
Jamal dan Umi, tampak berjalan dengan cepat dari parkiran sepeda motor, menuju ke gedung bertingkat rumah sakit. Bersama dengan Indah, yang tadi datang ke rumahnya.
Memberikan kabar tentang keadaan Lina, yang baru saja mengalami kecelakaan.
"Masih di IGD atau sudah di rawat di ruangan Ndah?" tanya Umi, sebelum mereka masuk ke dalam rumah sakit.
"Tadi, sewaktu Indah tinggal ke rumah Ami, Mbak Lina masih belum sadar dan ada di IGD." Indah memberikan jawaban yang tadi dia ketahui.
"Kita tanya petugas di lobby saja Ami," usul Jamal, saat mereka sudah tiba.
Umi menganggukkan kepalanya, mengiyakan usulan dari anaknya. Karena itu akan lebih memudahkan mereka, dalam pencarian tempat rawatnya Lina.
Drettt drettt drettt!
Handphone milik Indah bergetar.
..."Halo Pak."...
..."Kamu sudah ketemu Jamal?"...
..."Sudah Pak. Ini kami ada di rumah sakit. Mbak Lina masih ada di IGD, atau sudah di ruangan Pak?"...
..."Oh, syukurlah. Sudah ada di ruangan. Di ruang Khadijah ya, 2B."...
..."Ya Pak."...
Klik!
Jamal dan Umi, ternyata menuggu hingga Indah selesai berbicara dengan bapaknya melalui panggilan telpon.
"Emhhh... Mbak Lina sudah dipindahkan ke ruang Khadijah 2B Mas."
Jamal pun menganggukkan kepalanya paham. Kemudian mengajak Umi dan Indah untuk segera pergi ke ruangan yang tadi disebutkan.
Karena sudah mengetahui di mana ruangan Lina berada, Jamal dan Umi tidak lagi bertanya kepada petugas lobby rumah sakit.
Mereka bertiga, langsung pergi menuju ke ruangan Khadijah 2B.
Beberapa saat kemudian.
Clek!
"Assalamualaikum..."
Pintu ruang rawat inap Khadijah 2B terbuka, dan ada suara orang yang mengucapkan salam. Membuat bapak dan ibunya Lina menoleh dengan cepat.
"Waallaikumsalam..."
Bapak dan ibunya Lina, berdiri dari tempat duduknya. Di saat melihat kedatangan dua orang tamu, yang datang bersama dengan anaknya, Indah.
Mereka, orang tuanya Lina dan Umi, memang tinggal di desa yang sama. Yaitu desa G.
Tapi kedua keluarga itu beda tempat, atau RW nya. Sehingga tidak begitu kenal dengan baik.
"Pak, Bu. Ini yang namanya mas Jamal. Dan yang ini Ami nya mas Jamal," terang Indah, memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Oh..."
"Jamal."
"Saya Umi. Ami nya Jamal."
"Oh ya, mari-mari duduk."
Akhirnya, mereka pun berbasa-basi sebentar. Saling bertanya tentang keadaan masing-masing. Khas orang-orang desa pada umumnya.
Jamal melihat keadaan Lina dengan cemas.
Dia melirik-lirik ke arah tempat tidur Lina, yang sepertinya sekarang ini sedang tertidur pulas. Mungkin akibat obat yang diberikan oleh dokter. Agar Lina tidak merasakan kesakitan.
"Maaf ya Mas Jamal. Kami jadi merepotkan. Ini tadi, Lina terus-menerus memangil namanya mas Jamal saat pingsan."
"Baru saat dia sadar tidak menyebut nama mas Jamal. Itu pun karena dia merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Akibat luka-luka yang dia miliki."
Bapaknya Lina, menceritakan tentang kondisi anaknya. Yang tadi mengalami kecelakaan di jalan raya. Di saat pergi ke kantor kecamatan.
Katanya, Lina ada wawancara kerja di sana. Karena lamaran yang diajukan beberapa hari kemarin, sebagai staf admin honorer, diterima.
"Sayangnya, dia justru mengalami kecelakaan ini. Jadi, dia juga gagal kerja."
Ibunya Lina ganti bercerita, dengan wajahnya yang tampak bersedih.
Air matanya juga sudah mengalir tanpa bisa dicegah. Dengan suara yang tersendat-sendat, menceritakan tentang keinginan anaknya itu untuk bisa mandiri.
"Padahal.. hiks, padahal Lina pengen banget bisa kerja. Biar... hiks, biar ada kegiatan di luar rumah, dengan menghasilkan uang juga katanya. Hiks..."
"Kecelakaan tunggal apa gimana Bu Lek?" tanya Jamal ingin tahu.
"Ada yang menyerempet Lina. Tapi, orangnya sih gak berhenti. Langsung kabur gitu pas Lina jatuh."
"Untungnya ada pengendara dan pejalan kaki yang baik dan mau menolongnya. Kemudian membawa Lina ke rumah sakit, dan menghubungi Indah."
"Padahal tadi, Indah itu barusan diantar Lina ke sekolah. Ya panik juga Indah. Kemudian langsung ijin saat dengar kabar kecelakaan Mbak nya ini."
Ibu dan bapaknya Lina, bergantian memberikan penjelasan dan menceritakan tentang Lina.
Hingga akhirnya, Lina terbangun dari tidurnya.
"Ehmmm..."
"Sss..."
Lina meringis menahan rasa sakit, yang dia rasakan di seluruh tubuhnya.
"Mas... mas Jamal?"
Dia tidak percaya, jika saat ini, orang yang selalu dia sebut dalam keadaan pingsannya tadi, ada di didepannya.
Berdiri di sampingnya, dengan menatapnya penuh rasa khawatir.
Lina merasa sangat bahagia. Karena ternyata, perasaan Jamal masih untuknya. Meskipun selama ini, Jamal terkesan dingin. Jika bertemu dengan dirinya.
__ADS_1
"Mas," panggil Lina dengan suara yang lemah.
Jamal hanya mengangguk saja. Dia tidak tahu, apa yang harus dia katakan saat ini.
Bapak dan ibunya Lina, hanya bisa melihat keduanya yang sama-sama tidak bisa berkata-kata.
Begitu juga dengan Umi.
Dia tahu, jika selama ini, Jamal masih penyimpanan perasaannya pada Lina.
*****
"Kamu masih mencinta Lina Mal?" Umi bertanya, saat mereka berdua sudah tuba di rumah.
"Ami. Kita baru saja pulang lho. Kok tanyanya kayak gitu?"
"Habisnya, Kamu itu gak bisa bicara secara langsung dengan perasaanmu sendiri. Ya Ami tanya lah Mal!"
"Atau, Kamu sudah punya gebetan baru?"
Umi mendesak Jamal untuk bisa memutuskan bagaimana perasaannya saat ini. Terhadap Lina, atau mungkin pada cewek yang lain.
"Ami apa-apaan sih!"
"Jamal cuma mau fokus mengembangkan usaha Jamal Ami. Kan sebentar lagi, Jamal pengen memproduksi minuman sari jeruk. Hasil dari kebun sendiri Ami!"
Tapi sepertinya Jamal tidak mau menjawab dengan cepat, dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ami nya.
Dia justru membuat alasan, jika mau fokus pada usaha yang sedang dia pikirkan.
"Menikahlah Mal. Siapa tahu, dengan menikah, semua rencana usaha yang Kamu inginkan bisa cepat kesampaian. Kan ada yang bantu, yaitu istri Kamu."
"Hum..."
Gumaman tidak jelas, terdengar dari mulut Jamal.
Dia tidak menampik, jika apa yang dikatakan oleh Ami nya itu ada benarnya.
"Kita liat saja nanti Ami. Jamal juga belum memastikan, apakah Lina benar-benar mencintai Jamal? Atau karena sekarang ini Jamal sudah tidak lagi sama seperti dulu."
Umi pun terdiam.
Dia memahami apa yang dipikirkan oleh anaknya itu. Karena semua yang dikatakan tadi memang benar adanya.
Dulu, Lina dengan terang-terangan mencela anaknya. Meskipun tak lama kemudian menjelaskan, jika semua itu hanya sandiwara.
Tapi kejadian itu juga, yang membuat Jamal akhirnya terkesan dingin dengan para cewek.
Termasuk dengan Lina sendiri.
Padahal Umi merasa yakin jika, anaknya itu masih menyimpan semua perasaannya untuk Lina saja.
Dua sangat tahu, bagaimana sifat dan karakter dari Jamal. Yang tidak mudah melupakan perasaannya. Baik suka maupun tidak suka.
Mungkin karena itu juga, yang membuatnya tidak bisa memaafkan Lina dengan mudahnya. Meskipun sebenarnya dia masih mencintai Lina juga.
__ADS_1
Dan dari sikapnya itu, akhirnya Jamal jadi terkesan lebih dingin dan datar-datar saja.