade pertama pada saat sonya muncul.
[ Ding ]
Cek in : Setiap hari
[ Ding ]
__ADS_1
[ Silahkan klik untuk cek in Tuan ]
'Ok!'
[ Ding ]
[ Cek in selesai ]
[ Silahkan pilih misi tantangan ]
Meneruskan misi lanjutan
Kembali ke masa awal
Tidak ambil
[ Ding ]
Sekarang, Jamal mencoba untuk mencocokkan hasil dari cek in setiap harinya. Apakah masih sama atau sudah berbeda.
Bukan karena apa, kadang kala dia lupa. Dan jika kelupaan untuk cek in, poinnya itu justru berkurang sebanyak 50 poin.
Tapi, dia juga sudah mencairkan beberapa kali poin yang dia miliki. Untuk semua kegiatan dan pembiayaan aktifitas yang memerlukan biaya yang sangat banyak.
[ Ding ]
'Aku ingin melihat informasi tetang akun sistem yang Aku miliki.'
[ Ding ]
Layar sistem, memperlihatkan semua informasi tentang akun yang dia miliki. Baik itu berupa kekayaan, kecerdasan atau kemampuan, pesona dan hadiah. Yang dia miliki hingga malam ini.
Dan ternyata, semua informasi tersebut, ada yang berubah naik dan turun. sesuai dengan grafik yang bisa dilihat oleh Jamal.
Hadiah : 4.647.867
Kemampuan : 85%
Kekayaan : 85. 746.256
Pesona : 85%
Kecerdasan : 65/100
[ Ding ]
'Apakah Aku tidak bisa berkembang? untuk kecerdasan, dan kemampuan, atau pesonaku mungkinkah?'
[ Ding ]
[ Semua bisa berubah sewaktu-waktu Tuan ]
'Lalu, apakah Kamu bisa membantu Aku untuk mencari orang yang sudah menipuku?'
[ Ding ]
[ Sistem tidak bisa menjadi agen polisi ]
__ADS_1
'Hahh... Berarti, Aku hanya bisa mengandalkan pihak polisi saja ya?'
[ Ding ]
[ Tentu saja Tuan ]
[ Anda bisa mengandalkan orang terdekat ]
'Orang terdekat? Maksudnya istri, teman atau siapa? bisa lebih jelas lagi untuk memberikan penjelasan.'
[ Ding ]
[ Kemampuan dan pesona Tuan naik ]
[ Tuan harus mencari tahu sendiri ]
'Oh, jadi ini semacam tantangan ya?'
[ Ding ]
[ Bisa jadi ]
'Hihhh...Baiklah. Aku akan berusaha mencari sendiri. Supaya Aku bisa mengasah kemampuan juga.'
[ Ding ]
[ Selamat mencoba Tuan ]
[ Ding ]
Jamal menghela nafas panjang, setelah layar sistem menghilang dari pandangan matanya.
Sekarang, Jamal mulai membuka kembali, akun sosial orang yang sudah menipunya kemarin. Karena dia tidak bisa membuktikan kebenaran tentang kasus ini pada pihak kepolisian. Meskipun mereka, pihak kepolisian, menyanggupi untuk membantunya. Untuk mengusut akun palsu yang sudah dijadikan media untuk menipu dirinya.
Tapi hal ini tidak dibicarakan oleh Jamal dengan Indah. Karena dia tidak mau, jika isterinya itu menjadi kepikiran.
Dari beberapa kalimat percakapan antara dirinya dan akun tersebut, Jamal menemukan beberapa kalimat atau kata-kata yang sepertinya tidak asing. Dan sering dia dengar dalam kehidupan sehari-hari di tempatnya ini.
"Apa mungkin orang itu benar-benar orang yang sudah Aku kenal?"
"Tapi, siapa yang tega melakukannya?"
"Jika dia memang orang yang dekat denganku dan sedang butuh uang, dia bisa bicara baik-baik. Pinjam atau minta kan bisa, tidak harus dengan cara menipu seperti ini."
"Tapi Aku tidak bisa mencurigai siapapun, karena orang-orang yang ada di dekatku, juga bukan orang-orang yang punya tampang kriminal."
"Hahhh... pusing gini kan jadinya!"
Sedari tadi, jalan bicara seorang diri di ruangan kerjanya. Dia tidak tahu, jika saat ini, istrinya sedang berbincang-bincang dengan Dewi Riani di ruang tamu.
Tapi, masih ada Beta dan Candra yang belum tidur. Sedang ketiga anaknya yang lain, sudah tertidur pulas di kamarnya masing-masing.
"Jadi, Mbak Indah melahirkan lima anak ini sekaligus, bersamaan?" tanya Dewi Riani kaget.
Dia tidak pernah menyangka jika, ibu Bos nya ini, pernah melahirkan kelima anaknya secara normal hari itu juga.
"Iya. Aku sendiri tidak pernah menyangka. Ternyata Aku mampu! Tapi, itu semua juga karena dorongan semangat, serta dukungan dari Mas Jamal."
Indah tersenyum sendiri, mengingat bagaimana perjuangannya saat melahirkan anak-anak, yang ditunggui oleh Jamal.
Suaminya itu, sangat peka dan peduli, di saat dia sedang hamil dulu.
Tapi menurut Indah, sifat asli Jamal memang lembut dan penyayang. Jadi, film keadaan apapun, suaminya itu memang seperti itulah orangnya. Tidak harus ada pada posisi dan situasi tertentu saja.
"Hebat ya bos Jamal itu," puji Dewi Riani, setelah mendengar semua cerita tentang pak Bos nya itu.
"Lho Dek, kok belum tidur?"
Indah dan Dewi Riani, kaget saat mendengar pertanyaan Jamal, yang sedang menegur istrinya, Indah.
"Ini masih ngobrol dengan mbak dewi Mas. Ya, sekalian nunggu mas Jamal selesai juga."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya, Jamal akhirnya mengajak Indah untuk segera tidur. Dan meminta pada Dewi Riani untuk beristirahat di rumah sebelah.
__ADS_1
Tempat tinggal yang sudah disediakan untuknya, bersama dengan studio mini yang dia inginkan juga.
Jamal sudah menyediakan, apa yang dibutuhkan di rumah sebelah sana.