
Kegiatan malam Jamal dan Indah kembali berlangsung di dalam kamar. dengan kebersamaan mereka berdua, yang sedang menikmati masa-masa yang penuh warna, menjadi sepasang suami istri.
Keduanya juga sama-sama menginginkan kepuasan dan memuaskan satu sama lain, bukan hanya keegoisan mereka yang ingin puas sendiri.
Selain di tempat tidur, mereka juga mencobanya di semua sudut kamar, termasuk kamar mandi tak luput dari tempat mereka melepaskan kepuasaan.
"Sayang, kita belum sempet bulan madu. Bagaimana kalau selesai peresmian penggilingan padi, kita pergi bulan madu. Kamu mau kita bukan madu ke mana Sayang?" Jamal memberikan kebebasan Indah, untuk memilih tempat yang akan menjadi tujuan berbulan madu.
"Kemana saja Mas. Indah ikut pilihan yang Mas Jamal inginkan," jawab Indah, yang belum pernah mendengar rencana ini sebelumnya.
"Kamu mau bulan madu kita ke mana Sayang? Aku berikan kebebasan padamu untuk memilih. Mau ke Bali, NTT atau mau ke luar negeri?" tanya Jamal dengan memiringkan kepalanya, dengan bertumpu pada tangannya sendiri. Supaya bisa melihat wajah lelah istrinya, karena mereka berdua baru saja selesai bercinta.
"Gak usah jauh-jauh Mas. Yang penting kan kita bisa menikmati suasana bulan madu, bukan karena jauhnya kan?"
"Benar sekali Kamu Sayang. Tapi jadwal kuliah Kamu bagaimana, amankan?" tanya Jamal, mengingat bahwa istrinya itu masih berstatus sebagai mahasiswi.
"Aman kok Mas. Indah bisa ambil ijin atau cuti, untuk satu minggu. Tapi ya itu deh, tugasnya nanti numpuk. Hehehe..."
"Tapi bisa kan kita bisa pergi ke mana saja? tugasnya sambil jalan, kemudian kumpulkan lewat email saja ke dosen."
Indah mengangguk mengiyakan perkataan suaminya, yang memang sedang dia pikirkan saat ini. Karena dia tidak mungkin bisa berangkat kuliah dengan tenang, jika Jamal dalam mode kepengin bercinta dengannya sepanjang waktu.
Indah benar-benar tidak menyangka, jika stamina Jamal bisa sebesar itu dalam bercinta dengannya selama ini.
Untungnya, Jamal bisa melakukannya dengan lembut dan tahu, bagian mana saja yang ada di tubuhnya, yang perlu sentuhan paling penting. Agar bisa ikut menikmati permainan mereka berdua saat bercinta.
"Sayang, kenapa diam? Apa yang sedang Kamu pikirkan?" tanya Jamal, mengangetkan Indah. Karena dia memang sedang melamun.
"Eh, tidak Mas. Indah pikir, kita ke rumah ibu sama bapak dulu ya, sebelum kita pergi. Indah mau tengok mereka sekalian pamit saat kita mau pergi bulan madu nanti."
"Besok juga ketemu di peresmian pengilingan padi kan?" Jamal mengingatkan istrinya.
"Iya sih Mas. Tapi lebih bagus datang ke rumah juga kan?"
"Iya baiklah. Nanti Aku juga ikut ke sana antar Kamu Sayang." Jamal menyetujui permintaan istrinya, untuk datang ke rumah orang tuanya terlebih dahulu.
Setelah berbincang ringan, mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan mereka untuk yang kesekian kalinya. Padahal sekarang baru pukul 11.00 malam.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, hingga mereka berdua bisa sekuat itu untuk kegiatan mereka setiap malam. Karena mereka bisa lebih dari 7 kali melakukannya.
*****
Keesokan harinya mereka semua sudah bersiap untuk pergi ke penggilingan padi, yang akan diresmikan.
Jamal bersama Indah dan Umi, satu mobil menuju ke penggilingan padi.
Sedang semua orang yang diberikan pekerjaan sudah mempersiapkan segala hal di sana. Jadi jamal, Indah maupun Umi, tinggal berangkat saja.
Mereka tiba di sana lima belas menit kemudian. Dan di pengilingan padi, ternyata sudah ramai.
Tamu undangan tidak hanya semua warga desa G sini, tapi ada beberapa orang kenalan Jamal, termasuk kepala desa dan juga pak camat bersama dengan beberapa staffnya.
Mereka di undang oleh jamal karena, penggilingan padi ini bukan hanya untuk dirinya saja. Tapi juga untuk warga desa sekitarnya. Dia membukanya untuk umum supaya bisa dimanfaatkan oleh mereka juga.
kasak kusuk para tamu undangan tidak bisa dielakkan lagi. Mereka banyak yang membicarakan jamal sebagai seorang petani muda yang sukses, yang wajib di contoh oleh generasi-generasi berikutnya.
"Jamal itu bagus banget deh jadi petani sukses. Dia hebat ya!"
"Iya, gak sombong lagi. Dia mau aja nolong kalau ada orang yang sedang kena masalah. Atau misalnya saja ada yang mau jual tanah atau sawah. Dia pun mau membelinya dengan harga tinggi, tidak pasaran atau memanfaatkan kesempatan untuk bisa ambil keuntungan dari mereka yang kesusahan."
Lina yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka-mereka, jadi merasa kesal sendiri. Karena semuanya membicarakan Jamal dan juga adiknya Indah. Bahkan menilai jika dirinya sombong.
Dalam keadaan kesal, Lina tidak sengaja melihat Hendra yang ikut wara-wiri di depan sana, layaknya anggota panitia acara ini.
"Itu kan mas Hendra, kok masih ada di sini? bukannya dia udah balik ke kota," batin Lina dengan memandangi Hendra yang ada di depan sana.
Fokusnya masih tertuju pada Hendra, ketika Jamal, Indah dan Umi berjalan menuju ke tempat yang sudah sedih disediakan panitia untuk mereka, sebagai pemilik pengilingan padi ini.
Jamal melirik ke arah Lina yang memanggil-manggil nama Indah.
Sayangnya, Indah fokus pada Umi, dengan membantu Umi yang mau duduk.
Bapak Hadi dan ibu Anita, juga ada di sebelah Lina. Mereka berdua hanya melihat anaknya, Lina, dengan tatapan sedih.
'Lina ini kenapa sih? melihat iparnya segitunya, padahal mulutnya memanggil adiknya. Jangan sampai dia bikin kacau lagi, sama seperti acara pernikahan kemarin. Benar-benar memalukan!' batin pak Hadi melihat ke arah Lina.
__ADS_1
Tak lama kemudian, acara peresmian segera dimulai. Berbagai acara berlangsung dengan baik dan lancar.
Mulai pembukaan, sambutan-sambutan dari orang-orang yang berkepentingan termasuk Jamal, juga telah selesai. Dan sekarang adalah waktunya untuk para tamu undangan menikmati makanan. Yang sudah disediakan oleh panitia.
Jamal sedang sibuk berbincang-bincang dengan para tamu undangan penting. Seperti pak kades, pak camat dan juga tokoh-tokoh agama yang dia undang.
Tapi dia tidak melupakan istrinya. Dia masih memperhatikan bagaimana indah yang sekarang ini sedang berbincang dengan kakaknya Lina.
Jamal juga memperhatikan, bagaimana cara Indah yang sedang menundukkan kepalanya, pada saat Lina berbicara.
'Apa yang mereka bicarakan? kenapa indah menundukkan kepalanya? awas aja kalau dia menyakiti Indah!' batin Jamal tidak tenang.
Akhirnya Jamal punya kesempatan untuk menghampiri mereka berdua.
"Sayang sudah makan belum? Mas ambilkan makanan ya!" Jamal menawari istrinya, tanpa menegur Lina yang ada disebelahnya.
Lina yang ada di sampingnya Indah, melirik-lirik Jamal. Seakan-akan meminta jamal agar menegurnya. Tapi nyatanya jamal tidak melihatnya, tidak menegurnya atau mengajaknya bicara juga.
Hal ini membuat Lina merasa diabaikan oleh Jamal, yang sekarang menjadi adik iparnya.
'Awas aja Kamu Mas! Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku dan mengabaikan Indah. Aku akan merebut mu kembali, karena sejatinya cintamu hanyalah untukmu bukan untuk adikku.' Lina membatin.
Sepertinya apa yang dipikirkan oleh Lina diketahui oleh Jamal, sehingga Jamal meliriknya dengan tersenyum miring.
"Ayo Sayang, kita ke sana!" ajak Jamal pada Indah, sambil menunjuk ke tempat Ami nya berada.
Indah menuruti ajakan suaminya, karena di sana memang ada Umi, yang sedang berbincang dengan beberapa wanita dari desa G ini.
"Oh ya Sayang, Kamu sudah bilang sama bapak dan ibu, kalau kita mau pergi bulan madu?" tanya Jamal mengingatkan istrinya.
"Belum Mas. Lagian ada banyak orang, Indah sungkan untuk bicara. Besok aja ke rumah ya!" Indah memberikan alasan, kenapa dia belum berbicara dengan ibu dan bapaknya soal bulan madu mereka nanti.
Jika menegur dan berbicara, tadi dia sudah lakukan juga dengan ibu dan bapaknya. Yang terakhir, dua bicara dengan kakaknya. Pada saat kedua orang tuanya pergi mencari makanan dan minuman.
"Ya, itu lebih baik daripada berpamitan di sini. Aku pikir tadi kamu keceplosan, dan kakakmu itu ikut l mendengar sehingga marah-marah. Apa Kamu dimarahi oleh nya?" tanya Jamal menyelidik curiga.
"Enggak Mas. Mbak Lina gak bicara apa-apa kok tadi," elak Indah melindungi kakaknya.
__ADS_1
Padahal sebenarnya, Lina sudah mengancam Indah, jika dia kan merebut Jamal dari tangannya Indah.
Hal yang tidak diinginkan oleh semua wanita manapun, seandainya ada seorang wanita yang ingin merebut suaminya darinya. Meskipun itu adalah kakaknya sendiri.