Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Jamal dengan Indah, baru saja di mulai.


Suasana resepsi pernikahan mereka, megah dan mewah. Dengan diiringi musik dari panggung yang lain, yang ada di samping panggung pelaminan.


Menu makanan berjejer di pinggir, agar memudahkan para tamu undangan mendapatkan makanan yang mereka inginkan. Sebab ada banyak sekali jenis makanan yang sudah terhidang di meja prasmanan.


Hilir mudik para pelayan, membantu para tamu undangan untuk mendapatkan tempat duduk dan juga bantuan yang lain.


Jamal dan Indah sudah duduk di kursi pelaminan, di dampingi Umi, pak Hadi dan bu Anita sebagai orang tua dari kedua mempelai.


Rona bahagia, tidak hanya terpancar dari wajah-wajah mereka yang ada di panggung pelaminan, tapi dari semua orang. Yang ikut hadir di pesta resepsi pernikahan ini.


Tapi ternyata ada satu orang yang sedang duduk di bawah, dekat dengan panggung pelaminan, berwajah masam. Dia adalah Lina, kakak dari mempelai wanita yang tampak sangat cantik dengan gaun pengantinnya.


Lina sudah tidak mengenakan pakaian pengantin lagi, sebab persyaratan yang dia miliki hanya berlaku di rumahnya saja.


Sedangkan sekarang ini, pesta berlangsung di rumahnya Jamal. Bukan di rumahnya Lina.


Tamu yang datang ke pernikahan Jamal, bukan hanya warga sekitar desa G saja. Tapi juga warga desa sebelah-sebelah, kenalan, saudara jauh dari kedua pihak keluarga dan juga relasi Jamal yang tentunya sudah banyak juga. Baik para pedagang kecil maupun tengkulak besar.


Dipertengahan acara, keluarga Tuan Wiro datang dengan kendaraan mobil. Mereka semua, memang belum pernah melihat dan datang ke rumah Jamal yang baru.


Tuan Wiro dan Nyonya Yenny, hanya tahu rumahnya Umi yang lama. Yang ada di depan rumahnya yang sekarang, dan sudah dijadikan sebagai gudang penyimpanan alat-alat pertaniannya Jamal.


"Pa. Kita gak salah tempat kan Pa?" tanya Nyonya Yenny, yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Jalan dan letak rumah benar Ma. Cuma dulu... oh ya, Jamal kan bukan petani biasa sekarang. Dia itu petani muda yang sudah sukses dengan berbagai macam jenis usaha yang dia miliki Ma."


Tuan Wiro dan Nyonya Yenny, tampak mengangumi Jamal yang mereka kenal sederhana. Sama seperti Umi yang juga berpenampilan sederhana layaknya para petani di desa.


Mereka berdua tidak pernah menyangka, jika sebenarnya kekayaan yang mereka miliki tidak bisa dibandingkan dengan kekayaannya Jamal yang sekarang.


Tak jauh berbeda dengan Ajeng. Dia juga tampak terpana melihat rumah Jamal yang besar seperti yang sering dia lihat di TV, atau media sosial yang ramai.

__ADS_1


Dia tidak pernah menyangka, jika Jamal adalah pemuda yang luar biasa. Karena pada saat dijodohkan, Jamal maupun Umi tidak pernah mengatakan apa-apa tentang kekayaan yang mereka miliki.


"Ma, Pa. Ini gak kesasar kita? jangan-jangan pesta pernikahan orang lain, di desa yang sama lho!" kesah Ajeng ragu.


Dia ragu, jika Jamal benar-benar sama seperti yang dia lihat saat ini. Apalagi, panggung dan tenda pelaminan juga yang terbaik menurutnya.


"Coba kita tanya pada orang lain dulu."


Akhirnya Tuan Wiro punya inisiatif untuk bertanya pada salah satu orang atau pelayan yang lewat membawa baki.


"Mas-mas, maaf kau tanya. Ini benar rumahnya Jamal, anaknya Ami Umi?" tanya Tuan Wiro memastikan bahwa, dia tidak salah alamat dengan undangan yang dia hadiri.


"Benar Tuan. Ini rumahnya Tuan Jamal."


Tuan Wiro, Nyonya Yenny dan Ajeng sama-sama saling pandang, dengan tatapan tidak percaya dengan jawaban pelayan tadi.


"Pah! Kenapa dulu tidak menyelidiki dulu? Tau begini kan Ajeng dulu mau Pa, di jodohkan dengan Jamal." Ajeng cemberut, meminta pertanggung jawaban pada papanya.


"Hah! Kamu yang dengan entengnya menolak perjodohan. Sekarang menyalahkan Papa! Sudahlah, ayo kita masuk!"


Ajeng menghentakkan kakinya kesal, dengan wajah di tekuk masam.


Dia kecewa, karena dulu menyangka jika Jamal hanya seorang petani biasa di desa. Yang tidak punya kekayaan apa-apa selain membanggakan sawahnya yang tidak seberapa luas.


Sayangnya, rasa terkejut Ajeng tidak hanya selesai dengan mengetahui tentang kebenaran keadaan Jamal yang sebenarnya.


Tapi ada satu hal lagi yang membuatnya lebih terkejut. Di saat melihat mantan kekasihnya, Hendra berbicara dengan Jamal di panggung pelaminan sana.


'Itu kan mas Hendra! Kenapa dia juga ada di sini? Ada hubungan apa mas Hendra dengan Jamal?' tanya Ajeng dalam hati.


'Apa mereka berdua saudara? teman atau hanya sekedar undangan saja?' tanya Ajeng lagi, di dalam hatinya.


Dia memperhatikan bagaimana cara Hendra dan Jamal berbicara. Ajeng tidak pernah menyangka, jika Hendra, mantan kekasihnya itu adalah tetangga sekaligus temannya Jamal juga sedari kecil.

__ADS_1


Di atas panggung pelaminan, Hendra memang sedang berbicara dengan Jamal.


Hendra sedang menanyakan tentang lagu apa yang ingin dipesan oleh mempelai, agar bisa dinyanyikan oleh penyanyi di panggung sebelah kanan panggung pelaminan ini.


"Kamu mau request lagu spa Mal? Biar dinyanyikan oleh penyanyi di sana." Hendra bertanya dengan berbisik-bisik di dekat telinga Jamal.


"Pengantin baru saja. Hehehe..." jawab Jamal terkekeh-kekeh, karena tahu bagaimana arti dari lagu tersebut.


"Wah, cocok itu Mal. Hahaha..."


Hendra juga tergelak, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Jamal. Yang sedang berperan sebagai pengantin baru.


Indah tersenyum malu-malu, di samping suaminya. Yang meminta lagu tersebut.


Hendra berbalik, saat urusannya dengan Jamal selesai. Tapi dia terkejut dengan apa yang dia lihat di bawah panggung.


Ada Ajeng, mantan kekasihnya beberapa bulan yang lalu, sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


"A_ajeng!"


Hendra menyebut nama Ajeng dengan terputus-putus. Dia tidak pernah menyangka, jika akan bertemu lagi dengan mantan kekasihnya itu di sini.


"Hen, buruan sana!"


Hendra terdiam dan tidak menyahuti seruan Jamal. Yang memintanya untuk segera pergi ke panggung musik di sebelah.


Sekarang, Jamal ikut melihat ke arah pandang Hendra. Dan Jamal, tidak terkejut dengan apa yang dia saksikan sendiri saat ini.


'Ajeng ketemu dengan Hendra. Apa mereka akan CLBK, atau justru ada perang ke tujuh di sini nanti?' batin Jamal menduga-duga.


Dia tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Ajeng. Yang melihat Hendra dengan tatapan mata yang tajam, karena terkejut juga


Jamal juga tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Hendra, saat bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Karena Hendra juga tidak tahu jika, Ajeng pernah menjadi gadis yang hampir saja dijodohkan dengannya beberapa waktu yang lalu. Di saat keduanya masih menjadi sepasang kekasih.

__ADS_1


Apalagi saat itu, mereka sedang berencana untuk membuat hubungan keduanya menjadi lebih serius ke jenjang pernikahan.


Sayangnya, Ajeng tiba-tiba memutuskan untuk berpisah dengan Hendra. Di saat dia tahu kebenaran tentang keadaan Hendra yang sebenarnya.


__ADS_2