
"Jamal."
Dengan menyalami Tuan Wiro, Jamal menyebutkan namanya sendiri. Untuk memperkenalkan dirinya.
Kata Umi, Tuan Wiro ini adalah bakal calon mertuanya. Ayah dari Ajeng. Cewek yang akan dijodohkan dengannya.
Jamal merasa tidak nyaman, mendapati tatapan mata Tuan Wiro yang tajam. Seperti sedang menyelidik curiga, jika Jamal adalah pemuda yang tidak bisa diandalkan.
Mungkin Tuan Wiro takut, jika anaknya nanti akan kekurangan uang, jika menjadi istrinya Jamal.
"Kamu kerja apa Le?" tanya Tuan Wiro tanpa basa-basi.
Le adalah sebutan untuk anak laki-laki atau yang lebih muda di Jawa.
"Pah," tegur istrinya, yang duduk di sampingnya Tuan Wiro.
Istrinya mungkin merasa risih, dengan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya. Yang meragukan Jamal.
Nama istrinya itu adalah Nyonya Yenny.
Orangnya cantik dan masih terlihat muda, dibandingkan dengan Ami nya Jamal sendiri.
Atau bisa jadi, karena Nyonya Yenny ini adalah istri orang kaya, yang punya deretan ruko di depan pasar. Tentu saja dia tidak kekurangan suatu apapun. Dan punya pembantu, yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
Berbeda dengan Umi.
Ami nya Jamal itu sedari dulu memang hidup serba kekurangan. Apalagi sejak suaminya meninggal dunia dan hidup berdua saja dengan anaknya.
Meskipun kini Jamal sudah punya segalanya, ada pembantu juga di rumah. Tapi Umi tetap tidak mau tinggal ongkang-ongkang kaki.
Umi tetap tidak mau berdiam diri.
Dia mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan. Membantu apapun yang bisa dia lakukan. Meskipun Jamal sudah meminta dirinya untuk berdiam diri saja.
"Apa Mah? Aku cuma ingin memastikan, jika Ajeng akan mendapatkan suami yang mapan dan bisa memenuhi semua kebutuhannya.
Ajeng adalah nama anak gadis Tuan Wiro, yang akan dijodohkan dengan Jamal.
"Jamal, sabar ya. Tuan Wiro memang begitu. Tapi dia adalah orang yang baik." Ujar Umi, sambil mengusap lengan anaknya itu. Mencoba untuk menenangkan hatinya Jamal.
Tuan Wiro berdecak, karena Jamal tidak juga menjawab pertanyaan darinya. "Ck! Kamu gak ada pekerjaan?" tanya Tuan Wiro lagi.
__ADS_1
"Pah, jeng Umi kan udah kasih tau Mamah Pah. Jika Jamal itu bertani padi dan berkebun jeruk." Nyonya Yenny berusaha untuk mengingatkan kembali suaminya. Dengan pekerjaan yang dilakukan Jamal selama ini.
"Kamu lulusan apa Le?"
Sepertinya, Tuan Wiro ini tidak mempedulikan penjelasan yang diberikan oleh istrinya. Karena dia terus saja bertanya kepada Jamal. Padahal Jamal juga belum menjawab pertanyaannya yang tadi.
"Maaf, jika Saya lancang. Tuan Wiro tahu sendiri bagaimana keadaan para petani pada umumnya. Dan begitu juga dengan Saya."
"Jika rencana perjodohan ini berlanjut hingga saat pernikahan. Saya akan berusaha semampu Saya. Untuk bisa memenuhi kebutuhan istri Saya kelak."
"Tapi jika Tuan Wiro menuntut sesuatu yang diluar kemampuan Saya sebagai manusia biasa, Saya juga tidak bisa melakukannya. Karena pasang surut suatu kehidupan pasti akan ada waktunya."
Tuan Wiro mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Jamal padanya.
Sepertinya dia merasa puas dengan jawaban tersebut, karena tak lama kemudian, dia menyalami Jamal dengan tersenyum senang.
"Selamat anak Muda. Kamu lolos dengan jawaban yang Aku inginkan."
Jamal yang belum mengerti apa yang dikatakan oleh Tuan Wiro, melihat ke arah Ami nya. Dan pada saat Umi menganggukkan kepalanya, Jamal pun baru sadar. Jika tadi hanya sebuah tes mental bagi calon mantu tuan Wiro.
Sebenarnya Nyonya Yenny tidak tahu apa-apa, sehingga dia juga khawatir dengan semua pertanyaan dan sikap suaminya tadi.
"Tuan Wiro dan Nyonya Yenny. Saya, Ami nya Jamal. Mengucapkan terima kasih. Karena Tuan dan Nyonya mau menerima anak Saya ini menjadi menantu di keluarga ini."
"Umi. Kami ini juga dulu bukan siapa-siapa. Ayahnya Jamal itu, yang dulu sering bantu kita ya Mah?"
Nyonya Yenny menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya. Karena suaminya itu dulunya adalah teman sekolah ayahnya Jamal.
Sayangnya, Ayah ataupun Ami nya Jamal, tidak suka menerima tawaran pekerjaan ataupun bantuan yang diberikan oleh Tuan Wiro dan istrinya.
Karena pada waktu itu, Tuan Wiro baru merintis usaha dan belum seperti sekarang ini keadaannya.
Setelah melakukan pembicaraan tentang rencana kedepannya, akhirnya diputuskan oleh mereka jika, dua minggu lagi akan mengadakan acara lamaran.
Dan untuk acara pernikahan akan diadakan dua bulan kemudian.
"Apa tidak terlalu cepat!" tanya Umi, karena Ajeng belum bertemu dengan Jamal.
Ajeng sedang bertugas di luar kota, karena pekerjaannya yang harus magang di sebuah rumah sakit.
Meskipun bukan lulusan bidang kesehatan, tapi dia bekerja sebagai humas dan protokoler. Sesuai dengan pendidikan terakhirnya saat kuliah.
__ADS_1
Apalagi, wisudanya juga baru saja dilakukan.
Sebenarnya Tuan Wiro dan Nyonya Yenny, melarang anaknya itu bekerja jauh-jauh. Karena tanpa bekerja pun, mereka masih bisa memenuhi semua kebutuhan anaknya itu.
Tapi sepertinya Ajeng bukanlah anak orang kaya yang manja. Sehingga dia tidak mau berpangku tangan pada papa dan mamanya.
Apalagi, dua adik Ajeng juga masih sekolah. Meskipun Ajeng juga percaya, jika kedua orang tuanya mampu membiayai semua anak-anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
"Besok biar Ajeng ambil ijin untuk pulang terlebih dahulu. Atau jika dia mau, bisa langsung mengundurkan diri saja. Toh nanti setelah menikah, dia juga tidak mungkin bekerja jauh-jauh."
Tuan Wiro punya pemikiran sendiri tentang anaknya itu.
Berbeda dengan pemikiran Jamal.
Dia justru berpikir bahwa Ajeng ini adalah gadis yang mandiri dan tidak suka dikekang. Tipe orang yang suka kebebasan untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan.
"Apakah rencana perjodohan ini diketahui oleh Ajeng?"
Tiba-tiba Jamal mengajukan pertanyaan tersebut. Karena dia berpikir bahwa, Ajeng tidak tahu apa-apa tentang rencana orang tuanya. Yang ingin menjodohkannya dengan Jamal. Bahkan waktunya termasuk singkat.
...'Bagaimana Ami bisa menerima rencana ini, jika anaknya saja tidak tahu apa-apa,' batin Jamal, yang merasa jika perjodohan ini tidak akan berjalan lancar....
"Mal, apa yang Kamu pikirkan?"
Umi menyenggol lengan Jamal dengan sikunya. Karena melihat perubahan warna pada wajah anaknya.
"Tidak ada Ami," jawab Jamal, yang pura-pura tidak mengerti apa-apa.
"Jangan khawatir Le. Ajeng pasti setuju dengan rencana perjodohan ini kok."
Tuan Wiro berkata dengan yakin. Seakan-akan anaknya sudah memberikan persetujuan padanya saat ini.
Tapi dalam hatinya Jamal tetap meragukannya. Dia berpikir bahwa, semua ini akan sia-sia karena.
"Hhh..."
Jamal hanya bisa membuang nafas panjang, saat mendengar perkataan Tuan Wiro tadi.
Setelah di rasa cukup, Jamal dan Umi pamit untuk pulang.
Dan Tuan Wiro berjanji, jika besok anaknya, Ajeng, sudah pulang ke rumah. Dia akan memberikan kabar. Agar Jamal datang ke rumahnya. Supaya bisa bertemu dengan calon istrinya, yaitu Ajeng.
__ADS_1