
Pesta resepsi pernikahan Jamal dengan Indah, sudah selesai. Semuanya berjalan dengan baik dan lancar, sesuai dengan rangkaian acara yang berlangsung.
Semua tamu undangan, juga sudah pulang. Tinggal teman-teman Jamal dan orang-orang pekerja yang event organizer yang sedang membereskan peralatan resepsi.
Jadi, kesibukan masih saja terlihat di rumahnya Jamal.
"Mal. Aku balik dulu ya!" pamit Hendra, yang tadi sore sudah berhasil menenangkan Ajeng, dan sudah berbicara dengan Tuan Wiro bersama dengan Nyonya Yenny juga.
"Gak tidur di sini Hen?" Jamal menawari Hendra untuk menginap di rumahnya saja.
"Ah gak lah! Ngapain Aku nginep di rumah Kamu, sedangkan Kamu enak-enak di dalam kamar belah duren!" ejek Hendra, dengan mengelengkan kepalanya.
"Hahaha... maksudnya Kamu nginep di rumahmu yang dulu itu lho! Gak usah repot-repot pulang ke rumah pamanmu."
Hendra tersenyum-senyum sendiri, mengingat jawabannya yang asal tadi.
"Eh, maaf ya Mal. Tapi, spa Aku masih boleh menginap di rumah itu?" tanya Hendra tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Jamal.
"Aku yang menawari Hendra. Jadi, mau gak? Aku ambilkan kunci rumahnya dulu ya."
Jamal berlalu dari hadapan Hendra, untuk mengambilkan kunci rumah Hendra, yang sekarang ini sudah menjadi miliknya. Sebab dia sudah membeli rumah tersebut.
"Ini kunci rumahnya. Semua masih sama, tidak ada yang Aku rubah. Kamu tinggal bersihkan saja jika Kamu mau tinggali sementara waktu ini. Dan jika Kamu mau pulang ke desa G ini, Kamu masih bisa kok menempati rumah tersebut."
Grep!
Hendra langsung memeluk tubuh Jamal dengan erat. Dia sangat berterima kasih pada temannya ini.
"Mal. Aku... Aku tidak tahu harus bilang apa. Tapi, ahhh... Kamu memang yang terbaik. Semoga saja Kamu berbahagia selamanya."
Hendra tidak bisa berkata-kata lagi, dengan apa yang ingin dia katakan.
Dadanya Hendra terasa penuh sesak, sehingga sulit untuk bisa berbicara dengan lancar, sesuai dengan apa yang ingin dia katakan, pada temannya yang sudah berbaik hati dengannya selama ini.
"Sudahlah, cepat pulang dan beristirahatlah," titah Jamal pada temannya itu.
"Hai! Kamu mengusirku? apa Kamu sudah tidak bisa menahannya lagi?" oceh Hendra yang merasa sedang diusir dari rumahnya Jamal yang ini.
"Sudah tahu pakai tanya segala! hehehe..." sahut Jamal dengan terkekeh kecil, mendengar ocehan Hendra yang memang benar adanya.
"Ya sudahlah. Selamat bersenang-senang Jamal... jangan lupa, baca bismillah sebelum belah durennya. Wkwkwk..."
"Sia_lan Kamu Hen! hahaha..." umpat Jamal dengan tertawa-tawa senang.
Teman-temannya Jamal juga ikut pamit pulang ke rumah masing-masing. Tapi ada juga yang ikut menginap di rumah Hendra, karena rumah mereka yang letaknya cukup jauh. Sebab sudah pindah desa, atau kita lain.
Umi sudah masuk ke dalam kamarnya sedari tadi, sebab kepalanya pusing melihat beberapa drama yang terjadi di acara resepsi anaknya tadi.
Yang memantau kegiatan di luar rumah, hanya ART dan beberapa orang pekerja Jamal yang sudah diberikan tugas.
Sekarang, Jamal mau menyusul Indah ke kamarnya. Tapi sebelum itu, dia mengaktifkan sistem terlebih dahulu, supaya tidak ada orang lain yang akan menggangu istirahatnya malam ini bersama dengan Indah.
__ADS_1
[ Ding ]
[ Selamat malam Tuan ]
'Aku mau menagih hadiah yang Aku minta.'
[ Ding ]
[ Tuan akan terima hadiahnya ]
'Baiklah. Awas ya jika ada yang ganggu!'
[ Ding ]
[ Tidak ada yang berani menganggu Tuan ]
[ Apa lagi ini adalah malam pertama Tuan ]
[ Sistem memberikan pengamanan ]
1%
10%
20%
30%
40%
Dan seterusnya, hingga selesai 100%.
[ Ding ]
'Terima kasih.'
[ Ding ]
[ Sama-sama Tuan ]
[ Ding ]
Layar transparan sistem menghilang dari pandangan mata Jamal.
Clek!
Jamal membuka pintu kamar, kemudian masuk dengan hati-hati.
Dia berharap agar istrinya itu sedang menunggu kedatangannya, sehingga mereka berdua bisa melakukan ritual malam pertama.
Dan ternyata benar. Indah masih duduk, dan terlihat sibuk melepaskan aksesoris yang ada di baju dan kepalanya. Bahkan dia sedikit kesulitan untuk melepaskan satu aksesoris yang ada di rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Perlu bantuan Yang?" tanya Jamal memberikan tawaran pada istrinya.
"Eh, ini Mas. Susah sekali Aku ambilnya," jawab Indah menerangkan tentang kesulitannya, melepas aksesoris tersebut.
"Sini coba Mas bantu ya!"
Indah mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar suara suaminya yang sedang membantunya sambil berdiri di belakangnya
"Sudah. Ini!"
Jamal berhasil melepaskan satu aksesoris yang terbuat Indah kesusahan, kemudian menyerahkan aksesoris tersebut pada istrinya yang tersenyum senang. Karena akhirnya bisa terbebas dari segala sesuatu yang menempel pada rambut kepalanya.
"Terima kasih Mas," ucap Indah menerima aksesoris yang diberikan Jamal padanya.
"Mas, Aku... Aku mau bersih-bersih dulu ya!" pamit Indah, dengan berdiri dari tempat duduknya.
Sekarang, dia menghadap ke arah suaminya, yang memandangnya tanpa berkedip.
Jamal tidak menjawab. Indah juga tetap bergeming dan tidak segera pergi ke kamar mandi. Apalagi Jamal justru memegangi dagunya dengan satu tangannya.
Mata Indah melebar, saat tangan Jamal yang memegangi dagunya membawanya lebih dekat dengan wajah suaminya itu. Kemudiaan...
Cup!
Jamal mengecup bibir Indah sekilas, kemudian melepaskan tangannya dari dagu istrinya itu.
"Cepatlah bersih-bersih di kamar mandi. Aku tunggu," titah Jamal pada Indah.
Indah yang mengerti maksud dari perkataan suaminya, segera menundukkan wajahnya yang sudah memerah karena malu.
"Cepat Yang! Atau mau Aku makan sekarang?" bisik Jamal di dekat telinga istrinya, hingga membuat Indah merinding ketika deru nafas Jamal menerpa kulit lehernya yang disekitar telinga.
Akhirnya Indah segera berlari ke kamar mandi, sebelum di makan oleh suaminya sendiri. Dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana caranya dia bisa memuaskan suaminya nanti.
Sekarang, usia indah baru dua puluh tahun. Sedangkan Jamal sudah dua puluh tujuh tahun. Tentu saja di usia tersebut, hormon seorang laki-laki sedang sehat-sehat nya.
Mereka tentunya memiliki keinginan untuk terus dan terus melakukan kegiatan, yang menyenangkan seperti hubungan antara suami istri.
Apalagi, Indah juga pernah membaca artikel tentang kegiatan mereka nanti.
Bisa dibilang hubungan bercinta merupakan bentuk olahraga yang menyenangkan. Selain dapat membakar lima kalori permenit, hubungan bercinta juga dapat membuat berbagai otot tubuh lebih aktif. Di samping itu, denyut jantung manusia saat bercinta setara dengan olahraga ringan, seperti berjalan kaki.
"Aku kelelahan gak ya? Bisa mengimbangi mas Jamal gak ya? Aku kok deg-degan banget sih jadinya."
Indah justru melamun saat membasuh mukanya di kamar mandi. Sehingga membuat Jamal yang menunggunya di luar pintu tidak sabar juga.
Tok tok tok!
"Sayang! Kamu gak kenapa-napa kan di dalam sana?" teriak Jamal dari luar pintu kamar mandi. Sebab dua khawatir jika istrinya itu pingsan atau kelelahan akibat acara-acara yang berlangsung seharian ini.
Clek!
__ADS_1
"Ah, Aku kelamaan ya Mas?"
Indah keluar dari dalam kamar mandi, dengan meringis karena merasa bersalah sudah membuat suaminya menunggu.